Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      "Saatnya jawaban bukan pengalihan, empat hari berlalu!" Tatapan jatuh pada daster batik Lenia, "Lei kau gila atau diperkosa waktu itu!" Suara gelas kopi keras menyentuh meja. Tangannya membuka leher daster Lenia tanda meneliti. Gadis itu terlihat menahan tangan Eli, yang dia tahu bahwa itu percuma.


      Eli melemah, gadis itu berdiri dan menarik tangan Lenia. "Kita ke kantor polisi sekarang atau psikiater!"


      "Aku akan jelaskan!" Menarik Eli paksa untuk duduk.


      "Lanjutkan dan aku dengarkan." Mencoba tenang dengan kaki di silang. Kembali anggun, tapi tangannya memegang cangkir kopi sedikit bergetar, "bau kopi tidak bisa di bersihkan dengan tisue kering!" Meja berhias tumpahan kopi tapi, tatapan Eli pada tisue kering di dekat pot bunga berbentuk burung bangau di meja.


      "Aku sudah menikah setelah lulus SMA, El!" Menatap Eli ragu.


      "Tunggu sebentar!" Terbata-bata dan meletakan pelan cangkir di meja. Terlihat jelas seperti sedang terjadi gempa pada cangkir, "aku akan mengulangi, menikah?" Nada meninggi.


      Lenia menganguk pelan dengan ragu.


      Eli memegang kepalnya, "aku teman macam apa yang tidak tahu masalah ini, Lei?"


      "Aku minta maaf sayang, aku mau bilang setelah pernikahanku waktu itu tapi menurutku tidak ada waktu untuk." Terdiam, "Kau tahu, keberanian!" Lenia memeluk Eli.


      "Setelah kejadian waktu itu?" Menatap sendu.


      "Beberapa hari setelah pemakaman Lei, dan setelahnya aku pindah dari rumahku yang dulu!" Eli menarik napas dan memeluk Lenia.


      "Kau tahu aku sebenarnya marah?" Eli mengelus rambut gadis yang dipeluknya.


Lenia mengangguk cepat.


      "Kau dipaksa menikah?" Pertanyaan yang dilontarkan terdengar pelan.


      "Rasanaya hanya seperti terpaksa!" Menatap sendu sambil memegang lehernya.


      "Sekarang usia pernikahan kalian sudah empat tahun, dia melakukan hal kasar padamu?" Menatap Lenia.


      Lenia dengan cepat menggeleng, "sepertinya pemahamanku tentang dia berbeda, karena memang dia berbeda."


      "Dia membantu kami untuk memelukmu Lei, apa aku salah?" Mengeratkan pelukan, nada yang begitu lembut.


      Lenia terdiam, "aku kesulitan untuk mengatakannya tapi mungkin!" Menatap sendu.


      Lenia duduk tegap, "dia selalu memberiku bunga mawar biru pengganti cincin sebagai tanda kepemilikan, mungkin bagiku seperti itu dan juga kami menikah hanya ada pendeta perempuan, aku dan dia. Kami tidak mendaftar pernikahan di catatan sipil!"


      "Di jadikan simpanan, yang kamu nikahi sebenarnya kakek-kakek atau bapak-bapak?" Duduk tegap suara meninggi.


      Lenia terdiam, "aku tidak tahu, dia muda tapi, kenpa aku harus mengatakan hal bodoh?" nada pelan dengan ekspresi datar.


      Eli mengangkat alis dengan dahi berkerut dan ujung bibir dinaikkan, "kau gila, bahkan tidak diselidiki!" Berdiri.


      "Dia masih muda El, sebenarnya tidak juga." Ragu, "aku tidak yakin dia memiliki istri lain." Suara Lenia melemah.


      "Bukti kau sebagai istri bahkan tidak ada sama sekali?" Duduk di sofa dengan kasar, "berapa kali kalian berhubungan hingga empat hari yang lalu.


      "Kami melakukan itu baru dua kali, kalau aku tidak salah makna!" Lenia menjawab ragu.


      "Dua kali, pernikahan sudah empat tahun, di awal pernikahan dia tidak menyentuhmu? Menghadap Lenia dengan ekspresi serius.


      "Di awal dia hanya menyentuhku dengan tangan dan baru beberapa waktu ini dia menyentukku secara langsung!" Memegang pipi dengan punggung tangan, "lagipula untuk apa gadis ini bertanya tentang itu." berbisik.


      "Pertemukan aku dengan dia!" Menyilangakan tangan di dada.


      "Tidak dalam waktu dekat!" Menatap Eli.


      "Waktu terserah yang penting ketemu." Memaksa, Lenia mengangguk pelan.


      Jangan ada kata ragu dalam kata. Berkata yang kaku akan terdengar sebuah kesalahan. Tegaklah dan katakan dengan lantang. Menjadi diri sendiri adalah kebanggaan.


      Muler berdiri di atas gedung, tatapan yang luas. Langkah dari manusia, suara transportasi, dan gedung terlihat jelas. Anak itu menyunggingkan senyum. Kaki kananya di pinggir gedung. Setelan jas merah dan dasi kupu-kupu berwarna hitam dengan pentofel hitam sebagai hiasan pada kaki. Pintu lift terbuka di belakangnya, Leon berjalan pelan dan berdiri di samping tubuh anak itu. Tubuhnya berbalut jas hitam dengan dasi berwarna putih dan kaki beralas pentofel hitam.


      "Kau yakin dengan pilihanmu?" Leon membuka percakapan.


      "Persaingan yang tulus, kelihatanya. Ternyata dia sangat buas daripada diriku!" Muler tersenyum miring.


      "Tidak akan mudah untukmu!" Menatap lurus ke depan.


      "Bagaimana dirimu bisa dengan tebakan yang salalu benar tanpa logika yang jelas!" Menekan handset putih pada telinganya, "hari ini aku ada urusan, tunda saja." Satu kali tekan pada handset sebagai tanda percakapan telah berakhir tanpa jawaban.