
Chloe tidak menanggapi kekesalan Matthew, dan justru berpura-pura seolah-olah dia tidak menyadarinya, dan menghampiri Matthew sambil tersenyum.
"Jika Anda sudah selesai memilih, apa Anda bisa memberitahu saya sekarang, yang mana saja yang ingin Anda wawancarai besok?"
Melihat kalau Matthew tidak menanggapi pertanyaannya, Chloe kemudian lanjut berkata,
"Saya akan mengirimkan email, sementara Anda mandi untuk menghilangkan aroma parfum Miss Parker dari tubuh Anda."
Kelihatannya, walaupun Chloe hanya berpura-pura untuk ikut dalam permainan Matthew, namun bisa membuat Matthew tidak mencurigai apa-apa.
Matthew justru terlihat senang, hingga dia tersenyum lebar sembari berkata,
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sebelumnya?"
Dengan memperlihatkan layar laptop kepada Chloe, Matthew kemudian menunjuk 3 pemilik CV, yang menurutnya bisa mengemban tugas sebagai asisten untuknya nanti.
"Yang itu saja!" kata Matthew, yang terlihat yakin dengan pilihannya, kemudian berdiri dan tampak bersiap-siap untuk berjalan. "Tolong bantu aku ke kamar mandi!"
"Baik, Sir!" Chloe yang menggandeng Matthew, lalu teringat sesuatu. "Sir! ... Besok, sudah waktunya bagi Anda untuk menemui dokter, dan memeriksakan ulang kaki Anda."
"Iya...." Matthew terdengar ragu-ragu, seolah-olah ada yang ingin dia katakan.
"Hmm ... Chloe! ... Kalau kakiku sudah bisa dipakai berjalan seperti biasanya, apa kamu masih mau menemaniku lagi?" tanya Matthew.
"Jika Anda sudah bisa bergerak bebas, untuk apa saya masih harus tidur di sini menemani Anda?" sahut Chloe, tanpa beban.
Setelah Matthew sudah terduduk di tepi bajan mandi, Chloe segera berbalik, hendak meninggalkan Matthew di sana. "Anda bisa memanggil saya, jika Anda sudah selesai."
Sembari menunggu Matthew membersihkan dirinya, Chloe kemudian mengirim surat elektronik kepada bagian personalia.
Dan sesuai perkiraan Chloe, bahwa pegawai di bagian personalia pasti akan ada yang bekerja lembur, tidak berapa lama kemudian, surat elektronik dari Chloe lalu mendapat tanggapan dari salah satu staf di sana.
Dengan demikian, Chloe lalu berinteraksi dengan pegawai dari bagian personalia itu lewat sambungan telepon, mengatur jadwal wawancara pelamar yang akan dilakukan besok hari.
Saat berbincang-bincang dengan pegawai bagian personalia, Chloe jadi teringat kalau mungkin ada jadwal Matthew yang tampaknya telah terlewatkan oleh Chloe.
Sehingga setelah pembicaraan di telepon itu berakhir, dan Matthew belum memanggilnya, Chloe beranjak pergi ke paviliun untuk mengambil komputer tablet.
Betapa terkejutnya Chloe, ketika dia berjalan kembali memasuki kamar Matthew, dan Matthew terlihat sudah berdiri di dekat pintu kamar, hanya dengan berlilitkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Chloe bahkan hampir saja menjatuhkan komputer tablet dari tangannya. "Geez! ... Apa yang Anda lakukan? Anda membuat saya benar-benar terkejut!"
"Kamu dari mana saja? ... Aku memanggilmu berulang kali," kata Matthew seolah-olah tidak peduli, walaupun Chloe hampir kena serangan jantung karenanya.
"Saya rasa saya telah melewatkan 1 jadwal Anda. Jadi, saya pergi mengambil IPad di paviliun untuk memeriksanya," jawab Chloe, lalu memandangi kaki Matthew. "Apa kaki Anda sudah tidak sakit lagi?"
Namun, Matthew tidak segera menjawab pertanyaan Chloe.
Sehingga Chloe mengangkat pandangannya, sampai dia bertatapan mata dengan Matthew. "Sir?"
"Apa hanya kakiku yang kamu khawatirkan?" tanya Matthew, ketus.
Tiba-tiba saja, Matthew memeluk Chloe sampai terangkat dari lantai, lalu membawa Chloe masuk ke dalam kamar, dan dengan sebelah kakinya, Matthew mendorong daun pintu sampai menutup.
