Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 18



Matteo masih duduk bersama Chloe di bangku berhadapan dengan pianonya, ketika seseorang dari perusahaan pengiriman barang menghampirinya.


Orang itu kemudian memberi informasi kepada Matteo, bahwa ada beberapa barang milik Matteo yang bermasalah di pabean perbatasan negara.


Dengan demikian, maka Matteo harus segera menghubungi petugas pabean, dan mengurus masalah perizinannya di kantor pabean secara langsung.


Menurut informasi yang ada, jika Matteo menunda kepengurusannya, maka barang-barang pribadi milik Matteo yang seharusnya sudah dibawa ke rumahnya itu, tidak akan bisa melintasi perbatasan.


"Chloe! ... Maafkan aku. Tapi aku harus pergi ke kantor pabean sekarang," kata Matteo, yang tampak gelisah.


"Tidak apa-apa ... Saya juga harus kembali ke rumah Mister Matthew, untuk memeriksa keadaannya," sahut Chloe, menenangkan Matteo. "Hati-hati di jalan, Sir!"


Tampak tergesa-gesa, Matteo memasuki mobil yang terparkir di garasi rumahnya itu, dan segera berlalu pergi dari sana.


Sementara itu, Chloe kemudian berjalan kembali ke rumah Matthew, dan segera menemui Atasannya itu di kamarnya.


Akan tetapi, Chloe tidak melihat adanya Matthew di dalam kamarnya.


Begitu juga tongkat bantu berjalan, yang tadinya diletakkan berdiri di dekat tempat tidur Matthew.


Chloe yang mengira kalau Matthew mungkin pergi ke ruang kerja, hampir saja melangkahkan kakinya mengarah ke luar kamar, ketika dia mendengar suara rintihan tertahan, yang tampaknya berasal dari kamar mandi.


Chloe kemudian berjalan menghampiri kamar mandi, dan menempelkan telinganya di daun pintu.


"Sir! ... Anda ada di dalam?" tanya Chloe, sambil mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup.


"Chloe...!" Suara Matthew terdengar lemas, lalu disusul dengan suaranya yang seolah-olah dia sedang merasa kesakitan.


"Sir? ... Apa Anda baik-baik saja?" tanya Chloe, yang mulai merasa tidak enak.


Namun, Matthew tidak menjawab pertanyaan Chloe, dan yang terdengar justru hanya suara rintihannya saja.


"Sir! ... Saya akan masuk sekarang!" ujar Chloe, yang jadi semakin cemas.


Namun Chloe masih menunggu beberapa saat, sampai akhirnya terdengar persetujuan Matthew dari balik pintu. "Iya."


Jawaban dari Matthew itu, menjadi tanda bagi Chloe untuk membuka pintu kamar mandi, dan bergegas masuk ke dalam sana.


Chloe terbelalak, ketika melihat salah satu telapak tangan Matthew yang terluka, dan mengeluarkan cukup banyak darah.


"Oh, gosh! ... Sir!" Dengan terburu-buru, Chloe menghampiri Matthew yang terduduk di lantai kamar mandi, dan bersandar di sekat kaca untuk pancuran.


"Apa yang terjadi?" Chloe melihat ke sana kemari, dan mendapati pecahan kaca, yang berada tidak terlalu jauh dari tempat Matthew terduduk.


Seketika itu juga, Chloe merasa sangat menyesal, karena telah meninggalkan Matthew sendirian. "Maafkan saya, Sir...."


Chloe kemudian membantu Matthew untuk berdiri, lalu membersihkan tangan Matthew yang terluka, dengan air keran yang mengalir di wastafel.


"Maafkan saya, Sir...." Suara Chloe bergetar, karena rasa cemas, dan bercampur dengan rasa penuh penyesalannya, saat melihat luka yang cukup besar di tangan Matthew itu.


Sementara Matthew hanya terdiam, seolah-olah dia tidak tahu harus berkata apa kepada Chloe.


Chloe memakai beberapa lembar tissue, untuk menutupi luka di tangan Matthew, sebelum dia membantu Matthew untuk berjalan keluar dari kamar mandi.


Setelah mendudukkan Matthew di bagian tepi tempat tidur, Chloe keluar dari kamar dengan setengah berlari, dan pergi mengambil kotak obat.


"Biar saya lihat dulu, Sir!" Chloe menyingkirkan lembaran tissue, lalu memeriksa luka di telapak tangan Matthew, untuk mencari tahu apa luka itu perlu dijahit.


Pelajaran untuk pertolongan pertama yang Chloe dapatkan sewaktu dia masih di high school, tampaknya benar-benar berguna, saat dia harus menjadi asisten pribadi bagi Matthew, sekarang ini.


Chloe bisa menjahit sendiri luka menganga di telapak tangan Matthew itu, setelah dia mensterilkan sebuah jarum dan seutas benang, yang direndamnya dalam cairan alkohol.


Terang saja Matthew meringis kesakitan, karena Chloe tidak memakai bius saat menjahit lukanya.


Walaupun demikian, Matthew tetap terlihat sabar membiarkan Chloe merawatnya.


"Ini sifatnya hanya sementara, agar lukanya berhenti mengeluarkan darah. Anda tetap harus menemui dokter, untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut."


Sembari menjahit luka di tangan Matthew, Chloe hampir tidak bisa berhenti bicara, untuk mengurangi rasa gugup dan cemasnya.


