
Walaupun Chloe tidak sempat mengetahui siapa wanita yang ingin berbicara empat mata dengan David itu, tapi Chloe bisa menduga, jika wanita itu mungkin adalah mantan kekasih David.
Menurut Chloe, wanita itu sangat cantik, dan dari penampilannya yang modis, mungkin wanita itu berasal dari kalangan atas seperti David.
Atau paling tidak, wanita itu mungkin memiliki pekerjaan yang bisa menghasilkan cukup uang, untuk membiayai semua kebutuhan, agar menunjang penampilannya sampai mendekati sempurna.
Tetapi, Chloe tidak mau terlalu memikirkan tentang sesuatu yang tidak diketahuinya secara pasti.
Demi memberi waktu kepada David dan wanita itu, Chloe bertahan di dalam kamar mandi umum, sambil melihat-lihat tampilan layar ponselnya.
Kurang lebih 15 menit waktu yang telah berlalu, Chloe yang berdiri bersandar di wastafel, kemudian terpikir untuk mencoba melihat keadaan di luar.
Karena mungkin saja, kalau David telah selesai berbincang-bincang dengan wanita yang menemuinya itu.
Namun, Chloe yang sebenarnya hanya berniat untuk mengintip, justru dikejutkan dengan adanya David dan wanita itu, di lorong di depan pintu kamar mandi umum.
Chloe tidak bisa menghindar lagi, karena di saat itu juga David sempat beradu pandang dengan Chloe yang membuka pintu.
Sehingga mau tidak mau, Chloe akhirnya berjalan ke luar dari dalam kamar mandi umum itu.
Chloe tidak sempat berkata apa-apa, dan bahkan tidak sempat berpikir, ketika David yang bergerak cepat, memeluk dan mencium bibirnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Chloe untuk tersadar, dan segera mendorong David. Tidak kasar, tetapi cukup untuk membuat David menjauh darinya.
"Lihat! ... Dia tidak seperti dugaanmu. Sehingga aku yang mengejarnya, dan bukan sebaliknya," ujar David, yang tampaknya diarahkan kepada wanita yang masih bersamanya di situ.
Wanita itu lalu mendengus kasar, kemudian berbalik dan berlalu pergi dari sana, meninggalkan David bersama Chloe.
Setelah punggung wanita itu tidak terlihat lagi, David kemudian tampak berusaha untuk menjelaskan.
"Maafkan aku yang menciummu tanpa izin ... Dia menganggapmu sebagai seorang gold digger. Sehingga aku memang sengaja menyentuhmu di depannya....
... Aku ingin membuktikan padanya, bahwa aku menyukaimu—" David menghentikan perkataannya secara tiba-tiba, dan tampak seolah-olah dia telah salah bicara.
"... Mungkin perkataanku terdengar seperti aku sedang memanfaatkanmu untuk membuatnya cemburu. Tapi, Chloe ... Sejujurnya, aku tidak berpikir seperti itu...
... Aku sungguh-sungguh menyukaimu, dan ingin membelamu. Karena aku tahu, kalau kamu tidak berniat untuk mendekatiku dengan sengaja. Apalagi sampai mau menjual tubuhmu padaku."
Hingga David tampak sudah selesai menjelaskan kepadanya, Chloe masih terdiam, karena tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi perkataan David itu.
"Ingat yang aku ceritakan padamu, tentang mantan kekasihku yang mengejarku lebih dulu? ... Dia lah orangnya," ujar David.
David kemudian membawa Chloe berjalan pelan, mengarah kembali ke meja yang dipakai mereka tadi.
"Dia pikir aku ini sangat bodoh, hingga mau dipermainkan oleh wanita seperti dirinya lagi," celetuk David, sambil duduk di kursinya.
Chloe yang ikut duduk kembali di tempatnya semula, teringat akan cerita David, yang mengatakan bahwa ada salah satu mantan kekasihnya, yang mendekatinya lebih dulu.
Akan tetapi, setelah David benar-benar jatuh hati, dan bahkan bisa dibilang telah tergila-gila kepadanya, wanita itu justru memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
David masih memintanya untuk kembali menjadi kekasihnya, namun wanita itu telah memilih untuk berkencan dengan orang lain.
Menurut cerita David kepada Chloe tadi, itu adalah pengalaman paling menyakitkan baginya, hingga dia membutuhkan waktu yang lama sampai dia bisa menata hidupnya kembali.
Dan karena wanita itulah, yang membuat David selalu merasa sangat ragu, untuk mencoba berhubungan serius dengan wanita lain.
"Tsk! ... Maafkan aku. Pertemuan dengannya, tampaknya hanya merusak kencan kita," kata David, membuyarkan lamunan Chloe.
"Tidak apa-apa, Sir," sahut Chloe. "Tapi, ... apa saya boleh tahu? Apakah tujuan dari mantan kekasih Anda tadi, hanya agar saya menjauhi Anda?"
"Hmm ... Dia ingin kembali padaku," jawab David, terdengar seperti orang yang sedang merasa gusar.
"Tapi aku tidak tertarik. Aku bersusah payah untuk melupakannya, agar aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang, lalu tiba-tiba saja dia ingin kembali padaku....
... Dia pikir dia masih seistimewa itu ... Aku tidak mungkin mau menjerumuskan diriku ke dalam lubang berlumpur yang sama, untuk kedua kalinya," lanjut David.
Lagi-lagi, Chloe lalu teringat akan kata David, bahwa David tidak pernah bertemu lagi dengan mantan kekasihnya itu, sejak David benar-benar berpisah dengannya, dan David memutuskan untuk berhenti mengharapkannya lagi.
