Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Pintu cafe terbuka, tatapan Cerel terarah pada tubuh dari balik pintu. "Kak Eli, tunggu sebentar kak, aku bersihkan meja sebentar!" Eli mengangguk tanda balasan. Gadis itu duduk di meja, "satu kopi untukmu!" Eli menaikan sebelah alis terlihat bertanya dari pernyataan Rey, "tipe gratis, silahkan dinikmati!" Duduk di depan Eli.


      Cerel keluar dari ruang ganti dengan pakaian biasa, anti fit style adalah khas. Berdiri di samping Eli, "kak Leilei tidak ikut menjemput?" Eli meletakan kopi yang dia sempat seruput.


      "Kakak Leimu hari ini ke tempat penelitiannya!" Wajah Cerel terlihat bingung, "untuk novel baru kakak Leimu, cukup itu yang gadis kecil sepertimu tahu! Tadi kakak sudah ke panti, pihak panti minta ijin ke kakak supaya mereka bisa menemuimu dan kakak ijinkan!"


      Cerel mengangguk senang, "kapan ibu panti datang?"


      "Nanti pasti ada kabar berupa berita, duduk dulu!" Cerel mengangguk dan duduk.


      "Memangnya kak Lei pergi ke mana kak, mendadak sekali kenapa harus hari ini?"


      Rey menatap Eli, "ke Gunung Kasali, kakak Lei butuh waktu cepat untuk naskah novel barunya!" Tersenyum sambil menyeruput kopi, gaya yang elegan.


      "Bukannya itu wisata alam yang baru dibuka dan terkenal dengan binatangnyakan!" Rey menegaskan.


      "Akhirnya kau komentar, aku mengijinkan dia, anak itu butuh udara alam terbuka Rey!" Menatap tajam. Eli terlihat meletakan pelan kopi ke piring kecil.


      Di sisi lain tembok, Ricard meninggalkan ruangan sambil menyunggingkan senyum. Bart memasang kacamatanya, layar kaca menunjukan sebuah lokasi, "Gunung Kasali, gadis ini!" Tersenyum miring.


      Saya memproduksi kata tapi saya tidak bisa memprediksi hati dari orang lain. Anda bisa kendalikan pikiran orang lain tapi anda telah memakan umpan dari tipu muslihat pikiranmu sendiri. Bukan saya yang terjebak tapi, anda yang terperosok hingga ke larva. Apapun yang anda dan saya lakukan selama itu mengambil harga hidup orang lain maka akan tetap kembali ke napas kita.


      Lenia berdiri dengan kaki di atas batu dan jalan setapak menuju arah gunung dengan hutan di masing-masing sisi jalan sebagai lampu. Ransel camping dengan muatan yang terlihat melimpah. Celana jogger sweatpants hitam, kenakan hoodie dan sebagai pelengkap sneakers abu-abu pada kaki.   


      Daun kering adalah ikatan dari angin. Hijau hutan dan tiang gunung di tengah laut. Nyanyian musim berakhir begitu berbeda dari lantunan puisi setiap sejarah.


      Lenia mendirikan tenda, beberapa meter di arah belakang kemah terdapat Riam Kusing. Menyalakan api unggun kecil di depan kemah. Permintaan ijin di terima untuk kemah serta menyalakan api tapi, hanya di khususkan dengan tempat yang berdekatan dengan sumber air. Lenia mendapatkan ijin atas hal itu. Menyalakan musik pada gawai, mendengarkan musik dengan handset, membuka roti dan melempar sedikit roti ke tanah, "berbagi itu penting, selamat makan!" Mengunyah roti dan minum kopi dari thermos capsul.  


      Sore berganti malam, Lenia menyalkan lampu led 3D berbentuk anak anjing tertidur dan meletakan di sisi dalam kemah. Api unggun masih menyala, Lenia duduk bersilah di depan kemah dengan rambut ikal yang masih terikat. Kepala mendongak, sedikit ruang untuk menatap langit dari balik daun-daun pohon. Musik berputar dengan melodi berbeda, tulisan pada halaman buku miliknya. Kecepatan tangan adalah bagian dari otak.


      Tarian daun dan ranting pohon mengikuti arah angin. Kibasan pada api unggun sedikit memukul paksa. Susunan malam bertambah dingin. Lenia menutup buku dan meletakan di pinggir sisi kemah, begitu juga dengan gawai serta handset miliknya. Mengambil botol air mineral dan menyiram ke sekeliling api unggun tampa memadamkannya. Menutup pintu kemah dari dalam dan masuk ke dalam sleeping bag warna kuning.


      Hening, yang menegangkan. Kekuatan alam bukan mainan. Suara-suara burung terdengar riuh. Goncangan pada batang pohon terdengar jelas. Suara air yang di mainkan terdengar dekat. Lantunan dari tumet (nyanyian khas Dayak Maanyan) terdengar mendekat. Lenia membuka mata pelan, napas tak beraturan dan menelan air liur perlahan. Bayangan demi bayangan di luar kemah. Lenia mengeratkan pegangan pada sleeping bagnya.