Kemudian, dengan dibantu oleh supir pribadi Matthew, Chloe segera mengantarkan Atasannya itu ke dokter, dan mendapatkan perawatan yang sesuai di sana.


"Apa yang terjadi?" tanya Chloe, ketika mereka telah berada di perjalanan pulang ke rumah Matthew


"Aku...." Matthew mungkin merasa malu untuk memberitahu Chloe, akan apa penyebabnya hingga dia bisa terjatuh di kamar mandi, sehingga dia tidak bisa mengutarakannya.


Chloe juga tidak mau memaksa Matthew untuk bicara, karena Chloe menyadari bahwa sebagiannya adalah kesalahan Chloe, yang tidak mengerjakan tugasnya untuk menjaga Matthew.


Sehingga pada akhirnya, Chloe tidak bertanya lagi kepada Matthew, sampai mereka tiba di rumah, dan Chloe mengantarkan Matthew kembali ke kamarnya.


"Apa ada yang Anda butuhkan?" tanya Chloe, setelah Matthew duduk berselonjor di atas tempat tidurnya.


"Aku haus," jawab Matthew.


"Tunggu sebentar!" sahut Chloe, kemudian berjalan keluar dari kamar.


Sembari Chloe mengambil sebotol air mineral untuk Matthew, Chloe juga mengarahkan asisten rumah tangga Matthew, agar segera membersihkan kamar mandi Matthew.


"Ini, Sir!" Chloe menyodorkan botol air mineral kepada Matthew, seraya ikut duduk di samping Atasannya itu.


"Tsk! ... Kaki Anda belum membaik, justru tangan Anda juga ikut terluka," ujar Chloe, yang mungkin akan terdengar oleh Matthew, seperti Chloe sedang menggerutu.


"Maafkan saya, Sir ... Saya tidak sedang mengeluh. Saya hanya menyayangkan, karena Anda terluka di sana-sini....


... Sedangkan seharusnya itu tidak terjadi, jika saya tidak meninggalkan Anda sendirian," kata Chloe menjelaskan, sebelum Matthew salah paham.


"Apa yang kamu lakukan di rumah Matteo?" tanya Matthew, sembari mengelap sedikit jejak air yang membasahi bagian sudut bibirnya.


"Saya hanya melihat-lihat ruangan yang akan menjadi tempat kerja Mister Matteo," jawab Chloe. "Saya juga sempat menonton Mister Matteo bermain piano dan bernyanyi."


Chloe senyum-senyum sendiri, ketika mengingat bagaimana jari-jari tangan Matteo yang tampak sangat menguasai tuts piano, dan begitu juga dengan suara Matteo yang bagus.


"Kenapa?" tanya Matthew, tiba-tiba.


"Ugh?" Chloe tidak mengerti akan apa yang ditanyakan oleh Matthew itu.


"Kamu kelihatan senang, sampai senyum-senyum sendiri. Kenapa? Apa ada yang menarik?" Matthew menjelaskan apa yang dipikirkan olehnya.


"Hmm ... Saya hanya merasa kagum dengan kemampuan Mister Matteo," jawab Chloe, sambil tersenyum. "Suaranya bahkan terdengar seperti seorang penyanyi profesional."


"Menurutmu dia lebih hebat dariku?" tanya Matthew, yang terdengar seolah-olah dia cemburu dengan Matteo.


Chloe tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Matthew, ketus.


"Maafkan saya, Sir ... Tapi mungkin saya bisa mengerti, kalau akan terasa sulit jika memiliki saudara kembar. Karena sedangkan hanya kakak beradik biasa saja, masih bisa saling merasa iri," kata Chloe.


Chloe kemudian mengambil botol air mineral dari tangan Matthew, dan meletakkannya ke atas nakas, yang berada di sisi samping tempat tidur Matthew itu.


"Anda dan Mister Matteo, mungkin sering dibanding-bandingkan. Padahal, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing....


... Walaupun saudara kembar, bentuk fisik dan rupa wajahnya mungkin sangat mirip, hingga sulit untuk dibedakan, tapi bukan berarti bisa disamakan," kata Chloe.


"Mister Matteo hebat dalam bidang yang ditekuninya. Begitu juga Anda, yang pastinya akan memiliki kehebatan Anda sendiri....


... Jadi, jawaban saya dari pertanyaan Anda tadi, adalah tidak ada dari antara kalian berdua yang lebih hebat, jika dibandingkan di atas timbangan....


... Mister Matteo dan Anda, seperti dua koin yang di tarik di seutas benang. Sama rata hebatnya," lanjut Chloe, lalu tersenyum lebar.


"Kamu pintar berkelit. Akui saja kalau Matteo lebih baik dariku," ujar Matthew, sambil merengut.


Lagi-lagi, Chloe tertawa kecil melihat tingkah Matthew, yang seperti anak-anak yang merasa iri dengan saudaranya.


"Kamu menertawakanku?" tanya Matthew, ketus.


Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tetap tersenyum, lalu mengembuskan napasnya berat.


"Apakah penilaianku itu penting? Tentu tidak, bukan?! Apalagi, saya berada di sisi Anda hanya sementara waktu saja....


... Jadi Anda bisa jadi diri sendiri, dan tidak perlu memikirkan apa yang menjadi penilaian saya," kata Chloe.