Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 57



Pesan bahwa Matthew mencari Chloe dan ingin bertemu dengannya, tampak sangat mengganggu bagi Matteo serta David.


Walaupun demikian, Chloe tetap harus beranjak pergi dari situ, meninggalkan kedua laki-laki yang terlihat kesal, dan mungkin saja merasa tidak puas, karena Chloe yang belum memberikan jawaban dari pertanyaan mereka tadi.


Namun sebelum Chloe pergi menemui Matthew, Chloe masih berjanji kalau dia akan memberikan jawabannya setelah dia kembali ke situ nanti, agar Matteo serta David tidak menahannya lebih lama lagi.


Setibanya Chloe di salah satu ruangan di dalam rumah orang tua Matthew itu, dengan diantarkan oleh asisten rumah tangga yang menyampaikan pesan tadi, Matthew terlihat sedang duduk di sebuah sofa.


"Ada apa, Sir?" tanya Chloe, sambil tetap berdiri, setelah dia menghampiri Matthew.


"Ke sini! ... Duduk di sini!" Matthew menepuk-nepuk sofa, dengan sebelah tangannya.


Chloe mengangguk setuju, dan walaupun masih dengan perasaannya yang gelisah, Chloe kemudian segera duduk di samping Matthew.


"Kamu dari mana saja?" tanya Matthew, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


"Saya tadi duduk-duduk di taman depan," jawab Chloe, seadanya.


Karena merasa gerah saking gugupnya saat baru saja melintas di antara keluarga besar McLean, Chloe akhirnya menggulung rambutnya, sambil mengipas-ngipas bagian lehernya menggunakan sebelah tangannya.


"Apa ruangan ini tidak cukup dingin?" tanya Matthew, tampak kebingungan.


"Maafkan saya, Sir ... Saya terlalu cemas, saat berjalan melewati Grandpa Anda tadi," ujar Chloe, jujur, lalu teringat sesuatu hingga dia kemudian lanjut berkata,


"Kenapa Anda sendirian di sini? ... Apa Anda sudah berbincang-bincang dengan keluarga Anda?"


"Hmm...." Matthew bergumam, lalu memegang tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat. "Sudah ... Tapi, belum memuaskan. Jadi, sebentar lagi Grandpa mungkin akan menyusul ke sini."


Chloe terbelalak.


Bertambah-tambah saja rasa gugupnya, sampai-sampai Chloe merasa seolah-olah dia akan terkena serangan panik saat itu juga.


Dan Matthew tampaknya menyadari ketakutan yang dirasakan oleh Chloe, hingga dia kemudian meremas tangan Chloe yang digenggamnya, sambil berkata,


"Tidak perlu cemas! ... Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa."


"Kamu juga bisa pergi dari sini, setelah Grandpa-ku datang. Aku memanggilmu, hanya karena aku ingin ada yang menemaniku walau sebentar....


... Sebelum aku nanti berbincang-bincang dengan Grandpa dan orang tuaku," lanjut Matthew, sambil tersenyum yang tampak hanya terpaksa saja.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Chloe, sekadar bertanya.


"Iya, tentu saja!" jawab Matthew, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamu bersama siapa di taman tadi?"


"Hmm ... Mister David dan Mister Matteo." Walaupun merasa ragu-ragu, namun Chloe tetap menjawab pertanyaan Matthew dengan jujur.


Matthew mendengus kasar, lalu berkata,


"Kelihatannya, aku memang tidak bisa mengalihkan pandanganku walau sebentar. Pasti ada saja yang selalu bersiaga untuk mencari kesempatan."


"Apa yang kalian bicarakan?" lanjut Matthew, yang tampaknya merasa terganggu, karena tadinya Chloe ikut duduk bergabung dengan Matteo serta David.


"Tidak ada yang istimewa. Kami hanya berbasa-basi," jawab Chloe, berhati-hati.


