
Hawa dingin berselimut musim panas. Malam memanjangkan tangannya. Subuh telah menunggu di ujung perhentian. Berita antara dua terpaku dan tersebar bagai angin.
Layar besar terpampang pada dinding ruangan, Bart menyilangkan kaki dan bersamaan dengan itu siku tangan bersandar pada tangan sofa hingga tiga jari berlabuh di kening. Senyum dingin mengambang, melihat CCTV menampilkan mobil klasik kuning.
"Mereka mulai bergerak?"
Ricard membawa gelas kopi dengan perasaan senang, langkah pasti menuju ruangan Jean. Pintu di buka, "kemana anak ini?" Melangkah menuju ruang toilet dan mengetuk pintu, "Jean kau di dalam?" Tidak ada jawaban. Memilih duduk di sofa, berniat menyantaikan diri tetapi mata tertarik pada foto. Foto Bart dan Lenia terpampang lebih banyak dari orang yang terlibat dengan lelaki itu. Langkah kaki menuntunnya kembali ke arah layar pada dinding yang menyala. Di bawah meja mencuat lembar foto seorang gadis dengan tubuh penuh luka cakar dan bersimbah darah pada rumput. Ricard mulai memutar otak, di meja penuh dengan catatan orang yang dekat dengan Bart dan paling banyak memang menampilkan tentang Lenia. Ricard mengalihkan tatapan pada buku di ruangan itu yang bertema, hukum, sejarah dan mitologi. Ingatan demi ingatan tercantum jelas.
Pintu diketuk oleh seorang polwan, "pak inspektur Ricard, aku permisi untuk membereskan tempat detektif Jean." Tersenyum.
"Apa yang terjadi?" Tampak bingung, tapi mengeluarkan nada tegas.
"Detektif Jean sudah ditetapkan bebas tugas, dan tepat hari ini beliau resmi keluar dari kepolisian!" Sedikit senyum tergambar.
"Dia di bawah divisiku kenapa aku tidak tahu?" Ingin melangka tapi terhenti dan berjongkok untuk memungut foto dari gadis bersimbah darah pada bawah meja.
'Aku ingin kau mentanda tangani dokumen untuk di serahkan pada kejaksaan pak!' Tersenyum pada Ricard tetapi lelaki itu tampak sibuk dengan gawainya.
'Kau selalu mengganggu di saat yang tepat, di mana?' Tangan mengambil bolpoin dan coretan tangan jelas mensahkan dokumen.
Ricard berdiri cepat, "Ceroboh, jangan bereskan apapun di ruangan ini!" Keluar dengan terburu-buru.
Lift terbuka tubuh Ricard keluar dari sana.
Pesan tertampil di layar gawai Ricard, 'aku sedang bertugas dengan seorang gadis.' Pesan dari Jean membuat Ricard berkerut.
"Pak inspektur Ricard, ada yang mengirim laporan tentang mobil klasik kuning dengan plat milik detektif Jean, sepertinya tersandung kasus penculikan!" Polwan fokus kembali pada layar komputernya, "kami berusaha mencari lokasinya pak, tetapi suatu teknologi sepertinya tidak membiarkan kita masuk!"
"Dia sangat pintar, buru dia pada semua layar CCTV kota dan luar kota, hubungkan pada divisi penanganan kasus penculikan!" Membuka layar gawai, 'kau dimana?' Mengirim pada Jean. Suasana semakin dingin, hujan sedikit kasar di luar kantor kepolisian.
Menghubungkan panggilan suara pada Jean dengan aerphone di telinga, suara terhubung terdengar jelas, "kau ingin apa?"
'Kau tidak akan menemukanku, jika masih dengan cara lama, penguluran waktukah." Suara berhenti sejenak dan tampak menggema, 'aku ingin kau sampaikan pada Bart, istrinya ada padaku. Aku tidak akan melakukan hal gila untuk sementara waktu, aku hanya ingin melihat wajahnya. Aku hampir lupa, kuambil botol biru kecil dari lacimu!' Sedikit terdengar suara hujan, Jean mematikan panggilan. Ricard tampak berdiri di depan pintu keluar kantor polisi, wajah menampilkan pikiran yang dalam.
'Aku tidak ingin kehilangan salah satu penghuni jeruji besiku. Kuharap kau bisa membuka akses.' Pesan Ricard terkirim pada Bart.
