Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 34



Karena Matthew telah selesai dengan 'urusannya' di kamar mandi, dan Chloe juga sudah membantunya kembali ke tempat tidur, Chloe kemudian meminta izin untuk kembali ke paviliun.


Matthew yang saat itu sedang memakai piyamanya, tidak banyak berkomentar, dan hanya berpesan agar Chloe tidak berlama-lama meninggalkannya sendiri di kamar itu.


Dengan demikian, Chloe bergegas keluar dari kamar Matthew, lalu pergi mengambil sepatunya yang tadi dia tinggal di ruang kerja.


Bertepatan saat Chloe beranjak keluar dari ruang kerja itu, Matteo terlihat menuruni anak tangga dan segera menghampiri Chloe, lalu berkata,


"Apa yang terjadi?"


Sambil tersenyum lebar, Matteo melihat ke tangan Chloe yang menenteng sepatunya, lalu sedikit membungkuk.


Chloe tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Matteo di situ, sampai Chloe melihat kalau Matteo menarik naik sedikit bagian ujung gaun Chloe, dan seolah-olah menyuruh Chloe memegang ujung gaunnya itu.


"Bajumu nanti rusak," kata Matteo, masih dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Chloe tertawa kecil, lalu memegang ujung gaunnya, kemudian berjalan pelan, sambil diiringi langkahnya oleh Matteo yang ikut berjalan di sebelahnya.


"Kamu akan ke kamar Matthew?" tanya Matteo.


"Tidak. Saya rencananya akan kembali ke paviliun, untuk mandi dan berganti pakaian," jawab Chloe, lengkap dengan penjelasannya.


"Hmm ... Apa kamu bisa menundanya? Aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu sebentar saja, sambil berjalan-jalan," ujar Matteo.


"Tapi...." Chloe ragu-ragu.


"Tidak akan lama. Kita hanya akan berjalan satu putaran mengelilingi kolam renang," kata Matteo, meyakinkan.


"Baiklah!" sahut Chloe. "Tapi saya tidak mau Mister Matthew menunggu terlalu lama, dan menjadi marah karenanya."


"Iya ... aku tahu itu," ujar Matteo, lalu mengambil dan membawakan sepatu Chloe.


Sembari berjalan bersama di jalan setapak yang mengarah ke kolam renang, Matteo kemudian berkata,


"Aku sedari tadi ingin bicara denganmu. Tapi aku tidak mau memancing kemarahan Matthew, lalu dia melampiaskannya kepadamu."


"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Chloe, penasaran.


"Tunggu sebentar lagi!" kata Matteo, seolah-olah ingin bermain rahasia-rahasiaan, sambil tersenyum lebar.


Di pinggir kolam renang, Matteo berhenti berjalan, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya, lalu tampak melihat-lihat tampilan di layar benda itu.


Chloe hampir saja menegur Matteo, karena laki-laki itu yang hanya terdiam, untuk beberapa waktu lamanya.


"Ini pasti cocok!" celetuk Matteo, tiba-tiba.


Dari ponsel Matteo, terdengar suara musik yang mengalun dengan irama pelan, yang sesuai untuk dipakai berdansa.


"Aku berubah pikiran, karena melihat penampilanmu malam ini. Daripada berjalan berkeliling, lebih baik kalau aku berdansa saja denganmu," ujar Matteo, sembari mengulurkan sebelah tangannya ke arah Chloe.


"Sir! ... Saya tidak bisa berlama-lama...." kata Chloe, sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayolah...! Satu lagu saja!" Matteo tampak berusaha membujuk Chloe.


Chloe akhirnya menyambut tangan Matteo yang segera menuntunnya untuk berdansa, sesuai dengan irama musik yang keluar dari ponsel Matteo itu.


"Aku rasa, David menyukaimu lebih dari teman," celetuk Matteo.


Chloe tertawa kecil. "Apa itu yang ingin Anda bicarakan?"


"Hmm ... Tidak. Aku hanya merasa iri. Karena kamu mau pergi berkencan dengannya," sahut Matteo, lalu menatap Chloe sambil tersenyum, kemudian lanjut berkata,


"Apalagi, kamu sampai berpenampilan secantik ini."


"Tsk tsk tsk! ... Apa Anda sedang mencoba untuk merayu?" tanya Chloe, bercanda.


"Kamu memang cantik. Lalu memakai gaun seperti ini, tentu akan sangat menarik perhatian."


Perkataan dari Matteo itu, segera mengingatkan Chloe akan perkataan Matthew kepadanya tadi, hingga Chloe hanya tersenyum kecut karenanya.


"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Matteo, terlihat bingung.


