Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Kalung dan gelang semakin erat di leher Lenia. Bart mengibaskan tangan kabut putih mengenai leher dan tangan gadis itu. Kalung dan gelang menjadi uraian pasir jatuh ke tanah dan sebagian jatuh pada punggung dan dada Lenia. Gadis itu pelan terjatuh tapi dengan cepat Bart mengibaskan tangan sebelum tubuhnya menyentuh ujung gerbang yang tajam.


      Uria menjauh dari Bart dan berdiri di depan tubuh Kalina yang terkulai lemah. Bart melayang pelan kakinya menyentuh lantai. Berdiri membelakangi Uria, dengan kibasan tangan amang tercabut dari tubuh Kalina dan kembali pada Bart. Darah hitam keluar seperti air. Beberapa dayang semakin menunduk.


      Pintu gerbang terbuka lebar. Seorang lelaki tampan dan kekar berambut putih dengan mahkota emas berbentuk naga melingkar, jubah panjang sutera dengan rajutan rapi membentuk naga yang megah. Di belakangnya barisan rapi para lelaki tampan dengan warna rambut berbeda-beda dengan lingkaran mahkota bening, kenakan jubah dan kain lilit serta celana sutera dengan macam-macam corak. Tanda pemimpin dari suku siluman yang berbeda.


      Tubuh Lenia masih tergantung, gadis itu setengah sadar. Bart menatap barisan yang di antar oleh akar dan tepat berdiri di depannya lalu menunduk.


      Uria masih menatap Kalina.


      "Dia yang ayah sebut!" Uria menatap datar pada gadis yang terbaring.


      "Anakku baru memimpin kerajaannya sendiri, saya harap anda mengerti tuan!" Menunduk.  Beberapa siluman dibelakangnya ikut menunduk.


      "Dia hanya belum dewasa, aku tidak akan dendam. Tapi jangan pernah berusaha menghilangkan yang menjadi milikku karena aku akan melakukan hal yang sama!" Tersenyum dingin.


      "Apapun yang anda minta?" Kata Uria.


      "Sebagai seorang ayah, saya pasti akan bangga karena anakmu sangat menyenangkan." Tersenyum sambil melewati barisan yang memberi jalan, Bart menghentikan langkah "mungkin dia lebih berarti dari milikku bagimu!" Mengibaskan tangan ke arah Luka kalina dan kabut putih membuat luka gadis itu tertutup. Uria tersenyum simpul.


      Bart tepat di bawah Lenia, tubuh gadis itu pelan terjatuh ke tangannya. Kesadaran Lenia melemah, "kau selamat." Suara pelan dan mata gadis itu pelan tertutup. Bart menyentuh leher Lenia dan kabut kecil biru di sana terlihat menyebar.


      "Gadis bodoh!" Akar mengantar tubuh keduanya. Pintu gerbang tertutup rapi.


      Mengajarkan suatu hal dengan rasa sakit bukan hal yang buruk. Jika, perlakuan lembut di tepis maka gunakan perlakuan kasar. Tidak semua orang memiliki mental yang sama. Sebagai catatan kemesraan.


     "Aroma mawar?" Lenia membuka mata, tubuhnya berada di ranjang, jendela terbuka dan angin perlahan masuk. Bunyi jam mengusik pendengaran. Menatap ke arah jam dinding kuno, terletak di atas pintu di sebelah kanan berlawanan dengan jendela. Jam menunjukan pukul 13.23, beberapa jam baru bisa membuatnya sadar. Kamar yang luas dengan design kuno.


      Lenia membuka selimut hingga ke leher ketika tatapannya jatuh pada leher Bart. Luka lebar tanpa jahitan, hampir seukuran jari kelingking Lenia dan berwarna hitam tampak kering. Lenia menggulurkan tangan dan sebelum menyentuh leher Bart, lelaki itu memegang tangannya.


      Mendorong tangan Lenia pada bibir gadis itu dan jari telunjuk tepat di antara belahan bibirnya yang terbuka. Tubuh Bart membungkuk, dan mencium bibir serta mengisap jari gadis itu. Lenia terdiam tanpa berusaha melawan. Bahkan bibirnya terbuka lebih lebar. Permainan lidah dari sela jari gadis itu. Bart menarik tangan Lenia pelan, dan memasukkan jari telunjuk gadis itu pada mulutnya. Hisapan lembut di sana. Tatapan pada mata Lenia lekat, menarik tangan gadis itu dari mulut dan meletakan di belakang lehernya. Ciuman cepat pada bibir Lenia. Gadis itu tetap membuka mata dan tatapannya sendu. Bart berpindah pada leher Lenia.


      "Bart." Suara lembut. Lelaki itu hanya menjawab dengan bergumam. Tetap fokus pada ciumannya pada leher Lenia.


      "Kau punya obat luka?" Di sela ciuman.


      "Aku tidak membutuhkannya!" Membuka nightie gadis itu dan mencium dadanya.


      "Kau meletakan ranselku di mana?" Menahan suara kecilnya.


      "Di lemari ruang tamu di bawah!" Kembali mencium bibir Lenia. Tangannya masuk ke tubuh bagian bawah gadis itu.


      Lenia berusaha menahan suara kecilnya. Gadis itu menahan dada Bart dan membuatnya sedikit jauh dari wajah gadis itu.


      "Kau mau melakukan apapun setelah ini tapi aku akan ke bawah dan mengambil obat luka di P3K ku." Bart menarik Lenia untuk duduk. Gadis itu terkejut, "tidak bisa kita bermain sekali saja!" Tersenyum miring. Lenia menggeleng cepat, "kau tidak akan mau lebih dari sekali, aku akan ke bawah kau tunggu di sini!" Bart melonggarkan pelukan pada tubuh Lenia dengan sedikit terpaksa.


      Lenia merangkak ke sebelah pinggir tempat tidur. Gadis itu berdiri tanpa alas kaki, memperbaiki nightie putihnya, "dasar mesum memasangkan baju yang seperti ini." Sambil menepuk kedua pipinya, "panas!" Rambut ikal Lenia tertata rapi. Tubuhnya hilang di balik pintu.


      Bart tersenyum miring, "padahal sudah!" menghentikan kata. Mata menatap tangan kanan, di sana terlihat lendir yang sedikit lengket. Tangan menyentuh lidah dan menikmati rasanya.