"Bagaimana dengan Matteo? Apa dia tidak mengungkit tentang cintanya padamu?" tanya Matthew, lagi.


"Tidak," jawab Chloe, sambil sedikit menundukkan pandangannya. "Justru, Mister Matteo tampaknya sudah kembali ke kesadarannya, kalau dia sebenarnya masih mencintai mantan kekasihnya."


"Ugh?" Dengan alisnya yang tampak mengerut dalam-dalam, Matthew terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. "Apa aku tidak salah dengar?"


"Iya," sahut Chloe, yakin.


"Itu sebabnya, sehingga saya sulit untuk percaya, kalau tiba-tiba saja ada seseorang yang mengutarakan cintanya pada saya," lanjut Chloe, membela dirinya sendiri.


"Kedengarannya kamu kecewa," ujar Matthew, seolah-olah ingin menyelidiki apa yang dirasakan oleh Chloe.


Chloe kembali mengangkat pandangannya dan menatap Matthew. "Anda ingin jawaban saya yang jujur?"


Matthew buru-buru menganggukkan kepalanya.


"Sedikit ... Saya merasa sedikit kecewa. Tapi, tidak menjadi masalah yang berarti, karena saya sudah menduganya sebelumnya." Chloe berkata jujur, tentang apa yang dia rasakan sekarang ini.


"Sulit dipercaya!" celetuk Matthew, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa Matteo mengatakannya padamu, kalau dia masih mencintai mantan kekasihnya?"


"Hmm ... Tidak secara langsung. Karena Mister Matteo tidak menyebutkan nama mantan kekasihnya itu, saat Mister David bertanya kepadanya, apakah dia menyukai seseorang....


... Tapi saya rasa, Mister Matteo memang sedang membicarakan mantan kekasihnya. Yang katanya, lebih sering bersama dengan orang lain, dan memberikan perhatiannya kepada orang itu."


Setelah Chloe selesai berbicara, raut wajah Matthew tiba-tiba berubah drastis, lalu tampak menghela napasnya panjang dan dalam, sambil memejamkan matanya.


Kelihatannya, Matthew sekarang ini sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Dan ketika Matthew membuka matanya lagi, Atasan Chloe itu tampak seperti sedang merasa geram kepada Chloe, hingga dia menatap Chloe dengan tatapannya yang tajam, lalu berkata,


"Harus aku apakan kamu ini?!"


"Ugh?" Chloe kebingungan, karena reaksi yang ditampakkan oleh Matthew itu. "Apa ada yang salah, Sir?"


Matthew menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tampak berusaha mengatur napasnya, sebelum akhirnya dia berkata,


"Jadi, kalian tadi membicarakan tentang seseorang yang kalian sukai?"


Chloe mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan David? Apa yang dia katakan?" tanya Matthew, tampak penasaran.


"Hmm ... Katanya, dia menyukai seseorang. Sehingga tidak seperti Anda, Mister David tidak membutuhkan saya agar menjadi perantara pencari jodoh untuknya....


... Tapi, wanita yang dia sukai tidak pernah menganggap serius ungkapan cinta dari Mister David. Jadi, saya hanya menyemangatinya, agar dia bisa berhasil meyakinkan wanita yang disukainya itu."


Chloe bicara apa adanya kepada Matthew, tanpa ada yang ditutup-tutupinya.


Namun, Matthew justru tampak terbelalak, sampai mulutnya terlihat sedikit terbuka, seolah-olah Atasan Chloe itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Chloe.


"Oh, gosh! ... Kamu benar-benar membuatku kesal!" ujar Matthew, ketus. "Matteo serta David, pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku!"


"Tidak, Sir ... Kelihatannya, mereka baik-baik saja. Mister David mungkin tadinya sempat tersinggung, tapi dia tidak marah pada saya," sahut Chloe, sambil tersenyum dengan percaya diri.


