Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 77



Sejujurnya, Chloe memang merasa tidak nyaman, jika dia harus menanggapi keinginan Mistress Gunther, agar Chloe mau berkencan dengan Harold.


Sehingga, saat percakapan tentang berkencan itu terhenti, barulah Chloe bisa bernapas lega.


Setelah kedua orang tuanya diajak berbincang-bincang dengan orang lain, Harold yang tampak bersungguh-sungguh menyesali situasi tadi, kemudian berkata,


"Maafkan aku, Chloe ... Aku tidak menyangka, kalau mommy-ku akan menanyakan tentang hal itu kepadamu."


"Tidak apa-apa," sahut Chloe sambil tersenyum. "Rasanya tidak terlalu mengherankan, jika seseorang mommy mengkhawatirkan anaknya."


"Aku mengerti ... Tapi aku masih sangat takut, untuk berhubungan dengan wanita sembarangan. Walaupun dia disarankan oleh mommy-ku."


Sembari berbicara, baik dari suara maupun ekspresi yang ditampakkan oleh Harold, terlihat jelas kalau dia merasa cemas.


"Apa orang tuamu tahu tentang apa yang terjadi kepadamu waktu itu?" tanya Chloe, tanpa berpikir panjang, hingga akhirnya dia justru menyesali perkataannya. "Maafkan aku ... Aku tidak sengaja mengungkitnya."


"Tidak apa-apa," sahut Harold, lalu memegang tangan Chloe dan menggenggamnya erat. "Orang tuaku tidak tahu. Hanya kamu saja yang tahu tentang kejadian itu."


"Maafkan aku, Harold ... Tapi menurutku kejadian itu sudah bertahun-tahun yang telah berlalu. Mungkin sudah waktunya bagimu untuk memberitahu mereka....


...Kamu tidak mungkin menyembunyikannya dari mereka untuk selamanya. Orang tuamu mungkin bisa membantumu....


... Atau paling tidak, mereka pasti mau mengerti. Jadi, kamu tidak akan merasa terlalu kesulitan," kata Chloe, mencoba memberi keyakinan pada Harold.


Seketika itu juga, genggaman Harold terasa semakin erat, sembari pandangannya tertunduk, menatap tangannya dan tangan Chloe yang menyatu.


Untuk beberapa saat lamanya, Harold yang terdiam akhirnya mengangkat pandangannya, menatap Chloe kemudian berkata,


"Apa menurutmu seperti itu? Tidakkah nantinya mereka hanya akan merasa kecewa kepadaku?"


"Hmm ... Aku tidak bisa memastikannya. Tapi aku rasa, orang tuamu sangat menyayangimu. Tidak mungkin mereka akan secara serta-merta menyalahkanmu, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu....


... Apalagi, hal itu memang bukanlah kesalahanmu. Mereka pasti akan berusaha untuk mengerti," jawab Chloe dengan berhati-hati.


"Oh, gosh!" ujar Harold yang tampak frustrasi. "Entah apa yang merasukiku, sehingga bisa melakukan kesalahan terkonyol sepanjang hidupku!"


Harold lalu menatap Chloe lekat-lekat. "Rahasiaku yang kamu ketahui, bisa merusak reputasiku dan keluargaku. Kamu tahu itu, bukan?!"


"Iya, aku tahu ... Lalu, apa? ... Apa kamu mengira kalau aku akan mencari keuntungan dari situ?" tanya Chloe, berprasangka.


"Kamu bisa melakukannya ... Apa kamu tidak mau? Kamu bisa mendapatkan banyak uang dari informasi itu!" ujar Harold, sambil mengangkat kedua alisnya.


"Pffftt...! Hidupku tidak sampai sesulit itu, hingga harus membuat ancaman, hanya demi mendapatkan keuntungan," kata Chloe, sambil tertawa.


"Tsk, tsk, tsk!" Harold berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku menyesal memiliki teman sepertimu."


"Ugh?" Chloe kebingungan. "Kenapa? ... Apa ada yang salah?"


"Karena kita yang berteman, aku jadi takut gagal berkencan denganmu, lalu nantinya kamu tidak mau menjadi temanku lagi." Sambil tersenyum dan melirik Chloe dengan ujung matanya, Harold tampak seperti sedang mengejek Chloe.


