Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 73



Bukanlah perasaan senang yang dirasakan Chloe sekarang ini.


Bagi Chloe, perjalanan bertamasya dengan kapal pesiar kecil itu, yang semestinya bisa membuat penumpangnya puas bersantai, terasa tidaklah menarik sama sekali.


Bahkan, Chloe berpikir bahwa akan menjadi sebuah kerugian saja, jika dia sampai membeli tiket kapal itu menggunakan uangnya sendiri.


Entahlah!


Apakah rekreasi itu yang memanglah tidak menyenangkan, atau mungkin karena dipengaruhi suasana hati Chloe—mengingat kalau jalan-jalannya itu sebenarnya adalah kencan Matthew dan Judy yang batal—saja yang membuatnya merasa seperti itu.


Yang pasti, Chloe sama sekali tidak menikmati tamasya yang dilakukannya bersama Matthew kali ini.


Walaupun Matthew merangkul pinggangnya dengan erat, namun Chloe justru lebih suka untuk menatap tampilan layar ponselnya, dan melupakan keberadaan Matthew di sampingnya.


"Apa ada yang menarik?" tanya Matthew, sembari meletakkan gelas sampanye di tangannya ke atas meja, lalu bergerak cepat mengambil ponsel dari tangan Chloe.


"Sir!" ujar Chloe yang sebal, karena tingkah laku Matthew itu, dan berusaha untuk mengambil ponselnya kembali dari Matthew. "Tolong kembalikan ponsel saya!"


"Tunggu sebentar! ... Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya ingin melihatnya!" sahut Matthew, sembari menatap layar ponsel Chloe, dan menggerakkan tampilannya sedikit demi sedikit.


"Alumni dari kampusmu mengadakan reuni?" tanya Matthew, setelah membaca percakapan grup di ponsel Chloe.


"Anda terlalu masuk campur dalam urusan pribadi saya," sahut Chloe, lalu mengambil paksa ponselnya dari tangan Matthew. "Apa Anda tidak tahu batasannya?"


Walaupun Matthew terlihat kesal, namun dia tidak berkata apa-apa.


Matthew justru berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri kapten kapal, dan berbincang-bincang di sana untuk beberapa saat.


Dengan rasa tidak peduli, Chloe hanya melihat gerak-gerik Matthew untuk sepintas, kemudian kembali memperhatikan layar ponselnya.


Tidak berapa lama, Matthew terlihat kembali duduk di samping Chloe, dan masih sama seperti tadi, Matthew hanya berdiam diri, tanpa berkata sepatah kata pun kepada Chloe.


Matthew tampak membiarkan Chloe tenggelam dalam kesibukannya sendiri.


Dan begitu pun Chloe, yang juga tidak peduli dengan apa yang mungkin ada dalam pikiran Matthew sekarang ini.


Entah kurang atau lebih dari 10 menit kemudian, Chloe tidak bisa memastikan, karena dia yang tidak menaruh perhatian pada perjalanannya, kapal pesiar kecil yang mereka tumpangi itu, kemudian sudah merapat ke dermaga.


Merasa kalau tamasya itu sudah berakhir, tanpa perlu diarahkan lagi, Chloe segera bersiap-siap dan beranjak turun dari kapal, lalu berjalan menuju ke mobil Matthew yang terparkir.


"Chloe!" Matthew yang baru saja menyusul Chloe masuk ke dalam mobil, tampaknya ingin menarik perhatian Chloe agar tertuju kepadanya.


Namun dengan rasa enggan, Chloe yang tadinya melihat ke luar jendela di sampingnya, berlambat-lambat untuk menoleh ke arah Matthew. "Iya, Sir! ... Ada apa?"


"Apa kamu selalu memperlakukan kekasihmu seperti ini?" tanya Matthew, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Seperti apa, Sir?" Dengan berpura-pura tidak mengerti, Chloe lalu balik bertanya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan," kata Matthew, yang terdengar tidak selaras dengan apa yang baru saja mereka perbincangkan.


"Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan," sahut Chloe, lalu memalingkan wajahnya, kembali melihat ke jendela di sampingnya.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Matthew yang tampak penasaran, hingga dia masih belum mau menjalankan mobilnya.


Chloe menoleh ke arah Matthew. "Anda ingin jawaban saya yang jujur?"


Matthew mengangguk.


"Anda lah yang mengganggu saya," kata Chloe, datar.


"Apa yang aku lakukan, yang menurutmu itu hanya mengganggumu saja?" tanya Matthew lagi.