"Oh, my goodness!" ujar Matthew, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kamu memang bisa membuat orang menjadi gila. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Matteo juga David."


Sambil sesekali melirik Chloe, Matthew tampaknya kesulitan untuk berhenti tertawa, sampai-sampai Matthew terlihat seolah-olah akan lemas karena dia yang tertawa sampai terbatuk-batuk.


Dan karena Chloe merasa kalau tingkah Matthew itu sangat aneh, sehingga dia kemudian berkata,


"Apa Anda baik-baik saja, Sir?"


Matthew lalu tampak mengatur napasnya agar dia bisa kembali tenang, dan kemudian berkata,


Sejujurnya, Chloe merasa bingung, kenapa Matthew masih saja membahas tentang percakapan antara Chloe dengan Matteo dan David.


Namun menurut Chloe, mungkin Matthew saat ini sedang ingin mengalihkan pikirannya dari perbincangan yang akan dilakukannya dengan orang tuanya.


Dan jika memang benar demikian yang jadi alasan Matthew, maka Chloe tidak keberatan untuk menjawab pertanyaannya, agar bisa membantu Matthew mengalihkan pikirannya barang sejenak.


"Iya," jawab Chloe.


"Lalu, apa jawabanmu? Apa ada seseorang yang kamu sukai?" tanya Matthew, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


"Saya belum sempat memberitahu jawaban saya kepada mereka, karena Anda memanggil saya ke sini."


Jawaban Chloe itu, kelihatannya hanya memicu rasa penasaran Matthew, hingga dia tampak mendesak Chloe, dengan lanjut bertanya,


"Sudah ada seseorang yang kamu sukai?"


"Hmm ... Ada—"


Chloe menghentikan perkataannya begitu saja, karena dia melihat Jackson yang sedang berjalan masuk ke dalam ruangan itu, sembari disusul oleh Nathan serta Maddison.


Chloe segera berdiri dari tempat duduknya dan menyapa mereka yang sekarang menghampiri sofa di mana Chloe serta Matthew berada. "Selamat malam, Sir! ... Madam!"


"Selamat malam, Chloe!"


Nathan serta Maddison secara bersamaan membalas sapaan Chloe.


Sedangkan Jackson, tampak hanya menganggukkan kepalanya, sebelum dia akhirnya mengambil tempat duduk di salah satu bagian sofa yang kosong.


Suasana di ruangan itu terasa dingin dan sangat canggung, sampai Maddison kemudian berkata,


"Chloe! ... Kamu bisa ikut denganku?"


"Iya, Madam!" sahut Chloe yang masih berdiri, lalu melihat ke arah Matthew, dan berkata,


"Saya pergi dulu, Sir!"


Matthew mengangguk pelan.


"Permisi, Mister Jackson McLean! ... Mister Nathan McLean!"


Chloe masih sempat berpamitan kepada Jackson dan Nathan, sebelum dia menyusul Maddison yang sudah berjalan mengarah ke luar dari ruangan itu.


Maddison membawa Chloe pergi ke sebuah ruangan, yang bersebelahan saja dengan ruangan di mana Matthew berada bersama Jackson dan Nathan.


Maddison kemudian mempersilahkan Chloe, untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan itu.


Di dalam ruang kerja Nathan yang penataannya seperti perpustakaan mini itu, sudah pernah dikunjungi oleh Chloe sebelumnya, saat Chloe masih bekerja di bawah arahan Nathan.


Dan rasa familiar akan tempat itu, membuat Chloe bisa merasa sedikit lebih nyaman untuk duduk di sana.


"Chloe! ... Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Maddison, setelah dia juga duduk di kursi yang hampir berhadapan dengan Chloe.


"Rasanya tidak ada masalah, Madam ... Semuanya berjalan seperti biasanya," jawab Chloe, seadanya.


