
Sebelum mencapai pusat perbelanjaan, Matthew mengubah keputusannya, dan justru meminta Chloe mencari toko pakaian yang mudah dijangkau.
"Aku hanya akan menyusahkanmu saja, jika kita pergi pusat perbelanjaan," kata Matthew.
Sehingga, Chloe kemudian memilih toko tunggal yang berjejer di salah satu kawasan di perkotaan itu.
Dari beberapa bangunan toko yang ada di sana, salah satu toko yang menyediakan pakaian dan segala macam perlengkapan untuk pria, menjadi tempat pertama yang dimasuki oleh Matthew serta Chloe, untuk memilih barang di sana.
Matthew tampaknya hafal betul dengan apa yang dia butuhkan, hingga dia hanya perlu duduk manis, lalu meminta semua yang dia inginkan dari pelayan toko, tanpa perlu sibuk untuk mencoba pilihannya.
Oleh karena itu, Matthew tidak membutuhkan waktu lama untuk berbelanja perlengkapan penunjang penampilan untuknya di toko itu.
Walaupun Matthew sudah selesai berbelanja, namun dia tidak mau langsung pulang, dan justru membawa Chloe masuk ke dalam toko yang menyediakan pakaian serta perlengkapan tambahan untuk wanita.
"Untuk apa kita ke sini, Sir?" tanya Chloe, bingung.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi makan malam denganku, lalu memakai gaun dan sepatu pemberian dari David," sahut Matthew, tampak masa bodoh, sambil duduk di sofa yang ada di dalam toko.
"Anda tidak perlu—" Chloe tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Matthew segera menyelanya dengan berkata,
"Chloe! ... Jangan membantahku!"
Kepada pelayan toko yang menghampirinya, Matthew lalu menyebutkan apa saja yang dia inginkan untuk dipakai oleh Chloe.
Mulai dari bentuk gaun yang ada dalam bayangannya, sampai pada warnanya pun, disampaikan oleh Matthew kepada pelayan toko.
Begitu juga dengan model sepatu yang menurutnya akan cocok jika dipadankan dengan gaun-gaun pilihannya, tidak luput dari perhatian Matthew.
Yang cukup mengejutkan bagi Chloe, Matthew seolah-olah memang sudah bisa membayangkan bagaimana penampilan Chloe, saat mengenakan gaun dan sepatu pilihannya.
Sampai-sampai, pelayan toko pun tampak terkagum-kagum, karena apa yang menjadi pilihan Matthew itu, memang terlihat bagus saat dikenakan oleh Chloe.
"Kekasih Anda pintar memilih gaun dan sepatu yang cocok untuk Anda," celetuk salah satu pelayan toko, yang membantu menyediakan pesanan Mathew untuk Chloe.
Chloe sebenarnya ingin membantah perkataan pelayan toko itu, namun Chloe mengurungkan niatnya. Karena, tentu akan jadi membingungkan jika pelayan itu sampai tahu, bahwa Matthew adalah Atasan Chloe, dan bukanlah kekasihnya.
Sementara Chloe tidak berminat untuk menjelaskannya lebih jauh, bisa-bisa, pelayan toko itu justru akan menduga-duga sesuatu yang tidak-tidak tentang Chloe.
Dengan demikian, Chloe hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa, untuk menanggapi perkataan dari pelayan toko itu tadi.
"Bagus! ... Coba yang lain lagi!" Tanpa perlu berdiri, dan hanya duduk memangku kaki di sofa, Matthew memandangi Chloe yang keluar dari kamar ganti, lalu memberikan tanggapannya.
Beberapa lembar gaun, beberapa pasang setelan kerja, serta beberapa pasang sepatu, dicoba kenakan oleh Chloe di situ atas arahan Matthew.
Mungkin Matthew sudah merasa puas dengan apa yang dilihatnya.
Sehingga Matthew kemudian meminta pelayan toko untuk mengemas semua benda-benda itu, dan segera memberikan kartu perbankan miliknya, tanpa meminta persetujuan Chloe.
"Sir! ... Itu terlalu banyak," kata Chloe, dengan suara memelas karena merasa tidak nyaman, dan berharap agar Matthew membatalkan pembeliannya.
"Aku membelanjakan uangku sendiri. Jadi terserah aku ingin menghabiskannya untuk apa," sahut Matthew, datar dan terdengar masa bodoh.
***
Sekembalinya mereka ke rumah Matthew, Chloe segera mengantarkan Matthew ke kamarnya, sebelum dia kemudian pergi ke paviliun, sambil membawa belanjaan yang dibelikan Matthew untuknya tadi.
Sewaktu mereka berada di toko pakaian tadi, Chloe terlalu sibuk mencoba pakaian dan sepatunya, sampai tidak terpikir untuk memeriksa label harga di barang-barang itu.
Chloe benar-benar tidak menduga, kalau di kawasan itu justru menyediakan barang-barang ekslusif dengan harga fantastis, karena dia yang tidak pernah berkunjung di tempat-tempat itu sebelum-sebelumnya.
Setelah dia mengetahui nilainya, Chloe merasa seperti telah berhutang kepada Matthew, hingga rasanya jadi cukup berat bagi Chloe, untuk memakai barang-barang yang dibelikan oleh Matthew itu.
Namun, jika Chloe tidak mau mengenakannya, maka sama saja seperti dia tidak menghargai Matthew yang sudah mengeluarkan uang sebanyak itu untuknya.
