
Chloe menarik tangannya agar bisa terlepas dari pegangan Matthew, namun sia-sia saja, karena Matthew justru mempererat genggamannya, dan menahannya di atas pangkuannya.
"Chloe! ... Apa kamu masih berniat untuk berhenti menjadi asistenku?" tanya Matthew, tiba-tiba.
Chloe terdiam untuk beberapa saat, sambil mengingat lowongan pekerjaan sebagai asisten yang ditawarkan oleh Presdir JT Corp, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis ritel.
"Iya, saya rasa begitu ... Saya ingin mencoba pengalaman baru, dengan bekerja di tempat yang berbeda," jawab Chloe.
Matthew lalu menoleh ke samping, dan menatap Chloe lekat-lekat. "Apa kamu sudah ada rencana di mana kamu akan bekerja?"
"Iya ... Ada tawaran bekerja sebagai asisten. Dan kemungkinan besar saya akan menerimanya," jawab Chloe, lagi.
"Bukankah itu masih pekerjaan yang sama?!" ujar mathew, seolah-olah tidak percaya apa yang didengarnya.
"Benar kata Anda," sahut Chloe, lalu menarik tangannya dari pegangan Matthew yang terasa sudah sedikit melonggar, kemudian lanjut berkata,
"Tapi itu adalah sebuah perusahaan terbuka. Jadi menurut saya, suasana saat bekerja di sana pasti akan jauh berbeda, jika dibandingkan dengan suasana kerja di McLean property....
... Selain itu, petinggi yang menjabat di sana, dan yang menawarkan pekerjaan kepada saya, juga sudah saya kenal cukup lama. Sehingga saya rasa, saya tidak akan kesulitan untuk menyesuaikan diri di tempat itu."
"Apa kamu tidak mau mengubah pikiranmu?"
Matthew tampaknya tidak sadar lagi jika mereka sedang berada di dalam ruang bioskop, hingga dia menaikkan nada suaranya saat bertanya kepada Chloe.
Sontak, hampir semua pengunjung yang ada di dalam ruangan untuk menonton itu, kemudian melihat ke arah Matthew dan Chloe, sambil memberi tanda agar Matthew tidak berisik di dalam situ.
Matthew yang tampak gusar, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan tampak berusaha berjalan ke luar, dengan berpegangan pada sandaran kursi yang berjejer di sana.
Melihat itu, Chloe segera berdiri dan menyusul Matthew.
"Untuk apa kamu menyusulku?" Matthew membentak Chloe, hingga pandangan orang-orang di dalam ruangan itu kembali tertuju kepadanya dan Chloe.
Chloe lalu menarik kerah kemeja Matthew, dengan kedua tangannya. Dan ketika Matthew sudah agak menunduk, Chloe kemudian berbisik-bisik di telinganya.
"Sikap Anda yang seperti inilah, yang membuat saya tetap memilih untuk berhenti bekerja di McLean property."
Chloe kemudian melepaskan pegangannya dari kerah kemeja Matthew, namun Matthew tetap menunduk dan mendekatkan wajahnya ke salah satu sisi wajah Chloe.
"Kalau aku bersikap baik kepadamu, apa kamu akan bertahan menjadi asistenku?" tanya Matthew, berbisik-bisik di telinga Chloe.
Chloe tahu, jika dia segera membantah Matthew, maka Matthew mungkin akan kehilangan kendali dan membuat keributan di situ.
Dengan demikian, Chloe hanya terdiam, sambil membantu Matthew berjalan, agar mereka bisa segera keluar dari ruang menonton itu.
Setelah mereka berada di luar gedung bioskop, dan Matthew sudah bersiap-siap untuk masuk ke dalam mobil, barulah Chloe kemudian berkata,
"Anda tidak perlu bersusah payah dengan berpura-pura bersikap baik. Karena saya telah membulatkan tekad untuk berhenti menjadi asisten Anda."
