
Tatapan mulai kembali normal. Sekarang Lenia berada di antara kerumunan manusia. Gadis itu melangkah gontai. Pandangan matanya kosong, bahkan jalan tampak mengatakan hal yang sama saat ini.
"Lenia, kau di mana!" Kata gadis itu berbisik pada diri sendiri, di tangan tampak buku fiksi yang di peluk.
Lenia menatap kearah matahari orange tertutup kabut. Menghentikan langkah dan menghela nafas sangat dalam. Mengangkat tangan kanan, jari tangan bergerak seolah-olah dapat menyentuh pada tatapannya. Gadis itu tersenyum.
Tak ada bayangan dan tak ada suara langkah terdengar sedangkan ratapan kerumunan menyembunyikan diri dari tatapan. Seseorang berada tepat di belakang Lenia, menutup mata gadis itu dengan telapak tangan. Bibir Lenia yang sedikit terbuka menampakan gigi kelincinya, "kau akan serakah jika menginginkannya, gadis kecil!" Suara lelaki terdengar berat, seolah setengah berbisik. Telapak tangan lelaki itu terlepas dari pelupuk mata Lenia, gadis itu seolah diam tersihir. Sesuatu menyadarkannya hingga tatapan teralih pada tubuh lelaki dengan cardigan merah tipis berukir bunga mawar biru dari tinta emas yang sedang melangkah ditengah hiruk-pikuk. Langkah pelan tetapi mengisyaratkan karisma yang sulit di jelaskan hingga sadar tubuh itu seolah menghilang dibalik kabut. Sekitar menutupi dengan jejak kaki masing-masing. Gadis itu terdiam dan menurunkan tangannya perlahan.
Lenia masuk kedalam gedung berwarna cokelat. Pintu kaca terbuka otomatis untuknya. Dia tersenyum pada setiap orang yang ada di depan matanya, "selamat pagi!" kata yang terlontar ramah dan ceria. Melangkah menuju lift, masuk dan menekan angka 3. Tak ada seorang pun bersamanya. Lift berhenti, terlihat langkah mulai tergesa-gesa dan pilihan yang dia buat adalah mengarahkan kaki untuk berlari menuju ruang dengan pintu putih di depannya. Suara napas terdengar kasar. Mengetuk pintu, "permisi pak?" Sambil mengatur napas.
"Masuk!" Lenia membuka pintu dan di depannya sudah duduk seorang lelaki berwajah manis disofa, dia kenakan toxedo mahal berwarna hitam. Tatapan dan ekspresi wajah terlihat dingin, menatap Lenia dari balik kacamatanya.
"Duduk!" dengan nada suara yang tegas sambil membuka kacamatanya. Lenia terlihat gugup lalu duduk perlahan di sampingnya. Gadis itu masih tetap mengatur napas.
"Apa yang kau lakukan?" Membuka dialog. Lenia mentapnya, "membuat novel baru, itu kenyataannya." Jawaban ragu yang terdengar terbata-bata.
"Dengan novel barumu?" Lanjut lelaki itu sambil membalik lembar demi lembar naskah novel di tangan.
"Mencoba membuat karya fiksi!" Menatap sekitar. Lelaki di samping Lenia meletakan naskah novel di meja, tepatnya meja di depan mereka.
"Pertanyaannya adalah kenapa dengan novel barumu ini?" Lenia terdiam mendengar pertanyaan yang terdengar berulang dari orang berbeda, "hanya kisah yang ingin kukisahkan, itu saja!"
Lelaki itu meletakan tangan di belakang punggung sofa dan mendekatkan wajahnya pada Lenia, "ada apa dengan sosok ini, kau terlihat menggambarkan dengan sangat baik!" menyipitkan mata, berusaha mengintimidasi.
Wajah gadis itu terlihat datar tanpa menghindar, ketika wajah lelaki didepannya semakin mendekat, "mungkin aku akan segera mendapat jawaban, tapi aku yakin itulah yang dipikirkan oleh setiap novelis!" Jawaban Lenia yang membuat lelaki itu terdiam. Wajah mereka terlihat sangat dekat. Hanya beberapa milimeter.
"Pak saya letakan kontrak di meja bapak!" Melangkah menuju meja komputer. Lenia masih pada posisi saling menatap dengan lelaki di depannya.
"Saya permisi!" Melangkah dengan senyuman, menutup pintu pelan. Lelaki di depan Lenia menarik tubuh ke posisi awal. Berdiri dan melangkah menuju dokumen di meja kerjanya. Terlihat fokus pada lembar dokumen kontrak.
"Dia sekretaris baru, bapak?" Tatapan tertuju pada pintu.
"Kau menyukainya? Dia gadis yang sangat sexy." Tersenyum miring membolak-balikkan lebar kontrak. Melangkah menuju Lenia, "kenapa begitu berbeda?" Berdiri di depan gadis itu sambil menyodorkan dokumen.
Lenia mengambil dokumen kontrak, terlihat tersenyum setelah membuka lembar demi lembar. Membuka tas dan tangan tampak sibuk mengaduk isi tasnya.
"Pulpen ada di meja!" Lenia tersenyum dengan kata itu, lalu membawa dokumen bersamanya menuju ke meja kerja. Papan nama dari kaca, 'Direktur Leon Keynya K.'
Leon duduk bersandar disofa, sambil memegang naskah novel. "Lei, kenapa berbeda sekali dengan genremu yang lain?" Lenia menatap Leon, "perbedaan tidak selamanya buruk pak, bahkan bisa dibilang dapat menggambarkan hal unik dan menarik dalam sebuah karya jika dilakukan dengan bertanggung jawab!" Tersenyum simpul.
"Titik pertanyaannya kenapa harus fiksi masih banyak genre lain, itu fokus pertanyaannya sedari tadi?" Fokus pada naskah ditangan.
"Aku biasanya fokus pada dunia pendidikan serta teknologi dan kali ini ingin berbeda sedikit, Mungkin?" Lenia terdiam sambil menanda tangankan kontrak.
"Semua penggemarmu, ini terlalu dewasakan?" Leon mengangkat sebelah alis.
"Aku akan bertanggung jawab pada tulisanku, lagipula tidaklah penting di nikmati hanya untuk pembelajaran saja sesekali menikmati pendidikan di dalam hiburan milikku!" Lenia melangkah dan berhenti tepat di depan Leon. Lelaki itu meletakan naskah di meja, "kata yang terdengar bijak memaksa, aku sedikit risih dengan judul itu!" Menatap tajam Lenia dan gadis itu terdiam lalu mengalihkan tatapan pada jari yang menunjuk pada judul naskah, 'Makhluk Genggaman Sang Iblis.'
'Karena pada dasarnya manusia takut pada prinsip iblis dan malaikat.'