Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Misi untuk Kebersamaan



      Waktu tidak dapat terulang. Waktu tidak akan dapat berhenti. Kekuatan manusia adalah tipuan dihada di hadapan sang waktu. Tapi pemahaman akan sebuah makna itu merupakan pelajaran. Saat musim adalah senyawa berduri, dalam melarat seorang manusia tersesat antara ribuan bunga. Dia yang hilang telah kembali.


      Suatu pagi yang cerah adalah tautan nyanyian dalam bentuk lantunan puisi. Dua gadis berjalan beriring seolah sedang menari. Tergambar pemandangan, gadis dewasa dan seorang gadis kecil tampak ceria.


Keduanya dalam balutan pakaian anti fit style. Dua kehidupan itu telah dipersatukan di atas jalan raya.


       "Cel, aku akan menemui temanku dan baru setelah itu aku akan mengurus." Menunjuk Cerel, "bagaimana memperlakukan gadis kecil sepertimu." lanjutnya dalam senyum. Cerel menggangguk tanda setuju dengan pemahamannya. Anak itu terlihat risih, karena alas kakinya menggunakan sepatu yang longgar, hal itu sedikit membuat dia kesulitan dalam melangkah.


      Rumah yang sama dan pemilik yang mampu berkarya. Sambutan dengan pesan yang menarik.


      "Lei, kau datang pada saat aku sedang putus asa. Tulus sekali?" Menaikkan alis sebelah kiri, tatapan jatuh pada gadis kecil yang sedang menatap sekeliling.


     "Cerel!" Menyentik pipi gadis itu.


     "Cerel Baybut namaku kak, salam kenal." Langsung memperkenalkan diri sambil tersenyum, "aku menumpang di tempat kakak Leilei untuk sementara, itu cerita singkatku kak."


      "Oke, sudah di ceritakan olehnya tadi malam." Menunjuk pada Lenia dengan matanya. "Punya panggilan tambahan, duduk." Mempersilahkan. Ruang tamu berisi barisan sofa merah dan meja marmer berbentuk bulat, "Lei ambilkan susu dan roti dari dapur, tolong!" Cerel duduk masih dengan memperhatikan sangkar kaca yang berisi design baju pada setiap sisi rumah Eli. Lenia yang hampir berjalan ke arah mereka akhirnya kembali lagi menuju dapur.


      "Kamu tinggal di mana tepatnya?" Menyeruput kopi.


      "Panti asuhan, dan memilih kabur karena tidak ingin di adopsi." Terlihat santai tanpa beban dari setiap kata dan gerakan wajah Cerel.


      "Kisah klasik kalau dituang dalam novel, tapi akan menjadi kisah tingkat tinggi saat di alami pada dunia nyata. Bukan begitu?" Masih memegang cangkir kopi, "Kalau begitu bagaimana kalau aku yang mengadopsimu?"


      "Aku mau asal dengan syarat, kakak harus memberiku pekerjaan!" Pernyataan yang terdengar tulus, "Karena aku percaya tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini."


      "Kamu ini sepertinya punya masalah dengan utang budi. Apa karena hal itu, akhirnya kamu tidak ingin diadopsi!"Eli menaikkan sebelah alisnya.


      "Sebenarnya bukan persoalan utang budinya tapi ke masalah mandiri. Aku di letakkan di depan panti asuhan oleh orang tuaku, aku tidak peduli alasan mereka. Dengan di tinggalkan di sana maka hal itu menyiratkan arti bahwa aku harus bisa berdiri sendiri. Dari situ aku berpikir bahwa bukan hanya aku yang menginginkan kemandirian tapi orang lain juga. Jadi sebisa mungkin jangan menjadi beban tanpa merasa terjun ke medan perang!" Lenia meletakan susu dan roti panggang hangat di atas meja di depan Cerel lalu menepuk kepala gadis kecil itu. Sekarang mereka berdua duduk bersebelahnya.


      "Aku saja yang akan mengadopsi Cerel, El!" Tersenyum sambil memeluk Cerel.


      "Lei sayang, kamu kira dua manusia dengan masalah yang sama akan mendapat kebebasan semudah menjentikkan jari. Kalian berdua adalah bayiku, tentu saja tidak cocok bersama. Kamu bisa bertemu dengan Cerel tapi untuk tinggal bersamamu, tentu saja tidak!" Ekspresi wajah itu memuat pernyataan mutlak.


      "Aku akan bersama dengan kakak ini?" Menatap pada Eli, "lagipula kakak Leilei terlihat sangat dekat dengan kakak yang ini!" Tersenyum pada Lenia.


      "Panggil saja kakak Eli." Menyeruput kopi.


      "Kakak Eli, itu dia." Cerel memastikan kalimatnya.


"soalnya kakak lupa memperkenalkan diri tadi." Diperjelas oleh Lenia, dengan kalimat yang meniru Carel.


       "Baru ku lakukan, kembali ke laptop karena aku harus menjadi pribadi yang serius kali ini." Menarik napas, "bagaimana, setuju." Menaikkan alis dan cangkir kopi masih di depan wajahnya.


"Letakkan cangkir kopi mu itu, kalau sudah habis." Lenia menatap datar.


      "Kak, kakak Eli seorang ini pembuat design mewah yang handal?" Ekspresi gadis kecil itu sangat berseri-seri.


      "Silahkan melihat karya calon kakakmu!" Jawab Lenia.


Cerel tersenyum dan dibalas anggukan kecil dari Eli. Gadis kecil itu berjalan pelan dari satu rangkaian berbentuk sangkar ke rangkian yang terbuat dari batang bambu yang beralaskan ebak (kulit kayu), dan di sana juga ada beberapa kotak terbuat dari akar, lalu bagian bawahnya bedekorasi daun-daunan plastik. Banyak lagi rangkaian dengan bentuk unik dengan pakaian di dalamnya. Semua pemandangan itu menbuat Cerel memasang senyum. Gadis itu melanjutkan keingin tahuannya pada setiap rangkaian dan isi dari seluruh bagian pajangan rumah Eli.


      "Takdir, kamu setuju?" Meletakan kopi dengan gaya yang sangat anggun.


      "Aku sebenarnya antara tidak setuju dan setuju dengan kata takdir karena takdir artinya penentuan, sesuatu yang sudah di tentukan." Memberi pernyataan, "Aku lebih setuju jika kata takdir untuk penyebutan tentang apa yang terjadi di masa lalu bukan untuk masa kini dan masa depan. Manusia yang berjalan, merekalah yang menentukan mau kemana dan bukan takdir. Masa lalu itu takdir karena hal itu tidak dapat diulang!" Menatap pada Cerel.


      'Keyakinan seorang novelis akan menjawab itu, waktu yang berbohong agar kita memilikinya atau kita yang pembohong dan waktu menjadi milik kita. Kita tergoda oleh waktu yang salah dan ingin memilikinya karena yang tak bisa kita miliki lebih menggoda.'


"Cerel susu dan rotimu!" Gadis yang di panggil menoleh dan berlari kecil lalu duduk di dekat Lenia. Meminum susu dan makan rotinya.


      "Aku akan membawanya pergi melihat apa yang bisa dia kerjakan dan kamu nakku urus surat adopsi!" Mengedipkan mata pada Eli.


      "Panti Asuhan Kasih, di sana pantiku!" Cerel meneguk susu hingga tak bersisa.