Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 28



Di dalam pusat perbelanjaan, David masih mengajak Chloe untuk melihat-lihat di stand pedagang, yang menjual barang-barang yang ditujukan untuk wanita.


Namun, Chloe tidak mau singgah di stand-stand yang seperti itu lagi, dan justru mengajak David untuk memasuki stand pedagang, yang menyediakan perlengkapan untuk pria.


"Maafkan saya, Sir ... Saya tidak memiliki cukup uang untuk membelikan Anda sesuatu yang mahal. Saya bahkan belum bisa mengganti uang yang saya pinjam dari Anda."


Sambil tersenyum, Chloe memegang selembar kaus longgar berwarna putih polos, lalu menyodorkannya kepada David.


"Kamu ingin melihatku memakai kaus?" tanya David, terlihat bingung.


Chloe mengangguk. "Iya ... Anda selalu memakai kemeja atau setelan jas, dan terlihat sangat rapi. Sesekali, saya ingin melihat Anda berpakaian kasual."


David tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti, lalu segera mengambil kaus dari tangan Chloe.


David juga terlihat mengambil satu buah celana jeans panjang dari pajangan, sebelum dia memasuki kamar ganti.


Sembari menunggu David mencoba pakaiannya, Chloe melihat-lihat barang-barang dagangan yang dipajang di dalam stand itu.


"Chloe!"


Suara David yang memanggil namanya, bersamaan dengan sebuah tepukan yang terasa di bahunya, membuat Chloe segera berbalik, dan mendapati David yang sudah berdiri di dekatnya.


Chloe hampir tidak bisa berkedip, ketika melihat penampilan David di depannya itu, yang tampak sangat berbeda dari yang biasa dilihat olehnya.


David terlihat jauh lebih muda dan segar, saat memakai kaus longgar dan dipadankan dengan celana panjang jeans berwarna biru muda, yang bermotif sobek-sobek di bagian lutut dan pahanya.


"Geez! ... Tatapanmu itu hanya membuatku merasa malu," celetuk David, yang tampak tersipu-sipu, sambil memegang bagian belakang kepalanya dengan sebelah tangannya.


"Anda tidak perlu malu ... Anda terlihat hebat!" ujar Chloe, sambil tersenyum lebar, lalu melihat ke arah kaki David.


"Sepatu Anda saja yang tidak cocok." Sepatu kulit yang dikenakan David, terlihat mengganggu penampilan laki-laki itu di mata Chloe. "Sneakers akan melengkapi penampilan Anda."


"Ugh?" David ikut melihat ke kakinya. "Iya ... Benar katamu."


"Tunggu sebentar!" David hampir saja berlalu pergi dari situ, namun dia tiba-tiba berbalik, lalu berkata,


"Apa kamu bisa memilihkan beberapa pasang pakaian kasual seperti ini lagi untukku?"


"Tentu saja!" sahut Chloe, bersemangat.


"Ini ukurannya!" David memperlihatkan ukuran dari atasan maupun bawahan, yang sesuai dengan tubuhnya kepada Chloe, sebelum dia akhirnya berlalu pergi dari situ.


Chloe kemudian memilihkan warna dari beberapa lembar kaos, yang menurutnya akan membuat warna biru dari mata David, akan jadi semakin menonjol.


Begitu juga dengan celana jeans, dan beberapa celana panjang dengan gaya milter berbahan katun twill, tidak luput dari pilihan Chloe.


Ketika David kembali menghampiri Chloe, penampilan David keseluruhan sudah lengkap dengan sepasang sneakers, yang cocok dengan kaus, flight jacket, dan celana jeans-nya.


Sambil tersenyum lebar, Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya, kalau David bisa terlihat seperti seorang pemuda yang masih berkuliah.


"Ada apa? ... Apa aku terlihat aneh?" tanya David, terdengar cemas.


"Hmm...." Chloe bergumam, sambil memikirkan cara untuk bersenda gurau dengan David.


"Hai!" kata Chloe, bertingkah seolah-olah dia tidak saling mengenal dengan David, lalu mengulurkan sebelah tangannya, untuk berjabat tangan dengan David.


David yang terlihat bingung, tidak berkata apa-apa, namun tetap menyambut tangan Chloe, dan berjabat tangan dengannya.


"Apa kita bisa berkenalan? ... Namaku, Chloe ... Kamu mahasiswa dari universitas mana?" ujar Chloe, meneruskan leluconnya, sambil menahan diri agar tidak tertawa.


David akhirnya terlihat mengerti maksud dari Chloe itu, dan tampaknya, dia juga ingin ikut bermain dalam lelucon Chloe, dengan berkata,


"Namamu cantik, sesuai dengan pemiliknya."


"Nama saya, David McLean. Saya mahasiswa senior di universitas xxx, yang sudah di dropout bertahun-tahun yang lalu," lanjut David, sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


Chloe kemudian tertawa lepas.


"Don't tease me!" ujar David, yang terlihat gemas, lalu ikut tertawa bersama Chloe.


"Maafkan saya, Sir ... Saya hanya bercanda. Tapi Anda benar-benar terlihat keren!" kata Chloe, sambil tersenyum lebar, dan mengacungkan kedua jempolnya.


