Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 40



Selama Matthew yang tampak serius berbicara di makam daddy-nya, Chloe memandangi Matthew dan mengamatinya baik-baik, sambil Chloe mengingat beberapa hal yang terjadi di masa lalu.


Sebelum-sebelumnya, sewaktu daddy-nya masih hidup, sampai mengembuskan napas terakhirnya, Chloe tidak pernah mendapati seorang pun yang mau memperlakukan daddy-nya seperti seseorang yang terhormat.


Sebagian besar dari orang-orang yang Chloe kenal yang mengetahui profesi daddy-nya, dan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari, justru sering merendahkan dan menghinanya.


Seolah-olah orang tua dari Chloe itu, adalah seseorang yang sama sekali tidak berharga dalam penilaian orang-orang itu.


Bahkan, ada orang-orang yang tanpa segan mencibir dan memberikan tatapan jijik, akan keberadaan Chloe dan daddy-nya yang menjalani hidup mereka di bawah garis kemiskinan.


Tapi kali ini, orang dengan status sosial seperti Matthew, lalu mau berperilaku dengan rasa hormat kepada daddy-nya, sesungguhnya bisa membuat Chloe merasa sangat terharu.


Tanpa disadarinya lagi, Chloe sudah tertunduk dan meneteskan air matanya.


"Apa aku telah salah bicara?" Matthew tiba-tiba saja memeluk Chloe dengan erat, dan mengusap-usap bagian punggung Chloe.


"Tidak, Sir ... Terima kasih. Saya sangat menghargai sikap Anda kali ini," sahut Chloe, sambil membalas pelukan Matthew.


"Kamu sudah terlalu sering menangis. Apa kamu berniat untuk jalan-jalan bersamaku dengan mata yang bengkak?" ujar Matthew, seolah-olah ingin mengalihkan perhatian Chloe dari rasa harunya.


Chloe tersenyum. "Tentu saja tidak."


Walaupun Chloe sudah merasa lebih tenang, namun Matthew masih memeluknya dengan erat, dan bahkan seolah-olah masih ingin memastikan keadaan Chloe, dengan berkata,


"Apa kamu sudah merasa lebih baik? ... Jangan menangis lagi...! Wajahmu terlihat sangat buruk kalau kamu sedang menangis."


Chloe akhirnya tertawa kecil karenanya, lalu sedikit mendorong Matthew, sampai melepaskan pelukannya dari Chloe. "Ayo kita pergi dari sini, Sir!"


Sembari membantu Matthew berjalan, mengarah ke mobil yang terparkir, Chloe kemudian terpikir untuk bertanya kepada Matthew.


"Apa ada suatu tempat yang ingin Anda kunjungi?"


"Hmm ... Apa saja yang menarik di sini? ... Seharusnya kamu yang lebih tahu," sahut Matthew, sambil bergerak masuk ke dalam mobil.


"Ke mana saja tidak jadi masalah. Asalkan di tempat itu, aku tidak perlu terlalu banyak berdiri atau berjalan," lanjut Matthew, terdengar tanpa beban.


Chloe yang bergegas masuk di sisi mobil di bagian supir, kemudian menyalakan mesin kendaraan itu sambil berpikir, akan membawa Matthew pergi ke mana yang cocok dengan persyaratan yang dikatakan oleh Matthew.


"Anda tidak takut ketinggian?" tanya Chloe.


"Tidak." Matthew segera menjawab pertanyaan Chloe.


"Ada satu tempat yang memakai gondola untuk melihat-lihat di sana, jadi Anda bisa menikmati pemandangan sambil duduk saja. Tapi...." Chloe yang buru-buru memberi saran, namun dia sendiri yang pada akhirnya merasa ragu-ragu.


"Kamu takut ketinggian." Matthew meneruskan kata-kata yang tidak terucapkan oleh Chloe.


"Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Chloe.


"Tsk! ... Aku tidak akan lupa, ketika David memelukmu seakan-akan kamu adalah kekasihnya," sahut Matthew, sambil memalingkan wajahnya, melihat ke arah jendela di sampingnya.


