Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 47



Beberapa surat elektronik baru saja selesai dikirimkan oleh Chloe kepada orang-orang yang harus ditemui oleh Matthew, untuk menyampaikan pemberitahuan pengunduran waktu pertemuannya, tetapi Matthew tampaknya sudah tertidur dengan cukup pulas.


Napas Matthew sudah teratur, tampak dari gerakan dadanya yang naik turun berirama, dan raut wajahnya yang terlihat jauh lebih tenang.


Agar tidak membangunkan Matthew, dengan perlahan-lahan, Chloe meletakkan IPad ke atas meja kecil di samping sofa, lalu bersandar santai karena punggungnya yang terasa pegal.


Tetapi Chloe masih merasa tidak nyaman, dan kakinya pun seolah-olah akan mati rasa, sehingga Chloe bergerak pelan, mengangkat kedua kakinya, dan diletakkan di kaki meja di depannya.


Walaupun Chloe sudah berusaha untuk tidak membuat kepala Matthew berguncang, namun Matthew masih tampak terganggu tidurnya.


Spontan, Chloe mengusap kepala Matthew dengan perlahan, sampai Matthew kembali terlihat tenang.


Sambil memandangi wajah Atasannya itu, Chloe merasa sangat penasaran, akan apa yang sebenarnya menjadi mimpi buruk bagi Matthew, hingga sanggup untuk membuatnya jadi kacau seperti itu.


Seandainya saja Matthew mau membicarakannya kepada Chloe, mungkin mimpi buruknya itu akan berhenti menghantuinya.


Namun, Matthew bukanlah seseorang yang bisa dengan mudahnya menampakkan kelemahannya, apalagi sampai mengutarakan hal yang mungkin bersifat pribadi baginya.


Sudahlah.... Matthew pasti akan mencari bantuan, jika dia memang tidak mampu lagi untuk mengatasinya sendiri.


Chloe mendengus pelan.


Jika saja Chloe bisa berterus terang, sejujurnya Chloe cukup mengagumi sosok Matthew dan etos kerja yang dimiliki oleh Atasan Chloe itu.


Bagaimana tidak?


Chloe tahu dengan pasti, kalau Matthew sebenarnya sedang bekerja di bawah tekanan, namun Matthew masih mampu untuk tetap berpikiran kritis dalam melakukan pekerjaannya.


Chloe senyum-senyum sendiri, membayangkan jika Matthew bisa selalu terlihat tenang—saat Matthew sedang tertidur dengan nyenyak—seperti sekarang ini, tentu Chloe tidak akan mengalami banyak kesulitan saat bekerja bersamanya.


Tiba-tiba saja, Matthew tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, dan dengan matanya yang masih terpejam rapat-rapat, bola mata Matthew terlihat bergerak-gerak.


Begitu juga dengan kedua tangan Matthew yang tampak terkepal, dan seakan-akan sedang diremas sekuatnya.


Menurut Chloe, Matthew tampaknya sedang bermimpi sekarang ini.


Dan kemungkinan besar, Matthew lagi-lagi sedang bermimpi buruk, karena dari mulutnya yang sedikit bergerak-gerak, mengeluarkan suara bergumam serta bercampur dengan suara seperti sedang merintih kesakitan.


Tidak berniat untuk membangunkannya, Chloe menggenggam salah satu tangan Matthew, kemudian menunduk dan mendekat ke telinga Matthew, lalu berbisik-bisik dengan berkata,


"Sir! ... Anda baik-baik saja ... Saya menemani Anda di sini ... Tidak ada yang bisa mengganggu Anda...."


Setelah Chloe berbicara kepadanya, Matthew memang terlihat lebih tenang, tetapi pada saat itu juga, Matthew lalu membuka matanya.


Chloe yang masih menunduk, buru-buru menjauhkan wajahnya dari Matthew yang kini matanya tampak menatap lurus ke arah langit-langit.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Chloe, ragu-ragu.


Matthew tidak segera menjawab pertanyaan Chloe itu, dan justru menggenggam lebih erat, tangan Chloe yang masih memegangnya.


"It's hurt! ... Saya tidak mengenal Anda ... Apa kesalahan saya? ... Kenapa Anda membawa saya ke tempat ini? ... It's hurt! ... Please! ... Maafkan saya."


