Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Dia yang berlebihan terhadap hati seorang yang hidup. Seharusnya tidak ada kata ragu dalam rasa! Sekarang saya berdiri kokoh dengan kata ragu di depan dia yang bernama? Kenapa hati seorang manusia terlalu rapuh oleh perbuatan yang dinyatakan dalam hal perlindungan?


      "Muler aku ingin mengatakan sesuatu!" Berdiri di depan Muler, anak itu memerhatikan sambil mengeringkan tubuh Lenia dengan asap biru dari tangannya.


      "Kakak tampak serius," mengangguk, "aku menyimak!" Pelan asap biru menyelimuti tubuh keduanya.


      "Aku menyukaimu sebagai, laki-laki dan perempuan." Menelan air liur. Asap biru perlahan berkumpul di telapak tangan Muler, anak itu menatap dingin tetapi lekat.


      "Wajah kakak memperlihatkan kata selanjutnya, tapi?" Asap biru menghilang dari telapak tangan Muler.


      "Lepas dari kamu sebagai anak kecil, aku memiliki suami dan dimiliki oleh suamiku sebagai seorang istri!" Lenia menahan air mata. Muler mendekat pelan sambil menatap Lenia lekat, tidak ada kata berpaling dari sana. Lenia berdiri kokoh dengan tatapan yang sama.


      "Jika kakak mengulurkan tangan padaku sekarang maka ada sebuah perjanjian yang kita sepakati hingga akhir. Bart tidak akan pernah muncul selamanya, aku berani mempertaruhkan apa yang ku janjikan!" Mengulurkan tangan pelan di hadapan Lenia.


      Lenia meneteskan air mata dengan ekspresi tersenyum dan memeluk Muler erat lalu melepas pelukannya pelan sebelum Muler membalas pelukan gadis itu. Senyuman dan air mata membuat jembatan, "aku benar-benar hampir tergoda dengan tawarannya, terima kasih."


      "Kau memberi pelukan dengan sebuah makna?" Anak didepannya menatap dingin. Angin berhembus di sekitar mereka. "Aku akan berhenti disini, aku hanya akan suka denganmu sebatas ini!" menarik napas, "aku tidak bisa menghilangkan apapun di dalam hati karena mereka yang mengendalikan pikiran dan tubuhku. Tapi pernikahan bagiku sekali seumur hidupku lakukan, itu komitmenku hingga akhir dan jika kulepaskan aku akan kehilangan diriku." Air mata bersama isak terdengar pilu, "aku menghargai komitmenmu dan lakukan, rasa suka tanpa komitmen akan sangat mudah terbawa suasana!"


      Membalikan tubuh dan mengeluarkan asap biru dari tanganya, "apa kau tidak ingin serakah dan menjadi bebas dari komitmen yang mengikat?"


Hingga sekarang semua manusia diperbudak oleh keserakahan, mereka memodalkan kebaikan sebagai tameng materi yang tidak akan pernah cukup, termasuk aku. Jika ku lakukan lagi maka tidak akan ada perubahan dari satu manusia, aku berusaha agar mampu menepi untuk singgah.


      "Aku menghentikan keserakahanku!" Menatap punggung Muler. Walau aku yakin tidak ada yang bebas dari itu semua.


      Muler mengibaskan tangan dan semua labirin terbuka untuk satu arah jalan menuju pintu belakang cafe, "jika ingin pergiku persilahkan sebagai rasa terima kasih karena telah memberi keserakahan padaku, kakak Lenia!" Membalikan tubuh dan tersenyum miring menatap Lenia.


Lenia tersenyum, dan berjalan pelan melewatkan Muler.


      "Lenia!" Lenia menghentikan langkah.


      "Aku akan membuatmu serakah!" Kabut biru menghilangkan tubuh Muler, 'kamu akan tahu saat komitmenmu luntur.'


      Kata sebagai penanda waktu bahwa ada sebuah jeruji yang mengurung hati seseorang. Berapa miliar tahun tidak akan pernah mampu untuk sekadar singgah melihat hati seseorang tanpa ingin memiliki.


