
Melihat kotak obat yang masih berada di atas meja di dekat sofa, Chloe kemudian berniat untuk mengambilnya, agar bisa merawat tangan Matthew.
Namun, baru saja Chloe akan berjalan mengarah ke sofa, Matthew segera menahannya dengan berkata,
"Kamu mau ke mana?"
"Saya akan mengambil itu!" Dengan tangan terangkat, Chloe menunjuk ke arah kotak obat di atas meja, hingga Matthew ikut melihat ke mana maksud Chloe itu.
"Tidak perlu! ... Kamu pergi saja dari sini! Aku bisa mengurus diriku sendiri!" Sembari berujar kepada Chloe, Matthew terlihat mencoba berdiri dan berjalan sendiri.
Walaupun Matthew telah menyuruhnya untuk pergi, namun Chloe masih bertahan di situ, dan memperhatikan gerak-gerik Matthew, yang terlihat sangat kesulitan untuk berjalan sendiri.
Menurut Chloe, jika melihat ketidakseimbangan dari tubuh Matthew saat berjalan itu, maka kemungkinan besar Matthew akan terjatuh sebelum dia mencapai meja.
Dan benar saja dugaan Chloe, karena Matthew akhirnya terlihat limbung, dan tidak bisa mempertahankan keseimbangannya lagi.
Dengan tergesa-gesa, Chloe lalu menghampiri Matthew, berniat untuk membantu Matthew agar tidak sampai terjatuh.
Akan tetapi, Chloe yang memakai sepatu dengan hak yang terlalu tinggi, juga kesulitan untuk menjaga keseimbangannya sendiri, saat harus setengah berlari seperti itu.
Pada akhirnya, Chloe yang berniat menangkap Matthew dari bagian depannya, justru hanya terjatuh telentang di lantai, bertepatan dengan Matthew yang juga tersungkur, hingga menindih Chloe di situ.
Seketika itu juga, Chloe merasa sedikit pusing, karena bagian belakang kepalanya yang tampaknya membentur sudut sofa.
Chloe ingin meringis kesakitan, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena dada Matthew tersandar di wajahnya.
Dan kelihatannya, bukan hanya Chloe yang kesakitan, karena Matthew tidak bergerak untuk beberapa saat, dan hanya mengeluarkan suara rintihannya. "Auch!"
Chloe berusaha mendorong badan Matthew, karena dia yang mulai kesulitan bernapas, tetapi badan Matthew tidak bisa digesernya.
Matthew yang mungkin baru menyadari kalau dia menindih wajah Chloe, kemudian mendorong tubuhnya, sampai bagian dadanya terangkat.
Namun, tidak lama Matthew kembali tersandar di badan Chloe, walaupun sudah sedikit tergeser ke samping, sehingga wajah Chloe hanya terhalang sebagiannya saja.
"Sir! ... Apa Anda bisa berdiri?" tanya Chloe.
"Tunggu sebentar! ... Tangan dan kakiku sangat sakit. Kepalaku juga pusing," sahut Matthew.
Mau tidak mau, Chloe harus bersabar dengan posisi canggung dan tidak nyaman, karena Matthew yang masih menindihnya.
Aroma harum dari tubuh Matthew, bahkan rasanya mungkin bisa merasuk sampai ke dalam otak Chloe, karena dia yang harus bernapas di dada Matthew.
"Maafkan aku ... Tapi kamu harus menunggu sebentar lagi. Aku tidak bisa memaksa bergeser, lalu terjatuh lagi dan hanya membuat kita berdua sama-sama cedera," kata Matthew.
Seharusnya Chloe bisa mengerti, kalau memang benar apa yang dikatakan oleh Matthew.
Tetapi yang jadi masalahnya, karena dia yang terlalu lama ditindih Matthew, hingga seperti dua orang yang sedang bermesraan, hampir membuat Chloe tidak bisa mengendalikan jantungnya, yang mulai berdegup kencang.
Dan rasanya, bukan hanya Chloe yang merasa seperti itu. Karena Chloe bisa merasakan, kalau irama degup jantung Matthew, juga seolah-olah meningkat drastis.
Matthew kemudian mendorong badannya lagi, bergeser ke samping, dan telentang di lantai, dengan kepala yang tersandar di kaki sofa, dalam posisi yang tampaknya tidak nyaman.
Chloe berusaha untuk duduk, lalu segera memperhatikan keadaan Matthew, yang mana di bagian tangannya yang terluka, terlihat darah semakin banyak membasahi perban, hingga mengalir keluar.
"Apa Anda bisa duduk? ... Saya akan membantu Anda." Chloe segera membantu Matthew agar bisa berselonjor di lantai, dan menyandarkan punggungnya di sofa.
Tidak berlama-lama lagi, Chloe mengambil kotak obat yang ada di dekat situ, dan mulai merawat luka Matthew.
"Apa punggungmu tidak sakit?" tanya Matthew. "Kamu terbanting cukup keras ke lantai."
Chloe justru meraba bagian belakang kepalanya untuk beberapa saat, memastikan kalau tidak ada benjolan karena benturan tadi.
"Saya tidak menyadarinya lagi. Yang saya tahu, kepala saya yang sakit dan sedikit pusing," sahut Chloe.