"Kita pergi ke sana saja!" lanjut Matthew, seolah-olah dia tidak peduli walaupun Chloe akan ketakutan, saat menaiki kereta gantung nantinya.


Tanpa berkomentar apa-apa lagi, Chloe lalu mulai mengemudi menuju ke tempat wisata, yang menjadikan kereta gantung sebagai wahananya bagi pengunjung yang ingin berwisata di sana.


Dan setibanya mereka di tempat tujuannya, Chloe serta Matthew segera pergi ke loket pembayaran untuk membeli karcis masuk.


Mungkin karena hari itu adalah libur akhir pekan, sehingga orang-orang yang ingin memanfaatkan liburannya dengan berwisata, terlihat membentuk antrian panjang di tempat itu.


Atau ... Entahlah! ... Chloe hanya bisa mengira-ngira saja alasannya, hingga pengunjungnya bisa seramai itu. Apakah karena hari libur, atau memang selalu seperti itu keadaannya.


Karena Chloe juga belum pernah mendatangi tempat itu sebelumnya, dan hanya mengetahui keberadaan tempat wisata itu dari cerita Agatha, yang pernah berkunjung ke sana.


Yang pastinya, Chloe cukup khawatir kalau-kalau Matthew kelelahan berdiri di sana, karena terlalu lama menunggu giliran mereka, sampai bisa membeli karcis.


"Miss Fern!?"


Suara dari seorang wanita yang menyebut namanya, membuat Chloe menoleh ke samping, dan mendapati selebriti wanita yang menjadi wajah untuk iklan perusahaan, sudah berdiri di dekat mereka.


"Hai, Miss Parker!" sapa Chloe, sambil tersenyum.


"Hai, Mister McLean!" Judy mengulurkan sebelah tangannya ke arah Matthew.


Namun, Matthew tidak mau segera menyambut tangan Judy, dan justru melihat ke arah Chloe.


"Dia adalah Miss Judy Parker ... Bintang iklan perusahaan," kata Chloe, yang mengerti akan maksud tatapan Matthew kepadanya.


Setelah Chloe menjelaskan siapa wanita itu kepada Matthew, barulah laki-laki itu mau menyambut tangan Judy, dan berjabat tangan dengannya.


"Hmm ... Anda tidak pernah melihat iklan perusahaan?" tanya Judy, sambil tersenyum lebar.


"Saya belum sempat memperhatikannya," jawab Matthew, dengan suaranya yang datar.


Walaupun demikian, saat Judy yang terlihat tanpa ragu-ragu untuk mengajak Matthew berbincang-bincang dengannya, namun Matthew justru terlihat risih di dekatnya.


Dengan memperhatikan gerak-gerik Matthew, saat Judy berbicara padanya sambil sesekali menyentuh lengannya di situ, Chloe jadi teringat akan perkataan Maddison, kalau Matthew tidak suka di sentuh oleh orang asing.


Sehingga Chloe akhirnya tidak merasa heran lagi, ketika melihat Matthew yang terlihat kesal, dan menatap tangan Judy, setiap kali wanita itu menyentuh lengannya.


Sedangkan yang Chloe tahu, Judy tertarik kepada Matthew sejak pesta penyambutan CEO baru waktu itu. Sehingga Chloe kemudian terpikir untuk membantunya, agar Judy bisa mendekati Matthew.


Chloe lalu mencari kesempatan untuk memberitahu wanita itu, akan bagaimana caranya agar tidak meletuskan kemarahan Matthew, dengan berpura-pura kalau Chloe akan memperbaiki anting-anting di telinga Judy.


"Anda menyukai CEO, kan? ... Jika Anda ingin menarik perhatiannya, Anda cukup mengajaknya berbincang-bincang saja. Dan jangan terlalu sering menyentuhnya....


... Karena dia justru tidak suka, jika disentuh oleh orang yang baru saja dia kenal," kata Chloe, dengan berbisik-bisik di telinga Judy.


"Oh! Begitu, ya?! ... Terima kasih!" sahut Judy, sambil ikut berbisik-bisik.


Hingga tiba kesempatan bagi mereka untuk membeli karcis masuk, Judy tampak masih bersemangat untuk mengajak Matthew berbincang-bincang dengannya.