"Semuanya...." jawab Chloe, masih dengan nada suaranya yang datar.


Seolah-olah dia tidak bosan bertanya, Matthew yang justru tampak semakin penasaran, mendesak Chloe dengan pertanyaannya lagi.


"Apa maksudmu? ... Apa kamu tidak mau aku berada di dekatmu?"


"Iya ... Saya sedang ingin sendirian." Menurut Chloe, jawabannya itu seharusnya sudah bisa membuat Matthew berhenti mengganggunya.


"Jadi, kamu sudah bosan denganku?" Lipatan-lipatan di keningnya terlihat semakin dalam, saat Matthew bertanya kepada Chloe.


"Iya," jawab Chloe, singkat.


Matthew menggeleng-gelengkan kepalanya, tampak seolah-olah dia tidak percaya dengan apa yang jadi jawaban dari Chloe itu.


"Jika tidak ada tempat lain yang ingin Anda kunjungi, saya rasa sebaiknya kita pulang sekarang ... Saya mungkin akan menghadiri reuni."


Setelah selesai berbicara, Chloe lalu memandang ke luar jendela, mengalihkan pandangannya dari Matthew.


"Chloe!" ujar Matthew, dengan nada suara meninggi. "Aku...."


Seolah-olah dia telah kehabisan kata-kata, Matthew menghentikan kalimatnya begitu saja, lalu mulai berkendara pergi dari pelataran parkir.


Selain bunyi mesin kendaraan, dan napas mereka berdua, tidak ada satupun dari Matthew atau Chloe yang berkata-kata, di sepanjang perjalanan pulang ke rumah Matthew.


Setibanya mereka di rumahnya, Matthew tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau dia akan keluar dari dalam mobil, dan tampak duduk bertahan di belakang kemudi.


Matthew kemudian berlalu pergi meninggalkan Chloe di sana, ketika Chloe sudah beranjak keluar dari dalam mobilnya.


Walaupun demikian, Chloe juga tidak terpikir untuk bertanya akan ke mana Matthew pergi, dan justru segera berjalan dan masuk ke dalam paviliun, tanpa mau berbalik untuk melihat Matthew lagi.


Chloe merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil menimpa keningnya dengan sebelah tangannya, hingga menutupi kedua matanya.


Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki Chloe, tidak ada yang tidak terasa penat.


Secara mental, Chloe merasa sangat kelelahan, sampai mempengaruhi fisiknya.


Bagaimana tidak?


Semua tentang Matthew, hanya membuat Chloe merasakan terkejut, bahagia, takut, jijik, marah dan berujung pada kesedihan yang mendalam.


Seandainya cinta Chloe kepada Matthew tidaklah bersambut, rasanya mungkin akan jauh lebih baik.


Karena Chloe juga tahu diri, jika seseorang seperti dirinya, memang tidaklah mungkin bisa mengharapkan seseorang seperti Matthew.


Daripada seperti sekarang ini, di mana Matthew seolah-olah membalas cinta Chloe, tetapi di saat bersamaan, Matthew hanya memperlakukan Chloe seperti kekasih cadangan.


Matthew tampak memanfaatkan keberadaan Chloe di waktu-waktu tertentu, di saat Judy tidak bisa menemaninya.


"Argh!" Chloe hampir berteriak karena frustrasi, lalu berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri. "Sebentar lagi! ... Hanya tersisa seminggu lagi. Kamu pasti bisa melewatinya ... Ayo Chloe! Fighting!"


Sebenarnya, Chloe tidak berniat untuk pergi menghadiri acara reuni yang diadakan alumni kampusnya.


Namun, daripada membuang-buang energi dan waktunya dengan menyesali diri, Chloe akhirnya bersiap pergi ke acara reuni itu.


Dengan menumpang taksi, Chloe pergi ke sebuah hotel, di mana ballroom dari hotel itu yang menjadi tempat yang dijanjikan untuk berkumpul, oleh teman-teman seangkatannya sewaktu berkuliah dulu.


Sembari melambai-lambaikan tangannya, René tersenyum lebar ketika beradu pandang dengan Chloe, yang baru saja berjalan melewati pintu masuk ballroom.


Tanpa ragu-ragu, Chloe melangkah menghampiri René yang terlihat sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Hai, Chloe! ... Lama kita tidak bertemu. I miss you so much!" kata René, sembari memberi pelukan hangat kepada Chloe.


