
Harapan tinggi akan sebuah mimpi kecil yang mengejutkan akan hilang. Pelukan erat membuat wajahnya, berada tepat diantara dada lelaki itu yang masih memeluk Lenia dengan tangan kirinya erat. Begitu tangan menyentuh sekilas dahan pohon, ular terlihat hanya diam. Tapi, kepalanya mengikuti gerakan tubuh mereka yang menjauh menuju kepohon yang lebih tinggi. Dengan kaki yang dikelilingi kabut hitam dan akar yang membantu tubuh mereka terangkat. Akhir yang menguras tenaga, terbayar oleh kado yang paling istimewa.
"Kau tidak ingin menatap sekeliling?'' kata lelaki itu lembut.
Lenia membuka mata pelan disekelilingnya hanya terlihat ujung pepohonan menggunung dan bertumpuk, tapi cahaya kecil kunang-kunang megikuti mereka. Mencuat dari bawah daun menciptakan pola lentera malam dengan cahaya bulan yang semakin berakhir merahnya. Gadis itu membalikan tubuhnya cepat, tiba-tiba salah satu kaki terjatuh dari dahan pohon. Secepat kilat lelaki itu, memegang pinggang dan lengan atas Lenia lalu menarik ketubuhnya. Membuat tubuh mereka bersentuhan. Lenia menatap kebawah dengan pemandangan batang pohon besar, terlilit oleh akar tua dan beberapa bunga. Hutan terlihat kecil dan jauh tampak mata.
"Apa yang terja,'' katanya terputus dan menatap sekeliling lagi.
Lelaki dibelakangnya meletakan dagu di samping kanan pundak Lenia dan tersenyum miring.
"Bukannya kau ingin melihat hal yang menarik. Tanuhui (Dongeng) dialam liar sebelum seorang gadis tidur?" katanya pelan.
Tangan kanan yang dari tadi berada dipinggang Lenia, tiba-tiba berubah perlahan penuh dengan bulu. Kuku mulai memanjang serta tajam dengan cepat. Jas serta celana kain hitam berubah perlahan menjadi bulu yang tebal berwarna biru berkilau dari bagian belakang tubuhnya terlihat ekor yang perlahan keluar menjadi sangat panjang hingga menyentuh tanah. Mata berubah merah kehitaman.
Menjilat pipi kanan gadis itu pelan, "rasamu sangat manis nona, kau mau memberiku tubuhmu?" bisiknya sangat pelan.
Rambut semula yang tertata rapi terlihat semakin rapi. Berbaris dengan bulu dileher dan wajah yang mulai tumbuh memanjang seperti anjing. Pola harimau termaterai di seluruh tubuh itu, menjadi ciri khas setatusnya.
Lenia menggenggam erat tangan kanan lelaki siluman itu. Gadis itu hanya mengangguk pasrah dengan air mata. Namun, sikap kecil gadis itu membuat bulu yang menutupi tubuh lelaki itu masuk perlahan kedalam dan menjadi otot yang kekar, sedangkan bagian bawah kembali menjadi celana.
"Kau begitu ingin mati? Seharusnya ini saat tepat untuk seorang gadis berteriak," katanya pelan nada suara yang lembut. Tangan kanan naik hingga ke tengah dada gadis itu dan dengan seketika merobek bajunya. Lenia berteriak kecil, terapi mempertahankan tekatnya. Memalingkan wajah dan sekarang tubuh menghadap lelaki siluman itu. Pelukan tampak erat dengan kedua tangan mungilnya. Tiba-tiba kedua kaki Lenia terpeleset, membuat dirinya terjatuh. Siluman itu menjatuhkan diri dan dengan perlahan memegang pinggang Lenia pelan. Pelukan menjadi semakin erat.
"Kau akan meninggalkan orang yang kau sayangi gadis muda. Saat kau hilang mungkin ada seseorang yang akan mencarimu?" suara pelan.
Mereka terjatuh dengan sangat pelan. Ekornya dikaitkan pada batang pohon, sehingga memperlambat jatuh tubuh mereka.
"Mamah" suara Lenia bergetar penuh rasa takut, air matanya menetes kembali dan kali ini wajahnya memperlihatkan ekspresi yang menyakitkan.
"Tetapi aku bisa sedikit banyak merubah haluan dan berbelaskasih. Membuat sedikit pengampunan." Mencium sekitar leher Lenia. Tangannya membelai perlahan kedua tangan gadis itu. Membuat Lenia terkejut dan dengan seketika melepaskan pegangannya dari leher siluman itu. Tahap istimewa membuat jantung gadis itu berdetak. Sebelum Lenia terjatuh sendirian, kedua tangan silumannya sigap menangkap gadis itu. Menarik kearahnya kembali. Mereka saling menatap dengan tubuh sejajar. Kabut hitam kebiruan tipis mengelilingi kaki, bahkan angin menjadi bagian terbaik sebagai sapuan untuk tubuh yang menghangat.
Kaki lelaki itu perlahan menyentuh tanah bersama dengan ekornya yang panjang.
'Siapa sebenarnya makhluk ini' pertanyaan tersekat dari bibir Lenia.
"Aku sangat suka tangisan manusia!" Menurunkan tubuh Lenia perlahan ketanah. Posisi akut dengan kedua tangan berada diantara kedua lekuk penghubung badan dan lengan Lenia.
"Aku kadang berbaik hati dengan manusia, kau mau syarat sesuatu dariku?" menatap mata Lenia. Tatapan tajam dan penuh tersirat maksud didalamnya. Gadis itu hanya diam.
"Kau bisa pergi tetapi untukku. Bagaimana?" katanya pelan sambil memiringkan kepala. Bibir keduanya begitu dekat, hanya menyisakan ruang untuk bernapas.
Lenia membuka matanya berat, "mimpi?" menghela napas dalam dan menatap sekelililingnya. Cahaya pagi menyeruak masuk menembus kaca jendela, dengan tenda berwarna putih menambah kilau yang semakin meluas. Menyatu dan menyentuh kursi putih didekatnya. Gadis itu, membuka selimut pelan dan beranjak dari tempat tidur putihnya. Nightie biru mengantung di tubuh. Melangkah menuju kamar mandi dan menutup pintunya.