
Setelah menonton Opera, Chloe masih ikut dengan David untuk makan malam bersama, sebelum akhirnya David bersiap-siap, untuk mengantarkan Chloe kembali ke rumah Matthew.
"Sampai jam berapa kamu harus bekerja di rumah Matthew? Bagaimana kamu pulang nanti? Apa kamu memakai taksi? Apa kamu mau kalau aku saja yang menjemputmu?"
David memang masih terlihat khawatir, dan tampak tidak terlalu setuju untuk membiarkan Chloe lanjut bekerja kepada Matthew.
Sehingga pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan David, sembari dia mengemudikan mobilnya, jadi tidak terlalu mengherankan bagi Chloe yang mendengarnya.
Apalagi, David juga memang belum tahu, kalau sudah beberapa waktu belakangan ini, Chloe tinggal di paviliun yang ada di rumah Matthew.
"Terima kasih, Sir ... Tapi Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Maafkan saya ... Saya lupa memberitahu Anda, kalau sementara ini saya tinggal di paviliun yang ada di rumah Mister Matthew."
Jawaban dari Chloe itu, kelihatannya cukup mengejutkan bagi David yang mendengarnya. Sampai-sampai, David segera menoleh ke samping, dan menatap Chloe untuk beberapa saat.
"Sir! ... Tidakkah berbahaya, jika Anda tidak melihat jalanan ketika mengemudi?" ujar Chloe.
David lalu kembali memandang lurus ke arah jalanan di depannya, sembari berkata,
"Apa aku bisa merasa iri?"
"Ugh? ... Apa maksud anda, Sir?" tanya Chloe kebingungan.
"Dia tidak memperlakukanmu dengan baik, bahkan mengasarimu. Tapi kamu masih menjaga dan menemaninya 24 jam," kata David.
"Chloe! ... Tolong pertimbangkan lagi untuk bekerja denganku saja!"
Sudah ke sekian kalinya Chloe mendengar permintaan dari David itu, sehingga Chloe hanya menanggapinya dengan tersenyum, lalu berkata,
"Saya pasti akan mempertimbangkannya."
***
Setibanya di rumah Matthew, sembari berpamitan, David kemudian memberikan pelukan hangat, sebelum Chloe melewati pintu gerbang pagar.
Chloe yang membawa kantong belanjaan, yang berisikan barang-barang yang dibelikan oleh David tadi, berniat untuk pergi ke paviliun terlebih dahulu, sebelum dia nantinya pergi memeriksa keadaan Matthew.
Namun, sebelum Chloe memasuki paviliun, dan bahkan belum sempat untuk membuka pintu, Matteo terlihat sudah menghampirinya di situ.
"Hai!" sapa Matteo, sambil tersenyum. "Bagaimana kencanmu?"
"Hai, Sir!" Chloe balas menyapa. "Menyenangkan!"
Matteo tampak memandangi Chloe, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, sambil bergumam. "Hmm...."
"Ada apa Sir? Apa penampilan saya terlalu berlebihan?" tanya Chloe, lalu ikut melihat ke badannya sendiri, di bagian mana saja yang bisa terjangkau oleh penglihatannya.
"Seingatku, kamu tidak memakai gaun seperti ini, sewaktu kamu dijemput David tadi," kata Matteo.
Chloe tertawa kecil.
"Mister David mengajak saya berbe—" Chloe menghentikan perkataannya secara tiba-tiba, karena merasa kalau apa yang akan dia katakan itu tidaklah tepat.
"... Mister David yang membelikannya, dan meminta saya agar langsung memakainya, karena kami yang pergi menonton Opera," lanjut Chloe.
Matteo tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti.
"Sir! ... Apa ada yang lain yang Anda butuhkan? Saya akan membawa ini ke dalam dulu!" Chloe memperlihatkan barang bawaan, yang masih dipegangnya kepada Matteo.
"Ugh! ... Gosh! ... Aku sampai lupa. Aku menemuimu, karena Matthew sudah sedari tadi menunggumu di ruang kerjanya," kata Matteo.
Mendengar perkataan dari Matteo, tanpa berlama-lama lagi, Chloe segera membuka pintu paviliun, dan meletakkan barang bawaannya begitu saja di lantai.
"Terima kasih, Sir! ... Saya akan segera menemui Mister Matthew sekarang," kata Chloe, sambil menutup pintu paviliun itu kembali.
Sebenarnya, Chloe berniat untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Namun, karena tidak ingin membuat Matthew jadi meradang, jika Chloe yang terlalu lambat menemuinya, sehingga Chloe kemudian memilih untuk menunda rencananya berganti pakaian.
Dengan demikian, maka Chloe masih memakai gaun dan sepatu hak tingginya, ketika dia pergi menemui Matthew di ruang kerjanya.
Setelah mengetuk pintu ruang kerja Matthew, Chloe kemudian segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu, dan menghampiri Matthew.
"Selamat malam, Sir!" sapa Chloe kepada Matthew, yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Kurang lebih sama seperti reaksi dari Matteo tadi, Matthew tampak memandangi Chloe, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
"Apa seperti itu penampilanmu jika pergi berkencan dengan seorang teman?" tanya Matthew, dengan nada suaranya yang terdengar sinis.