"Sir! ... Apa yang Anda lakukan?" tanya Chloe, cemas.
Tetapi Matthew masih saja memeluk Chloe, lalu membaringkannya ke atas tempat tidur. Dan tampaknya, Matthew akan menindih Chloe di situ.
"Jangan coba-coba untuk berbuat yang tidak-tidak! ... Saya tidak akan segan-segan untuk menuntut Anda nanti!" ujar Chloe, dengan suara bergetar ketakutan.
"Geez! ... Aku memeluk kekasihku. Apa yang salah?" ujar Matthew dengan memasang tampang masa bodoh, lalu mengecup kening Chloe.
Sembari menatap Chloe lekat-lekat, Matthew kemudian berkata,
"Tenang saja! ... Walaupun aku sangat ingin menyentuhmu, tapi aku tahu batasannya."
Seolah-olah sedang memberi tanda kepada Chloe, sepintas Matthew tampak melirik ke arah dadanya, lalu tersenyum lebar. "Justru kamu yang memegang dadaku!"
Tanpa berpikir panjang, Chloe hampir menjauhkan kedua telapak tangannya, tetapi dia segera kembali tersadar. "Anda jangan menipu saya!"
Sambil tetap menahan posisi tangannya sebagaimana adanya, dan dengan rasa sebal, Chloe buru-buru lanjut berkata,
"Saya tidak berniat untuk memegang dada Anda. Saya hanya menyanggahnya saja, agar Anda tidak menindih saya."
"Pffftt...! Okay, okay! ... Kamu memang tidak bisa ditipu," kata Matthew, sambil tertawa tertahan. "Tapi, ... apa kamu tidak akan mengizinkanku untuk memelukmu?"
"Hanya saat kita di rumah seperti ini saja, aku bisa berkesempatan untuk bebas bermesraan denganmu," lanjut Matthew, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
Chloe mendengus kasar. "Sebaiknya, Anda berpakaian saja dulu ... Rambut Anda juga masih basah."
"Tsk! ... Sebentar saja...! Please...!" ujar Matthew, tampak berusaha membujuk Chloe.
Kelihatannya, memang benar apa kata Matthew, bahwa Chloe adalah orang yang bodoh dan tidak peka dalam urusan percintaan.
Hanya dengan memandangi mata Matthew yang memberinya tatapan sayu, Chloe sudah bisa terlena dan tenggelam dalam rasa cintanya kepada laki-laki itu.
Chloe pun sampai bisa termakan dengan bujukan Matthew yang bermulut manis, hingga membiarkan Matthew memeluk dan menciumnya saat ini.
Padahal, Chloe sudah berniat untuk menjaga jarak dari Matthew, sampai Chloe bisa membuktikan bahwa Matthew memang bersungguh-sungguh mencintainya.
Jika terus-menerus berlanjut seperti ini keadaannya, maka Chloe mungkin tidak akan pernah bisa berpikiran jernih, dan bisa saja jika Chloe justru mengambil keputusan yang salah.
***
"Seandainya saja kamu nanti meninggalkanku, tapi paling tidak, aku sudah mendapat kesempatan untuk menikmati cintamu untukku."
Apa yang dikatakan oleh Matthew kepadanya malam tadi, masih terngiang-ngiang di dalam telinga Chloe.
Chloe bahkan sampai merasa kesulitan untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya hari ini, yang sebagian besar dilakukan di luar kantor, karena jadwal pertemuan Matthew yang mengharuskannya untuk mengunjungi beberapa tempat secara bergantian.
Apalagi, perubahan dari 1 jadwal kerja Matthew yang terlewatkan oleh Chloe kemarin, ternyata mempengaruhi seluruh jadwal pekerjaan di hari itu.
Sehingga waktu yang tersisa untuk wawancara pelamar baru, tertunda hingga dilakukan pada saat-saat terakhir, yang semestinya sudah menjadi jam bagi Matthew untuk pulang dan beristirahat.
"Maafkan saya, Sir...." ucap Chloe, dengan bersungguh-sungguh.
"Tidak apa-apa ... Kamu pasti juga telah kelelahan," sahut Matthew, terdengar tanpa beban. "Aku juga tidak perlu menemui dokter lagi. Jadi sepulangnya nanti, kita bisa beristirahat."
Tidak berapa lama, 3 orang pelamar yang akan menjadi asisten Matthew, sudah memasuki ruang kerja CEO, menemui Matthew yang ditemani oleh Chloe.
