
Menurut Chloe, perubahan suasana hati dari Matthew, hampir mirip-mirip seperti seorang wanita yang sedang menstruasi.
Naik turun dari emosi Matthew yang secara mendadak, tanpa Chloe ketahui alasannya, karena Matthew yang juga tidak berkata apa-apa, hanya membuat Chloe semakin merasa kesulitan untuk menghadapinya.
Seperti saat ini, setelah chloe menemani Matthew sampai selesai sarapan pagi, lalu Chloe mengantarkannya ke ruang kerjanya, Matthew masih terlihat kesal.
Entah apa yang salah yang dianggapnya sangat mengganggu, hingga Matthew seolah-olah ingin mengamuk tanpa henti.
Jika dibandingkan dengan suasana hati Matthew ketika baru bangun tidur pagi tadi, yang hanya seperti gulungan ombak kecil yang cukup tenang, rasanya sekarang ini seolah-olah sedang terjadi gelombang badai di dalam kepala Matthew.
Setelah beberapa saat Matthew melihat tampilan di layar laptopnya, secara tiba-tiba saja Matthew menggebrak meja kerjanya dengan keras, hingga bunyi yang dihasilkannya menggema di ruangan yang hening itu.
"Sir! ... Luka Anda akan semakin memburuk!" ujar Chloe, mencoba menenangkan Matthew, seraya buru-buru menahan gerakan tangan Matthew, dengan memegangnya erat-erat.
Seketika itu juga, terlihat cairan darah yang merembes ke luar, dan membasahi perban yang menutupi luka di tangan Matthew.
"Please, Sir...!" ujar Chloe dengan suara memelas, karena sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan Matthew itu.
"Tolong jangan melakukannya lagi...! Saya akan pergi mengambil kotak obat," lanjut Chloe, sambil menatap Matthew lekat-lekat.
Matthew tidak menyahut perkataan Chloe, dan tampak hanya mendengus kasar, sementara dia terlihat mengeraskan rahangnya seolah-olah dia masih merasa geram.
Melihat kalau cairan darah di perban telah semakin melebar, tanpa berlama-lama lagi, Chloe pergi mengambil kotak obat, beserta dengan perlengkapan perawatan luka yang didapatkan Matthew dari dokter kemarin.
Masih dengan tergesa-gesa, Chloe kembali ke ruang kerja, dan segera membuka perban di tangan Matthew itu.
"Apa ada masalah, Sir? ... Apa ada sesuatu yang saya lakukan, yang tidak berkenan bagi Anda?" tanya Chloe, sembari merawat tangan Matthew dengan berhati-hati.
"Aku benci semua ini!" ujar Matthew, dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Chloe mendengus pelan. "Maafkan saya ... Tapi saya sungguh-sungguh tidak mengerti, apa yang membuat Anda kesal."
"Tentu saja kamu tidak akan bisa mengerti. Karena yang bisa kamu pikirkan, hanyalah uang yang dibayarkan agar kamu berada di sini," sahut Matthew, ketus.
Chloe mengangkat pandangannya, balik menatap sepasang bola mata dari Matthew, yang sekarang ini tampak seolah-olah sedang meremehkannya.
Kesabaran Chloe telah menyentuh batasnya, hingga rasanya dia mau saja menampar wajah Matthew, jika itu bisa membuat Matthew tersadar dari keangkuhannya.
"Memang benar yang Anda katakan. Saya di sini karena dibayar. Lalu, apa masalahnya? Bukankah orang mau bekerja agar mendapatkan uang?"
Sembari berujar, Chloe yang meradang, kemudian menekan luka di tangan Matthew dengan lidi kapas, yang tadinya dipakai untuk membersihkan luka itu.
"Auch!" Matthew meringis kesakitan, sambil menarik tangannya hingga terlepas dari pegangan Chloe. "Apa yang kamu lakukan? Itu sangat sakit!"
"Ow! ... Ternyata Anda masih bisa merasakan sakit," ujar Chloe, dengan nada suara mengejek.
"Lalu apa yang Anda pikirkan sewaktu memukul meja tadi? Apa itu adalah cara Anda untuk membuat saya semakin kelelahan mengurus Anda?
... Asal Anda tahu saja, imbalan yang saya terima tidak sesuai untuk semua pekerjaan konyol ini," lanjut Chloe, buru-buru, sebelum Matthew sempat menanggapi perkataannya barusan.
"Kamu...!" Suara Matthew yang meninggi, menampakkan dengan jelas kalau dia semakin merasa iritasi.
Sampai-sampai, napas Matthew pun terlihat memburu, dan begitu juga wajahnya yang tampak merah padam, seolah-olah dia adalah sebuah bom panas yang siap untuk meledak kapan saja.
"Ada apa dengan saya? Bukankah Anda bisa terluka karena kesalahan Anda sendiri?" Tanpa ada rasa segan lagi, Chloe tetap menantang Matthew.
"Kalau Anda ingin agar saya merawat luka Anda, sebaiknya Anda minta maaf terlebih dahulu," ujar Chloe, kemudian berbalik dan berpura-pura hendak meninggalkan Matthew sendirian di situ.
Dan kelihatannya, cara Chloe itu akan berhasil untuk sedikit mengurangi lagak sombong, yang diperlihatkan oleh Matthew kepadanya.
Karena sebelum Chloe mencapai pintu, Matthew kemudian berseru. "Tunggu!"