"Hai, René!" Chloe membalas pelukan René dengan erat. "Aku juga merindukanmu."


"Bukannya kamu yang biasanya tidak hadir?" sahut Chloe, sambil tertawa kecil.


"Don't tease me!" kata René, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hmm ... My boys ... Kamu tidak tahu sulitnya merayu ketiga jagoanku, agar aku bisa datang ke sini."


"Ugh?" Chloe kebingungan.


"Kaleb ... Dengan beralasan ingin anak perempuan, manjanya tidak kalah dari kedua anak laki-lakinya," René menjelaskan sambil tersenyum dan hampir tertawa. "Bagaimana denganmu?"


"Hmm ... Masih sibuk dengan pekerjaan," sahut Chloe, dengan senyum yang dipaksakan.


"Tsk! ... Kamu ini!" kata René, sembari mendecakkan lidah. "Maafkan aku yang tidak bisa sering menghubungimu...."


"Tidak perlu meminta maaf ... Aku mengerti," sahut Chloe. "Menjadi seorang mommy, sudah seharusnya jika kamu lebih memusatkan perhatianmu kepada anak-anakmu."


"Apa kalian jadi pindah ke sini?" tanya Chloe, buru-buru.


"Sayangnya tidak," jawab René. "Kami hanya ikut perjalanan bisnis suamiku. Sekalian mengunjungi orang tuaku. Besok pagi, kami sudah harus kembali ke luar kota."


Sembari menikmati minuman dan makanan yang disajikan di situ, Chloe berbincang-bincang dengan René.


Beberapa teman kuliah yang dikenal oleh Chloe dan René pun, berganti-gantian menyapa dan berbasa-basi dengan mereka.


Selain dari para laki-laki yang masih memperjuangkan karir, sebagian besar dari teman Chloe yang perempuan, sudah menikah dan bahkan sudah memiliki keturunan.


Dan sejujurnya, Chloe cukup merasa sebal, jika ada yang terlalu ingin tahu dan bertanya tentang kapan Chloe akan menikah.


"Bagaimana rasanya menjadi asisten CEO untuk perusahaan besar seperti McLean property? ... Apa kamu betah bekerja di sana?"


Harold yang berdansa dengan Chloe saat ini, kelihatannya menjadi satu-satunya yang mengajak Chloe membahas tentang pekerjaan.


"Aku berencana untuk pindah ke JT Corp ... Mungkin awal bulan depan, jika tidak ada halangan," jawab Chloe, seadanya.


"JT Corp? ... Kamu akan bekerja di perusahaan saingan kami?" tanya Harold, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Ugh?" Chloe kebingungan.


"Gunther Corp ... Tidak mungkin kamu tidak tahu perusahaan itu, bukan?" tanya Harold.


Sambil tetap berdansa pelan dengan Harold, Chloe mengingat-ingat nama salah satu perusahaan yang disebutkan oleh Harold.


"Gunther—" Seketika itu juga Chloe menyadari sesuatu hingga dia terbelalak, lalu menatap Harold lekat-lekat. "Gunther itu ...?"


"Iya ... Yang itu! ... Gunther grup," kata Harold, seolah-olah sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Chloe, sambil tersenyum lebar. "Apa kamu pikir nama belakangku itu hanya asal tempel saja?"


"Hey! ... Kamu tidak pernah terlihat seperti anak orang kaya!" ujar Chloe, terheran-heran.


Harold menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa aku harus memamerkan harta keluargaku?"


Chloe sedikit tertunduk, karena merasa seperti telah salah bicara.


Karena perbincangan dengan Harold yang membahas tentang pekerjaan, yang menurut Harold, dia masih 'belajar' untuk menggantikan orang tuanya, Chloe bisa mengetahui beban yang dirasakan oleh teman lelakinya itu.


Kurang lebih sama seperti Matthew.


Yang membuatnya berbeda, hanya karena anak perusahaan dari Gunther grup yaitu, Gunther Corp di mana Harold menjadi Komisaris utama, yang sudah menjadi sebuah perusahaan terbuka.


Karena kepemilikan saham dari Gunther Corp yang sudah terbagi dengan publik, sehingga jabatan di dalam jajaran para pemegang saham, tidak semuanya dipegang oleh anggota keluarga Harold.


Walaupun pada awalnya dia tampak bersemangat saat menceritakan pengalamannya dalam bekerja, namun Harold terlihat frustrasi saat membicarakan tekanan yang dia dapatkan dari keluarganya.


