Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 50



Chloe benar-benar tidak ingat lagi, bahwa teman-teman Matteo dari luar negeri akan datang berkunjung, dan kemungkinan telah tiba di rumah Matteo tadi siang.


Begitu juga mantan kekasih Matteo, yang mungkin saja sekarang ini sedang bergantian dengan teman-teman Matteo yang lain, berjabat tangan dengan Chloe.


Sementara Chloe berkenalan dengan teman-teman Matteo yang berbicara menggunakan bahasa yang dicampurkan dengan bahasa asing, Matteo tampak seolah-olah merasa bangga memamerkan Chloe di situ.


Matteo hampir tidak bisa berhenti tersenyum, dan menggenggam tangan Chloe erat-erat, saat teman-temannya tampak menggodanya yang sekarang ini sedang bersama Chloe.


"Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Chloe kepada Matteo.


Sejujurnya, saat ini Chloe merasa kurang nyaman, karena dia tidak mau membuat kesan kepada teman-teman Matteo, seolah-olah dia adalah kekasih Matteo.


Dan setelah Chloe melontarkan pertanyaannya, Matteo tampaknya bisa menyadari kalau Chloe merasa terganggu dengan situasi di situ, sehingga Matteo kemudian berkata,


"Maafkan aku ... Aku terlalu bersemangat untuk memperkenalkanmu kepada teman-temanku."


Melihat kalau Matteo tampak bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya, Chloe merasa tergerak dan tidak terlalu mempermasalahkan tingkah laku Matteo itu lagi.


"Tsk!" Chloe berdecak.


"Saya akan membiarkan Anda kali ini. Tapi, tolong jangan membuat teman-teman Anda sampai menjadi salah paham dengan keberadaan saya di sini. Okay?!" ujar Chloe, sambil mengangkat kedua alisnya.


"Okay!" sahut Matteo yang kembali terlihat bersemangat, kemudian membawa Chloe untuk duduk di sampingnya, lalu lanjut berkata,


"Aku akan menjelaskan kepada mereka, kalau aku yang menyukaimu. Sedangkan kamu masih belum tertarik untuk menjadi kekasihku."


Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Matteo. "Sir! ... Anda jangan bercanda."


Sambil memasang raut wajah serius, Matteo kemudian menatap Chloe lekat-lekat, lalu berkata,


"Aku tidak sedang bercanda. Aku memang berharap agar kamu nantinya mau menjadi kekasihku, karena aku sungguh-sungguh menyukaimu ... Tidak ... Lebih tepatnya, aku mencintaimu!"


Chloe terbelalak, namun dia bisa segera kembali menyadarkan dirinya sendiri.


"Anda belum berapa lama mengenal saya," kata Chloe, sambil tersenyum dan hampir tertawa.


"Saya rasa, Anda hanya salah menafsirkan perasaan Anda kepada saya. Merasa nyaman saat kita menghabiskan waktu bersama, bukan berarti bahwa Anda telah jatuh cinta kepada saya."


Namun, perkataan Chloe yang selanjutnya itu, tampaknya bukanlah sesuatu yang ingin didengar oleh Matteo.


Dari raut wajahnya, Matteo yang tetap menatap Chloe lekat-lekat, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam, menampakkan bahwa dia tidak setuju dengan pendapat Chloe.


Dan benar saja.


Karena pada akhirnya, Matteo segera membantahnya dengan berkata,


"Aku bukan anak kecil yang bisa kebingungan dengan perasaanku sendiri. Apa kamu pikir aku tidak bisa membedakan, antara sekadar rasa nyaman dengan cinta?"


"Maafkan sa—" Chloe tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Matteo segera menyelanya dengan berkata,


"Chloe! ... Tolong jangan meminta maaf! Itu hanya membuatku merasa kalau kamu akan menolakku."


Matteo mengembuskan napasnya yang terdengar berat, sambil memegang kedua tangan Chloe erat-erat.


"Tolong pertimbangkan untuk menjadi kekasihku!" kata Matteo dengan suara memelas, kemudian lanjut berkata,


"Jika kamu masih merasa ragu-ragu, sebaiknya kamu jangan segera menjawabnya. Aku akan menunggu, sampai kamu yakin dengan apa yang kamu inginkan."


Seharusnya Chloe menjadi wanita yang berbahagia sekarang ini, karena seorang laki-laki yang tampan dan berstatus sosial kelas atas, baru saja mengungkapkan rasa cinta kepadanya.


Hmm ... Seandainya Chloe bisa berterus terang, dia memang merasa senang, tetapi tidaklah 'sesenang' itu.


Karena entah mengapa, Chloe tidak bisa mempercayai ungkapan cinta dari Matteo begitu saja, dan justru hanya merasa terbeban dibuatnya.


Dengan demikian, Chloe hanya terdiam, dan menatap Matteo yang telah lebih dulu menatap Chloe, dengan tatapan laki-laki itu yang tampak sayu.


