Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 36



Matthew memang tidak mengungkit lagi tentang rencana Chloe untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.


Akan tetapi, raut wajah yang diperlihatkan Matthew sejak mereka terbangun pagi tadi, menampakkan seolah-olah masih ada sesuatu yang tidak berkenan baginya.


Sampai saat ini, ketika mereka sarapan pagi bersama Matteo.


Ekspresi tidak senang di wajah Matthew masih tampak dengan jelas. Di mana bibirnya yang manyun, seolah-olah akan terjatuh ke lantai saat dia cemberut seperti itu.


Matthew juga tidak berbicara apa-apa untuk ikut menanggapi pembicaraan Matteo dengan Chloe, dan hanya terlihat menyantap makanannya dengan gaya dan gerakan yang kasar.


Walaupun Chloe memperhatikan gerak-gerik Matthew, namun Chloe tidak mau mengomentarinya, dan berpura-pura tidak menyadari akan suasana hati Matthew yang buruk.


"Kamu mau melihatnya denganku sebentar?" tanya Matteo kepada Chloe.


Pada hari ini, Matteo akan pindah ke rumahnya sendiri yang sudah siap untuk ditempati.


Karena proses renovasi dan semua barang-barang milik Matteo pun sudah tiba, dan bahkan sudah selesai ditata di dalam rumahnya.


Sehingga Matteo ingin mengajak Chloe untuk berkunjung ke rumahnya lagi, dengan memanfaatkan waktu di hari ini, di mana Chloe masih libur akhir pekan.


Sebenarnya, Chloe mau saja melihat-lihat di dalam rumah Matteo, karena Chloe yang merasa cukup penasaran, akan bagaimana studio musik milik Matteo yang katanya sudah siap untuk digunakan.


Tapi....


"Hmm...." Chloe bergumam sambil melirik Matthew yang duduk di sampingnya. Secara berhati-hati, Chloe kemudian mencoba meminta izin dari Matthew, dengan berkata,


"Apa saya bisa pergi berkunjung ke rumah Mister Matteo?"


"Untuk apa?" Matthew yang balik bertanya dengan nada suara yang sinis, hanya membuat Chloe menjadi ragu untuk menyetujui ajakan dari Matteo.


"Kami tidak akan lama ... Memangnya apa yang akan terjadi padamu, jika kami meninggalkanmu sendiri?" Matteo tampak ingin menekan Matthew, agar memberikan izinnya kepada Chloe.


"Antarkan aku ke ruang kerja terlebih dulu...!" ujar Matthew kepada Chloe, lalu menatap tajam ke arah Matteo.


"Baik, Sir!" sahut Chloe.


Setelah selesai menghabiskan sarapan mereka di situ, Chloe kemudian membawa Matthew ke ruang kerja, menyesuaikan dengan permintaan Matthew tadi.


Karena Matthew tampak sudah siap di kursi kerjanya, Chloe kemudian ingin memastikan kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan oleh Matthew, sebelum Chloe pergi dengan Matteo.


"Apa ada yang Anda inginkan?" tanya Chloe.


"Apa kamu sudah tidak sabar untuk pergi dengan Matteo?" Matthew balik bertanya, sambil memberikan tatapannya yang tajam kepada Chloe.


Chloe terdiam, karena tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pertanyaan Matthew.


Sekadar menebak-nebak, kalau Matthew masih ingin agar dia tetap menemani di ruangan itu, sehingga Chloe kemudian menggeser salah satu kursi, agar dia bisa duduk bersebelahan dengan Matthew.


"Apa kamu tidak jadi ikut dengan Matteo?"


Pertanyaan Matthew itu benar-benar hanya membuat Chloe bingung, karena dia yang tidak bisa mengira-ngira lagi, akan apa yang sebenarnya Matthew inginkan.


Sembari menghela napasnya panjang, dan mengembuskannya dengan perlahan, Chloe menatap Matthew lekat-lekat.


"Maafkan saya, Sir," ucap Chloe, tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Matthew.


"Tolong Anda jangan menarik-ulur seperti layangan, dan membuat saya yang harus menebak-nebak....


... Sebenarnya Anda mengizinkan saya pergi ke rumah Mister Matteo atau tidak? Saya akan menuruti apa yang Anda katakan," ujar Chloe, memastikan.


"Bagaimana kalau aku melarangmu?" tanya Matthew, tampak mengangkat kedua alisnya, dan melipat tangan di depan dadanya.


"Kalau begitu, saya tidak akan pergi. Saya akan menemani Anda di sini," jawab Chloe, kemudian berdiri dan menyalakan laptop Matthew.


"Apa aku memintamu untuk menyalakan laptopku?"


Pertanyaan Matthew itu, terdengar seolah-olah dia sedang ingin memancing pertengkaran dengan Chloe, hingga Chloe berhenti bergerak, dan berdiri terpaku di situ.


Sekarang masih cukup pagi, dan Chloe sama sekali tidak berminat untuk bersitegang dengan Matthew.


Walaupun demikian, rasanya Chloe tetap ingin menggerutu, karena sikap Matthew yang temperamental itu.


"Untuk fisik memang sangat mirip, tapi tidak dengan sikapnya," celetuk Chloe dengan suara berbisik-bisik, yang menurutnya tidak akan bisa terdengar oleh Matthew.


