Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 9



Entah hanya karena Matthew yang memang tidak suka dengan keberadaan David di situ, atau karena keakraban yang diperlihatkan David dengan Chloe lah, yang membuat Matthew tampak sangat terganggu.


Bahkan, Matthew sampai menghentikan perbincangannya dengan kepala proyek yang tampak masih ingin membahas tentang pekerjaan, di lokasi kerja itu.


"David! Apa kamu tidak ada pekerjaan lain?" tanya Matthew, yang terlihat kesal.


"Hmm ... Pekerjaanku sudah selesai. Aku hanya memeriksa beberapa hal, karena laporan yang aku terima," kata David, tampak masa bodoh.


"Tidak ada masalah jika aku berada di sini, bukan?! Karena, apa yang kalian perbincangkan, juga masih ada hubungannya dengan pekerjaanku."


Seakan-akan tidak peduli dengan ketidaksukaan yang diperlihatkan oleh Matthew, David masih terlihat santai, duduk sambil memangku kaki di situ.


"Sir!" Chloe menunjukkan catatan kepada Matthew, yang menurutnya mungkin telah terlewatkan oleh Atasannya itu. "Anda masih harus membahas tentang hal ini!"


"Aku tahu!" sahut Matthew, ketus. "Pembicaraan kami memang belum selesai."


"Chloe! ... Kenapa kamu tidak ikut denganku saja? Aku butuh bantuanmu sebentar! Dan aku rasa CEO tidak akan keberatan. Karena dia tampaknya tidak membutuhkanmu," ujar David.


Sambil berdiri dari tempat duduknya, David menghampiri Chloe, dan segera memegang tangannya.


David memang tampak tidak peduli dengan apa tanggapan dari Matthew nantinya, sehingga tanpa terlihat ragu, David langsung membawa Chloe pergi dari situ.


"Sir?!" ujar Chloe, panik.


"Tidak perlu khawatir! ... Jika dia memecatmu, kamu bisa bekerja padaku," kata David, sambil tetap memegang tangan Chloe, dan terus berjalan.


Setelah memasang helm pelindung di kepalanya serta Chloe, David membawa Chloe masuk, dan naik dengan menggunakan lift barang, hingga hampir ke bagian rooftop dari sebuah gedung, yang sedang dalam tahap pembangunan di area itu.


Bagian rooftop gedung itu, belum lah terpasang pagar pengaman, hingga terasa cukup menakutkan bagi Chloe, jika berdiri di ketinggian itu, walaupun mereka berdiri masih cukup jauh dari bagian tepinya.


"Jangan takut! ... Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh," ujar David, sambil memegang tangan Chloe yang gemetar.


"Menurutmu, berapa harga yang pantas untuk apartemen di sini?" tanya David.


Walaupun David memegang tangannya, namun Chloe tetap saja gemetar hebat saking takutnya, dan tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa takutnya itu.


Apalagi, di atas situ angin berembus cukup kencang, sehingga Chloe merasa seolah-olah dia akan ikut tersapu dibawa angin.


"Pffftt...!" Sambil tertawa tertahan, David mendekap Chloe dengan erat dari bagian belakangnya, lalu berkata,


"Jika pembangunan tempat ini sudah selesai, pemandangan dari sini cukup bagus! Beranikan dirimu, dan coba lihat ke sekelilingmu!"


Chloe yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat wajahnya, dan memandang lurus ke depannya.


Dari apa yang bisa dilihat oleh Chloe, David memang tidaklah berbohong. Karena menurut Chloe, pemandangan dari atas situ sangat indah.


Di salah satu sisi, Chloe bisa melihat kawasan perkotaan, hingga mencapai ke lautan lepas.


Sedangkan di sisinya yang lain, pemandangan hutan di pegunungan yang ditumbuhi pepohonan yang masih rimbun, terlihat sangat segar dan menenangkan.


"Bagaimana? Bagus tidak?" tanya David.


"Bagus!" sahut Chloe, sambil tersenyum.


"Apa menurutmu apartemen ini pantas, jika dijual dengan kisaran harga enam jutaan dolar per unit?" tanya David, lagi.


"Iya ... Dengan pemandangan yang seperti ini, saya rasa harga itu lebih dari pantas," jawab Chloe.


"Aku membeli satu unit apartemen di gedung ini," kata David, sembari melepaskan dekapannya, dan bergeser ke samping Chloe, lalu merangkul pinggang Chloe.


"Apa Anda membelinya dengan menyicil?" Chloe sekadar bertanya, hendak mengejek David.


"Menyicil? ... Tentu saja tidak. Aku membayarnya secara kontan," kata David, melirik ke arah Chloe, sambil tersenyum lebar dan tampak hampir tertawa.


"Phew! ... Itu jumlah uang yang fantastis!" ujar Chloe, lalu ikut tersenyum.


"Pffftt...! Kamu percaya?" tanya David, sambil tertawa.


"Tentu saja! ... Anda berasal dari keluarga konglomerat, jumlah uang sebanyak itu tentu tidaklah seberapa," jawab Chloe.


"Auch! ... Don't tease me, Sir!"


