Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Pintu kamar berwarna cokelat terbuka, tubuh Lenia dari baliknya. Menutup kembali, "kau tahu butuh perjuangan mencari tasku, kau sembunyikan di dalam lemari tengah!"


      Bart duduk di jendela, kedua kaki menyentuh lantai. Sedikit cahaya sore terlihat. Lenia berdiri di samping Bart dan menatap ke luar jendela. Gadis itu terlihat menikmati hirupan angin. Tepat di  bawah mereka halaman belakang yang luas dengan berbagai macam tanaman mawar bahkan menjalar di antara pondasi sebagai kaki kastil.


      Bard memperhatikan gadis itu. Lenia terlihat kesulitan menaikan tubuhnya pada ujung jendela yang lebar. Gadis itu berusaha melompat kecil dan bahkan berniat memanjat tapi tidak ada hasil. Mengukur tinggi tubuh dengan tinggi jendela, "harus paham!" Sebatas bawah dadanya, "kamu mau menunduk!" Mendongak menatap Bart di kanan tubuhnya.


       Bart tersenyum miring, lelaki itu mengangkat tubuh Lenia dengan berpegang pada kedua pinggang gadis itu, lalu mendudukkan di ujung jendela di sebelahnya. Lenia mengedipkan mata, bingung. Gadis itu hampir terjatuh karena kedua kakinya jauh dari lantai. Bart dengan cepat memegang pinggangnya.


      "Untuk kali ini kau harus memegangku!" Menatap beberapa meter tinggi jendela dari tanah. Bart menarik gadis itu ke arahnya dan tangannya membentuk lingkaran di balik punggung Lenia.


      "Tadi kau habis mandi otomatis lukanya sudah bersih kan?" Membuka salep yang berbentuk kotak kecil.


      "Aku hanya mandi dan lupa membersihkannya tadi!" Datar sambil menatap Lenia yang juga menatapnya dengan dahi berkerut.


      "Pengetahuanmu bagus dariku, tapi urusan tubuh sendiri. Tunggu sebentar aku ambil pembersih lukaku!" Berniat turun. Bart menyunggingkan senyum dan mengeratkan pelukan.


      "Sudah ku bersihkan, lanjutkan!" Suara berat yang pelan.


      "Aku lagi tidak butuh mainan!" Terlihat kesal. Mengambil salep dan mengoleskan pada luka Bart. Lelaki itu diam, "padahal ini perih kalau terkena luka?" Lanjut lenia dengan nada tidak suka.


      "Kau memiliki harapan tinggi nak!" Mengangkat tubuh Lenia hingga ke atas kedua pahanya.


      "Aku hampir serangan jantung." Dengan cepat memegang pundak Bart erat, tangan masih memegang kotak salep, "kau bergerak lagi bagaimana aku bisa fokus?" Menaikkan  nada. Bart hanya tersenyum bangga.


      Lenia kembali fokus pada olesan salep, "kau sangat suka menyelamatkan dua nyawa?"


      Bart menatap Lenia, "aku tidak melakukannya!" Menatap lekat pada gadis di depannya.


      "Kalau tidak bisa mengakui pada orang lain sebaiknya akui pada diri sendiri." Mengoles pelan.


      "Kau tahu kalau aku bukan manusia?" Menarik Lenia lebih dekat ke arah tubuhnya membuat gadis itu menatap Bart.


      "Di luar sana banyak manusia yang bukan manusia jadi apa gunanya sebuah perbedaan?" Kembali fokus pada luka Bart.


      "Kau yakin?" Berusaha meyakinkan dirinya.


      "Yakin sekali, tindakan brutal yang di buat oleh manusia lebih mengerikan. Mereka mampu membunuh mental dan fisik secara bersamaan. Yang sampai sekarang tidak ada vaksin untuk itu." Menatap Bart dengan sekilas senyum.


      "Lei!" Panggilan lembut terdengar berat. Tangan Lenia berhenti pada luka Bart dan menatap lelaki itu lekat.


      "Kalau sempat aku akan memukulmu!" Menutup kotak salep. Lenia mengalihkan pandangan pada kumpulan hutan di depannya. Gadis itu mengerutkan dahi, "bukannya itu?" Kata-kata tergantung.


      "Kau mau kesana?" Lenia menatap Bart. Gadis itu tiba-tiba menarik dirinya  dari lelaki itu dan dengan bantuan pegangan dari tangan Bart, dia duduk pada posisi awal. Terlihat senyum simpul di bibir Lenia, ujung layar dari Jukung Panyang Suei tempat pernikahan dari keduanya. Tangannya memegang leher Bart.


       "Bart, kemaren malam kau membawa aku kesini bagaimana?" Masih menatap jukung.


      "Menghilang!" Yang di tanya menjawab cepat.


      "Lalu bagimana dengan motorku, kau hanya menyelamatkan kemah?" Ekspresi terkejut dan bingung dari muka Lenia terpampang.


      "Aku menelantarkannya!"


      "Berapa jam dari sini ke sana?" Melepas pegangan dari Bart dan terjun ke lantai.


      "Sekitar setengah jam, mungkin!" Bart belum beranjak dari jendela.


      Lenia berjalan menuju pintu dan tiba-tiba berhenti, "minta tolong, antar aku ke sana!" Membuka pintu cepat. Bart menahan senyum.


      Lenia menuruni tangga, setiap jejak lantai terdapat ukiran kuno. Gadis itu dengan cepat membuka ransel dari lemari tamu dan mencari bajunya.


      Bart masih dengan berlilitkan handuk turun dengan pelan melewati tangga.


      "Kalau kau tidak mau mengantar pinjamkan aku, tunggu sebentar gawaiku  di mana?" Mencari di dalam ransel.


      Bart menuju dapur dan mengambil kopi kaleng dari kulkas. Berjalan pelan menuju Lenia, gadis itu terlihat sibuk, "kau sedang mencari gawai atau motor?" Bart meletakan kunci motor di meja.


      Lenia menatap Bart marah, "kau sepertinya memiliki bakat mendalam agar membuat orang marah! Duduk di sofa lemah.


      "Kau pingsan sekaligus tidur, aku terpaksa mengikatmu di belakang dan mencari helm yang bisa di beli untukku." Meminum kopinya.


    "Lapar atau kopi?"


      "Sekarang lapar" Lenia menjawab dengan enggan.