Chloe berhenti berjalan, namun dia masih memberi jeda beberapa saat, sebelum dia kemudian berbalik melihat ke arah Matthew yang menahannya.
Chloe juga tidak berkata apa-apa, dan hanya memandangi Matthew, sampai akhirnya Matthew berkata,
"Aku tidak bisa merawat lukaku sendiri ... Aku juga masih butuh bantuanmu untuk berjalan ... Maafkan aku...."
"Saya tidak tahu apa yang Anda pikirkan," celetuk Chloe, sambil tetap menundukkan pandangannya memperhatikan pekerjaannya.
Chloe kemudian mengangkat pandangannya dan bertatapan mata dengan Matthew, untuk beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya dia kembali melihat ke telapak tangan Matthew.
"Saya mungkin hanya pegawai yang dibayar sesuai dengan pekerjaan saya. Tapi saya juga manusia yang punya perasaan," kata Chloe.
Ketika Chloe memberikan jeda untuk beberapa saat, sebelum dia lanjut mengutarakan apa yang ada di pikirannya, Matthew hanya terdiam tanpa menanggapi perkataan Chloe.
"Saya sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan Anda. Apalagi saat melihat Anda sedang terluka. Sehingga saya tetap berusaha sebisa mungkin agar bisa merawat Anda dengan baik....
... Seandainya ada sesuatu yang mengganggu Anda, daripada meletupkan kemarahan Anda tanpa tahu arahnya ke mana, dan justru hanya menyakiti diri Anda sendiri, bukankah akan lebih baik jika Anda mengatakannya?"
Dengan bicara perlahan-lahan, Chloe berusaha sebisanya untuk membuat Matthew bisa mengerti, akan apa yang sebenarnya Chloe pikirkan.
"Kamu mencemaskanku? Apa itu sungguh bisa dipercaya? Sedangkan kamu tidak membantu sama seka—"
Matthew yang berbicara dengan nada suara yang sinis, lalu menghentikan perkataannya secara tiba-tiba, saat Chloe mengangkat pandangannya dan memperhatikan perkataan Matthew.
"... Maksudku, yang kamu pikirkan adalah berhenti bekerja, tanpa mempersiapkan seseorang yang bisa menggantikanmu," lanjut Matthew, yang kali ini bicara dengan suara pelan dan hampir berbisik-bisik.
Chloe menghela napas dalam-dalam, lalu mengempiskan paru-parunya setelahnya.
"Jadi itu yang Anda inginkan? ... Saya yang harus mencari seseorang untuk menggantikan posisi saya?" tanya Chloe, sambil menatap Matthew lekat-lekat.
Matthew terdiam.
"Tidak masalah. Saya bisa melakukannya ... Tapi, bukankah Anda tidak percaya kepada saya? Bagaimana Anda bisa yakin, kalau orang saya anjurkan bisa Anda percayai?" lanjut Chloe.
Matthew mendengus kasar. "Itu yang membuatku frustrasi. Aku tidak tahu siapa yang bisa aku percaya. Apalagi, tidak ada yang aku kenal di negara ini."
"Hmm ... Anda mungkin bisa memanggil seseorang yang Anda kenal dan percayai, untuk datang ke sini," sahut Chloe.
Chloe sudah selesai memasang perban di luka Matthew, sehingga dia mulai merapikan semua peralatan yang dipakainya, dan menyingkirkan kapas maupun perban yang kotor.
"Tidak semudah itu. Di tempat tinggalku yang dulu, aku juga tidak memiliki banyak kenalan, karena aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan," kata Matthew.
Entah Matthew menyadarinya atau tidak, namun dia saat ini secara tiba-tiba saja, bisa bicara terbuka kepada Chloe.
Sehingga, Chloe jadi semakin ingin memancing Matthew, agar mau mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Apa salah satu dari pegawai Anda di sana tidak bisa diminta untuk datang ke sini?" tanya Chloe, sembari membuang sampah ke tempatnya.
"Aku tidak tahu, apakah ada yang mau berpindah negara," ujar Matthew, lalu bersandar di kursi, sambil memperhatikan perban yang terpasang di tangannya.
Chloe kembali menghampiri Matthew, lalu sambil tersenyum, Chloe kemudian berkata,
"Anda coba saja dulu! ... Mana tahu ada yang mau. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa ragu-ragu lagi....
... Dan yang paling penting, Anda jangan jadi frustrasi karena hal itu. Apalagi, sampai membuat Anda harus menyakiti diri sendiri."
Untuk beberapa saat, Matthew hanya terdiam, sambil menatap Chloe lekat-lekat. "Kamu orang yang aneh."
"Ugh? Apa masih ada yang salah?" tanya Chloe.
"Bagaimana kamu bisa setenang itu, saat membicarakan tentang seseorang yang akan menggantikanmu?" Matthew balik bertanya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus menangis? Berteriak histeris, ataupun mengamuk?" sahut Chloe, lalu tertawa kecil.
"Tidak ada yang mengherankan, jika berganti pekerjaan. Karena pada akhirnya, selain mencari uang, saya tentu harus memilih tempat bekerja, yang bisa membuat saya merasa lebih nyaman. Benar tidak?" lanjut Chloe, tanpa beban.
"Chloe! ... Apa kamu tidak mau tetap bekerja padaku?" tanya Matthew, yang tampak kembali terduduk tegak.
"Kamu hanya perlu menjauhi David, dan semua orang-orang yang tidak menyukai daddy-ku, maka aku pasti akan memperlakukanmu dengan baik," lanjut Matthew buru-buru.