
"Apa Anda memiliki janji pribadi?" tanya Chloe, bingung.
"Iya ... Aku tidak mau makan siang sendiri. Jadi, kamu temani aku!" sahut Matthew.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi, saya masih ada pekerjaan yang harus segera saya selesaikan."
Chloe mencoba beralasan agar dia tidak perlu makan siang bersama Matthew, karena Chloe ingin memiliki waktu sendirian, walaupun dia harus bekerja, dan menunda makan siangnya yang memang sudah terlambat.
Namun, Matthew bukanlah orang bisa dengan mudahnya untuk ditolak keinginannya, karena Matthew kemudian berkata,
"Salah satu tugasmu adalah menuruti arahanku."
Chloe hanya bisa mendengus pelan, dan tidak membantah Matthew lagi, segera menghubungi restoran dan mengubah reservasi di sana.
***
Sebuah restoran yang berada tidak terlalu jauh dari kantor pusat McLean property, dengan waktu tempuh kurang lebih dua puluhan menit, Chloe serta Matthew sudah bisa tiba di sana.
Chloe kemudian menyebutkan pesanannya kepada pelayan yang segera menghampiri mejanya, sesaat setelah Chloe dan Matthew mengambil tempat duduk.
Begitu juga dengan Matthew, yang melakukan hal yang sama seperti Chloe, sebelum pelayan restoran berlalu pergi dari meja mereka.
"Aku mengajakmu makan siang bersamaku, karena aku ingin membuat sebuah perjanjian denganmu."
Matthew membuka percakapan, mengganggu konsentrasi Chloe yang sedang memeriksa agenda berisikan catatan dari jadwal kerja Matthew.
"Aku akan membiarkanmu bekerja sesuai standarmu, sampai kamu menyerahkan surat pengunduran dirimu....
... Dengan syarat, kamu harus terus berada di sisiku. Agar aku bisa memantau, dan memastikan bahwa kamu tidak akan berkhianat," lanjut Matthew.
Dengan perlahan, Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
"Terserah Anda saja, Sir," sahut Chloe. "Tapi, apakah saya masih bisa memiliki sedikit waktu untuk diri sendiri?"
"Iya ... Kamu bisa mendapatkannya, ketika kita sudah selesai bekerja," kata Matthew.
"Baik, Sir." Chloe kemudian kembali memandangi agenda yang masih dipegangnya.
Setelah pesanan mereka diantar, barulah Chloe memasukkan agenda ke dalam tasnya, dan menikmati makan siang yang sudah tersaji di atas meja.
"Apa jadwalku setelah ini?" Matthew lalu menyuapkan sepotong brokoli ke dalam mulutnya.
"Anda akan ada pertemuan dengan perwakilan dari kantor walikota, di pukul 15:00 nanti," jawab Chloe, setelah menelan makanan yang sudah dilumatnya.
"Hanya itu saja?" tanya Matthew, lagi.
"Iya ... Seharusnya, Anda melakukan pertemuan dengan salah satu perusahaan penyedia barang sekarang ini," jawab Chloe.
Chloe meneguk sedikit air, untuk membantu mendorong makanan di kerongkongannya, agar bisa segera tertelan masuk ke lambungnya.
"Tapi, karena pertemuan dengan JT Corp tadi, telah menyita waktu Anda lebih dari perkiraan sebelumnya, sehingga saya membatalkannya dan mengatur ulang ke dalam jadwal besok," lanjut Chloe.
"Apa nanti malam, Anda jadi mengunjungi kediaman orang tua Anda?" tanya Chloe.
Walaupun menurut Chloe, dia telah bicara dengan berhati-hati, namun Matthew masih tampak terganggu dengan pertanyaan itu.
"Kenapa kamu bertanya?"
"Ada tempat yang harus saya datangi untuk urusan pribadi. Jadi, saya tidak bisa menemani Anda," jawab Chloe.
"Seharusnya urusan saya tidak akan lama, dan akan saya usahakan agar sebelum Anda kembali, saya sudah berada di paviliun." Chloe berusaha meyakinkan Matthew, agar memberikannya izin untuk ke luar.
"Apa kamu butuh kendaraan untuk mengantarmu?" tanya Matthew.
"Tidak, Sir ... Saya akan memakai taksi," jawab Chloe.
***
Sepulangnya dari kantor, setelah semua jadwal kerja dari Matthew telah diselesaikan, Chloe bersiap-siap untuk pergi menemui lintah darat.
Dengan tergesa-gesa, setelah memastikan bahwa semua nota pembayaran terdahulu tidak ada yang tertinggal, Chloe memasuki sebuah taksi yang sudah menunggu di luar gerbang pagar rumah Matthew.
Dalam hati, Chloe sangat berharap, agar hutang di lintah darat itu bisa dilunaskan olehnya, meskipun dia harus menghabiskan seluruh uang yang dimilikinya sekarang ini.