Begitu juga ketika mereka sudah masuk ke dalam kereta gantung, di mana Judy dan beberapa orang temannya, juga mendapat satu kereta gantung yang sama dengan Matthew dan Chloe.


Semangat Judy untuk mendekati Matthew, terlihat sama sekali tidak berkurang, meskipun Matthew menampakkan dengan jelas, kalau dia tidak terlalu berminat untuk menanggapi perbincangan Judy.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Matthew tiba-tiba, sambil berbisik-bisik pada Chloe yang duduk di sampingnya.


Chloe mengangguk.


"Kamu bukan takut ketinggian. Kamu hanya tidak terbiasa saja," kata Matthew.


***


Setelah satu putaran mengelilingi tempat wisata itu, dan sudah waktunya bagi mereka untuk keluar dari kereta gantung, Matthew kemudian berkata,


"Miss Parker! ... Terima kasih atas tawaranmu. Tapi saya tidak bisa ikut." Matthew memperlihatkan kakinya yang masih pincang.


Judy terlihat kecewa, karena ajakannya kepada Matthew untuk minum teh di kafe bersamanya, justru hanya ditolak oleh Matthew.


"Apa lain kali, Anda mau pergi bersama dengan saya?" tanya Judy, tampak tidak mau menyerah begitu saja.


"Iya. Saat saya sedang tidak sibuk," jawab Matthew.


Menurut Chloe, jawaban dari Matthew itu seolah-olah sedang memberi harapan kepada Judy.


Namun Chloe tidak tahu, apakah Matthew bersungguh-sungguh mengatakannya, atau Matthew hanya sekadar menjawabnya saja, agar Judy tidak berlama-lama lagi mengganggunya di situ.


Namun yang pastinya, karena jawaban Matthew itu, Judy bisa kembali terlihat senang.


"Kalau begitu, apa saya bisa menghubungi Anda secara langsung? Atau harus melalui Miss Fern?" tanya Judy.


"Hubungi Miss Fern saja. Dia pasti akan memberitahu saya, jika kamu menghubunginya," jawab Matthew.


"Okay! ... Saya pergi dulu! ... Bye, Mister McLean! See you soon!" Sambil tersenyum lebar, Judy berpamitan kepada Matthew, lalu melihat ke arah Chloe. "Bye, Miss Fern! ... Aku akan menghubungimu nanti!"


"Okay! ... Bye, Miss Parker!" sahut Chloe, yang juga ikut tersenyum, hingga Judy dan teman-temannya berjalan menjauh meninggalkan Chloe serta Matthew di situ.


Ketika Judy sudah tidak terlihat lagi, Chloe kemudian bertanya kepada Matthew.


"Apa Anda bersungguh-sungguh menginginkan agar saya membuatkan jadwal kosong bagi Miss Parker?"


"Iya! ... Segera, setelah kaki saya pulih!" jawab Matthew, terdengar bersemangat.


Chloe tersenyum lalu mengangguk. "Baik, Sir!"


Merasa kalau tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sana, Chloe lalu berniat untuk mengajak Matthew bepergian ke tempat lain.


"Ayo kita pergi ke tempat yang lain, Sir!" kata Chloe.


"Nanti dulu! ... Aku masih ingin naik gondola itu lagi," sahut Matthew, menahan langkah Chloe.


"Ugh?" Chloe kebingungan.


"Aku tadi tidak bisa menikmatinya, karena Judy yang hampir tidak bisa berhenti bicara," kata Matthew, menjelaskan alasannya hingga dia ingin menggunakan wahana kereta gantung itu lagi.


"Oh! ... Baik, Sir! ... Tunggu di sini sebentar!" kata Chloe, dan bersiap untuk pergi ke loket pembayaran karcis masuk.


"Chloe!" Matthew mengeluarkan satu kartu perbankan yang berbeda dari dalam dompetnya, dan menyodorkannya kepada Chloe, sembari lanjut berkata,


"Aku mau satu gondola yang kosong. Dan hanya aku dan kamu saja yang menggunakannya."