Setelah beberapa saat dia hanya terdiam, Matthew berbicara seperti sedang meracau dengan suara memelas, lalu mengedipkan matanya perlahan.


"Sir? ... Apa yang Anda bicarakan?" tanya Chloe, kebingungan, lalu memperhatikan Matthew baik-baik.


Karena melihat dari tatapan mata Matthew yang kosong seperti sedang melamun, sehingga Chloe menduga bahwa sekarang ini, Matthew tampaknya masih terbawa suasana dari dalam mimpinya.


Tapi mimpi seperti apa yang dialami Matthew?


Lalu, kenapa kedengarannya seolah-olah Matthew sedang dibawa oleh seseorang yang tidak dikenalnya?


Apa mimpi buruk Matthew adalah dia sedang diculik?


Sementara Chloe berpikir keras mencari kemungkinan penjelasan yang cocok, Matthew yang masih dengan tatapannya yang kosong, terlihat melihat meneteskan air matanya.


"Sir?" Dengan perasaan heran bercampur cemas, Chloe mengusap perlahan-lahan air mata dari wajah Matthew.


Matthew lalu terlihat memejamkan matanya lagi, dan di saat itu juga, napasnya terdengar sesak, tubuhnya pun gemetar hebat sampai berguncang.


"Oh, gosh!" ujar Chloe, panik, seraya buru-buru mencoba mengangkat Matthew agar bisa terduduk.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


"Sir! ... Please!" Sambil memeluk Matthew, Chloe berusaha menyadarkan Matthew.


Dengan menepuk-nepuk, lalu mengusap punggung Matthew, berganti-gantian Chloe melakukannya sambil berharap agar Matthew bisa cepat kembali normal.


Chloe sempat terpikir untuk meminta bantuan Agatha, tetapi dia mengurungkan niatnya, karena belum tentu Matthew mau, jika orang lain melihat keadaannya yang seperti itu.


Dengan demikian, Chloe harus berusaha sendiri sebisanya terlebih dahulu, untuk mengembalikan kesadaran Matthew, sebelum nantinya dia mencoba meminta bantuan orang lain.


"Mister Matthew! ... Sir! ... Please, wake up!" ujar Chloe, berulang kali.


Setelah beberapa waktu lamanya yang telah berlalu, barulah tubuh Matthew yang tadinya teraba kaku dan gemetaran, kini mulai terasa lemas, dan hanya tersandar dalam pelukan Chloe.


"Thanks God!" ucap Chloe, bisa sedikit bernapas lega, karena Matthew yang tampaknya sudah mulai kembali normal.


"Iya, Sir!" sahut Chloe, sambil tetap memeluk Matthew yang seolah-olah akan terjatuh saking lemahnya.


"Kamu tidak akan meninggalkanku sendiri di sini, kan?" tanya Matthew, yang menyandarkan wajahnya di salah satu sisi pundak Chloe.


"Iya ... Saya tidak ke mana-mana. Saya akan tetap menemani Anda," jawab Chloe, meyakinkan Matthew.


Matthew yang tampaknya telah mendapatkan sedikit kekuatannya kembali, kemudian memeluk Chloe, sambil berkata,


"Terima kasih ... Aku bisa merasa lebih baik karenamu."


Panjang dan dalam, Chloe menghela napasnya yang terasa berat, lalu menghembuskannya perlahan.


"Sama-sama, Sir," sahut Chloe, lalu terpikir untuk mencoba bertanya. "Apa Anda tidak mau membicarakan tentang apa yang ada dalam mimpi Anda?"


"Mungkin dengan begitu, Anda bisa merasa lebih baik," lanjut Chloe, buru-buru menjelaskan apa yang dipikirkannya.


Namun, Matthew yang terdiam dan tidak bereaksi apa-apa, menjadi pertanda bagi Chloe, kalau Matthew tidak mau membicarakannya, dan Chloe pun tidak bisa memaksanya.


"Apa Anda sudah bisa duduk sendiri?" tanya Chloe, berhati-hati.


"Tunggu sebentar lagi...!" jawab Matthew, pelan.


Chloe menunggu sampai beberapa saat kemudian, hingga keadaan Matthew sudah terlihat kembali seperti biasa.


Matthew lalu melepaskan pelukan Chloe, dan meminta Chloe membantunya untuk berpindah tempat duduk ke kursi kerjanya.