"Bagaimana rasanya?" David membawa Chloe duduk di atas tumpukan bahan bangunan, yang ada di sana.


"Apa maksud Anda, Sir?" Chloe balik bertanya, karena tidak mengerti ke mana arah pembicaraan David.


"Jika aku tidak salah menilai, pekerjaanmu belakangan ini terlihat jadi semakin sulit saja. Kamu pun tampak semakin tertekan....


... Aku tidak habis pikir, kenapa kamu masih mau bekerja sebagai asistennya?"


Sambil berbicara, David membantu menyibakkan rambut Chloe yang berantakan, ke bagian belakang telinga Chloe dengan perlahan.


"Aku mengerti kalau waktu itu kamu tahan bekerja dengan Nathan. Walaupun tekanannya cukup besar, tapi Nathan tampaknya memperlakukanmu dengan baik....


... Lain halnya dengan Matthew ... Sikapnya sangat bertolak belakang dibandingkan dengan Nathan. Dia sangat kasar, dan terlihat jelas kalau dia sama sekali tidak menghargaimu," lanjut David.


Sebenarnya, Chloe rasanya ingin saja mengutarakan keluhannya tentang Matthew kepada David.


Namun Chloe tahu, bahwa itu adalah hal yang tidak pantas, jika dia harus menceritakan sikap buruk dari Atasannya. Apalagi jika dia masih bekerja pada Matthew.


Dengan demikian, Chloe kemudian hanya berkata,


"Semua orang pasti punya cara berinteraksi yang berbeda-beda. Mister Nathan dan Mister Matthew, mungkin memiliki kepribadian yang jauh berbeda....


... Tapi mereka adalah Atasan saya. Dan saya sudah cukup beruntung, karena mereka masih mau memberikan saya kepercayaan untuk melakukan pekerjaan ini."


"Tsk tsk tsk!" David berdecak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kamu tidak mau menjadi asistenku saja? Apa karena aku bukan CEO?"


"Anda sering mengeluhkan tentang pekerjaan Anda. Jadi, saya khawatir kalau-kalau Anda benar-benar berhenti bekerja, lalu aku juga akan jadi pengangguran," sahut Chloe, bercanda, sambil menahan diri untuk tidak tertawa.


"Hahaha...!" David tampak tertawa lepas, lalu berkata,


"Jika kamu menjadi asistenku, maka aku pasti akan berhenti mengeluh. Karena kamu yang selalu totalitas dalam bekerja, tentu akan sangat membantu pekerjaanku. Apalagi loyalitasmu, yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi."


Casey terdiam, sambil memandangi David yang berbicara kepadanya.


"Selain itu, kamu juga cantik. Jadi, walaupun aku jenuh dengan pekerjaanku, maka aku harus berpikir ulang untuk berhenti bekerja....


... Karena akan sangat disayangkan, jika aku sampai kehilangan asistenku yang baik dan cantik," lanjut David, lalu mengedipkan sebelah matanya, dan tersenyum lebar.


"Pffftt...! Terima kasih atas pujiannya, Sir!" ujar Chloe sambil tertawa, menanggapi candaan dari David itu.


"Tapi aku bersungguh-sungguh. Aku ingin agar kamu mau bekerja denganku saja," kata David, sambil memasang raut wajah serius.


"Sudah sekian lama aku menunggu, agar kamu menerima tawaranku. Tidakkah sebaiknya, kalau kali ini kamu memikirkannya lagi?


... Kamu bisa menyebutkan berapa nominal gaji yang kamu inginkan, dan aku akan memenuhinya....


... Dan yang terpenting, aku pasti akan memperlakukanmu dengan lebih baik, dibandingkan dengan Matthew," lanjut David.


"Apa yang lebih baik dariku?"


Suara Matthew yang bertanya, cukup mengejutkan bagi Chloe, hingga segera menoleh ke samping, dan melihat Matthew yang ternyata sudah berdiri di dekatnya.


Dengan terburu-buru, Chloe lalu berdiri dari tempat duduknya.


Namun, sebelum Chloe sempat berkata apa-apa, David sudah berbicara lebih dulu, seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kamu perlu bertanya? Apa kamu tidak sadar, kalau sikapmu terlalu angkuh, dan tidak bisa menghargai orang-orang di sekitarmu," kata David.


"Jika hanya karena merasa bahwa kamu adalah pewaris langsung dari Jackson McLean, sehingga kamu berlagak hebat, maka kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri....


... Chloe adalah pegawai yang baik. Tapi kamu memperlakukannya dengan semena-mena. Apa kamu tidak pernah berpikir akan apa alasannya, sehingga daddy-mu mempertahankannya selama ini?" lanjut David.


"Sudah puas mengataiku?" tanya Matthew, sinis. "Kalau kamu memang sangat menyukainya, kenapa kamu tidak mengambilnya saja?"


"Bukankah aku baru saja melakukannya? Aku akan dengan senang hati untuk mengambilnya darimu," jawab David, sambil merangkul pinggang Chloe dan menariknya, hingga Chloe benar-benar merapat ke badannya.