Chloe tertawa sembari menutup mulutnya dengan tangan, lalu berkata,


"Kalau aku, justru khawatir kalau-kalau aku tidak bisa berhenti menganggapmu hanya sebagai teman saja. Karena kalau begitu, kencan kita pasti akan gagal."


Harold lalu ikut tertawa bersama Chloe.


Karena terlanjur mengungkit tentang pertemanan, sehingga pada akhirnya, perbincangan antara Harold dan Chloe, kemudian berlanjut dengan membahas tentang masa lalu.


Mengenang masa-masa mereka masih berstatus sebagai mahasiswa, dan berbagai hal konyol yang pernah mereka lakukan, membuat Harold dan Chloe hampir tidak bisa berhenti tertawa.


Seakan-akan di sana hanya ada mereka berdua, sampai-sampai setiap sudut pipi Chloe terasa pegal, karena terlalu banyak tersenyum dan tertawa.


"Oh, my goodness! ... Aku tidak menyangka, kalau kita di waktu itu ternyata sangatlah bodoh!" ujar Chloe, lalu menghela napas panjang agar bisa berhenti tertawa.


"Chloe! ... Aku ingin agar kita bisa sering-sering bertemu, seperti di masa lalu," ujar Harold, terlihat yakin. "Kapan kamu ada waktu luang lagi?"


"Hmm ... Besok, aku ada janji dengan Mister David dan Mister Matteo untuk berkumpul di tempatku. Dan aku tidak bisa memastikan—"


Chloe tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena Harold buru-buru menyelanya dengan berkata,


"Apa yang akan kalian lakukan? Apa aku boleh ikut bergabung?"


"Hmm ... Tidak ada yang istimewa. Rencananya kami hanya akan berkumpul santai saja, dan aku akan memasak seafood—"


Lagi-lagi, Chloe tidak bisa menyelesaikan perkataannya, karena Harold buru-buru berkata,


"Kalau begitu apa aku bisa ikut? ... Aku akan membawa minuman dan makanan ringan. Pasti suasananya akan terasa seperti saat kita masih di kampus."


Chloe merasa ragu-ragu untuk membiarkan Harold ikut berkunjung ke paviliun. Karena biar bagaimana pun, pemilik tempat itu adalah Matthew.


"Ayolah! ... Aku rasa Matthew tidak akan keberatan, jika aku hanya mengunjungimu saja," kata Harold, seolah-olah dia bisa membaca pikiran Chloe.


Walaupun merasa cukup enggan, namun Chloe akhirnya menyetujui keinginan Harold untuk berkunjung ke paviliun. "Okay!"


"Great! ... Aku akan ke sana, setelah aku selesai berolahraga besok pagi," kata Harold, tampak bersemangat.


***


Setelah sudah cukup larut malam, David kemudian mengantarkan Chloe kembali ke paviliun.


Dan seolah-olah sama-sama telah merasa kelelahan, sehingga tidak banyak yang mereka perbincangkan di sepanjang perjalanan.


David hanya mengungkit tentang rencana berkumpul di paviliun, hingga Chloe memberitahukan kepadanya, bahwa Harold juga akan datang.


David pun tampaknya menyukai rencana kehadiran Harold itu.


Sehingga pagi ini, masih pagi-pagi sekali, Chloe sudah pergi ke pasar yang menjual bahan makanan segar, dan membeli semua kebutuhan untuk masak-memasaknya.


Chloe masih mempersiapkan bahan pangan di dalam dapur mini yang ada di paviliun, ketika Harold datang ke situ sembari membawa beberapa kantong belanjaan.


"Apa kamu tidak terlalu bersemangat? ... Belanjaanmu itu terlalu banyak," ujar Chloe, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Harold hanya tertawa kecil, lalu memasukkan kaleng dan botol minuman ke dalam lemari es, kemudian membantu Chloe menyiapkan bahan makanan.


"Di mana David dan Matteo? ... Kenapa mereka belum datang?" tanya Harold, yang membantu membersihkan kepiting.


"Aku tidak tahu ... Tapi kami memang membuat janji temu sebelum makan siang. Sementara sekarang ini masih cukup pagi," jawab Chloe, seadanya.


Harold tampak manggut-manggut mengerti, sembari kedua tangannya tetap terlihat sibuk menyikat cangkang kepiting.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Suara seseorang yang bertanya dari arah belakangnya, benar-benar mengejutkan Chloe.