"Sama sekali tidak menyenangkan. Seperti sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Aku harus berhati-hati agar tidak 'terjatuh', dan jadi bulan-bulanan dalam keluargaku....


... Aku bahkan tidak sempat memikirkan untuk berkencan, jika sudah membayangkan seandainya Presdir Gunther Corp sampai membuat langkah yang buruk, dan aku tidak bisa mengatasinya."


Chloe yang mendengarkan perkataan Harold itu hanya bisa manggut-manggut, berusaha memahami bagaimana rasanya mendapatkan tanggung jawab yang besar seperti Harold.


Menurut Chloe, jika Harold bisa kesulitan seperti itu, berarti Matthew juga pasti merasakan hal yang sama.


Bahkan, situasi Matthew jauh lebih buruk, karena setiap gerak-gerik Matthew yang selalu diamati oleh keluarganya.


Anggota keluarga McLean yang tidak menyukai Matthew, sudah seperti singa-singa kelaparan yang mengawasi mangsanya, dan berusaha mencari kesempatan untuk merobohkan Matthew.


"Apa kamu mengemudi sendiri ke sini?" tanya Harold, membuyarkan lamunan Chloe.


"Tidak," jawab Chloe. "Aku memakai taksi."


Harold lalu melihat ke sana kemari. "Pada akhirnya, acara ini hanya menjadi ajang pamer dan mabuk-mabukan."


Chloe ikut melihat ke sekelilingnya, dan mendapati kalau sebagian besar temannya yang tampak sudah dikuasai oleh alkohol.


"Apa kamu mau aku antarkan pulang?" tanya Harold, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


"Hmm...." Chloe bergumam.


René serta beberapa teman wanita yang telah berkeluarga, sudah pulang sedari tadi, dan tidak ada lagi orang yang ingin dia jadikan sebagai teman bicara di situ.


"Okay!" Chloe menyetujui tawaran Harold.


Oleh karena itu, Chloe kembali ke rumah Matthew, dengan diantarkan oleh Harold.


"Kamu tinggal di perumahan ini?" tanya Harold, terlihat bingung.


"Untuk sementara aku tinggal di paviliun milik Atasanku, karena aku merangkap sebagai asisten pribadi," jawab Chloe, jujur.


"Rumahku hanya beberapa blok saja dari sini! ... Tunggu sebentar!" Harold tampak mengeluarkan ponselnya, ketika dia menepikan mobilnya di depan pagar rumah Matthew. "Chloe! ... Berikan nomor ponselmu!"


Chloe lalu menyebutkan angka-angka dari nomor ponselnya, sementara Harold terlihat menyimpan data kontak Chloe itu di dalam ponselnya.


Harold lalu menghubungi nomor ponsel Chloe. "Itu nomor pribadiku! ... Hubungi aku kapan saja! Mungkin kita bisa bertemu lagi."


"Okay!" sahut Chloe, sembari menyimpan kontak Harold di ponselnya.


Harold kemudian beranjak keluar dari mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk Chloe, dan segera menahan Chloe yang baru saja keluar dari dalam mobil, dengan berkata,


"Jangan lupa untuk menghubungiku! Seandainya aku tidak sedang sibuk, aku yang akan menghubungimu lebih dulu. Tidak apa-apa, kan?!"


Chloe mengangguk. "Iya ... Tentu saja kamu bisa menghubungiku."


"Okay! ... Aku pergi dulu! ... Bye, Chloe!" kata Harold, berpamitan.


"Bye, Harold!" Sembari tersenyum, Chloe melambaikan tangannya, membalas lambaian tangan Harold, yang juga tampak tersenyum lebar, sebelum laki-laki itu beranjak pergi dari sana.


Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari berjalan pelan mengarah ke paviliun.


Harold Gunther.


Rasanya sulit untuk dipercaya, kalau Harold ternyata adalah anak dari pendiri dan pemilik Gunther grup.


Dan menurut dugaan Chloe, teman-temannya yang lain pasti juga tidak akan menduga hal itu, mengingat gaya dan tampilan Harold yang selalu terlihat sederhana.


Chloe tertawa sendiri, mengenang masa-masa berkuliah, dan Harold justru bergaul dengan mahasiswa yang berasal dari keluarga kalangan bawah, dan tidak ragu-ragu untuk berbagi potongan pizza dengan Chloe dan beberapa teman yang lain.


"Apa yang membuatmu sangat senang?" tanya Matthew, yang tiba-tiba saja sudah berdiri menghadang langkah Chloe.