"Apa Matthew mempersulit—" Maddison mengehentikan kalimatnya secara tiba-tiba, dan terdiam untuk sesaat, kemudian lanjut berkata,


"... Maksudku, apa kamu masih kesulitan untuk bekerja bersama Matthew?"


"Saya sudah mulai terbiasa," jawab Chloe, jujur.


Maddison lalu tampak manggut-manggut seolah-olah dia mengerti akan maksud Chloe. "Kalau begitu, apa kamu bisa terus bekerja pada Matthew?"


Karena Chloe tidak ingin berbohong, dengan memberikan harapan palsu kepada Maddison, sehingga Chloe hanya terdiam untuk beberapa saat.


Tidak berapa lama, Maddison tampak menghela napasnya panjang dan dalam, lalu berkata,


"Ternyata memang benar."


Chloe masih terdiam, mencoba untuk memahami akan ke mana nanti arah pembicaraan dari Maddison.


"Matthew tidak mengatakannya secara langsung. Kami hanya menduga-duga, kalau kamu akan berhenti bekerja padanya," kata Maddison, sambil menatap Chloe lekat-lekat, lalu lanjut berkata,


"Aku tahu kalau Matthew pasti bersikap terlalu keras kepadamu. Sehingga aku tidak heran, jika kamu tidak mau lagi bekerja dengannya....


...Dan lagi, baik aku dan daddy dari Matthew, tidak memiliki hak untuk melarangmu untuk melakukan apa yang kamu inginkan....


... Maafkan aku yang sebelum-sebelumnya mungkin terlalu menekanmu. Tapi untuk ke depannya, kamu tidak perlu merasa terbeban. Kamu bisa berhenti bekerja kapan pun kamu mau."


Sementara itu, sambil sedikit menundukkan kepalanya, Chloe hanya mendengarkan saja perkataan Maddison dan tetap terdiam, tanpa tahu harus berkata apa untuk menanggapinya.


Maddison kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,


"Apa kamu ingin minum sesuatu?"


Chloe tidak berminat untuk melanjutkan percakapannya dengan Maddison, yang mungkin masih akan menyinggung tentang niat Chloe untuk berhenti bekerja.


Sehingga, Chloe terpikir untuk menolak tawaran Maddison. "Tidak, Madam ... Terima kasih!"


Namun, seolah-olah Maddison bisa membaca pikiran Chloe, mommy dari Matthew itu kemudian kembali duduk, dan berkata,


"Apa kamu merasa tidak nyaman untuk berbincang-bincang denganku?"


"Maafkan saya, Madam ... Tidak seperti itu," sahut Chloe, dengan canggung.


Maddison manggut-manggut seolah-olah mengerti, kemudian berkata,


"Matthew adalah anakku yang paling keras kepala. Dan dia juga yang paling sulit untuk beradaptasi dengan orang yang baru dia kenal."


Chloe tidak menanggapinya, dan hanya melihat ke arah Maddison yang sekarang ini sedang menatapnya.


"Kamu bisa membuatnya terbiasa dengan keberadaanmu, hanya dalam hitungan hari. Tapi karena itu juga, sehingga situasinya sekarang jadi rumit."


Seolah-olah dia telah salah bicara, raut wajah Maddison tampak berubah drastis, setelah dia selesai mengatakan hal itu kepada Chloe.


"Maafkan aku, seharusnya aku menepati perkataanku kalau aku tidak akan menekanmu."


Maddison kemudian tampak terburu-buru melanjutkan perkataannya.


"Tapi, Chloe...! Sejujurnya, kami memang sangat menyayangkan niatmu untuk meninggalkan Matthew. Karena kami tidak tahu, apakah ada orang lain yang bisa sepertimu....


...Apa kamu tidak bisa mempertimbangkan ulang keputusanmu itu?...


... Seandainya nanti kamu tetap membulatkan tekadmu untuk berhenti menjadi asisten Matthew, maka aku tidak akan mengungkit tentang hal ini lagi."