Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 26



Chloe benar-benar terkejut ketika mendengar bunyi ketukan di pintu, yang disusul dengan terbukanya pintu ruang kerja Matthew itu.


Matteo yang tidak terlihat ragu-ragu melewati pintu, berjalan masuk dan segera menghampiri meja kerja, di mana Matthew serta Chloe berada.


Matthew yang seolah-olah tidak mau melepaskan tangan Chloe dari pegangannya, jadi pusat perhatian dari sepasang mata Matteo yang menatapnya dengan tatapan heran.


Chloe yang menyadarinya, kemudian menggerakkan tangannya, agar Matthew mau melepaskan tangannya itu.


Namun Matthew bergeming, sambil menatap Matteo, seolah-olah dia sedang menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Matteo, hingga Matteo menyusul masuk ke dalam situ.


"Apa karena Chloe yang akan berkencan dengan David nanti malam, sampai membuatmu mengasarinya?" tanya Matteo.


Matteo kelihatannya telah salah paham, hingga dia justru mengatakan tentang berkencan itu kepada Matthew.


Yang pada akhirnya, perkataan Matteo itu tampaknya hanya membuat Matthew merasa geram, dan meremas pergelangan tangan Chloe.


"Sir...!" ujar Chloe, yang merasa kalau kekuatan dari Matthew yang disalurkan dari pegangannya, membuat tangan Chloe terasa cukup sakit.


Melihat dari tatapannya yang seolah-olah akan menelan Chloe bulat-bulat, Matthew tampaknya benar-benar meradang saat ini.


"Kamu akan berkencan dengan David?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Matthew itu pun terdengar hampir tidak sempurna, karena rahangnya yang merapat dan mengeras, hingga membuat mulutnya tidak bisa bergerak dengan baik.


"Ugh?" Matteo tampak tersentak. "Kamu belum memberitahu Matthew?"


Chloe rasanya ingin menangis, karena menahan rasa sakit di tangannya, hingga dia tidak berkata apa-apa untuk menjawab pertanyaan Matteo, dan hanya menggelengkan kepalanya.


Matteo menepuk jidatnya sendiri, dan seketika itu juga, dia seolah-olah tersadar akan sesuatu, hingga Matteo tampak terbelalak sambil berkata,


"Matthew! ... Chloe kesakitan! Apa yang kamu lakukan?"


Di saat bersamaan, Matteo tampak refleks memegang tangan Chloe, dan memisahkannya dari pegangan Matthew.


Matthew lalu membuang muka, dan kembali memandang lurus ke depannya, dengan memasang raut wajah yang masih terlihat masam.


"Apa masalahmu?" tanya Matteo kepada Matthew, sambil merangkul Chloe.


"Kamu baik-baik saja?" Matteo tampak terburu-buru melihat pergelangan tangan Chloe, yang tampak merah padam dan sedikit lecet.


Kelihatannya, sewaktu Matthew meremas tangannya itu, membuat arloji berbahan logam yang dipakai oleh Chloe, menggesek kulitnya sampai terkelupas.


"Kamu benar-benar b*rengsek!" ujar Matteo kepada Matthew, lalu segera membawa Chloe duduk di sofa.


"Lepaskan arlojimu itu! ... Biar aku mengobati lukanya!" kata Matteo, kemudian mengambil kotak obat yang masih berada di atas meja di depannya.


Walaupun merasa sangat pedih ketika Matteo mengoleskan salep obat di kulitnya yang terkelupas, namun Chloe tidak berani mengeluh, dan hanya menahan rasa sakitnya, dengan menggigit bibirnya sendiri.


"Aku tahu kalau itu sudah pasti perih. Tapi, jangan menggigit bibirmu! ... Kamu nanti hanya akan membuat luka baru," kata Matteo, dengan suara dan raut wajah yang terlihat cemas.


