
...'Aku adalah hukum yang dilanggar....
...Aku adalah beban yang kau pikul....
...Aku adalah bahaya yang harus kau lindungi....
...Aku adalah rangka yang utuh namun harus kau rangkai ulang....
...Aku hiasan paling istimewa namun harus kau rusak....
...Aku adalah duka dan kau berani merangkulku....
...Kau punya alasan namun tak terlihat hal itu membuatku bertahan....
...Kau kawat berduri dan aku terikat namum tak berontak....
...Hingga saat ini aku tidak tahu apa yang membuatku tetap dan harus berdiri di atas kakimu. Walau aku tahu bahwa itu adalah petaka.'...
Kata manusia bukan waktu yang membuatmu bangga karena berhasil terlewat tapi, proses yang ada adalah titik prestasi. Menasihati dan menjadi penasihat bukan hal yang mudah apalagi bagi diri sendiri. Kadang berdiri dengan kaki sendiri tidaklah semudah yang di khyal, pasti ada saatnya kita menginginkan kaki orang lain. Karena setelah di liat-liat ternyata kakiku dan kakimu sama-sama membuat semua orang iri. Egokupun sangat tinggi!
Pagi hari menunjukan pukul 06.30 waktu yang tepat sebelum '*open*' berada di pintu cafe. Cerel membersihkan meja dan merapikan kursi sedangkan Rey menyiram bunga di luar. Senandung gadis kecil itu terdengar merdu. Diiringi tarian-tarian kecil, terlihat sangat bangga dengan pakaian baristi baru yang dia kenakan. Kemeja anti *fit* *style* yang berpadu celana hitam tersusun dengan rok di atasnya dan dua hal itu berteman dengan sepatu putih yang manis. Topi kecil pada rambut bertuliskan namanya dan cafe. Gadis itu tersenyum bangga.
"Terima kasih kak sudah memberikan seragam serta topinya." Cerel tersenyum dari balik kaca, nada suara yang dilanjutkan oleh gadis itu agak keras. Rey tersenyum sebagai balasan. Beberapa orang yang lewat menampilkan senyum ramah padanya.
"Eli yang membuatkannya, terima kasihmu, sampaikan padanya!" Kata-kata Rey membuat kepala Cerel seketika keluar dari balik pintu.
"Sudah ku katakan tadi malam, dia malah memberiku susu hangat. Kak, bunga-bunga ini terlihat sedikit langka dari mana kakak mendapatkannya?" Duduk di dekat kotak kayu dengan tanaman kaktus di sana.
Rey masih fokus menyiram bunga, dan beberapa titik air jatuh tanaman mawarnya, "dari seseorang yang aku kenal tapi tidak dikenal orang." Cerel mengangguk kecil, seolah memahami.
Pertanyaan yang sempat terjeda memang pasti berlanjut. " Tergantung kondisi, mungkin salah satu dari semua akan paham tentang orang itu. Kalau misalkan aku tidak ingin di publikasikan kenapa harus memaksa, itu namanya tidak sopan." Tersenyum pada Cerel, "kita masuk, sebentar lagi waktu, open!" Masuk ke dalam cafe bersama teko penyiram tanaman miliknya.
Cerel mengerutkan kening penuh tanya tapi dengan tiba-tiba lebih memilih merapikan rambut daripada berpikir. Masuk dengan cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gedung megah berbentuk tikus duduk, memakan berhektar-hektar lahan. Terlihat besar dan kokoh. Jelas bangunan itu terbuat dari batuan yang terpahat oleh seniman dan desain arsitektur profesional. Di sebut dengan nama, "Mouse House" Ricard berdiri di depan resepsionis, tepatnya di lobby gedung, "apa aku bisa bertemu Barts?" Ricard bertanya dengan senyum.
"Apa ada janji untuk bertemu tuan? Kata gadis resepsionis itu lembut sambil tersenyum.
"Teman lamanya, sebut saja Ricard. Dia akan menemuiku!" Tersenyum lalu berjalan menuju sofa tempat sementara tamu untuk menunggu. Sekeliling ruangan tanpa CCTV yang mencuat, "dinding dengan teknologi perekam suara dan gambar!" Ricard sedikit kagum dengan bangunan itu.
Gadis resepsionis dengan nama Lena Ki, menekan pada meja layar sentuh dan menampilkan layar hologram di depannya. Menghubungi nomor sekretaris khusus milik Barts.
"Katakan langsung ke lantai 10!" Mematikan gawai. Sekretaris bernama Amanda Lime menatap layar hologram dari perekam yang terpasang pada dinding lobby. Barts duduk di sofa dengan kaki bersilang dan secangkir kopi di tangan. Toxedo merah lengkap melekat pada tubuhnya.
Lena berjalan pelan menuju Ricard yang sedang duduk dengan gawainya, "tuan silahkan ikut saya ke lantai 10!" Berkata ramah dengan sebelah tangan terbuka tanda mempersilahkan. Dengan sidik jari agar mengaktifkan lift terutama untuk tamu khusus.
Pintu ruangan terbuka dari dalam secara otomatis. Resepsionis mempersilahkan pada Ricard untuk masuk. Lelaki itu tersenyum dan melangkah pelan namun tetap tegas lalu duduk langsung di sofa.
"Sofa dengan warna yang sepertinya paling kamu suka, pak?" sofa berwarna hitam. Di atas meja tersedia secangkir kopi tepat di depan Ricard, dan masih mengeluarkan asap.
"Selalu ada masalah akhir-akhir ini, aku menutupi rasa stressku dengan sofa hitam!" Menyeruput kopinya.
"Kadang-kadang kita perlu tahu kapan saatnya kita harus panen padi. Aku berpikir permainan akan selalu membosankan jika gaya bermain yang sama terus berulang dan dipertontonkan dengan bangga oleh seorang teman. Begitu juga dengan teman mainku!" Mengambil cangkir dan menyeruput, "aku berharap di sini ada racun!" Menaikkan alis.
"Aku berharap juga akan hal yang sama." Bart Tersenyum miring.