"Harus aku apakan kamu ini?!" celetuk David, sambil tertawa kecil, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya ... Apa Anda mau melihatnya?" ujar Chloe, lalu mengambil beberapa pakaian, yang disusunnya di salah satu bagian dari rak pajangan toko.


"Tidak perlu. Aku percaya apa yang kamu pilihkan untukku," jawab David, kemudian mengambil semua barang-barang dari tangan Chloe. "Sini! Biar aku pergi membayarnya dulu!"


***


Merasa kalau terlalu banyak bawaan di tangannya, dan hanya mengganggu jalan-jalannya dengan Chloe, David lalu meminta Chloe menunggu di dalam pusat perbelanjaan, sementara dia mengantar semua barang belanjaan itu ke mobilnya.


Ketika David kembali menemui Chloe, mereka kemudian pergi duduk bersantai di dalam sebuah coffee shop, yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu.


Dua cangkir kopi dan beberapa buah cupcake, menjadi pendamping, saat Chloe dan David berbincang-bincang santai di sana.


Karena David yang lebih dulu mengungkit pembicaraan tentang pengalamannya berkencan dengan salah satu kekasihnya, sehingga percakapan mereka membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan itu.


Dengan bergantian, Chloe serta David saling bertanya dan bercerita, bertukar pengalaman masing-masing ketika memiliki kekasih.


David yang ramah dan pintar menyesuaikan diri dalam bergaul, dan masih ditambah lagi dengan sikapnya yang senang bersenda gurau, membuat Chloe tidak merasa bosan saat bercakap-cakap dengannya.


Bahkan, Chloe sampai-sampai tidak menyadarinya lagi, akan berapa banyak waktu yang telah dihabiskannya bersama David itu.


Dan kelihatannya, tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Chloe, karena David juga tidak terlihat bosan saat menghabiskan waktunya bersama Chloe.


Baik Chloe maupun David, tampaknya sama-sama menikmati waktu kebersamaan mereka.


"Kisah percintaan kita belum ada yang berakhir dengan baik," kata David, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi kelihatannya pengalamanmu masih jauh lebih buruk," lanjut David, yang melirik Chloe dengan ujung matanya, lalu tersenyum mengejek.


"Geez!" ujar Chloe, lalu menghela napas panjang.


"Sebenarnya saya malu untuk mengakuinya, tapi itu adalah kenyataannya. Semoga saja, saya tidak akan pernah mengalami hal yang seperti itu lagi," lanjut Chloe, sambil tersenyum.


"Asalkan kamu jangan menyerah. Semua pengalaman itu, dijadikan sebagai pelajaran saja. Dan tidak perlu terlalu dipikirkan lagi," kata David.


"Yang penting dan perlu kamu pikirkan, adalah mempertimbangkan untuk menjadi kekasihku saja," lanjut David buru-buru, lalu tersenyum lebar.


"David?"


Bertepatan saat David berhenti bicara, tiba-tiba saja terdengar suara dari seseorang yang menyebut nama David, sehingga menarik perhatian dari Chloe dan David, yang secara bersamaan menoleh ke arah datangnya asal suara.


"Memang benar kamu!" ujar seorang wanita, sembari berjalan menghampiri meja, di mana Chloe dan David duduk.


Menurut Chloe, David terlihat tidak senang saat melihat wanita yang menghampirinya itu, dan hanya tersenyum terpaksa, sambil berkata,


"Ah! ... Kita bertemu lagi."


Wanita itu memandangi Chloe dan David bergantian, lalu akhirnya menatap Chloe lekat-lekat, hingga membuat Chloe tersadar, dan segera berdiri dari tempat duduknya.


Chloe kemudian mengulurkan sebelah tangannya, hendak berjabat tangan dengan wanita itu.


Namun wanita itu hanya memandangi tangan Chloe, dan tampak enggan untuk berjabat tangan dengannya, sehingga Chloe akhirnya menurunkan tangannya, sambil tetap berdiri di situ.


"Chloe! ... Duduk saja...! Tidak apa-apa," kata David, lalu melihat ke arah wanita yang sekarang ini telah mengalihkan pandangannya dari Chloe dan justru menatap David.


"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanya David, terdengar sinis.


"Kamu menghilang tanpa kabar. Aku ingin bicara denganmu. Berdua saja!" kata wanita itu, tegas.


Chloe yang mengerti, bahwa keberadaannya di situ akan mengganggu percakapan dari David dan kenalan wanitanya itu, kemudian berdiri lagi dari tempat duduknya.


Chloe yang berniat berpindah tempat duduk, hendak memberikan kesempatan bagi David dan wanita itu untuk berbincang-bincang, kemudian ditegur oleh David yang berkata,


"Kamu mau ke mana? ... Jangan ke mana-mana! Jika dia ingin bicara denganku, dia bisa bicara langsung di sini saja."


"David!" ujar wanita itu, yang tampak tidak terima dengan perkataan David itu.


Tidak mau jika nanti terjadi pertengkaran antara David dan wanita itu karena kesalahpahaman, Chloe akhirnya berpura-pura ingin pergi ke kamar mandi, dengan berkata,


"Silahkan bicara saja! ... Saya harus ke restroom ... Permisi!"


Tanpa menunggu tanggapan dari David ataupun wanita kenalan David itu, Chloe bergegas pergi ke kamar mandi umum, yang tersedia di coffee shop itu.