Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Bart menuangkan sup ikan pada mangkok dan memberikan pada Lenia. Gadis itu duduk tenang di kursinya. Semua di dalam rumah Bart seolah tertata rapi  dengan gaya kuno. Barang-barang kuno dari seluruh dunia terkumpul, hingga ke peralatan makan.


      Satu sendok masuk ke mulut, "kau yang masak?" Kaki gadis itu bergerak.


      Bart duduk di sebelahnya, "selain kita berdua kau melihat siapa?" Satu sendok masuk kemulut.


      "Jawaban yang baik, aku hanya bertanya. Tapi, aku suka supnya." Tersenyum manis.


      "Kau seperti ini karena makanan?"  Bart mendorong mangkok besar berisi sup ke depan Lenia. Gadis itu bergumam tanda mengiyakan.


      "Kau melupakan do'a makanmu." Lenia terdiam menatap Bart.


      "Aku akan berdo'a setelah makan." Suara gadis itu pelan, Bart tersenyum.


Lenia memasukan sup ke dalam mangkoknya lagi.


       Ada kisah yang menyatakan kehidupan. Akhir yang bahagia bukan berarti tawa dan akhir yang menyedihkan bukan berarti tangis. Ada kata yang membuat dia bersamaku. Sebuah kisah sejarah yang nyata dan hanya aku dan dia yang tahu. Apa yang membawa aku bersama dengan dia sedari awal?


      Sore melewati ujung layar jukung dan  tenggelam. Kastil kuno Betang dengan design modern, kastil panjang dan bertingkat. Jendela di biarkan terbuka, Lenia tidur di ranjang menghadap ke arah jendela. Angin membuat kibasan pada gorden. Lampu kamar berbentuk lentera di pilar tengah kamar, dengan sinar orange.


      Kunang-kunang terbang menuju jendela. Lenia mengikuti, samar terdengan suara piano dan warna biru dari barisan kunang-kuang membentuk jalan di taman belakang.


      "Bart!" Panggilan pelan. Masih berdiri di depan jendela. Gadis itu menatap tempat tidur, Bart tidak ada di sebelahnya sedari tadi. Lenia menatap taman belakang dan berjalan menuju pintu kamar. Menuruni tangga cepat, dia mencari sekeliling rumah. Arah pintu belakang, sebuah cahaya biru dari satu pintu di ujung lorong tepat di bawah tangga. Gadis itu mendekat dan membuka pintu pelan. Barisan kunang-kunang terlihat menuntun jalan untuknya, kaki menuruni tangga, tanpa alas gadis itu berjalan pelan. Beberapa meter dia berhenti dan menatap ke belakang. Jelas terlihat kastil mewah berwarna merah kecokelatan berdiri kokoh. 


      Lenia melanjutkan langkah, suara piano terdengar semakin jelas. Jalan setapak dengan tanaman hijau dan pohon dengan daun berbagai warna. Angin membawa daun jatuh ke jalan. Beberapa kunang-kunang menjadi penerang pada daun pohon. Lenia tersenyum, salah satu kunang-kunang menghampiri gadis itu. Lenia memperhatikan, "peri!" Terlihat senyuman kecil dan anggukkan dari kunang-kunang di sebelah Lenia. Suara kecil dari makhluk itu terdengar lembut.


      Lenia terus berjalan sambil tersenyum. Sekumpulan kunang-kunang membawa rangkaian mahkota terbuat dari lingkaran akar dan bunga anggrek lalu meletakan pada kepala gadis itu.


      "Terima kasih!" Gadis itu terus berjalan. Suara piano tertuju pada telinga. Kakinya menginjak daun kering. Sekumpulan kunang-kunang yang membentuk jalan untuknya berkumpul pada pohon dan Jukung Panyang Suei di depan gadis itu.


      Suara piano mengalir lembut, seisi malam akan menari. Karena yang dia tampilkan bukan tipuan. Ada suara pecahan di balik tarian tangan di atas  piano. Suara tak tergambar karena irama yang menggoda.


      Bart menghentikan gerakan tangannya pada piano. Berdiri dan menghadap Lenia. Dia setengah duduk dengan posisi bersandar pada piano dan kaki kanan sedikit di tekuk. Kedua tangannya ada di kantong celana piama, kimono rajut berwarna merah yang panjang terlihat seperti jubah. Bagian dada yang terbuka menampilkan otot dengan kaki beralas slip on Casual.


      'Dia menarikku dengan tanaman yang tiba-tiba merambat dari bawah kakiku, membuat tubuhku melayang. Kakiku pelan  menyentuh tanah, berhenti tepat di hadapan makhluk ini. Yang ku tatap pertama kali adalah bagian dada dan hal itu membuatku mendongak. Dia menatapku tenggelam dalam perbedaan tinggi antara kami. Seperti mantra pupuk dari sihir, bunga merambat ke atas piano dan hingga ke bawah kaki kami bahkan naik ke betis. Berbunga di sana, mawar biru. Macam-macam warna koloni kunang-kunang sebagai lentera tambahan keluar dari jamur di sekitar.'