Sehingga tanpa sengaja, pisau yang dipergunakan Chloe untuk mengiris cumi-cumi, justru melukai jari telunjuknya. "Auch!"


Tanpa sempat memperhatikan si pemilik suara yang bertanya tadi, dengan terburu-buru Chloe mengguyur luka sayat yang berdarah, di air keran yang mengalir.


"Hey! ... Apa yang kamu lakukan?" ujar Chloe dengan suara meninggi, sembari menarik tangannya hingga jari telunjuknya keluar dari dalam mulut Harold.


Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Chloe yang mengguyur kembali jari tangannya di air mengalir, lalu berkata,


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu drakula? ... Itu kotor!"


"Itu cara terbaik, agar darahnya bisa cepat berhenti!" sahut Harold, terdengar tanpa beban.


Chloe hampir melupakan adanya seseorang di belakangnya, dan baru teringat kembali, ketika orang itu bertanya lagi.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Chloe kemudian berbalik, sambil mengeringkan tangannya dengan lembaran tissue.


"Mister Matteo?!" ujar Chloe, dan orang itu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil. Sekarang sudah berhenti berdarah." Chloe memperlihatkan jari telunjuknya yang terluka.


Namun ternyata luka itu masih mengeluarkan sedikit darah, sehingga Chloe buru-buru mengusapnya lagi dengan tissue.


"Coba aku lihat!" kata Matteo, sambil mendekat kepada Chloe.


"Tidak apa-apa ... Lukanya tidak seberapa," kata Chloe, kemudian mencoba menyembunyikan tangannya dari Matteo.


"Chloe!" Matteo tampak tidak terima dengan tingkah laku Chloe itu, dan memaksa untuk memegang tangan Chloe. "Sebaiknya kita mengobatinya, sebelum terinfeksi."


Matteo lalu memperhatikan jari telunjuk Chloe. "Apa di sini ada kotak obat?"


"Ada!" jawab Chloe, lalu menarik tangannya dari pegangan Matteo, dan segera mencuci tangannya dengan sabun. "Anda tidak usah khawatir. Saya bisa mengobatinya sendiri."


Chloe lalu bersiap untuk pergi ke kamarnya, dan hanya menahan langkahnya sebentar, untuk berkata,


"Silahkan duduk, Sir! ... Saya akan ke kamar sebentar."


Menggunakan selembar plester luka berukuran kecil, Chloe membungkus lukanya, kemudian kembali ke dapur.


Sementara Matteo terduduk di kursi yang ada di dekat situ, Harold terlihat melanjutkan pekerjaan Chloe di bak cuci piring.


Chloe pun segera melanjutkan pekerjaannya menyiapkan bahan makanan, dan saling bantu membantu dengan Harold.


"Aku tidak tahu, jika anak orang kaya sepertimu bisa memasak...." celetuk Matteo, yang kedengarannya diarahkan kepada Harold.


Tanpa berbalik untuk melihat Matteo, Harold tampak tersenyum, lalu berkata,


"Aku dan Chloe, begitu juga teman-teman kami yang lain sudah terbiasa memasak, walaupun hanya menu makanan sederhana....


... Apalagi, jika kami ada tugas kuliah yang pengerjaannya menghabiskan banyak waktu. Bosan jika terlalu sering memakan makanan cepat saji yang bisa diantar. Sehingga kami berganti-gantian memasak."


Harold memang berkata jujur.


Karena pada saat itu, tidak ada satupun yang tahu kalau Harold adalah anak orang kaya. Sehingga Harold tetap mendapat giliran untuk memasak.


"Apa kamu tahu? Chloe pintar membuat lasagna. Itu menjadi menu favoritku, jika menjadi giliran Chloe yang memasak untuk kami," lanjut Harold kepada Matteo, sambil menoleh ke arah Chloe, dan mengedipkan sebelah matanya.


"Pffftt...!" Chloe tertawa geli, karena tingkah laku Harold yang dilihatnya, sebelum ikut menimpali perkataan Harold kepada Matteo, dengan berkata,


"Salah satu teman kami, René, pintar memasak. Dia yang mengajarkan kepada kami semua, untuk membuat menu favorit kami."


"Kalian berdua sudah seperti sepasang suami-istri," celetuk Matteo lagi.


Masih sama seperti tadi, Harold tetap tidak berbalik untuk melihat ke arah Matteo, lalu tertawa lepas menanggapi celetukan Matteo itu.