Matteo lalu melihat ke arah Matthew, lalu dengan suaranya yang meninggi, Matteo kemudian berkata,


"Coba kamu lihat ini! Kamu membuatnya terluka! Di mana akal sehatmu?"


Matthew tidak menanggapi kemarahan Matteo, dan hanya tetap terdiam di kursi kerjanya.


"Aku tidak bisa percaya ini!" lanjut Matteo, seolah-olah dia tidak bisa berhenti menggerutu.


Hampir di saat bersamaan, ponsel Chloe kemudian berbunyi, hingga Chloe buru-buru mengeluarkan benda itu dari saku celana panjangnya.


Kontak dari David terlihat di layar ponsel Chloe, namun Chloe ragu untuk menerima panggilan itu, dan justru memandang ke arah Matteo, yang tampak ikut memperhatikan tampilan ponsel Chloe.


"Terima saja! ... Tidak ada yang bisa melarangmu," kata Matteo, seolah-olah bisa mengetahui apa yang Chloe pikirkan.


"Terima kasih. Permisi, Sir! Saya akan menerima teleponnya di luar," kata Chloe.


Chloe segera berdiri, mengarah ke luar dari ruang kerja Matthew itu, tanpa menunggu tanggapan dari Matteo ataupun Matthew.


"Halo, Sir!" Chloe menyapa David, sembari membuka pintu, dan berjalan melewatinya.


"Halo, Chloe!" David balas menyapa dari seberang telepon. "Bagaimana? Apa kamu bisa berkencan denganku?"


Chloe terdiam sejenak, sambil mengingat perkataan Matteo, bahwa Chloe bisa ke luar hari ini, karena Matteo yang akan menjaga Matthew.


"Iya, Sir!" jawab Chloe.


"Bagus! ... Apa kita bisa bertemu sekarang? Aku ingin memulai kencan kita lebih awal, dengan mengajakmu makan siang bersamaku," kata David.


"Hmm ... Baik, Sir!" jawab Chloe. "Anda ingin bertemu di mana?"


"Kamu ada di mana? Di rumah Matthew? Aku bisa menjemputmu di situ," ujar David.


Chloe sebenarnya merasa ragu-ragu, namun pada akhirnya Chloe kemudian menyetujuinya, sebelum dia memutuskan sambungan telepon dari David itu.


"Sir! ... Apa saya bisa bicara dengan Anda sebentar?" ujar Chloe.


Matteo yang kelihatannya mengerti akan maksud Chloe, tampak tidak keberatan saat beranjak keluar dari ruang kerja Matthew itu bersama Chloe.


"Apa yang David katakan?" Matteo bertanya lebih dulu.


"Hmm ... Mister David mengajak saya keluar sekarang. Dia ingin makan siang bersama saya...." jawab Chloe, sembari mengamati reaksi dari Matteo.


"Bukankah aku sudah berjanji untuk menggantikanmu menjaga Matthew, selama kamu pergi berkencan? Kamu pergi saja. Tidak apa-apa."


Matteo kelihatannya memang tidak keberatan dengan rencana Chloe itu, hingga Matteo masih bisa terlihat tenang.


"Tapi ada satu pesanku! ... Jangan sampai kamu terlalu menyukainya, agar aku tidak patah hati karenanya," lanjut Matteo, sambil tersenyum.


Chloe pun ikut tersenyum, karena mendengar perkataan Matteo yang masih menyempatkan untuk bersenda gurau dengan Chloe. "Terima kasih banyak, Sir!"


"Tidak masalah ... Kamu butuh waktu untuk istirahat," sahut Matteo, lalu berjalan bersama Chloe.


Matteo mengantarkan Chloe sampai ke gerbang pagar, bahkan masih menemani Chloe yang menunggu kedatangan David di sana.


"Hai!" sapa David, ketika dia keluar dari mobilnya, dan menghampiri Chloe serta Matteo yang berdiri di dekat pagar.