Chloe terdiam, karena tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan dari Matthew itu.
Masih dengan tatapannya yang seolah-olah bisa membuat lubang di wajah Chloe, Matthew kemudian lanjut berkata,
"Atau kamu baru datang dari pesta? ... Kelihatannya kamu memiliki cukup banyak uang, sampai bisa membeli barang-barang mewah."
Menurut Chloe, perkataan Matthew itu terdengar seolah-olah sedang menghinanya.
Walaupun dia ingin membela harga dirinya, namun Chloe juga tidak mau berbohong, dan akhirnya memilih untuk berkata,
"Saya memang tidak bisa membeli barang-barang seperti ini dengan uang saya sendiri. Mister David yang membelikannya untuk saya."
Jawaban jujur dari Chloe, tampaknya justru hanya membuat Matthew jadi berang, sampai dia terlihat mengeraskan rahangnya, dan mengerutkan alisnya.
"Apa kalian berdua memang hanya berteman? Apa semua temanmu itu seperti David? Teman yang sangat baik, sampai dia mau memberi sesuatu seperti itu secara percuma," tanya Matthew.
"Sir! ... Maafkan saya yang terlalu lancang. Tapi sebaiknya Anda katakan saja, akan apa maksud Anda yang sebenarnya. Anda tidak perlu banyak berbasa-basi," ujar Chloe, yang merasa gerah dengan arah pembicaraan Matthew.
"Segala sesuatunya pasti ada timbal baliknya. Apa yang kamu berikan padanya? Informasi tentang rencanaku? Atau tubuhmu?" tanya Matthew, tanpa mengalihkan pandangannya dari Chloe.
Di dalam imajinasi Chloe, saat ini dia segera menghampiri Matthew, meratakan wajah Matthew dengan memberikan tamparan keras menggunakan laptop di wajah laki-laki itu, sampai mengeluarkan banyak darah.
Lalu menusukkan alat pengendali jarak jauh untuk pendingin ruangan yang ada di atas meja ke dalam tenggorokan Matthew, agar Matthew tidak akan pernah sanggup untuk mengatakan sesuatu, yang bisa menghinanya lagi.
Sayangnya, walaupun Chloe ingin sekali melakukan semua hal yang melintas di kepalanya itu, namun itu semua hanyalah menjadi sebuah imajinasinya saja.
Pada kenyataannya, Chloe hanya bisa menghela napas panjang yang terasa sangat berat, lalu mengembuskannya dengan perlahan, sembari memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Saya tidak melakukan satu pun yang Anda pikirkan," kata Chloe, setelah membuka matanya kembali, dan menatap Matthew.
Chloe yang tidak mau menjelaskan panjang lebar untuk membuat pembelaan diri, tampaknya justru menarik perhatian Matthew.
Matthew menatap Chloe lekat-lekat, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu, atau sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Chloe selanjutnya.
Setelah beberapa saat berlalu, dan mereka berdua hanya terdiam di situ sambil saling menatap, Chloe akhirnya memecahkan keheningan, dengan berkata,
"Kata Mister Matteo, Anda menunggu saya. Apa yang Anda butuhkan?"
"Apa kamu tidak mau menjelaskan alasannya, sampai David mau memberikan barang-barang itu kepadamu?" tanya Matthew.
"Tidak," jawab Chloe, singkat.
"Kenapa? Apa kamu lebih suka jika orang berpikiran buruk tentangmu?" Matthew tampak bersikukuh untuk membahas tentang hal itu-itu saja.
"Saya tidak peduli," jawab Chloe, tegas.
"Urusan pribadi saya, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya di sini. Jadi, akan lebih baik jika Anda berhenti 'menempelkan hidung' Anda....
... Katakan saja apa yang Anda butuhkan, sampai Anda ingin bertemu dengan saya," lanjut Chloe, sambil berusaha untuk tidak meletuskan kemarahannya.
"Katamu, tidak ada hubungannya? Kamu baru saja melalaikan pekerjaanmu, hanya untuk pergi berkencan," sahut Matthew, tampak tidak mau kalah.
"Jadi, Anda ingin agar saya meminta maaf, karena mengambil libur yang sudah seharusnya saya dapatkan? ... Baik! ... Mohon maafkan saya, Sir....
... Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya hanya akan berkencan sepuasnya, saat saya sudah tidak menjadi pegawai Anda lagi," ujar Chloe, menantang.
Matthew tampak semakin iritasi, sampai-sampai dia bernapas dengan cepat, hingga cuping hidungnya terlihat kembang kempis.
Kelihatannya, Matthew memang bukan seseorang yang pintar mengendalikan emosi kemarahannya, jika dia harus berhadapan dengan Chloe.
Matthew bisa terlihat seperti orang bodoh di depan Chloe, karena lagi-lagi, Matthew menggebrak meja.
Dan yang membuatnya tampak semakin bodoh dalam mengatasi kemarahannya, Matthew justru memukul meja dengan menggunakan tangannya yang terluka, sampai terlihat kembali berdarah.
Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rasanya sulit dipercaya...."