
Menghempaskan kasar sling bag di atas meja. Lenia menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya.
"Lei, lamang dan kopi!" Rey meletakan di depan gadis itu.
"Kenapa sebelum di pesan sudah di sediakan, tapi terima kasih." Menarik tubuh untuk duduk tegak.
"Lei, matamu?" Mengerutkan kening.
"Jangan dipikir lebih baik, bekerja!" Menunjuk pada beberapa orang yang datang. Mulai menyeruput kopi. Membuka tas laptop dan meletakan elektronik itu di atas meja. Memakan sepotong lamang, "enak seperti biasa." posisinya masih berdiri.
Lenia menyalakan laptop, membaca dengan teliti setiap halaman novelnya.
"Yang di sukai setiap orang dari laki-laki dan perempuan bukan soal wajah atau tubuh tapi sifat pribadi. Karena yang membuat orang suka pada mu sebagai seorang gadis hanya sebuah kata 'nyaman' yang di sebut 'kasih' manusia." kepala Muler berada di bahu Lenia. Di tangannya terulur lamang ke arah mulut gadis itu. Tanpa berpikir gadis itu memakannya.
"Jatuh!" Ucapanya terbata, bersusah payah agar lamang tidak keluar dari mulutnya. Muler menggunakan tangannya lagi untuk membantu memasukan semua potongan lamang yang hampir terbang ke lantai untuk masuk ke dalam mulut Lenia.
Anak itu duduk di depan Lenia yang masih berdiri, "lamang, enak!" Sambil mengunyah. Muler menggunakan kemeja hijau dengan cardigan rajut putih sebagai luaran, celana kain anti lipit berwarna hitam dan sepatu slip on casual kuning. Rambut perak ke emasan yang tertata rapi. Lenia duduk dengan enggan.
"Untuk apa berada di sini?" Mengerutkan dahi.
"Aku sudah memesan kopiku!" Bersandar dan menyilangkan kaki, suasana yang benar-benar santai.
"Aku duduk di sini karena disini tempatku biasa minum kopi!" Dengan telunjuk menekan meja berkali-kali sebagai tanda kepemilikan.
"Apa tempat pribadi mu bisa sedikit di ubah, tuan." terlihat tidak perduli dengan ucapan gadis itu.
"Bukannya masih ada banyak tempat pribadi yang lain?" menunjuk dengan menjulurkan telapak tangannya yang terbuka. Lenia menoleh, semua tempat di sana penuh dengan pasangan dan keluarga. Menarik pelan tangannya, "terserah." Pasrah. Rey datang dengan kopi dan lamang lagi.
"Silahkan di nikmati!" Ramah sambil menatap Muler. Anak itu menatap sekilas dengan kesan yang dingin.
"Tidak ada kata terima kasih?" Lenia menatap Muler.
"Hargai orang yang lebih tua darimu!" Menyilangkan tangan di dada.
"Aku lebih tua darinya!" Lenia mengerutkan dahi dan tertawa singkat tanda tidak percaya pada kalimat anak itu, "dalam hal pendidikan dan juga umur." Lanjutnya tanpa merasa bahwa kalimatnya mungkin butuh koreksi. Mata itu menatap dengan senyuman miring sebagai kebanggaan.
"Hidup ini memang penuh dengan cobaan ternyata." Memasukan laptop ke tas, Lenia menggeleng. Berdiri pelan, "kalau begitu permisi kakek tua, saya harap kita tidak bertemu, dan terima kasih." Menuju Rey dan membayar kopi dan lamang. Pergi dengan santai, tanpa menoleh. Tak berapa lama melangkah, gawai gadis itu tiba-tiba berbunyi. "Iya, siapa karena yang pasti mengangkat telepon sekarang manusia dan dia masih hidup di sini!"
"Lei, kamu lagi marah atau ada masalah?" Suara direktur Leon lembut dari seberang.
"Dua-duanya tanpa terkecuali sedikitpun, sangat-sangat marah sekarang." mengelus dada dan menarik napas, "Tenang, sekarang sudah agak sadar?" Telapak tangan bergerak sebagai kipas.
"Lei kamu tahukan sebentar lagi hari ulang tahun perusahaa, aku ingin meminta tolong?" Duduk di pinggir meja kantor.
"Aku mendengarkan." Berkata pelan sambil menarik napas dan membuang perlahan.
"Aku memesan Aula Pu'tau, dekorasi garden party night. Aku kemarin memesan bunga mawar asli dari salah satu cafe bunga terbaik tapi dia tidak menyetujui pemesanan." tiba-tiba berdehem.
"Oke apa?" Lenia mengerutkan dahi lagi.
"Dia ingin agar salah satu dari gadisku untuk menemuinya secara langsung. Bagaimana?" Menatap keluar dari jendela kaca.
"Cafe?" Mengerutkan dahi dan terlihat berpikir, "tidak mungkinkan?" Menatap ke arah Muler. Anak itu terlihat menikmati kopinya dari balik jendela. Mengangkat cangkir sambil tersenyum miring pada Lenia.
"Cafe Moon, aku tidak bisa mencari tempat lain selain di sana. Kau tahu sendiri di tempat lain jenis mawar tidak di jual secara lengkap. Apalagi kualitasnya bagus kata temanmu Rey. Tolong oke!" Mematikan gawai.
"Tunggu, manusia ini memang tidak berniat memberi pilihan!" Memasukan gawai ke dalam tas dan melangkah pelan, "aku tidak akan menemui bocah itu lagi, titik seribu." Tersenyum ragu.
"Permisi untuk duduk!" Rey meletakan kopi di meja Muler. Keduanya saling menatap. Beberapa orang di cafe terlihat sesekali menoleh memperhatikan mereka. Keduanya sudah jelas menjadi pusat perhatian. Anak lelaki imut yang berkesan dingin dengan lelaki dewasa tampan berkesan sexy di satukan dalam satu meja sebagai wadah hidangan yang menarik.