"Chloe! ... Aku menyukaimu! Aku tidak mau orang lain menggantikanmu di sisiku!" ujar Matthew.
"Pffftt...!" Chloe tertawa sambil buru-buru menutup mulutnya dengan punggung tangannya, lalu menghela napas panjang. "Please, Sir! ... Jangan berkata yang tidak-tidak!"
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?" tanya Matthew, terdengar seperti sedang bicara serius.
Matthew menyukai Chloe? Serius? Hal itu tentu tidaklah bisa dipercaya oleh Chloe.
Karena menurut Chloe, Matthew yang tidak suka disentuh oleh orang asing, tentu hanya akan merasa kesulitan, saat dia harus bekerja dengan orang lain yang nantinya akan menggantikan Chloe.
Masih ditambah lagi dengan sikap Matthew yang temperamental, yang memperbesar kemungkinan dari pengganti Chloe untuk berkhianat padanya, pastinya hanya akan memperburuk krisis kepercayaan Matthew.
Hanya dengan membayangkan semua kemungkinan saat Chloe digantikan oleh orang lain itu saja, tentu sudah bisa membuat Matthew kelelahan.
Dengan demikian, rasanya tidak mengherankan lagi, jika Matthew ingin melepaskan rasa frustrasinya, dengan asal bicara saja kepada Chloe.
Sehingga Chloe hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan hampir tertawa, sembari membantu Matthew masuk ke dalam mobil.
Setelah menutup pintu, Chloe kemudian bergegas masuk ke dalam mobil dari sisi berlawanan, lalu berkata,
"Anda tidak mungkin berharap agar saya mempercayainya, kan?!"
"Anda bersikap baik kepada saya saja, itu sudah sangat mengherankan. Apalagi, sampai Anda mengatakan kalau Anda menyukai saya?!
... Sudahlah! Anda jangan mencoba untuk membuat saya tertawa! Karena Anda tidak berbakat untuk menjadi seorang komedian."
"Chloe! ... Aku tidak sedang bermain-main!" ujar Matthew, dengan suaranya yang meninggi, namun Chloe tidak mau memikirkannya, dan justru mengalihkan pembicaraan mereka.
"Anda mau pergi ke mana sekarang?" tanya Chloe yang sudah mulai mengemudi, mengeluarkan mobil dari pelataran parkir gedung bioskop.
"Aku membencimu!" ujar Matthew, lalu memalingkan wajahnya, dan melihat ke luar jendela di sampingnya.
"Pffftt...! Kalau itu saya percaya," sahut Chloe, sambil tertawa.
"Aku tidak akan memberikanmu rekomendasi," kata Matthew, ketus.
"Tidak apa-apa. Tanpa rekomendasi dari Anda pun, saya tetap akan diterima bekerja di sana. Karena petinggi perusahaannya yang meminta saya secara langsung," sahut Chloe, sambil tersenyum lebar.
Dari ujung matanya, Chloe bisa melihat kalau Matthew sekarang sedang menatap Chloe, dan tampak geram.
"Kalau aku sampai tahu perusahaan yang mana yang memintamu, maka aku akan menekan perusahaan itu, agar mereka membatalkan penerimaanmu di sana....
... Aku tidak akan menandatangani surat pengunduran dirimu, dan aku juga akan menahan gaji terakhirmu." Matthew seolah-olah sedang mengancam Chloe.
"Hmm ... Saya mengenal orang-orang di kantor pemerintahan negara, yang bisa mengurus hak-hak dari tenaga kerja. Jadi, Anda hanya akan melakukan hal yang sia-sia, karena saya pasti bisa mengatasinya."
Chloe yang tetap tidak mau kalah, dan berbicara menantang Matthew sambil tersenyum lebar, tampaknya bisa membuat Matthew benar-benar meradang.
"Chloe!" ujar Matthew, dengan suaranya yang meninggi. "Kalau begitu, aku akan mengatakannya kepada daddy."
