Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 69



Karena arahan Matthew yang tiba-tiba dan menyentak, sehingga Chloe tidak sempat memikirkan apa-apa lagi, dan hanya bisa segera berdiri dari tempat duduknya, sembari berkata,


"Baik, Sir! ... Maafkan saya."


"B*rengsek!" ujar David membentak Matthew, lalu ikut berdiri bersama Chloe. "Tidak mengherankan, jika Chloe tidak mau bekerja padamu."


"Chloe! ... Ayo kita pergi dari sini!" ajak David sambil memegang tangan Chloe, dan tampak ingin membawa Chloe keluar dari rumah Matthew.


"Tapi, Sir...." ujar Chloe yang merasa ragu-ragu, dan di saat yang bersamaan, Matthew juga ikut berkata,


"Chloe! Apa kamu tidak tahu diri? Kamu sudah menerima bayaran, lalu kamu akan meninggalkan pekerjaanmu begitu saja tanpa menuntaskannya?"


"Aku akan mengganti kerugianmu. Katakan saja berapa jumlahnya!" sahut David, tampak tidak mau kalah.


"Hah?! ... Apa begitu caranya kamu memperlakukan pegawaimu yang tidak becus bekerja?" ujar Matthew, dengan suara mengejek.


"Please, Sir!" kata Chloe, mencoba menengahi perdebatan antara Matthew dan David agar tidak berlanjut.


Chloe menatap David, kemudian dengan perlahan, Chloe lalu berkata,


"Tolong jangan membesar-besarkan hal ini...! Saya akan melakukan pekerjaan saya...."


Chloe lalu bergegas pergi menuju ke dapur untuk menemui asisten rumah tangga Matthew, sementara David juga tampak menyusulnya ke sana.


"Oh, gosh! ... Aku membencinya!" ujar David yang tampak geram, sembari berjalan bersama Chloe.


"Tidak masalah, Sir ... Anda tidak perlu memikirkannya. Tidak selamanya saya akan menjadi bawahan dari Mister Matthew," sahut Chloe, berkata jujur.


Bagaimana tidak?


Matthew mengatakan cinta kepada Chloe, tetapi laki-laki itu justru bermesraan dengan wanita lain di depan Chloe.


Tentu jadi hal yang wajar, jika Chloe menganggap bahwa Matthew memang hanya ingin bermain-main saja dengannya.


Matthew tampaknya hanya membutuhkan Chloe untuk sementara waktu, sampai laki-laki itu bisa membangun kepercayaan kepada orang lain.


Dengan demikian, semakin besar kemungkinan bagi Chloe untuk menerima tawaran pekerjaan dari JT Corp, dan berpindah tempat tinggal ke kota yang baru itu.


Setelah memberikan arahannya kepada asisten rumah tangga Matthew untuk menyajikan makan malam, Chloe kemudian segera kembali menemui Matthew, sambil tetap diikuti langkahnya oleh David.


"Makan malamnya sudah siap, Sir!" kata Chloe kepada Matthew.


Matthew masih memasang raut wajah tidak senang melihat Chloe dan David, tetapi dia kemudian tersenyum lebar, saat mengajak Judy untuk makan malam bersamanya.


"Apa kalian tidak ikut makan malam dengan kami? Aku rasa, Matthew tidak akan keberatan," ujar Judy, yang terdengar sudah semakin akrab dengan Matthew, hingga bisa berbicara seperti itu.


"Maafkan saya, Miss Parker ... Anda bisa makan malam berdua saja dengan Mister Matthew," sahut Chloe, lalu terpikir untuk berkata, "Saya akan ke paviliun, dan makan malam bersama Mister David di sana."


Walaupun dia tidak berkata apa-apa, dan bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Chloe, namun Chloe sempat melihat kalau Matthew tampak mengeraskan rahangnya.


Tetapi Chloe tidak peduli walaupun Matthew merasa kesal, asalkan Matthew tidak mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya.


Melihat kalau Matthew sudah berjalan mengarah ke ruang makan bersama Judy tanpa berkata apa-apa lagi, Chloe lalu berkata kepada David.


"Saya tidak memiliki sesuatu yang enak untuk menjamu Anda...."


"Asalkan kamu tidak memintaku agar segera pulang, aku tidak keberatan dengan semangkuk mie instan," kata David, lalu menggandeng tangan Chloe, dan berjalan bersama menuju ke paviliun.


David yang memperhatikan setiap sudut dari bagian dalam paviliun, kemudian berceletuk,


"Tempat ini sangat sempit!"


