
Matthew tampak tidak terima dengan keinginan dari saudaranya itu, sehingga dia berhenti mengunyah makanannya secara tiba-tiba, dan menatap Matteo lekat-lekat.
"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah kamu bisa menginap di tempat mommy?" Matthew mengerutkan keningnya, seakan-akan tidak percaya, dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Huuufft...! Ayolah Matthew! Aku tidak akan menetap di rumah ini selamanya," ujar Matteo, memelas.
"Rumahku tepat di sebelah rumah ini. Akan lebih mudah bagiku untuk memantau renovasinya, jika aku menginap di rumahmu ini."
Matteo tampak tidak mau menyerah untuk memberi alasan, yang bisa dipertimbangkan oleh Matthew.
Matthew pun, tidak segera memberikan jawabannya kepada Matteo, dan justru hanya terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Tsk! ... Baik! Kamu bisa memakai kamar di lantai atas ... Tapi, jangan sekali-kali membuat keributan! Apalagi saat aku sedang berada di sini," kata Matthew.
"Bagus! ... Terima kasih!" ujar Matteo, bersemangat.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang keributan. Karena semua barang-barang milikku masih dalam pengiriman," lanjut Matteo, lalu melihat ke arah Chloe, dan kemudian bertanya.
"Apa kamu suka mendengarkan musik?"
"Hmm ... Iya," jawab Chloe ragu-ragu, lalu terdiam untuk sesaat. "Tapi ... Kenapa kamu menanyakannya?"
"Aku ingin mengundangmu untuk berkunjung ke rumahku, saat tempat itu sudah siap," sahut Matteo, sambil tersenyum lebar.
***
Setelah makan malam mereka berakhir, Chloe segera menyusul Matthew, yang berjalan tergesa-gesa ke dalam ruang kerjanya.
Chloe masih menemani Matthew bekerja, sampai kurang lebih hampir satu jam lamanya, sebelum Matthew mengizinkan Chloe untuk beristirahat, dan kembali ke paviliun.
Belum berapa lama Chloe berganti pakaiannya dengan piyama, lalu terdengar bunyi ketukan di pintu depan paviliun.
Chloe yang baru bersiap-siap untuk tidur, membatalkan niatnya, dan pergi memeriksa, siapa yang menjadi tamu yang tidak diundang itu.
"Maafkan aku ... Apa kamu sudah mengantuk?"
Matteo terlihat berdiri di depan pintu, sambil membawa dua gelas kosong, dan satu botol wine, ketika Chloe membuka pintu.
"Hmm ... Apa yang bisa saya bantu?" tanya Chloe.
"Jetlag ... Aku tidak tahu harus mengajak siapa untuk menjadi teman bicara. Mau tidak mau, aku memberanikan diri untuk mengganggumu," jawab Matteo.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengajakmu untuk pergi ke sebelah sana!"
Matteo menunjuk dengan mengangkat sebelah tangannya yang memegang gelas, ke arah kolam renang yang berada tidak jauh di belakang paviliun.
Jam di dinding menunjukkan, kalau sekarang ini masih belum terlalu larut malam, dan Chloe juga belum begitu mengantuk. Sehingga kelihatannya, tidak akan jadi masalah jika Chloe menemani Matteo sebentar.
"Baik! ... Tunggu sebentar!" Chloe berbalik, dan mengambil jaket panjang, untuk dijadikan sebagai pelapis piyama tipis yang dipakainya.
Di dua bangku santai yang bersebelahan yang ada di pinggir kolam renang, menjadi tempat bagi Chloe serta Matteo untuk duduk, dan menikmati waktunya.
Satu gelas wine yang terisi cairan hingga separuh gelasnya, disodorkan oleh Matteo kepada Chloe, yang sempat melamun saat memandangi pantulan cahaya lampu penerang, di kulit air kolam renang.
"Aku tidak berencana untuk pindah ke sini," celetuk Matteo.
Chloe memandangi Matteo sambil menunggu, akan apa yang ingin dikatakannya selanjutnya.
"Orang tuaku yang meminta, agar aku juga menetap di negara ini." Matteo menggoyangkan gelasnya, kemudian menyesap sedikit cairan wine di dalamnya.
"Sementara, aku tidak memiliki satu pun kenalan di kota ini...." Matteo tersenyum memandangi Chloe.
"... Apa aku bisa jadi temanmu?" tanya Matteo.
"Asalkan kamu tidak sering-sering menggangguku, mungkin aku bisa mempertimbangkannya," jawab Chloe, bercanda.
"Hahaha...! Okay, okay!" Matteo mengangkat gelasnya, dan mengarahkannya kepada Chloe, seraya berkata,
"Bersulang denganku!"
"Untuk pertemanan, kesehatan, dan kesuksesan! Cheers!" ujar Matteo, tampak bersemangat.