Karena diliputi rasa bimbang, Chloe tidak menyadarinya lagi, kalau dia sudah terlalu lama berada di paviliun, hanya untuk bersiap-siap pergi makan malam di restoran bersama Matthew.
Sehingga, saat Chloe melihat penanda waktu di arloji yang terpasang di pergelangan tangannya, dengan setengah berlari, Chloe bergegas menemui Matthew di rumah utama, sambil menghubungi restoran untuk membuat reservasi.
"Sir?" Chloe terkejut melihat Matthew yang tampak sudah duduk di tepi ranjang, dan sedang mengenakan pakaiannya di situ.
"Maafkan saya...." ucap Chloe, sambil mengamati akan apa yang bisa dilakukannya untuk membantu Matthew.
"Tidak apa-apa," jawab Matthew, sembari mengancing kemejanya.
Dengan terburu-buru, Chloe menghampiri Matthew, dan segera melanjutkan memasang kancing kemeja Atasannya itu.
"Kamu terlihat cantik," kata Matthew, sambil mendongakkan kepalanya, seolah-olah sedang berusaha agar bisa bertatap mata dengan Chloe yang berdiri di depannya.
"Terima kasih," sahut Chloe, yang seketika itu juga merasa salah tingkah, karena melihat cara Matthew menatapnya.
Untuk mengusir rasa canggung karena tatapan sayu yang diperlihatkan oleh Matthew kepadanya, Chloe mencoba menghindar, dengan pergi ke kamar mandi, dan mengambil alat pengering rambut di sana.
"Rambut Anda masih cukup basah," kata Chloe, beralasan.
Setelah menyalakan alat pengering rambut, Chloe kemudian mengarahkan embusan angin hangat yang dihasilkan benda itu ke kepala Matthew, sambil sedikit mengacak-acak rambutnya agar bisa lebih cepat kering.
Sementara itu, Matthew tampak masih menatap Chloe dengan tatapan yang sama, hingga Chloe hampir tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Kenapa Anda melihat saya seperti itu?" Akhirnya, Chloe tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Kelihatannya, embusan angin dari alat pengering rambut itu mengenai matanya, sehingga Matthew tampak sedikit menyipit, sambil berkata,
"Apa aku dilarang untuk melihatmu?"
Chloe tersenyum, sambil mematikan alat pengering rambut, lalu meletakkan benda itu ke atas nakas.
"Bukannya saya mau melarang, tapi tatapan Anda hanya membuat saya merasa sangat canggung," kata Chloe, pelan.
Matthew kemudian memegang kedua sisi pinggang Chloe yang masih berdiri di depannya, lalu menarik dan merangkulnya, hingga kepalanya bisa bersandar di perut Chloe, sambil berkata,
"Biarkan aku bersandar sebentar. Kepalaku terasa sedikit sakit. Kalau aku berbaring, maka bajuku nanti akan kusut."
Chloe yang tidak tahu harus berkata apa, hanya bertindak secara naluriah saja, mengusap-usap perlahan bagian belakang kepala Matthew.
Menurut Chloe, tingkah Matthew yang bersandar sambil memeluknya itu, tampak seakan-akan Matthew saat ini sedang merasa kelelahan.
Dan kelihatannya memang benar dugaan Chloe, karena Matthew kemudian berkata,
"Sebenarnya aku merasa sangat lelah. Tapi aku juga tidak mau mengecewakanmu yang sudah mempersiapkannya, jika aku sampai membatalkan rencana makan malam ini."
"Tidak jadi masalah, kalau Anda ingin beristirahat di rumah saja. Saya bisa membatalkan reservasinya," kata Chloe, sembari tetap mengelus pelan bagian belakang kepala Matthew.
Namun, Matthew tidak menanggapinya, dan hanya mendengus pelan, seraya terus bertahan dengan posisinya.
"Apa Anda ingin agar saya mengambilkan sesuatu untuk Anda?" tanya Chloe.
Matthew menggelengkan kepalanya. "Tunggu saja sebentar lagi...! Aku sudah mulai merasa sedikit lebih baik."
Karena Matthew mengubah posisi kepalanya, hingga menyamping, sehingga Chloe berhenti menyentuh kepala Matthew, dan membiarkan kedua tangannya menggantung bebas di sisi-sisi badannya.
Tetapi Matthew kemudian memegang sebelah tangan Chloe, dan meletakkannya di kepalanya, seolah-olah dia masih ingin Chloe mengusap-usapnya lagi, sambil berkata,
"Jangan berhenti! ... It feels great!"
Chloe tersenyum lebar dan hampir tertawa, karena sikap Matthew yang tampak seperti anak kecil yang ingin dimanja, dirasa Chloe cukup lucu dan menggelikan.
"Kita nanti pergi diantarkan oleh supir pribadiku. Kamu cukup menemaniku saja," ujar Matthew.
Matthew lalu semakin mempererat rangkulannya, seolah-olah dia tidak ingin melepaskan Chloe begitu saja, hingga Chloe benar-benar kebingungan melihatnya.
"Sir! ... Apa Anda yakin kalau Anda baik-baik saja?" tanya Chloe, ingin memastikan. Karena menurutnya, tingkah Matthew saat ini sangat aneh.
Dengan demikian, Chloe jadi cukup mencemaskan keadaan Matthew, kalau-kalau Atasannya itu memang sedang merasa kesakitan.
Butuh waktu beberapa saat lamanya, barulah Matthew menanggapi pertanyaan Chloe, dengan berkata,
"Aku mungkin tidak akan baik-baik saja."