Pesan masuk, 'aku berniat meringankan hukumannya.'
'Kau berniat menghilangkannya Bart.' Balasan sejajar dengan pernyataan.
Pesta masih berjalan tenang, Rey memberi isyarat pada Emon untuk menemuinya di salah satu sofa. Lelaki cantik itu turun dari pelaminan dan menuju ke arah Rey, mereka berbisik.
"Apa yang kalian bicarakan?" Eli berada tepat di belakang mereka. Keduanya menatap pada Eli, "kenapa?"
Kantor polisi tetap menganga, "Cari gedung kosong dua atau tiga lantai dan sekarang sedang mengalami hujan yang sama!" Ricard memberi perintah pada polwan resepsionis.
"Divisi kasus penculikan segera melacak pak!" Sambil menatap layar komputer.
"Kirim padaku lokasinya!"
Sekarang Ricard berada di dalam mobil klasiknya, pikiran beradu dalam diri.
Gedung kosong mengelilingi sebuah lapangan, di sana Lenia duduk di side chair, gadis itu tampak tak sadarkan diri, kedua tangan terborgol di belakang tubuh, dan begitu pula pada kedua kaki.
Jean berdiri membelakangi gadis itu sambil tersenyum menghirup udara di sekitarnya, "akhirnya malam ini!" Sambil merentangkan tangan, dan pada tangan kanan terdapat pistol yang menggantung. Membalikan tubuh dengan cepat ke arah Lenia, dan ujung pistol di gesekan pada kepalanya seolah berpikir. "Sekarang apa yang akan kulakukan?" Senyumnya dingin.
Jalan aspal sedikit dingin dengan pemandangan pohon dan bunga menjadi hutan yang rapi. Mobil klasik melaju dengan cepat di sana, Bart terlihat fokus pada jalanan. Tapi, sesekali senyumnya tersungging.
'Gedung Lu'at.' Ricard menerima pesan yang tersambung ke layar mobilnya. Tidak menampilkan pengirim di sana.
"Gedung Lu'at, misi rahasia!" Mengirimkan pesan suara.
Polwan resepsionis dan divisi penanganan kasus penculikan tampak terdiam medengar pesan dari Ricard.
"Hubungi tim rahasia!" Inspektur divisi penculikan bername tag Andre Tung memberi perinta pada timnya, "dari sini akan di tangani oleh mereka, bukan tugas kita lagi. Semua informasi tetap dikumpulkan sebagai barang bukti."
Pohon tampak layu dan tumbang, beberapa bagian pohon menghalangi jalan di belakang Bart, dan arus terus berlanjut mengikuti laju mobil lelaki itu. Mobil dipacu dengan sangat cepat dan kasar seolah citah dan ular menari pada jalan raya. Bart memutar mobilnya sehingga menghadap ke arah belakang, tampak dari balik pohon yang tumbang, makhluk besar berbulu hitam, berwajah anjing, mata merah, kaki empat penuh cakar, dan ekor panjang membelit pohon tinggi hingga ke ujung. Bart keluar dari dalam mobil, membuka kancing jas, dan tangan kiri di dalam saku celana.
"Aku tidak memiliki banyak waktu, jadi bagaimana jika kita bermain di menit." Bart berada tepat di depan mobilnya, dan tampak sangat kecil di bandingkan makhluk di hadapannya saat ini.
Jalan sangat kosong, "Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi," Eli menarik napas, untuk mengolah kata.
"Ada yang mengikuti kita kak Rey!" Cerel melengkapi apa yang akan di katakan Eli.
Eli mengangguk, "bukan aku yang berhalusinasi!" Mereka berdua duduk di kursi belakang mobil sedangkan Rey dan emon di depan dan Rey sebagai sopir. Mobil semakin ganas menghunuskan diri pada jalan. Sesuatu yang menganggu tapi kali ini terlihat sedikit ramah, hanya seseorang berjubah hijau menghalangi jalan dengan cambuk pisau menghancurkan empat ban mobil Rey. Mobil tampak tak stabil, menabrak pembatas jalan dengan sedikit kasar, dan berakhir ketika akar kayu dari tanah menarik mobil agar tetap di tempat. Seseorang berjubah hijau hanya menatap pergerakan mereka dari tempatnya semula, sedangkan mobil mereka terpental sekitar sepuluh meter ke depan.