
Kaki beralas boots berjalan mendekat, cambuk pisau kembali menjadi tongkat. Cerel dan Eli saling berpelukan di kursi belakang, Eli tak sadarkan diri sedangkan Cerel setengah sadar. Emon dan Rey keluar dari dalam mobil.
"Bart sepertinya mengalami hal yang serupa, atau siapapun yang berhubungan dengan Lenia." Emon menepuk tangan dan kaus tangan hitam dari kulit membalut tangannya. Mengibaskan tangan pada tubuh dan gaunnya sehitam malam dengan sedikit kilau kecil, "sepertinya aku harus melawanmu dengan sangat anggun malam ini." Mengibaskan rambut, sehingga rambutnya tergerai. Rey membuka pintu belakang mobil, menarik Cerel dan Eli ke dalam pelukannya. Cerel berada di tangan kiri dan Eli berada di tangan kanan.
"Aku ucapkan selamat bersenang-senang!" Membalikan tubuh berjalan ke arah depan tanpa menatap pada mereka yang siap mengeluarkan tenaga di belakangnya. Tubuh lelaki itu perlahan mengeluarkan bulu berwarna hitam dan putih, wajah berbentuk anjing, mata berwarna kuning, dan ekor memanjang di belakang. Cerel tampak menutup mata, gadis kecil itu tak sadarkan diri sepenuhnya. Tubuh mereka seolah menaiki kuda, pohon per pohon berhasil dilewati dengan sangat baik. Langkah siluman datu Rey membawa mereka dengan kaki sebagai pijakan pada dahan pohon.
Ricard menghentikan mobil dengan cepat saat keluar dari lorong karena beberapa pohon besar tampak tertidur di jalan. Lelaki itu menutup pintu mobilnya kasar, terlalu fokus pada jalanan tanpa dia sadari Rey melewati pohon di samping kanannya. Langkah pada pohon tak menimbulkan suara gaduh.
"Bawa tim pembersih jalan, di sini cukup berantakan!" Ricard mematikan gawai. Kakinya berdiri di tengah batang pohon yang tertidur, mata memerhatikan bekas cakar di sana.
Mobil klasik hancur tepat pada tengahnya, Bart menghindar dengan sedikit berputar, tangan kiri penuh bulu dan cakar, tubuhnya melayang di belakang datu, dan cakar membuat lubang pada tengah dada makhluk itu. Suara berfrekuensi tinggi terdengar, "aku sangat menyayangi mobil klasikku, orang kaya sesungguhnya tidak harus membeli mobil setiap hari!" Menarik tangannya. Beberapa detik tubuh siluman datu di depannya kembali memulihkan diri. Lubang tertutup sempurna, "menarik!" Bart menyunggingkan senyum dingin. Makhluk itu berbalik dan dengan cepat memukul tubuh Bart dengan ekornya yang telah mencabut batang pohon. Lelaki itu menghindar ke hutan di kiri mereka, pohon yang melayang menghancurkan beberapa pohon di sekitarnya. Tempat sempurna untuk menata diri. Kedua kaki Bart masih berdiri sempurna dengan gaya yang anggun, tangan kiri menyembunyikan bulu ke dalam kulit, dan lengan jas hitam kembali sempurna. Bart terlihat fokus pada makhluk yang sekarang berdiri di hadapannya. Sedangkan di hutan sebelah kanan, Rey sekilas melihat ke arah pertempuran dan kembali fokus menjalankan tubuh ke arah depan. Lelaki itu dalam wujud silumannya seolah tak peduli.
Keduanya saling menjatuhkan mata ke lawan. Kabut hitam terkumpul di ujung tangan, tangan di kibaskan, rumput dan tanah melayang ke udara hingga menutup pandangan makhluk di depan Bart, dan dari belakang amang menusuk bagian kepala siluman datu itu.
Bart menggunakan kedua tangannya, tubuh lelaki itu terjatuh bersama tubuh siluman yang sedang memperdengarkan suara tinggi. Bart menarik amang dan kembali merapikan dasinya.
Seorang lelaki tua muncul dari gumpalan hitam di depan Bart. Penampilan tua itu terlihat membungkuk kecil sebagai tanda penghormatan. Bart turun dari tubuh siluman di bawahnya dan membiarkan Lelaki tua itu setengah menunduk sekadar menyentuh tubuh siluman itu, dan seketika bulatan kabut menarik masuk keduanya.
Cambuk pisau menghantam pohon dan pembatas jalan. Terpotong dengan sisa yang menyedihkan, Emon tampak berdiri di atas akar yang terpotong dan perlahan menyambungkan dirinya. Lelaki cantik itu tampak memerhatikan kukunya, seseorang berjubah hijau melempar cambuknya, Emon menghindar, dan uei menarik tubuhnya mendekat pada pemilik cambuk. Keduanya seolah menatap. Ujung cambuk berputar dan menuju ke arah punggung Emon tetapi dengan cepat Lelaki cantik itu mengibaskan tangan dan akar sebagai pelindung. Emon berhasil membebaskan diri. Lelaki cantik itu berdiri sedikit jauh dari seseorang berjubah hijau di belakangnya, mereka saling menampilkan punggung. Tatapan Emon teralih pada tangannya yang mengelurkan darah berwarna merah kehitaman.
