Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Jerat Dosa telah Terukir



      Kata orang malam adalah saat yang tepat untuk menuang tuak romantis. Bayangan gelap pasti menghanyutkan. Karena rayuannya diindahkan.


      'Tes, tes, serrrrr.' Suara air mengalir dari shower, "masih memar, bocah mesum itu?" Tubuh tak berlapis helai kain, Lenia terlihat dengan tubuh mungil yang tampak berisi. Beberapa nevus menjadi keunikan sendiri. Mengambil sampo dan membasahi rambut. Busa memenuhi rambut gadis itu hingga ke wajah. Berusaha mencuci bagian wajah dan tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


       "Kenapa!" Lenia mundur hingga punggung menyentuh dinding. Air shower tepat di atas kepalanya dan membuat gadis itu mengusap mata, "astaga, perih." saat mata terbuka dengan benar. 


     Muler berdiri di pinggir pintu menatap tubuh Lenia dari atas hingga bawah.


      "Semua perempuan begitu menggoda untukku, tanpa terkecuali." Tersenyum miring, sambil perlahan menutup pintu kamar mandi. Lenia mengambil shower lalu menyiram Muler.


      "Kalau kau mendekat aku akan memukulmu menggunakan ini!" Berusaha menutup tubuh dengan tangan sambil menyiram.


      Anak itu membuka toxedo dan menyisakan kemeja putihnya. Membuka dua kancing  kemeja sehingga menampakan dada hingga ke leher bagian kanan menampilkan tato bertuliskan huruf sansekerta dan ukiran yang unik. Menggulung tangan kemeja ke atas lengan, dan tatanan tato yang sama berada di tangan sebelah kanannya terukir dengan jelas.


Lenia tersadar dan menyiram Muler dengan shower ,"aku akan semakin subur jika gadis nakal menambahkan pupuk di dalam air ini!" Mengacak rambut yang basah, melangkah mendekati Lenia.


      Teriakan memenuhi kamar mandi. Tangan gadis itu berayun seolah-olah memukul dengan shower secara acak, sambil memejamkan mata, "bajingan gila, bocah mesum, kurang ajar!" Tiba-tiba tangan kanan Lenia yang memegang shower, di pegang erat. Muler menatap dingin, matanya berubah menjadi biru terang. Gadis itu mundur pelan dan sebelum menyentuh dinding untuk kedua kalinya, Muler dengan cepat menarik Lenia padanya.


      "Jadilah gadis yang penurut!" Mengambil pelan shower dan mulai menyiram punggung Lenia. Masih dalam pelukan, tangan kiri muler yang bebas bergerak pelan di punggung gadis itu. Lenia terlihat diam mematung, tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Semua pertahanan seolah runtuh. Kamu telah memberi ruang untuk sang monster.


      "Jangan lakukan apapun aku mohon!"Lenia memelas. Tubuh gadis itu terlihat semakin lemah.


      "Aku hanya membantu kakak untuk mandi, atau ada hal nakal lainnya yang kakak pikirkan?" Tangan kirinya turun perlahan menuju pinggang Lenia.


      Lenia memegang ujung gulungan kemeja Muler, "aku mohon!" Setengah berbisik dalam nada ketakutan.


      Ciuman di bibir gadis itu semakin intens dan kasar. Lenia tidak bisa melakukan apapun, dan memutuskan untuk membiarkan Muler berkeliaran di mulutnya. Tidak ingin memejamkan mata. Suara detak jantung gadis itu, membuat dia semakin mengeratkan pegangan pada lengan kemeja Muler. Anak itu melepas ciuman mereka dan hal itu menyisakan air liur yang menggantung antara bibir keduanya.


      "Kakak tahu bahwa gadis yang kusukai tidak akan ku biarkan untuk tidak menginginkanku." Pipi Lenia memerah, tatapan mata gadis itu sendu dan nafasnya semakin tidak karuan. pikirannya pun semakin kacau.


      "Aku tidak ingin melanjutkannya!" Memeluk Muler lembut.


      "Padahal aku," menarik Lenia cepat. Muler membuat tubuh mereka terjatuh. Punggung Muler menyentuh dinding dengan posisi terduduk dan Lenia di atas anak itu sekarang. Tepatnya, kedua kaki Lenia menjepit paha kiri Muler sedangkan kaki kanan anak itu menekuk dengan santainya, "bagaimana mungkin kubiarkan semua ini cepat berakhir." Kedua tangan Lenia dipegang erat dan ditarik ke arahnya. Sekarang, leher gadis itu sebagai sasaran ciuman Muler. Suara kecil mulai terdengar. Lenia menutup bibirnya rapat.


'apa yang kulakukan dan bagaimana jika dia tahu apa yang kulakukan sekarang, maka aku yakin bumerang akan menimpaku karena aku gadis yang tidak setia.'


Menghembuskan nafas, "Aku menyukai suara kecil itu!" Lidah Muler turun perlahan menyentuh dada gadis itu. Suara kecil keluar sedikit lebih menggema. Panas dari ciuman anak itu membuat kedua dada Lenia menjadi gunung yang terbangun penuh amukan. Muler tersenyum miring. Kedua tangan gadis itu diturunkan oleh Muler hingga berada tepat di atas pahanya, "dari sini kita akan membuat suara yang lebih panjang dan nakal!" berbisik di telinga Lenia. Gadis itu menggelengkan kepala. Muler turun mencium leher lalu pindah cepat ke dada Lenia. Ciuman yang dalam dan selalu intens.


      Tangan kiri Muler perlahan memegang paha dan menuju bagian paling sensitif Lenia. Gadis itu mengeluarkan suara kecil dengan irama yang menggema. Bagian bawahnya terasa panas. Tarian jari di sana terasa mengaduk semua syarafnya dan nada panjang keluar dari mulut Lenia. Tubuh gadis itu bergetar hebat.


      Wajahnya tertunduk pada bahu Muler. Anak itu terlihat menikmati cairan lengket pada tangan kirinya. Lidahnya menari di sana, "rasa yang kakak miliki, benar-benar sangat menggoda!" Tersenyum pada Lenia dan dengan cepat mencium bibir gadis itu lagi.


Lenia perlahan memejamkan mata. Seolah Pasrah dengan apa yang terjadi padanya. Karena dia tidak bisa memberontak pada tubuhnya.


      Apa yang dirasakan bukan lagi ilusi. Berhenti menjadikan ilusi itu kenyataan. Karena kenyataan begitu kau inginkan dan ilusi adalah pembohongan.


      'Apa yang ku rasakan benar-benar kaku. Ketika seorang lelaki menatap dan memegang mu apa yang bisa kau pikirkan dan rasakan. Walau mereka mengatakan kebohongan tapi,  dengan sangat bodoh tubuh menikmatinya. Suara dan air mata serta perlawanan adalah tindakan penghubung nafsu dan manusia, aku.' membuka mata. Masih setengah sadar, Lenia menatap cahaya matahari mengenai tempat tidurnya.


      "Tubuh?" Memegang tubuh. Dirinya terbungkus baju tidur berwarna putih, "Mimpi bodoh?" Gadis itu menggaruk lehernya dengan wajah memelas seperti seorang anak lelaki yang normal.Gerakan kecil dari balik selimutnya. Lenia dengan cepat membuka selimut. Muler tanpa pakaian terlihat tidur meringkuk memeluk kaki Lenia. Teriakan menggema di dalam rumah yang kedap suara itu.