"Cheers!" ucap Chloe, lalu saling membenturkan gelas di tangannya, dengan gelas di tangan Matteo.
"Aku tadi menghubungi daddy. Katanya, kamu telah bekerja dengannya cukup lama. Dan sekarang, kamu menjadi pengasuh Matthew," kata Matteo, setelah menyesap sedikit cairan wine.
"Jangan tersinggung!" lanjut Matteo, buru-buru. "Matthew memang membutuhkanmu. Karena dengan sikap keras kepalanya, maka tidak akan butuh waktu lama baginya untuk—"
Matteo tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Matthew tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya dan Chloe, sembari berkata,
"Aku mengizinkanmu untuk tinggal di rumahku. Tapi ternyata, kamu justru bicara buruk di belakangku."
"Aku tidak sedang menjelekkanmu. Aku hanya bicara apa adanya. Karena Chloe pasti bingung, akan apa alasannya, sampai dia diminta untuk menjagamu," sahut Matteo.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" ujar Matthew, berang.
"Maafkan saya, Sir!" ujar Chloe, sambil berdiri dan menyela percakapan antara Matthew dan Matteo.
Matthew serta Matteo, lalu secara bersamaan melihat ke arah Chloe.
"Saya menerima pekerjaan sebagai asisten pribadi Anda, karena saya membutuhkan uang imbalannya. Dan bukan karena saya merasa, bahwa Anda butuh seseorang untuk menjaga Anda," kata Chloe.
Chloe berharap agar dengan pernyataannya itu, maka ketegangan di antara dua saudara kembar itu tidak berlanjut.
Namun harapan dari Chloe itu, tampaknya hanya membuatnya terlibat dalam masalah baru, karena dia justru mendapat ekspresi dingin dari Matthew, yang kemudian berkata,
"Berapa banyak jumlah uang yang dibayarkan daddy padamu? Aku akan menggandakannya, agar kamu bisa berhenti berlagak hebat. Karena aku tidak butuh bantuanmu untuk melindungiku."
"Matthew!" ujar Matteo, dengan nada suaranya yang meninggi.
"Matteo! ... Mister Matthew McLean! ... Sekarang sudah semakin larut, dan saya harus pergi beristirahat. Terima kasih untuk semuanya!" Chloe lalu berbalik, dan segera beranjak pergi dari sana.
Benar-benar mengesalkan.
Satu bulan, akan menjadi target waktu bagi Chloe untuk bekerja pada Matthew. Jika sudah melewati batas waktu itu, maka Chloe tidak akan mau menjadi asisten pribadinya lagi.
Bahkan kalau perlu, Chloe akan mencari pekerjaan lain, dan tidak mau berurusan dengan Atasan yang tidak berperasaan seperti Matthew.
Sembari berjalan kembali ke paviliun, Chloe membulatkan tekadnya untuk tetap bersabar, hanya sampai sebulan ke depan.
Chloe baru saja akan masuk ke dalam paviliun, tetapi Matteo terlihat sudah berada di dekatnya, dan menahan langkah Chloe.
"Maafkan aku ... Matthew tidak akan berkata seperti itu kepadamu, jika aku tidak memulai perdebatan dengannya," kata Matteo, tampak benar-benar menyesali akan apa yang baru saja terjadi.
"Tidak apa-apa ... Sudah terlanjur. Aku juga telah menerima pembayaran dari daddy-mu, tidak mungkin aku akan mengecewakannya, hanya karena kejadian tadi," sahut Chloe.
Matteo lalu hanya terdiam, sembari berdiri terpaku di depan pintu paviliun itu bersama Chloe.
"Maafkan aku ... Tapi aku bersungguh-sungguh, kalau aku harus beristirahat sekarang," kata Chloe.
"Ugh? ... Okay! Sleep well! ... Bye, Chloe!" ujar Matteo.
"Sama-sama ... Bye, Matteo!" sahut Chloe, kemudian bergegas masuk ke dalam paviliun, dan segera menutup pintu, walaupun Matteo masih berdiri di luar.
Dengan perasaan sebal, Chloe berbaring telentang di atas tempat tidur, sambil memikirkan tentang Brad, laki-laki b*rengsek, yang membuatnya sampai mau menerima tawaran dari Nathan.
"Dasar sial!" ujar Chloe mengumpat, sambil memukul bantal.
Chloe juga terpikir akan perkataan Matthew, yang katanya akan menggandakan bayarannya. "Apa seharusnya aku menerimanya saja? Tapi, apa kata Nathan dan Maddison nantinya?"
"Argh! ... Matthew! ... Aku harap agar kamu terlibat dalam masalah, dan kamu akan merengek untuk meminta bantuanku....
... Pada saat itu, maka aku ingin tahu, apa kamu masih bisa bertingkah sombong."
Chloe terus-menerus menggerutu sendiri, sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan.