Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 56



Sudah cukup canggung bagi Chloe, saat dia harus berada di antara keluarga McLean, sambil terus-menerus mendapatkan tatapan tajam dari Jackson.


Lalu, Chloe harus membiarkan tangannya dipegang oleh kedua kakak-beradik kembar, yang adalah pusat perhatian di keluarga besar itu, selain Jackson.


Dan ditambah lagi, dengan celotehan Matteo yang mengingatkan Chloe, akan apa yang telah dilakukannya bersama Matteo malam tadi.


Siapa yang bisa merasa tenang, jika semuanya itu harus dialami secara bersamaan?


Dada Chloe berdebar-debar, disertai dengan napasnya yang mulai memburu, sehingga rasanya dia mungkin akan jatuh pingsan, karena oksigen yang tidak cukup untuk memuaskan kebutuhan paru-parunya.


Untung saja, beberapa anggota keluarga lain yang ditunggu kedatangannya, segera tiba dan ikut bergabung di situ, sehingga makan malam bersama pun kemudian dimulai.


Di saat itu juga, Matteo melepaskan tangan kanan Chloe yang tadinya dipegangnya dengan tangan kirinya, karena tentu Chloe dan Matteo membutuhkan tangan mereka itu untuk menikmati hidangan.


Lain halnya dengan Matthew, yang duduk di sebelah kiri dari Chloe.


Matthew yang sama-sama kidal seperti Matteo, bisa tetap menggenggam tangan kiri Chloe menggunakan tangan kanannya, sementara Matthew mempergunakan tangan kirinya, untuk memegang peralatan makan, dan menyuapkan makanan ke mulutnya.


Matthew baru melepaskan tangan Chloe, ketika steik yang menjadi menu utama makan malam di situ disajikan, dan baik dirinya maupun Chloe, sama-sama membutuhkan kedua tangannya untuk menikmati sajian makanan itu.


Dari antara sekian banyaknya anggota keluarga McLean yang makan malam bersama, Jordan tampak yang paling aktif mengajak Jackson berbincang-bincang.


Walaupun demikian, Jackson masih saja sesekali melihat ke arah Chloe, dan menatapnya lekat-lekat, seolah-olah dia tidak terlalu mau mempedulikan apa yang sedang dibahas oleh Jordan kepadanya.


Hingga makan malam itu berakhir, dan menjadi kesempatan bagi Chloe untuk berpisah ruangan dari keluarga McLean, yang ingin berbincang-bincang secara intens dengan Jackson.


Chloe pergi ke bagian halaman depan dari rumah orang tua Matthew, dan duduk di sebuah bangku taman yang ada di sana.


Tiba-tiba saja, David terlihat sudah menyusul Chloe di sana, lalu tersenyum lebar sambil menyapa Chloe. "Hai!"


David lalu duduk di samping Chloe.


"Hai, Sir!" Chloe balas menyapa, dan ikut tersenyum. "Kenapa Anda tidak bergabung dengan keluarga yang lain?"


"Apa aku tidak boleh duduk bersamamu?" David balik bertanya.


Chloe tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan itu maksud saya...."


"Iya ... Aku tahu," sahut David, lalu menyandarkan punggungnya, santai di bangku.


"Aku tidak tertarik untuk ikut dalam perbincangan para orang tua. Apalagi, pasti ada-ada saja yang bertanya seperti, 'Mana kekasihmu? Kapan kamu menikah?'....


...Atau, 'Daddy dan mommy-mu pasti sudah tidak sabar untuk memiliki Grandson!'....


... Tsk tsk tsk! ... Apa mereka pikir semudah itu memilih untuk menikah? Apalagi buru-buru memikirkan untuk memiliki anak," lanjut David, sambil berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


David yang meniru gerakan dan cara bicara dari orang lain, sambil terdengar seperti dia sedang menggerutu, dirasa cukup menggelikan bagi Chloe.


"Pffftt...! Bukankah memang sudah seharusnya jika Anda segera menikah?" ujar Chloe, sambil tertawa.


"Baik dari segi usia maupun pekerjaan yang Anda miliki, saya rasa, Anda sudah lebih dari sanggup untuk berumah tangga."


Sementara Chloe melanjutkan perkataannya sambil memandangi David, laki-laki itu juga tampak memperhatikan dengan saksama, kata per kata yang diucapkan oleh Chloe.


David kemudian buru-buru berkata,


"Menurutmu seperti itu?"


Chloe mengangguk.


"Yang jadi masalahnya, aku belum menemukan seseorang yang mau menjadi kekasihku. Lalu aku harus bagaimana?" ujar David.


Chloe mengangkat kedua bahunya. "Saya tidak tahu. Tapi sudah barang tentu, Anda harus mencarinya lebih dulu."


"Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi istriku?" tanya David, sambil memasang raut wajah serius.


Chloe terbelalak, tetapi segera kembali tersadar kalau David pasti lagi-lagi sedang bercanda. "Pffftt...! Ada-ada saja Anda ini...."