Setibanya di sebuah bangunan yang tampak seperti gudang tua dan berada di pinggiran kota, Chloe disambut oleh dua orang laki-laki berbadan besar, tegap dan berotot, dengan wajah mereka yang garang.
Chloe sudah terbiasa melihat penampilan orang-orang yang bekerja sebagai anak buah dari rentenir itu, karena mereka yang sering menemuinya, jika dia terlambat melakukan pembayaran cicilan hutang.
Sehingga Chloe tidak lagi merasa takut, seperti pada awal-awalnya dia dikunjungi oleh mereka, di apartemen studio tempat Chloe menetap sebelumnya.
"Tolong jumlahkan sisa hutang yang masih harus kubayar!" ujar Chloe, setelah bertemu dengan sang bos lintah darat.
Laki-laki berperut buncit tampak berusia sekitar lima puluh tahunan yang memakai setelan jas, dan kalung di lehernya yang hampir sebesar lengan bayi baru lahir itu, menggaruk-garuk kepalanya yang hampir botak.
"Apa kamu sudah bisa melunaskan semuanya?" tanya lintah darat itu.
"Aku tidak tahu. Justru itu aku ingin agar jumlah keseluruhannya dihitung," jawab Chloe.
"Okay, okay!" kata lintah darat itu, lalu memberi tanda kepada salah satu anak buahnya yang menemani mereka di situ.
Chloe rasanya ingin terbatuk-batuk, saat tenggorokannya yang mendadak jadi kering dan gatal, karena asap rokok yang berembus keluar dari mulut dan hidung bos lintah darat, yang duduk berhadapan dengannya.
Hingga berulang kali Chloe berdeham, untuk membersihkan saluran pernafasannya yang terganggu, dengan rasa tidak sabar, agar penghitungan jumlah hutang itu bisa segera dia dapatkan.
Tidak berapa lama, salah satu anak buah dari lintah darat yang sempat keluar dari ruangan itu, kemudian terlihat kembali, dan menyodorkan lembaran kertas kepada bosnya.
"Jumlahnya masih 5.500-an dolar lagi. Apa kamu sanggup untuk melunasinya?" ujar lintah darat itu.
"Apa jumlah itu sudah dipotong dengan bunga?" tanya Chloe, panik.
Walaupun sudah menghabiskan gaji yang baru masuk di rekeningnya pagi tadi, ditambah dengan imbalan dari Nathan untuk mengawasi Matthew, uang Chloe ternyata masih kurang 500-an dolar.
Chloe sudah tidak tahan lagi dengan hutang berbunga yang menekan hidupnya, sehingga dia harus memikirkan bagaimana bernegosiasi dengan lintah darat itu, agar dia bisa menyelesaikan hutangnya di sana.
"Tsk! ... Aku anggap kalau uangmu tidak cukup untuk melunaskannya. Benar begitu?" Rentenir pemberi pinjaman itu menatap Chloe lekat-lekat.
"Aku mohon, tolong berikan aku sedikit potongan. Uang dari hutang itu, bahkan bukan aku yang memakainya," kata Chloe memelas.
"Sayangnya, aku tidak mau tahu uangku dipakai untuk apa. Yang aku tahu, uangku sudah terpakai dan kamu adalah penjaminnya."
Rentenir yang tampak tidak akan mau dirugikan walau hanya sedikit, lalu mematikan rokoknya, dengan meremukkannya di dalam asbak.
"Kalau kamu menunda pelunasannya lagi, maka hutang itu akan kembali berbunga. Kamu sudah tahu hal itu, kan?" lanjut lintah darat itu.
Chloe hampir kehabisan akal.
Karena jika dia berhenti bekerja di akhir bulan ini, maka gaji yang bisa diterimanya tidak akan bersisa, kalau dia harus membayar sisa hutang beserta bunganya.
Satu-satunya jalan, Chloe harus mencari pinjaman uang yang tidak memakai bunga untuk pelunasannya.
"Tunggu sebentar! Aku harus ke restroom," kata Chloe.
"Itu di sebelah sana!" Rentenir itu menunjuk pintu yang terletak di arah jam 11 dari tempat Chloe duduk.
Terburu-buru, Chloe berjalan pergi dan memasuki kamar mandi, yang ada di balik pintu, dan segera menghubungi Agatha, mencoba untuk mendapatkan pinjaman uang darinya.
Namun usaha Chloe itu sia-sia, karena Agatha belum bisa membantunya, dengan alasan bahwa dia baru saja mengirimkan uang untuk adiknya yang berkuliah.
David ... Chloe mungkin bisa meminta bantuan darinya, tetapi Chloe merasa sangat malu, jika tanpa angin ataupun hujan, lalu tiba-tiba saja dia harus meminjam uang pada laki-laki itu.
Tapi kelihatannya tidak ada jalan lain, Chloe memberanikan diri untuk menghubungi kontak David.
"Halo, Chloe!" sapa David dari seberang telepon.
"Halo, Sir! ... Maafkan saya. Tapi saya benar-benar membutuhkan bantuan Anda," kata Chloe.