Masih dengan adanya Chloe di dalam ruang kerja CEO itu, Matthew kemudian menghubungi seseorang di ponselnya.


Chloe tidak terlalu memperhatikan percakapan antara Matthew dengan orang yang berada di sambungan teleponnya, tetapi dari sapaan yang diucapkan oleh Matthew, Atasan Chloe itu kedengarannya sedang berbicara dengan Grandpa-nya.


Chloe yang tidak mau terlihat seperti sedang menguping pembicaraan Matthew, kemudian memberi tanda kepada Matthew, kalau Chloe akan keluar dari ruangan itu untuk sementara waktu.


Ketika Matthew mengangguk setuju, Chloe kemudian bergegas pergi dari situ, dan kembali ke meja kerjanya.


"Apa ada sesuatu yang buruk yang terjadi?" tanya Agatha, saat Chloe baru saja akan duduk di kursi kerjanya. "CEO memarahimu?"


Chloe menggelengkan kepalanya, sambil menyalakan komputer, dan memeriksa pekerjaannya yang tertunda di situ.


"Lalu kenapa kamu terlihat lesu?" tanya Agatha, seolah-olah tidak puas bertanya, jika Chloe tidak menjelaskannya.


"Silahkan ditebak!" sahut Chloe asal-asalan, sambil memusatkan perhatiannya pada layar komputer yang sudah menyala.


Agatha mendengus kasar.


"Wajah tampan memang tidaklah bisa membuat pekerjaan kita jadi lebih menyenangkan." Agatha terdengar seperti sedang menggerutu. "Sudahlah...! Asalkan kita tidak dipecat saja."


Chloe manggut-manggut saja seolah-olah menyetujui pendapat Agatha, agar Agatha berhenti bicara, dan Chloe bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.


"Oh, iya! ... Chloe! ... Mister David tadi mencarimu. Aku memberitahunya, kalau kamu sedang berada di dalam ruang CEO. Lalu katanya, dia ingin mengajakmu makan siang bersamanya," kata Agatha.


"Hmm..." Chloe bingung kenapa David tidak langsung mengiriminya pesan.


"Belakangan, Mister David jadi sering mencarimu," celetuk Agatha, sambil melirik Chloe. "Apa ada sesuatu antara kalian berdua?"


"Tidak ada. Aku meminjam uang kepadanya, untuk melunaskan hutang loan shark," sahut Chloe, datar.


"Oh, geez! ... Maafkan aku. Waktu itu aku benar-benar tidak bisa membantumu." Agatha terdengar menyesali situasi, di saat dia menolak permintaan Chloe yang hendak meminjam uangnya.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu memikirkannya. Aku mengerti situasimu," kata Chloe, bersungguh-sungguh.


"Hmm ... Chloe! ... Menurutku, Mister David tidak kalah tampan dari CEO. Orangnya juga baik dan murah senyum," kata Agatha, sambil melirik Chloe.


"Lantas kenapa?" Chloe tidak mengerti akan ke mana arah pembicaraan Agatha.


"Aku membayangkan bagaimana kalau dia yang menjadi CEO. Mungkin pekerjaan kita tidak akan membosankan."


"Pffftt...!" Chloe tertawa tertahan, mendengar jawaban Agatha, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kamu tertarik kepada Mister David?"


Agatha terbelalak. "Apa yang kamu bicarakan?"


Kelihatannya, umpan Chloe mengenai sasarannya. Karena Agatha terlihat tersipu-sipu malu, mengunci mulutnya rapat-rapat, dan terlihat sibuk melanjutkan pekerjaannya.


Chloe tertawa kecil.


Sudah menjadi rahasia umum, dan tidaklah menjadi hal yang mengherankan lagi, jika beberapa pegawai wanita di kantor McLean property itu, tertarik pada pesona yang dimiliki oleh David.


Dan tampaknya, Agatha adalah salah satu dari wanita yang jatuh hati kepada David.


Chloe yang sudah kembali berkonsentrasi pada tampilan layar komputer, dikejutkan dengan bunyi nada dering pada ponselnya, yang menandakan bahwa ada panggilan telepon yang masuk di situ.


Dengan terburu-buru, Chloe mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, dan melihat tampilan layar dari benda itu.


Maddison McLean, mommy dari Matthew lah yang ternyata menghubungi Chloe sekarang ini.