"Bukan hanya luka tetapi racun!" Membalikan tubuh, menatap tubuh berbalut jubah di baliknya yang juga mengeluarkan darah berwarna hitam.
Anak panah menembus bagian leher, dan perlahan berubah menjadi ranting. Penglihatan sepakat bahwa sebelum melepaskan diri dari uei, tangan kiri Emon terkibas dan menarik satu ranting yang berubah menjadi anak panah lalu menusuk tubuh berjubah itu.
Tangan dari tubuh berjubah hijau itu sekarang sedang menarik perlahan ranting dari lehernya.
"Sudah di pastikan." Emon berucap penuh keyakinan.
Tubuh berjubah hijau itu melepas ranting dari tangannya begitu saja.
Lenia berusaha mendongak, tangan kiri sosok itu menopang dua tubuh, Cerel dan Eli. "Kau bisa membawaku padanya?" Memegang tangan makhluk di depannya sebagai penopang, "aku mohon!" Ucapan terdengar setengah berbisik tetapi menggema di telinga Rey.
Sekilas pikur menghentikan waktu sejenak, perkataan penuh perhitungan. Sesuatu itu memperlambat aliran jarum pada jam. Saat ingin mempercepat rasanya mustahil.
"Kau tahu Lenia, lelaki seperti apa suamimu, tentu saja kau tahu dan memaksakan diri untuk menerimanya!" Jean berjongkok di depan tubuh Lenia, gadis itu berusaha membuka mata, "dia makhluk yang menginginkan sesuatu agar berdiri dan remuk pada tangannya dan di dapat dengan cara apapun. Segala sesuatu yang jahat ada padanya, dan gelar itu yang sangat kaupuja. Aku mempertanyakan hal ini, di mana letak gadis sepertimu untuk menyukainya?" Kedua tangan berada di atas lutut, lelaki itu seketika menatap ke belakang.
"Aku harap kau ada saat aku menghancurkan makhluk itu sebelum dia menghancurkan banyak nyawa!" Kalimat yang melekat pada Lenia. Gadis itu berada di pelukan Rey, dan terlihat bersandar pada bahu lelaki itu. Sandaran penghangat yang sempurna karena sekarang tubuh itu penuh dengan bulu hitam. Lenia membuka mata tetapi tubuh masih terlihat sangat lemah.
Hentakan pada tubuh ketiga gadis itu menimbulkan sedikit getar saat lompatan terjadi.
Seseorang berjubah hijau itu sesekali terlihat menghindar dengan berpijak pada dahan pohon, gerakan di pacu sekadar mengelilingi Emon. Kaki yang cepat memindahkan tubuh ke pinggir kiri jalan dengan mencengram pada batu di tebing. Lelaki cantik itu terus-menerus membidik dengan anak panah yang dia buat dari ranting, dan busur tampak transparan pada tangannya. Seolah anak panah dapat bergerak tanpa busurnya. Serangan cambuk pisau menghempas pada Emon dan lelaki cantik itu memutar tubuhnya. Akar dengan cepat menarik tubuh Lelaki itu untuk menghindar. Panah melayang, gadis itu dapat mengindar dengan memundurkan tubuh ke belakang tetapi pisau mengenai topeng dan membelahnya. Sekilas terlihat wajah cantik dengan tudung jubah yang juga terbuka.
"Aku benar-benar mampu bermain dart." Tersenyum singkat, tubuh masih di peluk oleh akar, tangan masih memegang anak panah dan panah transparan pada tangan kirinya. Tubuh Emon bergerak kesamping kiri dan kanan oleh akar bagai berayun.
Gadis berjubah itu berdiri di jalan raya, sesuatu membuatnya menatap ke arah samping, "kalau ada waktu mari berjumpa di kehidupan selanjutnya!" Berlari dengan cepat menuju arah belakang, menopang tubuh pada pinggir tebing dan pohon. Hilang di antara tikungan jalan.
"Seorang perempuan?" Busur menjadi air dan anak panah kembali menjadi ranting. Akar menariknya perlahan dan meletakan tubuh Emon bersandar pada pohon. Lelaki cantik itu tampak lemah, "racun pelumpuh, aku tidak berjaga dia memainkan ini." Kelopak mata terasa berat, dan racun pelumpuh bekerja saat tubuh beristirahat. Pemandangan kecil sedikit menampilkan tiga mobil hitam terparkir di jalan raya, penglihatan terakhir sebelum matanya tertutup sempurna.
Baju dengan rompi anti peluru berwarna hitam, memegang senjata api, dan seluruh anggota keluar dari balik mobil. Mereka mengambil posisi siaga, tangan sebagai isyarat. Sebagian memeriksa mobil klasik rusak yang berada di sisi jalan, dan anggota lain memeriksa keadaan Emon.
"Masukan perempuan ini ke mobil penyelamatan!" Satu laki-laki berada di belakang pemilik perintah, menyimpan senjata api pada sakunya dan membawa Emon ke dalam pelukannya. Dua orang membuka satu mobil yang tampak kosong dan memasukan Emon ke sana. Tiga orang bersama lelaki cantik itu. Seluruh anggota siaga masuk dan mobil kembali di jalankan. Satu alat berat menggunakan derek berada di depan mereka.