2 orang wanita dan seorang laki-laki yang menjadi pilihan Matthew, bergantian duduk di depan meja kerja Matthew untuk ditanyai.
Satu per satu dari mereka, mendapat pertanyaan khusus dari Matthew, yang tampak memperhatikan dengan saksama, akan apa yang menjadi jawaban dari para pelamar baru itu.
Menurut Chloe, kemampuan Matthew untuk menilai seseorang, memang sesuai dengan ekspektasi Chloe.
Matthew tampak tidak kesulitan untuk memberikan pertanyaannya, yang menurut Chloe cukup menjebak, hingga para pelamar itu bisa terdesak sampai menampilkan jati dirinya.
"Selamat, Miss Dawn! ... Anda akan mulai bekerja sejak hari Senin nanti!" kata Chloe, sambil berjabat tangan dengan asisten baru Matthew.
"Terima kasih, Miss Fern! ... Saya akan berusaha untuk belajar dan bekerja keras, agar bisa seperti Anda," kata Amber Dawn, yang tampak bersemangat.
Seketika itu juga, Matthew lalu berbisik-bisik kepada Chloe, dengan berkata,
"Entah berapa lama dia harus berusaha agar bisa setara denganmu. Karena dia bahkan tidak memiliki, walau hanya satu per empat bagian saja dari kemampuanmu."
Sejujurnya, Chloe merasa senang karena Matthew masih menganggapnya jauh lebih kompeten, jika dibandingkan dengan Amber, asisten baru itu.
Namun, Chloe juga merasa tidak nyaman, jika Amber sampai tahu, akan apa yang Matthew katakan kepada Chloe.
"Sir! ... Anda jangan berkata seperti itu!" ujar Chloe, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Seiring dengan berjalannya waktu, mungkin saja jika dia justru melebihi kemampuan saya."
Setelah mempersilahkan Amber untuk keluar dari ruang kerja CEO, Chloe kemudian kembali menghampiri Matthew, dan berkata,
"Semua jadwal Anda hari ini sudah selesai! ... Kita bisa pulang sekarang, Sir!"
"Tunggu sebentar!" sahut Matthew, sambil menarik Chloe agar mendekat kepadanya. "Apa Agatha sudah pulang?"
"Iya, Sir...." jawab Chloe, sembari berusaha menahan keseimbangannya, saat dia sedikit terseret karena gerakan Matthew yang tiba-tiba. "Jam kerja sudah berakhir sejak beberapa jam yang lalu."
Matthew lalu memejamkan matanya, sembari berkata, "Give me a kiss!"
"Tsk! ... Apa Anda tidak ingin segera pulang untuk beristirahat?" tanya Chloe, sambil berdecak sebal.
"Kita tidak akan pulang, kalau kamu tidak mau memberikanku ciuman!" Dengan matanya yang tetap terpejam, Matthew tampak memaksa dan menyebutkan ancamannya.
Tidak mau berdebat dan membuang-buang waktu lebih lama, sehingga Chloe akhirnya mau berciuman untuk beberapa saat dengan Matthew.
"Sudah!" ujar Chloe, ketus. "Ayo kita pulang sekarang, Sir!"
"Tsk!" Kali ini, Matthew yang mendecakkan lidah dan terlihat sebal. "Kita makan malam di luar, okay? ... Aku ingin berkencan denganmu."
"Saya lelah, Sir ... Saya ingin beristirahat di paviliun saja," sahut Chloe, sambil bersiap-siap untuk pulang.
"Kalau begitu, aku akan berkencan dengan Judy saja...." Matthew terdengar seperti sedang menggerutu, tetapi dengan kata-kata yang menantang.
"Terserah Anda, Sir!" sahut Chloe, tanpa ragu. "Ayo kita pulang!"
Tanpa menunggu tanggapan dari Matthew lagi, Chloe segera berjalan pergi keluar dari ruang kerja Matthew itu, sembari lanjut berkata,
"Anda nanti tidak akan mendapatkan meja untuk makan malam bersama Miss Parker, jika Anda justru berlama-lama di sini."
Matthew tampaknya tergesa-gesa menyusul Chloe, sehingga secara bersamaan dengan bunyi langkah cepat seperti seseorang yang setengah berlari, ikut terdengar suara Matthew memanggil namanya.
"Chloe! ... Tunggu sebentar!"
Walaupun Chloe mendengarnya, namun dia tidak mengurangi kecepatan berjalannya, apalagi sampai berbalik hanya untuk melihat Matthew.
Chloe baru berhenti berjalan, ketika dia sudah berdiri di depan lift, dan menunggu pintu itu terbuka.