"Hai!" Matteo serta Chloe membalas sapaan David secara bersamaan.


David terlihat bingung, lalu memberi tanda pada Chloe dengan gerakan matanya, yang menunjuk ke arah Matteo.


Chloe yang mengerti maksud dari David itu, kemudian segera berkata,


"Ini Mister Matteo!"


"Oh!" David kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Matteo. "Kamu masih mengingatku, bukan?"


"Tentu saja!" sahut Matteo, sambil berjabat tangan dengan David.


"Okay! ... Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa berlama-lama. Aku ingin segera membawa Chloe pergi bersamaku," kata David kepada Matteo, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Chloe.


"Ow! ... Okay!" sahut Matteo.


"Bye, Sir!" kata Chloe berpamitan, sebelum dia memasuki mobil David.


"Bye, Chloe! ... Selamat bersenang-senang, dan hati-hati di jalan!" ujar Matteo.


"Tenang saja...! Aku terlalu menyukainya. Aku tidak akan membuatnya terluka. Dan yang pasti, aku akan membuatnya senang, agar dia tidak menyesal berkencan denganku."


Cara David berbicara kepada Matteo, yang seolah-olah mereka adalah kawan lama, menarik perhatian Chloe, sampai hampir tidak menyadari, kalau David sudah masuk ke dalam mobil bersamanya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya David, sembari menjalankan mobilnya, berlalu pergi dari Matthew itu.


"Tidak ada apa-apa. Saya hanya penasaran ... Bagaimana Anda bisa tahu alamat rumah Mister Matthew?" sahut Chloe.


"My aunty ... Dia memberitahuku, agar aku bisa sesekali mengunjungi Matthew atau Matteo. Karena katanya, rumah mereka berdua hanya bersebelahan saja," jawab David.


Chloe manggut-manggut mengerti.


"Hampir tidak bisa dibedakan," celetuk David.


"Ugh?" Chloe menoleh ke arah David, yang tampak berkonsentrasi saat mengemudi.


"Matthew dan Matteo sangat mirip. Tapi kemungkinannya, aku bisa berteman dengan Matteo. Karena kelihatannya dia tidak sombong seperti saudaranya," kata David.


"Hmm ... Chloe! Kelihatannya dia cukup dekat denganmu," lanjut David, buru-buru.


"Seperti yang Anda katakan. Mister Matteo orang yang ramah. Jadi, saya cukup nyaman saat berbincang-bincang dengannya," sahut Chloe.


"Hey! ... Jangan katakan kalau kamu tertarik kepadanya! Kamu akan membuatku patah hati," ujar David, sambil menoleh ke arah Chloe, dan menatapnya untuk beberapa saat.


Mendengar perkataan David yang mirip-mirip dengan pesan Matteo tadi, membuat Chloe tertawa geli. Karena menurut Chloe, baik David dan Matteo sama-sama memang senang bercanda.


"Kenapa kamu tertawa? Aku menyukaimu. Kalau kamu tertarik kepadanya, lalu bagaimana denganku?" ujar David, terdengar serius.


Chloe yang menganggap David hanya bercanda, lalu tersenyum lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada saja Anda ini...."


David tertawa kecil, lalu memegang tangan Chloe, namun Chloe segera meringis kesakitan. "Auch!"


Tangan Chloe yang dipegang oleh David, adalah tangan yang terluka sebab perlakuan kasar dari Matthew tadi.


"Apa yang terjadi padamu?" David kemudian memelankan laju mobilnya, hingga berhenti dengan menepi di pinggir jalan.


David mengambil kedua tangan Chloe, lalu memperhatikannya satu per satu, dengan memasang raut wajah serius, hingga keningnya terlihat membentuk lipatan-lipatan yang dalam, karena dia yang menautkan kedua alisnya.


"Kenapa tanganmu bisa terluka seperti ini?" tanya David, sambil menatap Chloe lekat-lekat.