Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Bagian yang hilang telah terpublikasi. Yakin tentang apa yang terucap dan nampak akan selamanya menjadi racun. Bunga musim hujan tumbuh subur, saat ini.


      Dua manusia tertata rapi di atas panggung pertunjukan. Bart duduk di atas armchair dan Lenia di tangan armchair. Gaya yang menantang namun ramah. Di tempat tidur, tampak kelambu maroon menyatu dengan sisi tiang tawudien (ulin), tubuh gadis itu tertidur dalam posisi miring, Bart dalam posisi duduk dengan kaki kanan di tekuk, dan saling menatap dengan memegang satu tangan sebagai penghubung keduanya.


      Menikmati jalan musim semi. Bart mengenakan kimono maroon batik terseret di tanah, kaus putih anti fit style sebagai lapis dalam, celana kain putih tanpa lipit dan slip on maroon batik sebagai alas kaki. Sedangkan Lenia mengenakan dress batik selutut berwarna maroon dan beralas sepatu sneakers warna putih. Tersenyum dengan tubuh menatap Bart di belakangnya dan lelaki itu menampakan senyum miringnya.


      Perahu mengikuti arus danau buatan, teratai berbunga, kunang-kunang menyala,  posisi malam hari dengan wuwuhiang (bintang dan bulan) sebagai pemersatu. Lenia memegang pinggir kiri perahu dan tangan mencapai bunga teratai yang mekar sedangkan Bart mendayung, tatapan lekat pada gadis itu. Seolah rasa menyatakan kisah. Foto yang menawan untuk menjadi kenangan dan pengalaman. Tata busana, penata rias, fotografer dan semua tim ikut andil dalam seni, tersenyum puas dengan hasil karyanya masing-masing.


      Jam menunjukan pukul 16:14, matahari sore menunjukan jati diri. Bart berdiri menunggu Lenia di luar Queen Studio Photos.


      "Aku akan menghubungimu untuk mengirimkan foto!" Eli mengedipkan mata.


      "Kalian berdua tampak sangat luar biasa!" Baren menyela sambil tersenyum, tatapan kembali fokus pada layar monitor yang menampilkan foto Lenia dan Bart.


      "Terima kasih atas pujiannya!" Lenia tersenyum.


      "El, untuk kamu apakan fotoku dan Bart?" Lenia memperbaiki alas kakinya.


      Emon berjalan mendekat ke arah keduanya yang berada di dekat pintu keluar.


      "Untuk kupresentasikan pada sutradara film, mereka menginginkan model pakaian perempuan yang mungil dan pakaian lelaki yang berbadan bagus, untuk film romantis, syaratnya harus mengenakan kebaya dan pakaian adat!" Sambil memegang tas Lenia dan memberikan pada gadis itu.


      "Kakak Emon juga?" Mata almondnya dibulatkan.


      "Tentu saja sayang!" Tersenyum pada Lenia.


      "Kalau begitu kirim saja saat tidak sibuk, El!" Memeluk Eli dan memeluk Emon bergantian, "aku pulang!" Melambaikan tangan pada semua staf di studio, Emon dan Eli. Di balas dengan lambaian dan senyuman yang serupa. Pintu otomatis terbuka. Bart berdiri dengan menyandarkan punggung pada taxi.


...      Aku berdiri di rongsokan kertas...


...Aku mindri hang karatas rusak...


...Bertintah sebuah nama yang sulit di arti...


...Batintah erang ka ngaran sa mahadin na arati...


...Ada kata membuatku terpikat...


...Na'an papaneran sa ngulah aku tahuruk...


...Dan itu sangat jauh dalam kegelapan...


...Yiru raja lawit hang ma'ieng...


...Aku melangkah di tenun bulu merak...


...Aku takia hang tenun wulu merak...


...Di dasarnya sebuah kantung semar...


...Hang kapitni na'an lanyung warik...


...Ada lukisan menyakitkan mata dari taburan debu...


...Na'an lukisan ngampi hanang mate ka hamuran habu...


...Kau yang tak bernama berdiri teguh...