Sementara itu, Chloe yang membuka perban di tangan Matthew, kemudian teringat sesuatu, lalu berkata,
"Apa Anda sudah puas bersikap keras kepala? Anda hampir membuat kita berdua sama-sama cedera. Kalau saya juga sampai terluka, lalu siapa lagi yang akan merawat kita nantinya?"
Sembari mendengus kasar, Matthew justru membuang muka, seolah-olah dia tidak peduli akan teguran dari Chloe itu.
"Apa Anda masih ingin agar saya yang merawat Anda? Atau saya tinggalkan saja Anda di sini, seperti yang Anda minta tadi?" tanya Chloe.
Namun, setelah Chloe menunggu sampai beberapa lamanya, Matthew hanya terdiam dan masih tidak mau melihat ke arah Chloe.
"Kalau begitu, saya akan memberitahu Mister Matteo. Agar dia saja yang merawat Anda," kata Chloe.
Baru saja Chloe bersiap untuk berdiri, Matthew segera menahan Chloe, dengan memegang lengannya.
"Maafkan aku," ucap Matthew, yang terdengar seperti terpaksa saja untuk mengatakannya.
Chloe hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mendengus pelan, karena dia yang tidak mau berdebat kosong lebih lama lagi dengan Matthew.
Apalagi saat Chloe melihat luka Matthew, yang semakin banyak mengeluarkan darah, karena perbannya tadi sudah terlanjur dibuka oleh Chloe.
Dengan perlahan dan berhati-hati, Chloe membersihkan luka Matthew, sebelum dia mengoleskan salep obat di atasnya.
Dan sementara itu, Matthew kemudian secara tiba-tiba saja menggeser rambut Chloe, ke bagian belakang telinga Chloe.
Oleh karenanya, Chloe lalu mengangkat pandangannya, dan bertatap mata dengan Matthew.
"Kamu pasti tidak akan mau rambutmu menjadi kotor," celetuk Matthew, seolah-olah ingin menjelaskan alasannya, sampai dia melakukan hal itu pada rambut Chloe.
"Anda membuat saya merasa sebal dan kasihan secara bersamaan," celetuk Chloe, saat dia kembali memusatkan perhatiannya pada luka di tangan Matthew.
"Aku tidak butuh rasa kasihan darimu," ujar Matthew, ketus.
Karena terburu-buru ingin menyahut perkataan Matthew, sehingga Chloe lalu berbicara spontan saja tanpa berpikir panjang.
"Lalu apa saya harus menyayangi Anda?"
"Iya." Tidak disangka-sangka, Matthew justru mengiyakan pertanyaan dari Chloe itu.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Matthew, Chloe terdiam untuk beberapa saat, sebelum dia tersadar kembali dan lanjut merawat tangan Matthew.
"Jika Anda terus-menerus bertingkah seperti ini, entah sampai kapan barulah luka Anda bisa sembuh," ujar Chloe, mengalihkan pembicaraan.
"Itu karena kamu yang membuatku kesal!" sahut Matthew, seolah-olah dia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Apa Anda anak kecil yang tidak bisa mengendalikan diri?" tanya Chloe.
"Itu juga karena kamu yang membuatku tidak bisa mengendalikan diri!" Matthew tetap bersikeras menyalahkan Chloe.
"Jadi, ini semua adalah kesalahan saya?" Chloe sekadar bertanya.
"Iya!" sahut Matthew, bertahan dengan pendapatnya.
"Apa Anda sadar dengan apa yang kita bicarakan?" tanya Chloe, lagi.
"Iya!" Matthew segera menjawabnya tanpa ragu.
"Kelihatannya, bukan hanya kaki dan tangan Anda yang cedera. Kepala Anda juga mungkin baru saja terbentur dengan keras," ujar Chloe.
Walaupun dia seperti sedang berdebat dengan Matthew, namun Chloe justru tersenyum, dan hampir tertawa karenanya.
"Apa yang lucu?" tanya Matthew, sambil memegang dagu Chloe, dan mengangkat wajah Chloe yang sedikit tertunduk.
Sambil saling bertatapan mata dengan Chloe, dan memasang ekspresi serius diwajahnya, Matthew kemudian berkata,
"Sebelum aku bertemu denganmu, aku tidak pernah terluka sampai seperti ini. Maka dari itu, sudah seharusnya kalau kamu lah yang bertanggung jawab!"
Seketika itu juga Chloe tertawa lepas, lalu terburu-buru menutup mulutnya dengan salah satu punggung tangannya.
Akan tetapi, seakan-akan Matthew memang tidak bercanda saat dia mengatakan hal itu kepada Chloe, sehingga Matthew tampak bertahan dengan raut wajah datarnya, sambil tetap menatap Chloe lekat-lekat.
"Sir! ... Apa Anda sedang bicara serius?" Dengan rasa tidak percaya, Chloe mencoba untuk memastikannya.
"Lalu apa kamu pikir kalau aku sedang bercanda?" Matthew tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, lalu lanjut berkata,
"Aku tidak peduli meskipun kamu kelelahan. Kamu tetap harus mengurusku, sampai semua cedera di kaki dan tanganku sembuh....
... Tidak ada lagi berkencan dengan siapa pun itu, selama aku masih terluka. Kamu harus terus berada di sisiku ... Perhatian penuh darimu itu pantas aku dapatkan, bukan?!"