
Kepercayaan butuh alasan dan bukti. Kenyataan selalu di tempat yang wajar dan tidak ada kata, 'tidak wajar' karena dua kata itu hanya ada dalam pikiran manusia. Patuh dan pahami sesuatu hal dengan tulus.
Lenia memeluk tubuhnya dengan cardigan. Berjalan pelan dan mulai tergesa-gesa. Langkah kaki tidak beraturan, terlihat sekali ketakutan di antara setiap jejak membekas di pasir. Pepohonan terpisah dengan halaman pasir, begitupun rumah warga. Anehnya tidak ada seorangpun menjaga tempat wisata itu untuk malam ini. Perlahan penglihatan Lenia memudar.
"Apa yang ter," kalimat terhenti dan terdengar pelan. Gadis itu mengedipkan mata berulang kali. Membuka mata dengan baik sekarang di depannya bukan lagi jalan yang mengarah ke jalan raya tapi hutan dengan pasir dan daun sebagai alas. Di belakang gadis itu, halaman pasir seperti tersihir menjauh dari batas pandangan. Sekarang, hutan dengan pohon jeruk dan rumput yang tertata rapi. Pemandangan yang ajaib.
Lenia menarik napas, "permisi!" Suara lantang tapi ragu, "kau pasti mendengarkanku?"
"Rupanya kau seorang istri!" Lenia menatap sekeliling mencari sumber suara dan seorang lelaki tampan tanpa sehelai kain berdiri di atas pohon jeruk. Tangannya mengambil buah dan membuka pelan kulit jeruk, "dia benar-benar baik dalam memberi umpan untuk buruan. Dia mengejarku dengan sebuah alat pancing agar tertarik?" satu bagian jeruk masuk ke dalam mulutnya.
"Istri, siapa yang memancing siapa?" Menyipitkan mata.
"Dia menyuruh seseorang membawamu kemari sebagai makan malamku selanjutnya. Agar dia bisa menangkapku dan menjadikan dirinya yang paling dihargai!" Tertawa lepas.
Lenia berpikir, "yang kau maksud Bart?"
"Nama yang baik untuknya di sini!" Tersenyum miring dan memakan jeruk terakhir.
"Tadi kau sebut makan malam selanjutnya, aku?" Menatap tajam dan kata yang ragu.
Lelaki itu menghilang dari atas pohon dan segumpal asap hitam sekaran. Dia berdiri tepat di belakang Lenia.
Membungkuk dan berbisik, "Kaum kami tidak akan pernah menyukai manusia dengan hati tapi dengan mulut!" Tertawa di dekat telinga gadis itu, "manusia adalah makhluk paling duniawi, karena tergoda oleh tampilan, harta, kekuasaan dan kekuatan. Bahkan ada yang menyukai pusaka dan rela mengorbankan apapun karena keserakahan. Kau tidak tahu sama sekali jika suamimu menjualmu sebagai tumbal untuk kaumnya agar memperoleh kekuasaan di alam kami!" Tersenyum puas.
Lelaki itu mundur dan mengatakan pelan dengan suara lembut yang dingin, "kaummu membenci kaum kami, apa karena sumber makanan kaum kami. Sedangkan manusia bebas memakan makanan apapun dari alam. Hewan, tumbuhan dan juga merampas tempat kami. Manusia tidak sendirian hidup di sini, beri sedikit ruang untuk berbagi?" Tatapan kebencian di sana.
"Sebagian manusia tidak bisa melihat kaum kalian!" Lenia tegas dan air mata di pipi gadis itu.
"Itu perjanjian dan kutukan untuk kami. Apapun yang kami lakukan tidak akan pernah membuat kami sempurna, kau tidak tahu seberapa sulit untuk mendapatkan tubuh manusia!" Senyum meremehkan, "karena itu aku sangat iri dengan kata, manusia." ekor tumbuh panjang, bulu pada seluruh tubuh dan wajah macan khas siluman datu. Kuku dan taring yang tajam serta mata berwarna merah gelap. Tiba-tiba melompat ke arah Lenia. Gadis itu berdiri kaku tanpa berbalik dan ketakutan menjadi warna pada wajah. Sebelum siluman datu menerjang Lenia, tiba-tiba asap putih keluar dari bayangan samar Lenia, cahaya bulan tampak jelas membuat bayangan gadis itu dan membentuk sesosok tubuh, Muler. Jas anak itu terlihat rapi, dia berdiri tegap di belakang punggung Lenia. Keduanya saling memberikan punggung sebagai tatapan. Sayatan dari pisau Muler mengenai perut siluman itu. Suara raungan terdengar menggema dan itu membuat tubuh silumannya menjauh.
"Aku bingung apa yang gadis sepertimu sedihkan, kakak?" Lenia membalikan badan. Muler berdiri terlihat seperti prisai.
"Kau bukan manusia tapi membela kaum mereka!" Menyerang dengan cakar ke arah Muler. Anak itu menarik Lenia berlari. Anak itu membawa Lenia berlari dengan cepat melewati celah pohon.
"Kau yang disuruh oleh Bart?" Muler menatap Lenia. Beberapa pohon jeruk di belakang mereka tercabut bersama akar. Muler mengangguk pelan dan tersenyum miring, "berapa banyak kesenangan yang dia beri untuk kekuasaannya?" Tegas.
Pohon jeruk di lempar ke arah mereka dan hampir terkena Lenia. Tapi Muler menarik tubuh gadis itu ke sebelah kanannya, "banyak hal, yang tidak perlu kau tahu dari ini!" Melempar Lenia ke arah pohon jeruk di depan mereka. Hingga tubuhnya membentur pohon pelan. Muler berbalik dan berlari, satu kedipan mata membuatnya hilang dari pandangan dan dengan gerakan yang cepat pisau anak itu mengenai beberapa bagian tubuh siluman.
Kemarahan dari suara raungan membuat cahaya merah di pasir hingga mengetarkan pepohonan. Siluman datu berlari menuju Muler dan anak itu berjalan pelan ke satu titik yang sama. Pisau menusuk bagian perut siluman itu tapi membiarkan kukunya merobek punggung dan bahu Muler. Siluman itu meraung dan melemah hingga membuatnya berwujud manusia. Memegang pisau pada perutnya, "apa yang kau pikul, tanggung jawab. Kau hanya pesuruh!"
"Rajak, Aku pesuruh yang bisa menolak!" Darah biru dari luka Muler mengalir hingga ke telapak tangan dan menetes di pasir, "bawa dia ke tahanan!" Sopir dengan tiba-tiba berada di belakang Muler dan menarik tubuh Rajak untuk berdiri. Sopir itu membungkuk hormat dan dengan kabut hitam menghilang bersama tubuh siluman itu. Lenia mengerutkan dahi dan menggeleng pelan. Dia dalam posisi duduk bersandar pada pohon jeruk. Gadis itu terlihat lemah.