"Hmm ... Anda salah! ... Tempat ini sangat luas, jika dibandingkan dengan apartemen studio yang menjadi tempat tinggal saya yang dulu," sahut Chloe, sembari menyelesaikan pemesanan makanan lewat ponselnya.


Chloe lalu membuka pintu lemari es dan melihat apa yang masih ada di dalamnya.


"Saya hanya punya bir kaleng dan soda!" kata Chloe, malu-malu. "Apa Anda mau?"


"Aku mau bir...." jawab David, sembari duduk di kursi.


Chloe mengambil dua kaleng bir, lalu meletakkannya ke atas meja, sembari ikut duduk di kursi berhadap-hadapan dengan David.


"Judy...." celetuk David, sembari membuka tutup kaleng bir, lalu menatap Chloe. "Ternyata Judy, wanita yang sedang dekat dengan Matthew."


Setelah David mengatakan hal itu, barulah Chloe teringat kalau seharusnya tidak boleh ada yang tahu, akan siapa orangnya yang sedang dekat dengan Matthew.


Namun, mempertimbangkan bahwa Matthew sendiri yang mengizinkan David datang, sementara Judy berkencan dengannya, maka Matthew mungkin sudah meyakinkan Judy.


Matthew mungkin sudah membicarakannya dengan Judy, agar wanita itu tidak terpengaruh, seandainya ada siapapun yang coba-coba untuk mengganggu hubungan mereka berdua.


Semakin mengesalkan saja, saat Chloe membayangkan, bagaimana Matthew yang mungkin menertawakan kebodohan Chloe, yang lagi-lagi jatuh cinta kepada orang yang salah.


Sudahlah!


Rasanya tidak terlalu memalukan, karena Chloe tidak sempat memperlihatkan bahwa dia sangat senang, saat Matthew berpura-pura jatuh cinta kepadanya.


Chloe juga tetap bersikap biasa di depan Matthew, dan tidak menampakkan dirinya yang seolah-olah sangat berharap agar dia bisa menjadi kekasih Matthew.


"Sudah berapa lama?" tanya David, menyadarkan Chloe yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Sudah berapa lama Matthew dekat dengan Judy?"


"Hmm ... Kurang lebih seminggu belakangan," jawab Chloe, mengira-ngira.


David yang baru saja menyesap sedikit birnya, tampak manggut-manggut seolah-olah dia mengerti, lalu tampak seperti tersentak. "Besok lusa, apa kamu mau menghabiskan libur akhir pekan bersamaku?"


"Hmm...." Chloe bergumam ragu-ragu.


"Aku sudah mempersiapkannya," kata David, seolah-olah ingin meyakinkan Chloe agar mau ikut dengannya, dan lanjut berkata,


"Aku hampir lupa memberitahumu, karena pikiranku terganggu atas rencanamu yang ingin berpindah ke kota lain."


"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa ... Anda lihat sendiri bagaimana keadaan tadi. Saya berniat menuntaskan sisa masa kerja saya dengan baik," sahut Chloe, seadanya.


"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu berubah pikiran? Jika aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk meyakinkanmu," ujar David, tampak kecewa.


Chloe mendengus kasar. "Please, Sir! ... Anda tidak perlu memikirkan hal itu. Saya akan mempertimbangkannya sendiri."


Tidak berapa lama, pesanan Chloe sudah datang dan David yang menerimanya di gerbang depan, sementara Chloe menunggunya dengan mempersiapkan meja untuk mereka makan.


Ketika David kembali ke paviliun, dia tidak sendiri lagi, melainkan terlihat Matteo yang ikut bersamanya.


"Hai, Chloe!" sapa Matteo, sambil tersenyum lebar. "Apa kedatanganku hanya mengganggu?"


"Ugh? ... Oh! ... Tidak, Sir!" sahut Chloe, yang keheranan karena keberadaan Matteo di situ yang tiba-tiba saja. "Silahkan duduk, Sir!"


David menata makanan yang dikeluarkannya dari dalam bungkusan, sembari berkata,


"Apa kamu sudah makan malam? ... Kelihatannya pesanan ini hanya cukup untuk 2 orang."


"Aku sudah makan," jawab Matteo, sambil menatap kaleng bir yang masih berada di atas meja. "Apa masih ada untukku?"


Chloe yang mengerti maksud dari pertanyaan Matteo itu, lalu mengambilkan sekaleng bir, sembari berkata,


"Tapi saya hanya punya ini!"