Seolah-olah dia bisa membaca pikiran Chloe yang merasa ragu untuk memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan urusan percintaan, Matteo saat ini tiba-tiba saja terlihat cemas, dan tampak hanya memaksakan diri untuk bisa tersenyum.


Dan setelah beberapa saat berlalu, kemudian mereka berdua hanya saling menatap, pada akhirnya Matteo tampaknya tidak sanggup lagi untuk menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Oh, gosh! ... Please! ... Apa yang harus aku lakukan?" ujar Matteo, seperti orang panik.


Matteo yang tampak gelisah, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri meja bar, di mana salah satu temannya sedang membuat koktail di situ.


Chloe yang ditinggalkan duduk sendirian di sofa, hampir saja beranjak pergi dari situ, karena Matteo yang pergi tadi tanpa berkata apa-apa kepadanya.


Namun, Chloe belum sempat berdiri, ketika salah satu teman lelaki Matteo kemudian menghampirinya, dan menyodorkan sekaleng soda.


"Ambil! ... Tanganku mulai sakit." Eustache, teman dari Matteo itu, tampak memaksa agar Chloe segera menerima pemberiannya.


"Terima kasih," ucap Chloe, seraya mengambil kaleng soda dari tangan Eustache.


"Apa aku bisa duduk dan berbincang-bincang denganmu?"


Walaupun Eustache masih kesulitan untuk berbicara dengan bahasa yang biasa dipakai oleh Chloe, namun tampaknya dia cukup berusaha agar bisa berbincang-bincang dengan Chloe.


Chloe yang mengangguk, seakan jadi pertanda bagi Eustache, yang kemudian mengambil tempat duduk di dekat Chloe.


"Sudah lama aku tidak pernah melihat Matteo bersemangat seperti itu," kata Eustache, dengan logat kental dari negara asalnya.


Chloe yang tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Eustache, hanya terdiam dan menatapnya saja.


"Hmm ... Aku mungkin akan terlihat seperti orang munafik. Tapi, sejujurnya aku senang jika Matteo bisa menemukan seseorang yang tepat untuknya," lanjut Eustache, lalu menyesap koktail dari gelasnya.


Chloe tersenyum tipis menanggapi perkataan Eustache yang tampaknya telah salah mengira, dan menganggap kalau Matteo berkencan dengan Chloe.


"Aku berharap agar dia bisa menemukan kebahagiaannya, dan dia berhenti menyalahkanku karena mengencani mantan kekasihnya."


Entah apa yang dipikirkan oleh Eustache, hingga dia bisa seterbuka itu tentang urusan pribadinya dan Matteo, kepada Chloe yang notabene baru saja dikenalnya.


"Kamu tidak perlu berpura-pura terkejut. Matteo pasti sudah menceritakannya kepadamu, kalau aku, salah satu temannya yang mengkhianatinya di belakangnya," kata Eustache.


"Benar dugaanku," celetuk Eustache, terdengar bersemangat.


"Ugh?" Chloe justru kebingungan dibuatnya.


"Aku bisa melihat kalau Matteo benar-benar telah jatuh cinta padamu," kata Eustache, seolah-olah ingin menjelaskan sesuatu.


"Matteo bukanlah seseorang yang mau menceritakan urusan pribadinya kepada orang-orang. Bahkan teman-temanku tidak tahu kalau aku mengkhianati Matteo, ...


... dengan mengencani wanita yang masih menjadi kekasihnya. Tapi kelihatannya dia mau menceritakannya kepadamu," lanjut Eustache, sambil meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja.


"Itu membuatku yakin, kalau kamu bukan orang sembarangan baginya. Oleh karena itu, terus terang, aku jadi tertarik untuk mengenalmu lebih jauh."


Saat Eustache berbicara kepadanya sekarang ini, menurut Chloe, Eustache adalah seseorang yang bermulut manis di awalnya saja.


Dan entah mengapa, Chloe tiba-tiba bergidik ngeri, saat melihat tatapan maupun senyuman yang ditampakkan Eustache, yang menurut Chloe terasa sangat aneh.


"Eustache!"


Suara Matteo yang menegurnya, membuat Eustache yang tadinya sempat sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Chloe, kemudian jadi terduduk tegak.


Matteo lalu mengambil tempat duduk di antara Chloe dan Eustache, kemudian menoleh ke arah Chloe dan berkata,


"Maafkan aku ... Aku tidak sengaja berniat, untuk meninggalkanmu sendirian."


"Pffftt...!" Eustache lalu tampak tertawa tertahan, hingga Chloe dan Matteo secara bersamaan melihat ke arahnya.


"Seharusnya kamu menjaganya baik-baik. Karena jika dibandingkan dengan Marrie—mantan kekasih Matteo—dia kelihatannya masih jauh lebih menarik," kata Eustache, sambil tersenyum aneh.


"Tentu saja," sahut Matteo, tegas.


"Aku sudah tahu itu ... Bukan hanya menarik, dia juga jauh lebih baik daripada Marrie. Aku tidak menyesal membiarkanmu berkencan dengan wanita itu....


... Tapi, Eustache ... Bukankah sebaiknya kamu juga lebih tahu diri?! Apa kamu tidak malu, jika mencoba mendekati Chloe dengan pikiranmu yang kotor?" lanjut Matteo, dengan nada suaranya yang sinis.


"Matteo...." Eustache yang tertawa kecil sambil menyebutkan nama Matteo, seolah-olah sedang mengejek Matteo di situ.


"Apa kamu sedang berhalusinasi? Cintamu pada Chloe bertepuk sebelah tangan. Apa kamu kira aku tidak bisa melihatnya?" kata Eustache, yang tampak yakin dengan apa yang dikatakannya.


Seketika itu juga, Matteo terlihat gelisah dan segera berdiri dari tempat duduknya, lalu sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah Chloe, Matteo kemudian berkata,


"Apa kamu bisa menemaniku sebentar?"


Chloe terdiam, karena sebenarnya, Chloe saat ini lebih suka jika dia kembali ke paviliun saja.


Tetapi....


"Please...!" Matteo tampak memelas kepada Chloe.


"Hahaha...! Menyedihkan!" kata Eustache sambil tertawa, seolah-olah dia merasa puas karena telah berhasil mengusik Matteo.


Chloe kemudian menyambut tangan Matteo dan ikut berjalan bersamanya, menjauhi Eustache yang tampak memasang raut wajah sinis.


Sebelum mereka melangkah keluar dari rumah Matteo lewat pintu belakang, sebotol minuman beralkohol yang ada di atas meja bar, sempat disambar oleh Matteo, dan membawa benda itu bersamanya.


Dengan demikian, Matteo melangkahkan kakinya sambil menggenggam sebelah tangan Chloe dengan erat, dan di sebelah tangannya lagi membawa minuman beralkohol yang diambilnya tadi.


Matteo membawa Chloe duduk bersebelahan di bangku yang ada di pinggir kolam renang yang ada di rumahnya itu, lalu mulai meneguk sedikit demi sedikit minuman beralkohol yang sudah terbuka tutupnya.


Chloe terbelalak.


Melihat Matteo saat ini, Chloe jadi merasa sedikit khawatir, karena Matteo pasti akan segera mabuk, jika laki-laki itu terus meminumnya dengan tidak bertanggung jawab seperti itu.


"Sir! ... Anda sudah meminumnya secara berlebihan," kata Chloe, menegur Matteo dengan berhati-hati.


Namun, walaupun Chloe sudah menegurnya, Matteo hanya berhenti sebentar, lalu lanjut meneguk minuman beralkohol langsung dari botolnya.


"Sir...!" Chloe lalu mencoba menghentikan Matteo, dengan mengambil botol minuman beralkohol itu, dan menjauhkannya dari Matteo.


Matteo lalu menatap Chloe lekat-lekat.


"Anda minum alkohol dengan terburu-buru, dada Anda pasti terasa sakit, bukan?!" ujar Chloe, yang sungguh-sungguh mencemaskan keadaan Matteo.


Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, saat memperhatikan botol minuman yang tadinya penuh, dan sekarang ini sisa isi cairannya sudah tidak sampai separuhnya lagi.


"Saya tahu, kalau Anda mungkin merasa sangat terganggu karena Eustache dan mantan kekasih Anda. Tapi menurut saya, ini bukanlah cara yang terbaik untuk mengatasi rasa kecewa Anda," lanjut Chloe.


Chloe kemudian berdiri dan berniat untuk menyingkirkan botol minuman beralkohol ke tempat yang agak jauh dari bangku tempat mereka duduk.


Ketika Chloe kembali menghampiri tempat Matteo duduk, laki-laki itu tampak membungkuk sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya, seperti seseorang yang sedang frustrasi.


Merasa iba melihatnya, Chloe lalu mencoba untuk membantu menenangkan Matteo, dengan mengusap-usap perlahan bagian punggung dari laki-laki itu, sambil berkata,


"Maafkan saya yang mungkin tidak bisa banyak membantu Anda. Tapi mungkin Anda akan merasa tenang, jika Anda meyakinkan diri bahwa Anda akan menemukan seseorang yang lebih baik nantinya."


Matteo tiba-tiba terduduk tegak, lalu menatap Chloe lekat-lekat, dengan matanya yang tampak memérah.


"Kamu mengira kalau aku cemburu kepada kedua douchebag itu?" tanya Matteo, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.


Chloe terdiam.


Tanpa mengubah sedikitpun ekspresi di wajahnya, Matteo kemudian berkata,


"Tidak, Chloe! Aku sama sekali tidak merasa cemburu kepada mereka."


"Aku merasa frustrasi, karena aku merasa kalau kamu seolah-olah akan menolakku untuk menjadi kekasihmu....


... Aku sungguh-sungguh mencintaimu, sampai aku merasa sangat takut kalau-kalau kamu justru jatuh cinta kepada orang lain," lanjut Matteo.