Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Manusia yang berdiri dan duduk di sisi manusia lain serta makan bersama bukan berarti tidak memiliki ego. Manusia yang paling mengenalmu adalah manusia yang punya hak kau pertahankan, kau layani dan kau kasihi. Dapatkan kepercayaan dan kebanggaan dari satu orang adalah harga yang tak memiliki harga untuk di samakan dengan harta dunia.


      Sebelum sopir membuka pintu mobil untuk Lenia, gadis itu lebih dulu membukanya.  Tatapan tertuju pada cahaya biru yang samar di tengah pasir putih. Lentera alam mengantung di atas setiap kepala, bulan dan bintang.


      Di sekeliling hanya terlihat pasir putih dan danau berwarna biru saat pagi. Saat malam hari akan memantulkan lentera malam.


      Muler bersilah, pakaian berantakan dengan jas berada di atas pasir di sampingnya. Kemeja putih terlihat basah, hal itu terjadi pada seluruh tubuhnya dan bahkan rambut yang masih meneteskan air. Api biru melayang di depan anak itu. Kolam sebagai pandangan.


       Lenia berjalan pelan di atas pasir, memberi pelukan pada tubuh dengan cardigan. Terpaksa duduk di samping Muler.


      "Punya masalah?" Bersilah, tanpa peduli dengan pasir sebagai alas tempat duduk.


      "Kakak pasti datang untuk menghiburkukan?" Tersenyum bangga.


      "Bagus dalam berkata tapi salah dalam pemahaman. Dengar, aku tidak akan membahas soal jam, soal tuan Leon, soal mobil yang harus ada sopir dan mari kita bahas soal untuk apa kakak ini di sini?" Tersenyum paksa.


      "Bukannya kakak sedang meminta untuk di bahas, semuanya?" Menatap Lenia.


      "Apa aku salah dengar, itu jawaban?" Mengerutkan dahi.


      "Kuyakinkan itu benar!" Tersenyum.


      "Aku pergi!" Berdiri tapi akhirnya mengurungkan niat dan kembali duduk.


      "Kalau begitu maafkan Leon yang terlalu khwatir denganku!" Menatap lurus, "aku masih kacang." ekspresi Muler datar.


      "Maaf, bisa tarik kembali soal kacang?" Ragu.


      Menarik napas dalam, "seharusnya dia tidak memaksamu kemari, kakak terlihat dengan senang hati menemuiku!" Tersenyum miring.


      Menelan air liur, "aku hanya menganggap kau anak kecil yang tersesat dan perlu ku bawa pulang!"


      "Kau butuh pencerahan nak!" Tersenyum tanda peringatan. Muler menghentikan gerakan tangannya.


      Gawai Lenia berdering, mengambil dari saku cardigan dan sebuah pesan di aplikasinya. 'Apa kau bersama Bart?' Tertera pengirim atas nama 'Ricard'. Lenia menggenggam erat gawai di depannya. Muler menatap layar yang menyala dengan tatapan dingin.


      "Katakan kau sedang di sini bersamaku!" Tatapan anak itu begitu lekat.


      Menatap Muler, "masalah tidak semudah yang anak kecil pikirkan, kita pulang!" Tiba-tiba gawai berdering, sebuah panggilan atas nama Ricard.


      Menarik napas, 'aku tahu kemungkinan besar kau tidak tidur. Sedang bersama suamimu?' Suara Ricard terdengar tegas.


      "Aku tidak yakin soal pertanyaan dengan kata, di mana!" Mematikan panggilan.


      Ricard tersenyum dingin menatap ke arah rumah Lenia. Leon berdiri di depan pagar dan sedang melangkah menuju ke mobil antik hitam milik Ricard.


      "Mobil yang baik untuk ukuran seorang polisi, aku tidak yakin kau suka korupsi?" Berdiri tepat di depan mobil sambil tersenyum.


      Muler menatap dingin ke arah kolam, "alihkan untuk sementara!" Handset di telinga Muler menyala. Lenia tenggelam dalam pikirannya


      "Kita pulang sekarang!" Berdiri cepat dan berjalan menuju arah mobil. Muler tetap di posisi duduk. Cahaya biru redup dan anak itu berdiri. Jas melayang pelan menuju tangan kirinya. Tatapan misterius yang pasti sulit di ungkap.


      Sisi dan sudut yang berbeda. Tampil dalam kumpulan yang rumit. Sensasi malam yang tegang. Akan berarti dalam lautan tipu muslihat.


      Mobil antik hitam melaju sepanjang jalan. Jalanan seakan memburu dosa. Tatapan dingin sebagai petunjuk arah, tujuan. Ricard dalam diam. Terlihat kekhwatiran di wajah.


      Lenia berdiri kaku seakan membuatnya bingung dengan pemandangan yang disajikan. Mobil antik dan sopir tidak ada di hadapan gadis itu, sekarang. Posisi yang sama di tempat tubuhnya di antar rapi ke Tampu Langit. Tidak ada tanda bekas transportasi di tempat parkir. Berbalik, dan pemandangan paling mengecewakan juga menjadi satu tujuan. Muler tidak ada di belakangnya dan anak itu bahkan hilang dari posisi awalnya. Tidak ada tanda siapapun di sana, seolah-olah dia berdiri sedari tadi dengan kakinya sendiri. Lenia berusaha berdiri tegap, gadis itu mencoba menahan getar tubuhnya. Ketakutan menjadi ratu kejahatan di tempat sepi.