"Apa katamu?" tanya Matthew.


Chloe yang baru saja akan duduk kembali ke kursinya, hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa."


"Meskipun wajah Anda sangat mirip dengan Mister Matteo. Tapi sikap Mister Matteo sangat bertolak belakang dengan Anda," sahut Chloe.


Melihat kalau Matthew seolah-olah masih menunggu penjelasan lebih lanjut darinya, Chloe lalu lanjut berkata,


"Sikap Mister Matteo manis dan ramah ... Apa masih perlu saya jelaskan perbedaannya dengan sikap Anda?"


Matthew kelihatannya akan murka saat itu juga.


Namun, karena Chloe tadi memang berniat untuk meledek Matthew, sehingga Chloe hanya tertawa melihatnya, sampai-sampai Matthew justru tampak kebingungan, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


Menggunakan dua jari telunjuknya, Chloe lalu menyentuh sudut bibir Matthew dan sedikit mendorongnya naik, agar membuat Matthew terlihat seperti sedang tersenyum.


Begitu juga di bagian kening Matthew yang ditekan Chloe dengan ibu jarinya, hingga Matthew mengendurkan otot yang menautkan alisnya.


"Begini lebih baik!" ujar Chloe, bersemangat. "Jangan terlalu pemarah...! Nanti Anda akan jadi lebih cepat berkeriput."


Sambil tersenyum lebar, Chloe memandangi setiap sudut dari wajah Matthew, seolah-olah itu adalah sebuah lukisan yang menjadi hasil karyanya.


"Kamu akan membuatku salah paham," celetuk Matthew, lalu memalingkan wajahnya.


"Ugh?" Chloe tidak mengerti.


"Kamu bisa pergi dengan Matteo ... Tapi jangan terlalu lama di sana," ujar Matthew, yang terlihat sudah terfokus memandangi tampilan layar laptopnya.


"Baik!" Chloe kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Saya pergi dulu, Sir!"


Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya, Matthew mengangguk setuju, hingga Chloe kemudian bergegas pergi dari ruang kerja Matthew itu.


Ketika Chloe berjalan mengarah ke pintu depan, Matteo terlihat sudah berada di sana sambil tersenyum lebar, menunggu kedatangan Chloe.


"Kenapa lama sekali?" tanya Matteo, tampak penasaran.


"Hmm ... Sama seperti biasanya," sahut Chloe, sambil tersenyum, dan hampir tertawa.


Matteo yang kelihatannya mengerti akan maksud Chloe, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mulai berjalan bersama dengan Chloe, mengarah ke rumah pribadinya.


Sembari berjalan pelan dengan Matteo, Chloe terpikir akan apa yang baru saja terjadi dengan Matthew tadi.


Menurut Chloe, emosi Matthew yang sering meledak-ledak, mungkin lebih mirip dengan sikap anak kecil yang mengalami tantrum.


Sehingga saat Chloe menghadapinya dengan kepala dingin, dan memperlakukannya seperti sedang membujuk anak kecil, justru sanggup untuk mengatasi kemarahan Matthew.


Chloe senyum-senyum sendiri, karena merasa kalau dia mungkin sudah menemukan titik kelemahan Matthew.


Dengan demikian, maka setiap kali Matthew marah kepadanya, mungkin Chloe akan mencoba melakukannya lagi, sambil terus memperhatikan, apakah dengan cara-cara yang mirip-mirip seperti tadi, memang akan selalu berhasil.


"Ada apa?" tanya Matteo, yang mungkin terus memperhatikan gerak-gerik Chloe, sehingga dia kemudian lanjut berkata,


"Apa yang membuatmu bisa tersenyum seperti itu?"


"Oh! ... Tidak ada apa-apa," sahut Chloe, sambil tersenyum lebar.


"Belakangan ini, kelihatannya banyak yang kamu pikirkan," kata Matteo, lalu membuka pintu rumahnya, dan mempersilahkan Chloe masuk.


"Hmm ... Sebenarnya, saya tadi hanya memikirkan bagaimana perbedaan antara Anda dan Mister Matthew," sahut Chloe.


"Itu kelihatannya akan sulit," kata Matteo, kemudian menghadang langkah Chloe, dengan berdiri di depannya.


"Untuk apa?" tanya Matteo, dengan nada suara yang terdengar sinis, dan memasang ekspresi kaku di wajahnya. "Jangan berlama-lama!"


Matteo yang mendadak bertingkah seolah-olah akan memarahinya, hanya membuat Chloe merasa kebingungan melihatnya.


Sehingga Chloe hanya memandangi Matteo untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia menyadari, kalau Matteo saat ini sedang meniru gaya Matthew.


Chloe tertawa terbahak-bahak.


"Kalau aku seperti itu, apa kamu bisa membedakan kami?" tanya Matteo, sambil tersenyum lebar.


"Saya rasa, saya pasti akan kesulitan," jawab Chloe, sambil terus tertawa.


Matteo kemudian memegang tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat, lalu membawa Chloe berjalan bersamanya, seraya berkata,


"Aku akan berusaha, agar kamu tetap bisa membedakan antara aku dengan Matthew. Aku tidak mau kamu sampai salah menganggap bahwa Matthew adalah aku."