...Hanyu sa puang ba ngaran mindri witu....


...      ...


...Iman kokoh yang aku sebagai manusia bangun...


...Kaharapen neah sa aku jari murunsia ampuan...


...Tak tahu cara berenang di samudera...


...Mengikuti arah waktu sang matahari...


...Uma lalan mateandrau...


...Aku tersesat dalam pikiran...


...Aku tawang hang pamikiran...


...Apakah kata hari telah berhenti...


...Inunsah papaneran andrau haut tarie...


...Aku sadar tatapanku kosong...


...Aku paampuan paninungenku mahi bana ni...


...Senyum manusia hanya kain lusuh...


...Rimut murunsia ekat kain murun...


...Rajut kami sangat menyayat...


...Iketan kami tu'u pasayat...


...Aku berlabuh di negeri sendiri...


...Aku tarie hang tumpuk dedeh ngaraerai...


...Kau kubawa sebagai janji...


...Hanyu insingku pakai janyi...


...Segala jenis ukiran ada di kaki...


...Inunpun ulahan naan hang pe'e...


...Hidup di rasa ini halamanku...


...Welum hang nanam ina muka lewuku...


      Subuh hari seperti bayi kecil yang meringkuk di balik pelukan orang tua, menggema. Perlahan tapi pasti memberanikan diri untuk sekadar membuka mata. Cahaya dengan sedikit kabut bergelantung di hutan Borneo. Kemah biru berdiri kokoh, di depannya asap dari kayu bakar merayap di lubang yang tergali. Sisa dari pembakaran.


     Gadis kecil berusia dua tahun melepaskan diri dari pelukan kedua orang tuanya, membuka pelan pintu kemah dan keluar dari sana. Tampak cahaya menusuk mata kecil itu dan membuatnya silau. Tubuh yang berlapis pakaian tebal  berwarna biru dan sepatu mungil bernada sama. Rambut ikal terikat di kedua sisi kepala kecil itu.


      Seseorang terlihat mengawasi kemah biru mereka. Gadis kecil itu terlihat berusaha menangkap jangkrik di sekitar kemah, tubuhnya sedikit kotor oleh daun dan tanah yang masih basah. Hujan kecil mendera saat malam hari. 


      Suara ranting jatuh mengejutkan gadis kecil itu, sekarang tatapannya beralih pada sumber suara.


      Anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun berdiri di antara bermacam-macam jenis bunga dan tubuhnya di kelilingi oleh puluhan kupu-kupu. Berbalut jubah emas dengan rambut perak yang panjang. Jari telunjuk ditekuk di depan wajahnya, satu kupu-kupu hinggap di sana. Senyum anak itu menampilkan pertunjukan dari sebuah ekspresi yang matang.


      "Bunga, bunga!" Suara kecil membuatnya tersentak. Kupu-kupu dari tangan dan berada di sekitarnya pergi. Seolah bersembunyi di balik warna bunga. Seorang gadis kecil membawa mawar putih di tangan, tanpa tangkai.


      "Ini untukku?" Anak lelaki itu mengambil bunga dari tangan gadis kecil itu ketika dia mengangguk.


      "Kau bisa melihatku rupanya?" Pertanyaan yang terlontar tanpa jawaban. Karena gadis kecil terlihat menikmati apa yang dia lakukan, memetik bunga dengan penuh senyum.


      "Sayang!" Suara panggilan dari ibu gadis kecil itu membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Tidak ada siapapun di sekitar gadis itu ketika ibunya tiba.


      Bart menutup buku di tangannya yang berjudul, Pulau Ular.


      "Apa bukunya menarik, itu milik anakku yang paling besar nak muda. Kuletakan di situ mudah-mudahan tidak menganggu tapi di silahkan kalau ingin membaca!" Sopir taxi tersenyum sambil menyetir.


      "Sangat menarik!" Tersenyum miring. Kaki tersilang dan siku tangan bersandar pada jendela yang terbuka, jari sebagai penyanggah kepala lelaki itu. Lenia tertidur pulas di pelukan tangan kiri Bart.