"Kamu tidak tahu saja ... Mommy-ku ingin agar aku bisa segera memberinya Grandson. Lalu malam tadi, mommy-ku memaksa agar aku berkencan dengan Chloe."


Harold berbicara sambil tersenyum lebar, ketika Chloe menoleh ke arahnya, sehingga Chloe ikut tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Namun tiba-tiba saja, dari bagian belakang, Matteo kemudian menarik lengan Chloe dengan cepat dan kasar, sampai Chloe berbalik badan menghadap kepadanya.


Dari apa yang bisa dilihat Chloe, mungkin ada sesuatu yang mengganggu Matteo, hingga membuat laki-laki itu tampak sangat kesal sekarang ini.


Wajah Matteo memérah, napasnya memburu, dan dengan alisnya yang mengerut dalam-dalam, Matteo juga tampak menggertakkan gigi-giginya.


"Ada apa, Sir?" tanya Chloe, kebingungan.


Harold pun tampak sama bingungnya, jika dibandingkan dengan Chloe. "Matteo! ... Apa ada masalah?"


Setelah terdengar suara dari Harold itu, seakan-akan bisa menyadarkan Matteo, hingga mengendurkan pegangannya dari lengan Chloe. Dan begitu juga raut wajah Matteo, yang kembali terlihat seperti biasa saja.


"Biarkan aku membantu membersihkan itu!" Matteo menunjuk bahan makanan mentah yang ada di bak cuci piring, dengan gerakan matanya.


"Tanganmu terluka. Cukup ajarkan aku saja bagaimana cara melakukannya," lanjut Matteo kepada Chloe.


"Aku bisa mengajarkanmu." Harold buru-buru menyahut perkataan Matteo.


"Seharusnya kamu katakan saja tadi, kalau kamu juga ingin mencobanya. Kamu hanya membuat kami terkejut dan bingung," lanjut Harold, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Walaupun merasa seperti ada sesuatu yang terlewatkan, namun Chloe tidak mau sampai berlama-lama untuk memikirkannya.


Chloe lalu membantu memakaikan Matteo selembar apron, sebelum Matteo kemudian membersihkan sisa bahan mentah di dalam bak cuci piring, bersama Harold.


Sementara Chloe menyiapkan bumbu masakan, David terlihat melangkah masuk ke ruangan itu.


"Hai, semuanya!" sapa David, tampak bersemangat, lalu melihat ke arah Chloe. "Maafkan aku ... Pintunya tadi terbuka, dan aku langsung masuk saja tanpa permisi."


"Tidak apa-apa, Sir...." sahut Chloe. "Pintunya memang sengaja tidak ditutup, agar Anda dan Mister Matteo bisa langsung masuk, tanpa harus menunggu saya membukakan pintu."


David tampak manggut-manggut mengerti, lalu meletakkan sebuah kotak kue ke atas meja, kemudian memasukkan sebotol sampanye ke dalam lemari es.


"Apa kamu baru habis belanja? Tidak ada tempat untuk menyimpan sampanye." David terlihat kebingungan, sambil menahan pintu lemari es hingga tetap terbuka.


"Itu ulah Harold, Sir!" sahut Chloe, menghampiri David di dekat lemari es. "Dia terlalu bersemangat untuk berbelanja."


"Aku membelinya untukmu!" Tanpa berbalik, Harold ikut menimpali percakapan antara Chloe dan David. "Dan aku rasa itu masih kurang."


Chloe yang sedang menyusun ulang isi lemari es, sontak terbelalak karena mendengar perkataan Harold, dan hampir tertawa. "Apa kamu ingin membuat tempat ini menjadi minimarket?"


"Ini kesempatanku ... Aku sudah tidak perlu lagi, untuk menutup-nutupi kalau aku memiliki uang," sahut Harold yang terdengar tanpa beban, dan disusul dengan suaranya yang tertawa.


"Geez! ... Okay, okay! ... Kamu bisa pamer!" ujar Chloe, ikut bersenda gurau dengan Harold.


Ruangan itu kemudian menjadi hening untuk sesaat, hingga tiba-tiba saja, Harold sudah berdiri di dekat Chloe, lalu berkata,


"Kalau sejak dulu aku memamerkan harta keluargaku, maka belum tentu kamu mau berteman denganku ... Benar begitu, bukan?!"