Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Berbelas Kasihlah pada Dirimu



      Ketukan pada pintu kamar mandi, "gunakan ini dan kakak tunggu di dapur!" Tersenyum pada gadis kecil di balik pintu kamar mandi. Gadis itu mengangguk lembut, terlihat jelas ekspresi manja dari wajahnya.


      Piyama yang terlihat sedikit longgar pada tubuh kecil gadis itu dan di atas kepalanya terpasang handuk. Lenia tersenyum dan mengangguk pelan, "ukuran kita berdua tidak terlalu berbeda jauhkan." Tersenyum bangga. Meletakan dua piring di meja, berisi nasi goreng di atasnya berserta sendok. Segelas air putih dan dua kotak susu di sana.


      "Terima kasih pujiannya, kak." Menarik kursi dan duduk, "kak, aku boleh makan sekarang?" Lenia duduk di samping gadis itu.


      "Dengan senang hati, tentu saja disilahkan." Keduanya dalam do'a.


Suara sendok dan piring terdengar beradu.


      "Rasanya, baik-baik saja kan?" Nasi di dalam mulut Lenia, gadis itu mengunyah.


      "Enak kak, walaupun aku yakin sebagian pujian ini karena aku sedang lapar." Makan tanpa ampun.


      "Tinggal sebut saja kalau kamu lagi lapar, terlihat berbelit sekali." Lenia berbisik, "perkenalkan namamu pada kakak!" Minum air putih.


Piring makan, hanya menyisakan beberapa butir nasi goreng.


      "Carel Baybut, aku anak yatim-piatu kak." Meletakan sendok, membuka tutup kotak susu, dan minum.


      "Tinggal di mana sebelum ini?" Meletakan pelan gelas dan menatap kosong.


      "Di jalan kak dengan meminta dan mencuri, anggap saja sebagai sebuah pekerjaan tetapku kak!" Mengambil dua piring di atas meja dan meletakan gelas di atas piring, menuju wastafel lalu mencuci bersama dengan teplon bekas nasi goreng yang di buat oleh Lenia. Suara air seolah sangat berirama.


      "Kakak terlihat cukup sedih?" Menekuk tangan dan menjadikan itu sebagai sandaran pipi kanannya, "apa kakak punya masalah yang sama sepertiku?"


      "Kenapa?" Tatapan Lenia sendu penuh pertanyaan.


      "Ibuku pernah bilang begini, semua gadis itu istimewa karena saling mengetahui isi tangisan milik orang lain." Lenia tersenyum simpul.


      "Orang tua punya senyum dan sedihnya sendiri. Dia berhak akan hal itu." Tersenyum. Meniup muka gadis itu dan membuatnya seketika menutup mata.


      Hilang dan pergi tidak selamanya di sesalkan. Jadilah bangga akan pertemuan dalam memori. Selamanya dalam kurun waktu bukan untuk terhapus. Harga adalah bayaran yang sudah ditetapkan.


      Kamar tidur, gadis kecil dalam pelukan gadis dewasa. Keduanya tidur dalam posisi wajah menghadap pintu. Mimpi yang seolah mengikat. Langkah kaki tampak sangat pelan, pintu kamar terbuka dan sebuah tubuh berbalut kemeja putih serta celana kain tanpa lipit berjalan ke arah tempat tidur. Bart tenggelam dalam tatapan pada dua tubuh di sana.


      "Permainan yang membuatku semakin tergiur, aku atau dia yang menang. Siapapun dari kami, kau pasti akan mengeluarkan air mata pada akhirnya, Lei!" Membelai wajah Lenia lalau duduk di sampingnya, gadis itu menampakan kesan punggung berbalut Nightie orange. Bart mendekatkan wajah pada telinga Lenia dan dengan tangan kirinya di samping kepala gadis itu sebagai pertahanan untuk kesetabilan tubuh. Lenia tiba-tiba terlentang dan gerakan kecil itu membuat bibir keduanya bersentuhan. Bart diam, matanya tertuju pada mata gadis itu. Walau samar tetapi terlihat bahwa mata Lenia sedikit terbuka lalu menutup pelan. Bart menarik tubuhnya perlahan.


      Jendela kamar terbuka, gorden menari. Angin menyatakan suasana panjang. Banyak yang tergulung pelan menjadi ingatan dari sebuah naskah kuno. Pantulan di cermin itu ku kira diriku, ternyata kebalikan dari diriku. Benda palsu yang bayak pemujanya!


      Pagi hari, suara ayam dan lagu dari alam menjadi satu pembuka. Dua kecantikan sedang berpeluk, dalam pelukan sehelai kain tebal. Sementara tak berbatas bagi kita.


      Lenia membuka mata, bertanya tentang kesadaran. Membangunkan diri dalam posisi duduk. Pelan menarik tubuh dari pelukan Cerel. Mengambil ikat rambut dari meja samping kirinya, lebih tepatnya berada di atas meja tempat lampu tidurnya terpajang. Lenia mematikan semua lampu rumah dan membuka gorden serta jendela kecuali di kamarnya. Dua kaki menuju dapur. Mengambil daging ayam berbumbu dari kulkas. Terlihat jelas kulkas penuh dengan bahan makanan. Persiapan untuk sarapan pagi!