"Hmm ... Maafkan saya ... Tapi, apa Anda baik-baik saja?" tanya Chloe, berhati-hati.
David tersenyum lebar, lalu berkata,
"Sebelumnya, aku sangat cemas kalau-kalau aku akan bertemu dengannya lagi, dan aku mungkin akan menjadi gila karenanya....
... Tapi, setelah aku bertemu dengannya, aku bisa merasa sangat lega. Karena apa yang sebenarnya aku inginkan, bisa terlihat dengan jelas. Aku tidak mencintainya lagi."
David lalu menyesap kopinya, yang kemudian buru-buru dimuntahkannya lagi.
"Maafkan aku ... Aku bukan ingin membuatmu merasa jijik. Tapi, kopinya sudah sangat dingin." David lalu mengelap ujung mulutnya dengan ibu jarinya.
Chloe tertawa kecil melihatnya, lalu berkata,
"Apa Anda ingin memesan kopi yang baru?"
"Hmm ... Apa kamu masih mau bersantai di sini?" David balik bertanya.
"Kalau Anda ingin pergi dari sini, saya setuju saja," jawab Chloe, yang merasa kalau David mungkin sudah bosan berada di tempat itu.
"Okay! ... Aku ingin mengajakmu ke tempat lain," sahut David, lalu berdiri dari tempat duduknya.
Dan tempat lain yang di maksud oleh David, ternyata adalah pergi ke rumahnya.
Dengan alasan, dia ingin Chloe berganti pakaian dengan salah satu gaun yang dibelikannya tadi, agar bisa pergi ke tempat yang menjadi tujuan yang sebenarnya.
"Aku tidak memiliki riasan wajah," celetuk David, ketika mempersilahkan Chloe untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Memangnya kita akan pergi ke mana, Sir?" tanya Chloe, penasaran.
"Itu kejutan," sahut David, lalu mengarahkan Chloe, masuk ke dalam salah satu kamar di rumahnya itu.
"Kamu bisa bersiap-siap di sini. Aku juga akan bersiap-siap di kamarku. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa menyusulku." David menunjuk pintu kamar, yang bersebelahan dengan kamar yang akan dipakai oleh Chloe.
"Baik, Sir!" sahut Chloe, kemudian menutup pintu kamar, setelah David pergi ke kamarnya sendiri.
***
Gaun merah terang jadi pilihan Chloe untuk dipakainya sekarang ini, dipadankan dengan sepatu hak tinggi berwarna keemasan.
Karena Chloe hanya membawa bedak padat dan pewarna bibir di dalam tasnya, sehingga riasan wajah Chloe tampak tipis dan sederhana.
Namun, reaksi yang diperlihatkan oleh David saat melihat Chloe, tidaklah sesederhana itu.
David tampak mengagumi penampilan Chloe, hingga dia tampak seakan-akan lupa untuk berkedip, sambil memasang senyuman lebar di wajahnya.
"Kamu benar-benar cantik," kata David, lalu menyentuh salah satu sisi wajah Chloe, dan mengelusnya dengan lembut dan perlahan.
"Aku jadi ingin menciummu ... Apa aku bisa mencium pipimu?" tanya David setengah berbisik, seolah-olah dia khawatir kalau Chloe akan marah kepadanya.
Chloe yang tersenyum, lalu mengangguk setuju, menjadi aba-aba bagi David untuk mendekatkan wajahnya, dan mengecup salah satu pipi Chloe.
"Kamu akan menarik perhatian dari orang-orang yang melihatmu. Apa mungkin, jika aku menyimpanmu untukku saja?" ujar David, tampak memasang raut wajah serius.
"Anda jangan bercanda. Anda nanti akan dianggap sebagai seorang penculik," sahut Chloe, sambil tertawa kecil.
Chloe yang memperhatikan kalau dasi kupu-kupu David terlihat kurang rapi, kemudian segera mengulurkan tangannya, dan merapikan dasi yang dipakai oleh David itu.
"Saya jadi semakin penasaran, sebenarnya kita akan ke mana? Kenapa harus berpakaian serapi ini?" tanya Chloe.
"Lihat saja nanti...!" sahut David, lalu mengajak Chloe untuk segera pergi dari rumahnya itu.
***
Sebuah gedung Opera, menjadi tujuan David selanjutnya, dengan membawa Chloe bersamanya.
"Kita akan menonton Opera?" Chloe sekadar bertanya, karena dia sudah tahu jawabannya.
"Aku harap kamu menyukainya. Karena aku hanya meraba-raba, akan ke mana saja aku bisa membawamu saat berkencan denganku," kata David.
"Saya menyukainya, tapi saya tidak pernah bisa menonton. Karena selain sibuk dengan pekerjaan, cukup sulit untuk mendapatkan kursi kosong di setiap pertunjukannya," ujar Chloe, jujur.
"Bagus! ... Aku jadi bisa meninggalkan kesan yang baik, yang akan sulit untuk kamu lupakan," sahut David, terdengar bersemangat.
Sementara mereka berdua menonton pertunjukan, David terus memegang salah satu tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat.
Sejujurnya, Chloe merasa agak bingung karena perlakuan David kepadanya itu, yang seolah-olah David memang sungguh-sungguh tertarik kepadanya.
Tetapi Chloe tidak mau berlama-lama memikirkannya, dan memilih untuk menikmati waktunya saja, yang menurutnya cukup menyenangkan, saat dihabiskannya dengan David.