"Tidak jadi masalah, itu sudah lebih dari cukup ... Asalkan kamu tidak mengusirku dari sini," sahut Matteo, lalu membuka tutup kaleng bir dan menyesapnya sedikit.


"Oh, geez!" Chloe baru teringat akan permintaan Matteo itu. "Maafkan saya ... Sepanjang hari ini pekerjaan saya sangat padat. Saya lupa untuk memberitahu Mister David."


"Tidak apa-apa ... Aku tahu kalau kamu pasti tidak sengaja melupakannya," kata Matteo, terdengar tanpa beban.


Matteo lalu mempersiapkan ponselnya, sementara David menyebutkan nomor kontak pribadinya.


"Apa yang dilakukan Matthew?" tanya Matteo, sembari menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya.


"Matthew sedang berkencan." David yang menjawab pertanyaan dari Matteo itu.


"Apa dia masih mengencani...." Matteo tampak memikirkan sesuatu. "Siapa namanya? Aku lupa!"


"Miss Judy Parker," jawab Chloe, lalu menyantap sedikit makanannya.


Matteo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hubungannya berarti cukup serius dengan Judy."


"Jadi kamu sudah tahu?" tanya David kepada Matteo.


"Iya ... Aku bahkan diperkenalkan oleh Matthew kepada wanita itu," jawab Matteo, terlihat seperti orang kebingungan.


"Wanita seperti Judy itu menurutku adalah wanita yang pasaran. Sementara Matthew adalah orang yang sulit untuk didekati....


... Tapi jika Judy berhasil mendekatinya, maka pasti ada kelebihannya yang menarik perhatian Matthew," lanjut Matteo, lalu menyesap sedikit birnya.


"Apa seleramu akan wanita, sama dengan Matthew?" tanya David, seolah-olah ingin menggali informasi dari Matteo.


"Hmm ... Sepanjang yang aku tahu, Matthew hanya sekali berkencan dengan seseorang. Dan waktu itu, wanita yang disukai Matthew, aku juga menyukainya," jawab Matteo, tampak berbicara sambil berpikir.


"Tapi, mungkin saja kalau seleranya berubah, karena dia tidak mau aku merebut kekasihnya," lanjut Matteo sambil tersenyum, seolah-olah dia sedang mengejek Matthew, meskipun Matthew tidak berada di situ.


"Kamu merebut kekasihnya?" tanya David, tampak penasaran.


"Iya ... Tidak sulit ... Aku dan Matthew sangat mirip, kecuali sifat kami. Dengan sikapku yang lebih manis darinya, aku bisa membuat kekasihnya memilihku."


Matteo yang seakan-akan sedang membanggakan dirinya sendiri, menarik perhatian Chloe dan David, hingga menatapnya lekat-lekat.


"Pffftt....!" Matteo lalu tertawa tertahan, sambil memandangi Chloe serta David bergantian.


"Aku hanya bercanda ... Memang benar kalau aku dan Matthew menyukai satu wanita yang sama. Tapi aku tidak berbuat apa-apa untuk merayunya, saat dia sudah menjadi kekasih Matthew....


... Wanita itu sendiri yang memilih untuk meninggalkan Matthew, dan mengajakku agar berkencan dengannya," kata Matteo, tampak ingin menjelaskan.


"Wajar saja!" ujar David, tiba-tiba. "Matthew adalah orang paling b*rengsek yang pernah aku temui."


"Ugh? ... Apa ada sesuatu yang terjadi?" Matteo tampak penasaran.


"Dia mengasari Chloe...." jawab David, sehingga Chloe membantahnya, dengan berkata,


"Please, Sir...!"


"Kamu tidak perlu khawatir! Matteo pasti tidak akan membelanya," kata David yang terlihat yakin kepada Chloe, lalu menoleh ke arah Matteo, dan lanjut berkata,


"Mulut Matthew rasanya perlu diberi pelajaran. Dia merendahkan Chloe, walaupun ada aku dan Judy di situ."


"Please, Sir...!" ujar Chloe memelas, agar David berhenti membicarakan kejadian tadi.


Seakan-akan dia tidak peduli, dengan Chloe yang memintanya untuk berhenti bicara, David yang terlihat geram, justru lanjut berkata,


"Bukan hanya menolak tawaranmu ataupun tawaranku, Chloe justru akan pindah ke luar kota."


"Ugh? Benarkah?" Matteo tampak tersentak, dengan alisnya yang terlihat mengerut dalam-dalam. "Chloe! ... Kamu akan pergi ke mana?"


Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kita harus membahas tentang hal itu?"


"Sudah saya katakan, kalau itu adalah keputusan saya. Dan tidak ada urusannya dengan orang lain. Anda berdua hanya membuat kepala saya sakit," lanjut Chloe, dengan perasaan sebal.


Sembari sama-sama memasang raut wajah kecewa, Matteo serta David akhirnya hanya terdiam dan menatap Chloe.


"Ini! ... Cicipi ini sedikit!" ujar Chloe mencoba mengalihkan pembicaraan, dengan menyodorkan makanannya kepada Matteo.


Walaupun tampak terpaksa, namun Matteo mau saja memakan makanan yang disuapkan Chloe ke mulutnya.


"Apa Anda berdua suka seafood?" tanya Chloe, masih berusaha untuk mengajak kedua laki-laki itu, agar membicarakan hal yang lain. "Kalau Anda mau, maka hari Minggu nanti, saya akan memasak seafood untuk Anda berdua di sini,"


Perkataan Chloe selanjutnya itu, kelihatannya berhasil memancing reaksi dari Matteo serta David, yang secara serempak mengangguk setuju.


"Aku mau!"


Baik David maupun Matteo, juga menyahut secara bersamaan, hingga mereka berdua saling bertatap-tatapan, dengan memasang raut wajah yang sama-sama terlihat bingung.


Chloe tersenyum lebar, ketika melihat gerak-gerik dari Matteo serta David itu. "Okay! ... Jangan lupa untuk datang ke sini hari Minggu nanti!"


Untuk selanjutnya, Matteo, David, dan Chloe bisa berbincang-bincang santai, membahas tentang apa yang masing-masing mereka kerjakan, tanpa menyinggung akan rencana kepindahan Chloe.


Saking asyiknya mengobrol, mereka bertiga bahkan seolah-olah melupakan lamanya waktu yang telah mereka habiskan di situ.


Chloe yang kemudian terpikir untuk melihat arloji di pergelangan tangannya, lalu tersadar bahwa sekarang ini sudah hampir larut malam.


"Sir! ... Maafkan saya ... Tapi, saya rasa sekarang ini saya harus meminta agar Anda berdua pulang. Karena sudah waktunya bagi saya untuk memeriksa Mister Matthew," kata Chloe, berhati-hati.


Sambil memasang raut wajah kecewa, David serta Matteo lalu tampak saling bertatapan untuk beberapa saat, hingga Chloe lanjut berkata,


"Anda berdua jangan lupa untuk datang ke sini hari Minggu siang."


"Okay!" sahut Matteo, yang kembali terlihat bersemangat.


Tidak jauh berbeda dengan David, yang tersenyum lebar, sembari berkata,


"Tentu saja aku tidak akan melewatkannya. Aku akan membawa champagne."


Segera setelah itu, Matteo serta David lalu berpamitan dengan Chloe, sembari bergantian memberikan pelukan perpisahan kepada Chloe, sebelum mereka berlalu pergi dari paviliun.


Kemudian, dengan tergesa-gesa, Chloe pergi ke rumah utama, untuk menemui Matthew di sana.


Di dalam rumah itu, Chloe mencari-cari keberadaan Matthew, yang kemudian didapatinya sedang duduk sendirian, berselonjor di atas tempat tidurnya, sembari menatap layar ponselnya.


"Hai, Sir!" Chloe menyapa Matthew, sembari berjalan menghampirinya, hingga Matthew mengangkat pandangannya melihat ke arah Chloe.. "Bagaimana ken—"


Chloe tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena secara tiba-tiba saja, Matthew menariknya sampai terduduk di atas pangkuannya, dan mengendus aroma dari tubuh Chloe.


Kelihatannya Matthew sangat kesal, hingga bunyi gemeretak dari gigi-giginya yang saling beradu, bisa terdengar oleh Chloe.


"Sir! ... Apa ada yang salah?" tanya Chloe, kebingungan.


"B*rengsek! ... Apa kamu sudah puas bersenang-senang? ... Aku membencimu!" ujar Matthew, membentak Chloe.


Walaupun dia terlihat geram, namun Matthew justru memeluk Chloe dengan erat.


"Sir!" ujar Chloe, masih tidak mengerti.


"Kamu dipenuhi dengan aroma David! ... Yang satu lagi, ... apa itu parfum Matteo? Kamu membiarkan kedua orang itu memelukmu?" Suara Matthew terdengar semakin bergetar.