Chloe yang teringat sesuatu, kemudian buru-buru lanjut berkata,


"Oh, iya! ... Kenapa Anda tidak mencoba melakukan kencan buta? Atau, apa Anda ingin agar saya menjadi perantara pencari jodoh untuk Anda?


... Saya tidak akan berjanji. Tapi saya rasa, saya bisa melakukannya untuk Anda. Karena saya mengenal beberapa wanita yang tertarik untuk menjadi kekasih Anda."


David mendengus kasar.


"Aku menyukai—"


David tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena suara Matteo yang terdengar secara tiba-tiba, menyela perkataan David itu.


"Chloe! ... David! ... Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Matteo, lalu mengambil tempat duduk di samping Chloe.


"Tidak ada ... Kami hanya duduk saja di sini," jawab Chloe kepada Matteo, lalu menoleh ke arah David, kemudian berkata,


"Apa yang ingin Anda katakan tadi, Sir?"


"Nanti saja," jawab David, lalu mendengus pelan, dan menatap ke langit.


"Matteo?" lanjut David, seolah-olah ingin memastikan bahwa bukan Matthew yang ikut duduk bersamanya dan Chloe di situ.


"Iya," sahut Matteo, yang tampak sudah dalam posisi yang sama seperti David, menyandarkan punggungnya santai di sandaran bangku. "Matthew ada di dalam."


"Hmm ... Lalu kenapa Anda ke luar sini, Sir?" tanya Chloe kepada Matteo.


"Aku tidak cocok dengan perbincangan tentang perusahaan," jawab Matteo, lalu mengambil sebelah tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat. "Aku merasa seperti anak buangan."


"Jangan merasa kecewa! ... Aku justru ingin agar bisa memiliki pekerjaan sepertimu, yang tidak perlu terlibat permasalahan di dalam perusahaan," ujar David, yang kedengarannya ditujukan kepada Matteo.


David lalu menarik sebelah tangan Chloe, lalu menggenggamnya dengan erat, seolah-olah dia juga ingin mendapatkan perhatian dari Chloe.


Chloe menghela napasnya panjang dan dalam, karena lagi-lagi kedua tangannya yang jadi sasaran, untuk dipegang oleh dua orang yang duduk mengapitnya sekarang ini.


Berganti-gantian, Chloe melihat ke arah Matteo dan David, sambil membayangkan bagaimana kedua orang itu bisa merasa seperti dirinya, yang tidak nyaman untuk bergabung dengan keluarga besar mereka.


Chloe lalu ikut bersandar di bangku, mengendurkan otot-otot yang menahan tulang belakangnya yang tadinya terasa tegang, dan memandangi bintang-bintang di angkasa.


"Belum ... Aku mencintai seseorang. Tapi aku tidak tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku. Karena dia lebih sering bersama orang lain, dan hampir tidak melihat keberadaanku."


Matteo terdengar tanpa ragu menjawab pertanyaan David.


Dan menurut Chloe, saat ini Matteo mungkin sedang membicarakan tentang Marrie.


Marrie mungkin masih oleh dicintai Matteo, tetapi wanita itu lebih memilih untuk bersama Eustache, dan memberikan perhatiannya kepada kekasihnya yang baru itu.


Jika memang benar dugaan Chloe itu, maka Matteo yang tidak ingat bahwa dia telah berciuman dengan Chloe malam tadi, tentu menjadi hal yang bagus.


Karena dengan demikian, Chloe bisa terus berpura-pura seolah-olah memang tidak ada ciuman yang adalah sebuah kesalahpahaman, yang nantinya mungkin hanya akan membuatnya malu saat berhadapan dengan Matteo.


"Lalu, bagaimana denganmu?" Matteo balik bertanya kepada David.


"Tidak jauh berbeda ... Aku belum mendapatkan kesempatan untuk meyakinkan wanita yang aku sukai itu, kalau aku sungguh-sungguh mencintainya," jawab David.


"Ugh? ... Benarkah?" tanya Chloe, penasaran. "Maafkan saya, Sir ... Kalau begitu, saya tidak perlu mencarikan seseorang untuk Anda."


"Iya ... Tapi yang jadi masalahnya, wanita itu selalu saja menganggap kalau aku hanya bercanda, setiap kali aku berbicara tentang perasaanku padanya," sahut David, ketus.


"Hmm ... Maafkan saya, Sir ... Tapi saya rasa, Anda memang terlalu sering bercanda. Sebenarnya, menurut saya itu hal yang bagus jika hanya untuk pertemanan....


...Bahkan, selera humor Anda itulah yang saya sukai dari Anda. Tapi justru jadi sebaliknya, jika Anda masih terlalu sering bercanda dengan wanita yang Anda sukai itu....


... Karena wanita itu tentu tidak bisa percaya begitu saja, walaupun sebenarnya Anda sudah bersungguh-sungguh mengutarakan cinta Anda padanya."


Sambil melihat ke arah David, Chloe bicara panjang lebar tentang apa yang ada di pikirannya kepada laki-laki itu.