      Lenia menatap cafe Muler dengan senyum. Dan hanya menatap mobil di sebelahnya. Bayang seorang lelaki tepat di belakang gadis itu, Bart menatap punggung Lenia. Tanpa menyadari keberadaan Bart, Lenia memilih berjalan kaki dalam gelap. Dari belakang Bart, kunang-kunang biru menuju ke arah Lenia menjadi pengganti lampu jalan, gadis itu tersenyum.


      Alunan yang lampau telah menjadi satu dengan masa depan. Ada takdir yang di tiadakan selama mengambil pilihan. Pohon takdir buah dari perbuatan, hukuman bagi pilihan, penyesatan bagi tindakan dan akhir dari jeratan, serta kau akan terkurung, terjerat atau bahkan terbuang oleh dunia yang kau ciptakan?


      Lenia duduk di atas tempat tidur dengan nightie kuning, membuka gorden hingga sinar matahari pagi menyeruak masuk. "Memasang gorden tebal adalah jawaban atas kemalasan!" Menatap tempat tidur yang tertimpa sinar matahari. Berjalan menuju lemari, mengambil kimono mandi tapi sebuah ketukan pada pintu membuatnya menutup lemari dan meletakan kimono mandi di tempat tidur.


      "Aku ingin kita bicara!" Lenia membuka pintu dan rambut gadis itu masih terlihat berantakan.


      "Teh atau kopi?" Ucapan terdengar lantang.


      "Kopi jika keberatan!" Bart meletakan kue cokelat di atas meja, mematikan lampu tengah Lenia dan lampu dapur. Gadis itu menuangkan air panas ke gelas berisi kopi dan mengaduknya pelan dengan sendok. Memegang dua cangkir kopi dan memberikan satu cangkir ke Bart yang berdiri sedari tadi di sampingnya. Lenia menatap Bart, "jika ingin minta maaf, bukan untukku tapi Muler!"


      "Sudah ku lakukan!" Menyeruput kopi.


      "Kalau begitu tinggal masalah kita berdua sebagai suami-istri!" Menatap Bart sambil menyeruput kopi.      "Kenapa kau tidak membantu Muler?"


      Bart menaikan alis, "ini termasuk masalah suami-istri?" Lenia mengangguk.


      "Aku tidak tahu dia akan separah itu dan istriku datang bersamanya selagi aku dengan wanita itu!" Lenia mengerutkan kening, menyeruput kopi dengan kasar.


      "Aku tidak tanya masalah perempuan itu!" Melangkah menuju ruang tamu. Bart berjalan mengikuti.


Hening tanda yang tegang. Keduanya duduk di sofa yang sama, televisi menyala dengan volume suara yang keras.


      "Untung tempat ini kedap suara?" Bart membuka suara lagi.


      "Kau yakin tidak akan menjelaskan perempuan itu?" Kening Lenia berkerut dan mematikan televisi.


      "Tadi malam aku mabuk sebagai alasan manusia, sebenarnya aku hampir ingin melakukannya karena keinginan tapi untungnya tertunda!" Mematap Lenia yang terlihat menaikan alis.


      "Kalau aku dan Muler tidak datang kau tidak akan berhentikan?" Duduk menghadap Bart.


      "Aku akan memecatnya bagaimana?" Meminta persetujuan Lenia.


      "Kalau kau memecatnya karena kesalahnya dan kamu, pemecatan bukan solusi, karena walaupun di pecat jika keninginanmu untuk seperti itu muncul dimana saja dan dengan siapa saja kamu bebas memilihkan!" Semakin mengerutkan kening. Bart terlihat menahan tawa.


"Kenapa masih berpikir menggunakan logika?" Tersenyum miring.


      "Ini kesalahanku juga karena belum bisa menjadi istri yang belum bisa di sukai suami dan begitu juga kamu sebagai suami!" Gadis itu terlihat sedih, "kita harus menjadi suami-istri yang saling menyukai, dan menghormati bukan sekadar memiliki bahkan harus punya komitmen yang jelas. Berlaku selama kau belum membuangku!"


      "Lei, komitmenku berbeda dari komitmen manusia!" Bart menahan kepalanya dengan kepalan, tangan membentuk segitiga bersandar pada sofa.