
Bayaran harus lunas. Nyanyian harus menenangkan. Menutup mata tapi gambaran terlihat di balik kelopak.
Muler mematikan layar dan memutar gawai di tangan seolah-olah tarian jari. Suara sirine mobil polisi dan ambulance mendekat. Berbaris rapi sepanjang gedung dengan gerakan sedang. Senyuman remeh pada wajah anak itu. Jas masih rapi di tubuh. Mundur beberapa langkah dan menuju sisi gedung di arah berlawanan dengan barisan suara sirine. "Bermain kasar bukan sebuah gaya." Melompat kegedung sebelah tapi sebelum sampai tubuhnya membentuk asap hitam hingga membuat anak itu sudah berada di gedung sebelah. Senyuman semakin misterius, "buatlah kejutan hingga mati!" Memasukan gawai ke saku celana dengan pelan. Berlari dan melompat ke atap gedung, rumah dan jalan. Gerakan cepat seperti sebuah kedipan.
Seorang lelaki berdiri dengan pakaian merah, menampakan dada terbuka dengan otot berbaris rapi, celana hitam kain tanpa lipit, dan tanpa alas kaki. Rambut hitam panjang terlihat rapi. Taman tertata terlihat seperti hutan. Pemandangan sekitar hanya bangku taman, bunga dan pohon hijau. Suara transportasi masih sebagai hiasan sekeliling taman. Lelaki itu berdiri membelakangi Muler.
"Baik hati sekali menungguku?" Muler menampilkan senyuman miring.
"Kau datang saat aku sudah membersihkan sisa makananku?" Tangan pelan membentuk cakar dan mata berubah warna menjadi merah.
Muler berjalan pelan dan tegas mendekat, "kau tidak berniat berbagi?"
"Kau mengusahakan di lain waktu!" Tersenyum dan berbalik. Sekejap mata dia berada tepat di depan Muler. Anak itu menyunggingkan senyum dan kedua tangannya tampak berada di saku celana. Cakar di arahkan pada leher Muler. Tapi tubuh anak itu melayang beberapa centimeter dari tanah dan dalam keadaan melayang, ke arah belang. Cakar tertahan oleh kabut hitam di sekitar lehernya.
Suara lautan merupakan panggilan alam. Lolongan anjing memenuhi kota. Ada nyanyian yang tak dapat di nyanyikan oleh orang misterius.
Lenia tertidur pulas dengan daster biru. Suara gawai di samping bantal membangunkannya. Tatapan di sipitkan, 'mau menolongku kak Lei?' Tertulis pengirim atas nama 'Muler'. Lenia mengerutkan dahi dan duduk pelan sambil bersandar pada punggung tempat tidur. Lenia terlihat mengetik, 'kapan kau' menghapus ketikan, 'membantumu apa?' Lama tanpa balasan.
'Datang ke Tampu Langit sekarang!' Lenia semakin mengerutkan dahi.
'Kau waras, apa kau baik-baik saja, sekarang aku tanya apa yang harus aku bantu di sana?' Menatap jam pada layar gawai, "jam 02.51, dasar pintar!"
Balasan, 'menghiburku, mungkin!'
Suara ketukan pada pintu, Lenia terlihat mengerutkan dahi. Mematikan air, dengan langkah cepat menuju tempat tidur dan mengambil gawai. Keluar dari kamar dengan langkah pasti menuju pintu depan. "Siapa?" Suara tegas.
Hening, tapi tiba-tiba dari balik pintu suara lantang. "Lei buka pintu, Leon!" Berdiri tegak di depan pintu dengan jas lengkap. Seorang sopir berdiri di depan mobil antiknya.
"Tunggu sebentar!" Berlari kecil menuju kamar dan membuka lemari lalu mengambil cardigan rajut berwarna cokelat. Berlari kecil menuju pintu dan membuka pintu cepat. Lenia menjadi pemandu dan tangan sebagai tanda, 'silahkan duduk di kursi'. Gadis itu menyilangkan tangan di depan dadanya.
Leon tetap berdiri di depan pintu, "Lei, aku kemari meminta bantuanmu!" Menatap Lenia serius.
Gadis itu mengerutkan dahi untuk kesekian kali, "Malam ini juga?" Tidak habis pikir.
Leon mengangguk, "aku mohon agar kau bersedia?" menaraik napas dalam, "membantu Muler, anak itu sepertinya melakukan hal aneh lagi!" Ragu.
"Kau punya hubungan dengannya?" Berjalan pelan menuju pintu lagi.
"Bantu aku Lei!" Membuka telapak tangan seolah menunjuk pada mobil klasik dan sopirnya yang sedang menunggu di depan pagar.
"Kau membuka paksa pagarku!" Mengeleng penuh kebingungan, "kau berhutang pertanggung jawaban!" Mengambil sendal merah dan setengah berlari menuju mobil. Gadis itu masuk ke dalam mobil, "kau tidak ikut?" Sopir menghidupkan mobil dan menjalankannya. Leon hanya menatap ke arah mereka. Kebingungan yang misterius merajarela di wajah Lenia.