Dan hanya berselang sepersekian detik, Matthew juga sudah terlihat berada di situ bersama Chloe.
"Aku membencimu!" ujar Matthew, ketus.
Chloe mendengus kasar. "Terserah Anda saja...."
Suasana di kantor itu sudah sangat sepi, karena hanya ada beberapa pegawai di bagian tertentu saja yang masih bekerja lembur.
Sehingga, tidak ada orang yang lain lagi selain mereka berdua, di dalam satu lift yang dimasuki oleh Matthew dan Chloe sekarang ini.
"Aku ingin memelukmu!" ujar Matthew sambil sedikit membungkuk, seolah-olah agar dia bisa merayu dengan bicara berbisik-bisik di telinga Chloe.
"Coba saja! Kalau Anda ingin sekuriti melihat tingkah laku Anda...." Chloe tetap berbicara dengan nada suara yang datar, meskipun kata-katanya menantang Matthew.
Dari pantulan dinding lift, Chloe bisa melihat Matthew yang tampak mendongakkan kepalanya, seolah-olah Matthew sedang melihat kamera keamanan, yang terpasang di sudut bagian atas lift.
Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari mendengus pelan.
Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran Matthew?
Seandainya saja Matthew bisa seperti Chloe, yang memiliki tanda khusus jika laki-laki itu sedang berbohong atau tidak, maka Chloe tidak perlu menduga-duga.
Sudahlah!
"Apa yang akan kamu lakukan nanti?" tanya Matthew, sesaat setelah pintu lift terbuka di lantai bawah tanah gedung, tempat mobil pribadinya terparkir.
"Sudah saya katakan tadi, saya ingin beristirahat di paviliun," jawab Chloe, sambil bergegas masuk ke dalam mobil Matthew, yang sudah dibukakan pintunya oleh supir pribadi Matthew.
Di sepanjang perjalanan pulang, selain Matthew yang masih saja mencoba merayu Chloe dan Chloe pun yang terus-menerus menolaknya, tidak banyak yang diperbincangkan antara Chloe dengan Matthew.
Bahkan sampai mereka tiba di rumah Matthew pun, Chloe dengan terburu-buru menuju ke paviliun, dan hanya sempat berpamitan sekadarnya saja kepada Matthew.
Karena merasa sangat penat, setelah memasuki paviliun, Chloe segera mandi untuk menyegarkan dirinya.
Chloe yang hanya memakai pakaian dalam dan jubah mandi, masih berbaring santai di atas tempat tidurnya, ketika pintu paviliun diketuk dari luar.
"Tunggu sebentar!" sahut Chloe, sambil merapatkan jubah mandinya, dan bergegas membuka pintu.
Matthew atau Matteo?
Entahlah, Chloe tidak bisa membedakan lagi, yang mana satu dari saudara kembar itu, yang sekarang ini berdiri di depan pintu, sambil tersenyum lebar.
"Hai, Chloe!"
Chloe tidak segera membalas sapaan itu, dan justru memandangi laki-laki di depannya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
Penampilan kasual dengan kaus longgar, rambut masih terlihat agak lembab, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana jeans panjangnya.
Seandainya Matthew masih pincang, maka Chloe mungkin hanya perlu menarik sedikit bagian ujung kaki celananya, dan melihat perban di sana untuk membedakannya dengan Matteo.
"Hai!" Chloe balas menyapa, dengan nada suara datar. "Mister Matteo atau Mister Matthew?"
"Ugh? ... Aku Matteo!" sahut Matteo, lalu buru-buru meminta izin untuk masuk ke dalam paviliun. "Apa aku boleh masuk?"
"Silahkan duduk!" kata Chloe, sambil bergeser untuk memberi jalan bagi Matteo untuk berjalan masuk ke dalam paviliun, dan membiarkan pintu depan paviliun tetap terbuka lebar-lebar.
"Tunggu sebentar di sini! ... Saya pakai baju dulu!" Chloe lalu berbalik, dan berjalan menuju ke kamarnya.
Betapa terkejutnya Chloe, saat dia hendak menutup pintu kamarnya, dan Matteo justru memeluknya dari belakang dengan erat.
"Sir! ... Apa yang Anda lakukan?" ujar Chloe yang panik, sambil berusaha untuk melepaskan kedua tangan Matteo yang melingkar di perutnya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar...!" kata Matteo, tampak berusaha untuk menahan tangannya agar tidak terlepas dari Chloe.