
Di atas piring kuno berwarna cokelat, buah-buahan terpotong tertata rapi. Kecuali buah-buahan seperti blueberry, raspberry, jostaberry, redcurrant, dan ramunia (buah khas Kalimantan) masih berbentuk. Sendok dan garpu di samping piring dan mangkok kecil berisi cairan kental berwarna putih. Dengan garpu Lenia memasukan buah ke mulutnya. Gadis itu tersenyum pada pelayan lelaki di sebelahnya, ketika potongan semangka mengisi mulut. Melanjutkan suapan kedua dengan layung (buah khas Kalimantan) sambil menikmati tarian dan tumet.
Bart hanya minum tuak. Lenia memberikan potongan apel pada lelaki itu, tatapan pada gadis itu lekat dan membuka mulutnya.
"Kau terlihat sangat menyukainya?" Mengunyah pelan dan pandangan beralih pada panggung.
Lenia berniat memasukan buah ramunia pada cairan putih di mangkok, Bart menghentikannya dan memberi pada pelayan laki-laki. "Dia tidak memerlukannya!" Lenia mengerutkan dahi.
"Kau ingin memakan cairan dari manusia laki-laki, sebaiknya kamu lakukan dengan milikku?" Wajah Bart berkesan dingin.
"Cairan, sper." Cepat memukul mulut dengan tangan kirinya. Bart menyunggingkan senyum. Lenia terlihat tidak nafsu makan lagi.
"Kau tidak merasa kita berdua mengenakan pakaian yang tidak sopan?" Menatap sekeliling sambil tetap memasukan potongan buah ke mulut. Bagaimanapun pakaian yang mereka gunakan adalah pakaian tidur.
"Kau berhak memilih sendiri pakaianmu. Kecuali acara yang ada dalam ruangan." Tersenyum miring sambil meminum tuak.
"Apa aku bisa minum?" Menatap Bart.
"Buka mulutmu!" Tuak di tuang ke gelas Bart, lelaki itu meminumnya lalu dengan cepat mencium bibir Lenia. Suara air yang di telan melewati tenggorokan terdengar. Tangan Lenia memegang ujung kimono Bart.
Bart melepas ciumannya dan tersenyum miring, "kalau kau mau minum lagi tinggal katakan!" Beberapa pasang mata menatap ke arah keduanya dengan senyuman. Lenia memberi senyuman malu sebagai balasan.
Memberikan piring buah pada pelayan laki-laki di sebelahnya, "terima kasih buahnya sangat enak." Tersenyum ramah. Pelayan itu mengambil piring dan menunduk sambil tersenyum.
Seorang anak kecil terjatuh dan terlihat menangis di jalan. Bebatuan mengeluarkan cahaya dengan bermacam-macam warna di keranjangnya, terjatuh di tanah. Tidak ada satu orang pun di sana. Tiba-tiba dari balik kerumunan seorang perempuan muda membantu anak itu berdiri. Gadis kecil itu tersenyum. Memang tidak ada siapapun di sana karena semua pedagang dan pembeli menonton pertunjukan tari.
Terlihat jelas hubungan keduanya ibu dan anak. Lenia tersenyum, tapi bebatuan yang mereka berdua kumpul belum selesai-selesai. Lenia mengerutkan dahi, tapi segera sadar jika tempat yang sekarang dia singgahi bukan dunia manusia.
Lenia mengambil bebatuan warna itu dan memasukan pada keranjang. Ibu dan anak itu tersenyum padanya.
"Batu-batu ini untuk apa?" Meletakan pada keranjang lagi.
"Sebagai tanda pengenal, kaum keluarga kami yang membuat untuk keluarga yang lain." Tersenyum pada Lenia.
"Kakak seorang peri yang baru, pangeran pasti sangat senang memiliki istri seperti kakak!" Senyum yang lugu.
"Pangeran?" Langkah kaki yang berhenti di dekat mereka. Bart berjongkok, posisi kaki kiri agak naik dan membantu mengumpulkan batu. Mereka menatap Bart, ibu dan anak di sebelah Lenia terlihat menunduk. Bebatuan yang sedari tadi belum selesai di kumpulkan, dengan satu tangan terkumpul di tangan Bart. Lelaki itu meletakan pada keranjang.
Bart berdiri, "kalian akan ketinggalan pertunjukan!" Mengelus kepala ibu dan anak itu pelan. Keduanya menunduk, "terima kasih tuan dan nona peri!" Pergi menuju kerumunan sambil berpegangan tangan.
"Lei, kau lapar?" Lenia yang tertegun, akhirnya tersadar dan mengangguk. Bart berjalan melewatkannya. Lenia dengan cepat mengikuti.
Langkah demi langkah. Bart berjalan di depan Lenia, gadis itu terlihat kesulitan berjalan menanjak. Pemandangan di sekitar pepohoan dan daun dengan bunga bermacam warna. Lentera di setiap pohon. Bangku taman terukir tanpa makhluk apapun di sana hanya mereka berdua.
Lenia setengah berlari menuju tempat duduk dan duduk di sana. Bart menatap kaki gadis itu yang tanpa alas.
"Aku sebentar di sini!" Lenia menatap ke langit. Bintang terlihat jelas di sana. Gadis itu tersenyum dan memejamkan mata. Bart berdiri di hadapannya. Beberapa daun jatuh dan mengenai kelopak mata Lenia. Gadis itu mengambil daun dari kelopak mata dan membuka mata. Di hadapannya terpampang jelas bagian belakang punggung Bart terlihat gagah, lelaki itu menatap ke arah langit. Suasana hening beriringan dengan jatuh daun-daun di terpa angin pelan.
Bart berbalik, "sudah?" Menatap Lenia.
"Iya." Jawaban terbata-bata sambil tersenyum.
"Berdiri di atas situ!" Lenia menurut, gadis itu berdiri di atas kursi taman. Bart mengangkat tubuhnya dari kursi dengan tangan kiri. Hening, Lenia terdiam menatap pelan ke arah langit.