"Silahkan saja! ... Anda kan masih anak kecil yang membutuhkan bantuan dari orang tua Anda," sahut Chloe buru-buru, lalu tertawa terbahak-bahak.
Matthew tampaknya merasa sangat gemas dengan tingkah Chloe yang seolah-olah hanya mengejeknya, hingga dia secara tiba-tiba saja mencubit salah satu pipi Chloe.
"Auch! ... That's hurt!" Chloe meringis kesakitan, sambil menepis dan menghindari tangan Matthew. "Apa yang Anda lakukan? ... Itu berbahaya! Saya sedang mengemudi!"
"Pinggirkan mobilnya sekarang!" ujar Matthew, tegas dan terdengar serius.
Untung saja, Chloe berkendara hanya dalam kecepatan sedang, sehingga dia tidak terlalu kesulitan untuk menepikan mobilnya ke pinggir jalan, sesuai dengan arahan Matthew yang mendadak.
"Chloe! ... Kenapa kamu tidak mau mempertimbangkan ulang? Aku bahkan tidak bersikap kasar lagi kepadamu....
...Aku pun tidak lagi menuntut agar kamu menjauhi David, walaupun aku sangat kesal melihatnya yang tetap berusaha untuk mendekatimu....
... Lalu apa alasannya? Tidak mungkin kamu meminta agar aku percaya, kalau kamu hanya mengingat tindakanku yang kasar di waktu-waktu sebelumnya," ujar Mathew, panjang lebar.
Sambil bertatapan mata dengan Matthew, Chloe mendengus pelan, lalu berkata,
"Sir! ... Anda ingin tahu alasannya mengapa saya memilih untuk tetap berpindah tempat kerja, padahal rasanya saya sudah pernah memberitahu Anda sebelumnya....
...Sejujurnya, memang benar karena tingkah Anda lah yang pertama mencetuskan ide bagi saya untuk mencoba pekerjaan baru. Tapi untuk selanjutnya, itu adalah hasil dari pemikiran saya yang berulang....
... Menurut saya, kalau saya mencoba untuk bekerja di tempat lain, itu adalah yang terbaik bagi saya. Selain untuk menambah pengalaman, mungkin saya juga bisa belajar hal yang baru di sana."
"Jadi kamu tetap akan bertahan dengan pendirianmu?" tanya Matthew, seolah-olah dia masih tidak bisa mempercayai pernyataan Chloe.
"Iya," jawab Chloe, singkat.
Kali ini, Matthew tampak menghela napas panjang, dan mengembuskannya pelan, seakan-akan dia memang bisa menerima keputusan Chloe.
"Kalau memang sesuai dengan rencana awalmu, berarti waktu yang tersisa tidak lebih dari 2 minggu. Sebaiknya kamu membantuku untuk mempersiapkan penggantimu."
Setelah dia selesai bicara, tanpa menunggu tanggapan dari Chloe lagi, Matthew kemudian segera memalingkan wajahnya, dan melihat ke arah jendela di sampingnya.
"Baik, Sir!" sahut Chloe, memberikan kepastiannya. "Anda mau pergi ke mana sekarang?"
"Aku rencananya ingin makan malam di luar denganmu. Tapi aku tidak tahu di mana restoran yang bagus, yang bisa kita kunjungi tanpa perlu reservasi," jawab Matthew, sambil tetap melihat ke luar jendela.
"Saya bisa membuat reservasi di restoran langganan Mister Nathan. Tapi di sana ada dress code, jadi kita harus pulang dulu untuk berganti pakaian."
Chloe berbicara sambil memperhatikan kaca spion, untuk mengikutkan mobilnya di perlintasan jalan raya, di antara pengguna jalan yang lain.
"Kita pergi ke pusat perbelanjaan saja dulu! ... Berhubung masih ada waktu untuk berbelanja, aku ingin membeli sesuatu di sana," kata Matthew.
"Baik, Sir!" sahut Chloe.