"Tapi, semoga saja Anda bisa berhasil meyakinkannya ... Jangan menyerah! ... Fighting!" lanjut Chloe, sambil tersenyum lebar.


Sambil menatap Chloe lekat-lekat, David lalu mendengus kasar, kemudian memalingkan wajahnya dan kembali menatap langit.


"Apa ada yang salah yang saya katakan, Sir?" tanya Chloe, yang merasa kalau David sekarang ini seperti sedang merasa kesal.


Dan David yang tidak menanggapi pertanyaannya, meyakinkan Chloe kalau dia mungkin sudah terlalu banyak bicara kepada David tadi.


Chloe benar-benar menyesali dirinya yang terlalu santai bicara pada David, hingga dia tidak berpikir panjang, kalau mungkin perkataannya hanya akan membuat David tersinggung.


Oleh karena itu, dengan berhati-hati, Chloe kemudian berkata kepada David.


"Sesungguhnya, saya sama sekali tidak berniat buruk saat mengatakan semua hal itu kepada Anda....


... Tapi tampaknya, saya mungkin sudah terlalu lancang ketika membicarakan tentang Anda, hingga membuat Anda tersinggung... Mohon maafkan saya, Sir."


David kembali melihat ke arah Chloe, dan mengerutkan alisnya dalam-dalam, hingga dia justru terlihat seperti orang bingung, lalu berkata,


"Kamu tidak perlu meminta maaf ... Kamu pikir aku merasa kesal, karena aku tersinggung dengan perkataanmu?"


Chloe terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.


"Apa kamu memang tidak tahu? Aku kesal, karena wanita yang aku sukai itu adalah—"


David tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena tiba-tiba saja Matteo berdeham dengan suara yang cukup nyaring, sehingga Chloe serta David secara bersamaan menoleh ke arah Matteo.


Dan seolah-olah dia sedang merasa sebal karena sesuatu, Matteo lalu berdecak dan kemudian berkata,


"Tsk! ... Aku haus ... Apa kalian berdua tidak ada yang ingin minum sesuatu?"


Baik David maupun Chloe, hanya terdiam menatap Matteo, sampai Matteo berdiri dari tempat duduknya, lalu lanjut berkata,


"David! ... Kamu ikut denganku! ... Temani aku pergi mengambil minuman dan camilan!"


Walaupun terlihat bingung, namun David tetap berdiri dari tempat duduknya, lalu mengikuti langkah Matteo berjalan masuk ke dalam rumah.


Chloe duduk menunggu sendirian di bangku taman itu cukup lama, sebelum akhirnya Matteo dan David terlihat berjalan kembali menemui Chloe di situ.


Seperti sepasang sahabat lama yang saling membantu, Matteo membawa sebotol wine, dan David terlihat membawa gelas-gelasnya, serta sebuah piring berisi beberapa butir pai daging berukuran mini.


Kurang lebih sama seperti tadi, Matteo duduk di sebelah kiri Chloe, dan David duduk di sebelah kanan dari Chloe.


Setelah beberapa saat mereka hanya terdiam, Matteo kemudian menyodorkan segelas wine kepada Chloe. "Ini!"


Begitu juga dengan David, yang menyodorkan piring berisi pai daging kepada Chloe. "Rasanya lumayan enak."


"Terima kasih," ucap Chloe, sambil menerima pemberian Matteo dan David.


Sembari menikmati pai daging dan memegang segelas wine di tangan mereka masing-masing, ketiganya kembali terdiam, seakan-akan sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Hingga tiba-tiba saja, Matteo kemudian memecah kesunyian dengan berkata,


"Chloe! ... Kamu sudah tahu kalau aku dan David, sudah memiliki seseorang yang kami sukai. Lalu bagaimana denganmu? Apa sudah ada seseorang yang kamu sukai?"


Tidak segera menjawab pertanyaan Matteo itu, Chloe menyesap sedikit cairan wine untuk membasahkan tenggorokannya.


"Hmm ... Yang saya sukai.... Maksudnya yang ingin saya jadikan sebagai kekasih?" ujar Chloe, ragu-ragu.


"Iya, tentu saja! ... Apa sudah ada?" sahut David buru-buru, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


"Hmm...." Chloe bergumam, sambil berpikir.


"Chloe...!" Matteo serta David, sama-sama tampak seperti sudah tidak sabar lagi untuk menunggu jawaban Chloe.


"Permisi!"


Suara dari seseorang yang menghampiri mereka di situ, menarik perhatian Chloe, Matteo, serta David, hingga secara bersama-sama melihat ke arah orang itu, yang tampaknya adalah salah satu asisten rumah tangga orang tua Matthew.


"Apa Anda yang bernama Miss Chloe Fern?" tanya asisten rumah tangga itu, terdengar berhati-hati.


"Iya," jawab Chloe. "Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Mister McLean ingin bertemu dengan Anda sekarang," jawab asisten rumah tangga itu.