"Ugh! ... Saya hanya teringat sesuatu," sahut Chloe menjelaskan, karena merasa kalau Matteo mengerti makna dari senyuman Chloe tadi.


"Apa aku juga bisa mengajakmu untuk berkencan?" tanya Matteo, lalu terlihat seperti dia telah salah bicara, dan buru-buru lanjut berkata,


"Sama seperti David. Kita hanya berkencan untuk saling mengenal dengan lebih baik. Dan bukan untuk saling memaksa agar menjadi pasangan kekasih."


"Mister Matthew masih belum sembuh. Kalau kita semua pergi meninggalkannya, lalu bagaimana dengannya?" sahut Chloe, beralasan.


"Apa kamu tidak mau berkencan denganku? Dan hanya menjadikan Matthew sebagai alasan untuk menolak ajakanku?"


Karena mendengar pertanyaan Matteo itu, Chloe pun segera menanggapinya dengan berkata,


"Maafkan saya ... Tapi Anda lihat sendiri bagaimana keadaan Mister Matthew sekarang ini....


... Tadi, mommy Anda bahkan menghubungi saya, agar tetap menemani Mister Matthew, karena mommy Anda yang mencemaskan keadaannya."


"Tsk! ... Baiklah! ... Aku tidak akan memaksamu. Bisa-bisa, kamu justru membenciku nanti," sahut Matteo.


"Aku berharap agar nantinya kamu setuju. Karena aku ingin tahu tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi di kota ini....


... Dan kamu mungkin bisa mengantarkanku berjalan-jalan ke sana, saat kita bisa berkencan nanti," kata Matteo, sambil tersenyum.


***


Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Matteo sebelumnya, Matteo berhenti berdansa dengan Chloe, setelah satu judul lagu berakhir.


Chloe kemudian segera pergi ke paviliun, dan membersihkan dirinya di sana, sebelum Chloe kembali menemui Matthew.


Di dalam kamarnya, Matthew terlihat belum tidur, dan masih duduk berselonjor di atas ranjang, sembari membaca sebuah buku.


"Anda belum mengantuk?" tanya Chloe, sambil menggeser tirai, sampai menutupi kaca dari jendela kamar Matthew.


"Apa yang kamu lakukan dengan Matteo?" tanya Matthew, yang sudah mengangkat pandangannya dari buku dan menatap Chloe.


Chloe tidak segera menjawab pertanyaan Matthew itu, karena teringat kalau pintu kamar Matthew tadi memang tidak ditutupnya.


Jadi, mungkin saja jika Matthew bisa melihatnya, saat dia dan Matteo melintas di depan kamar itu tadi.


Matthew yang tampaknya tidak sabar menunggu jawaban Chloe, kemudian kembali berkata,


"Aku melihatmu berjalan bersamanya tadi."


Matthew lalu menutup buku di tangannya, dan meletakkan buku itu di atas nakas di samping tempat tidur.


"Mister Matteo ingin berbincang-bincang sebentar dengan saya. Jadi, kami pergi ke kolam renang. Tapi tidak lama, hanya menghabiskan satu lagu saja," kata Chloe, jujur.


"Satu lagu? Apa Matteo mengajakmu berdansa dengannya?" tanya Matthew, yang tampak mengerutkan alisnya.


Chloe menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi sungguh tidak lama. Saya tadi hanya lama berada di paviliun."


Matthew tampak mendengus kasar, lalu berkata,


"Sini! ... Kamu mendekat ke sini!"


Chloe yang tadinya berdiri di dekat jendela, kemudian menghampiri Matthew, dan berdiri tepat di samping tempat tidurnya.


"Sudah berapa orang yang pernah menjadi kekasihmu?" tanya Matthew, tiba-tiba.


"Ugh?" Chloe benar-benar kebingungan dengan pertanyaan Matthew, yang dirasanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka barusan.


"Berapa?" tanya Matthew, lagi.


"2 orang," jawab Chloe, ragu-ragu.


Kali ini, Matthew terdiam dan terlihat seperti orang bingung, sambil menatap Chloe lekat-lekat, sebelum akhirnya dia berkata,


"Jika dibandingkan usiamu sekarang ini, tampaknya memang tidak banyak. Tapi rasanya itu sudah cukup untuk membuatmu berpengalaman."


"Kita sedang membahas tentang apa, Sir?" tanya Chloe, yang sama sekali tidak mengerti akan ke mana arah pembicaraan mereka itu.


"Kamu masih tidak mengerti? ... Tsk tsk tsk! ... Sudahlah!" ujar Matthew, ketus.


Matthew kemudian bergerak turun di tempat tidurnya, sampai dia terbaring di situ.


Chloe baru saja akan merapikan selimut yang dipakai oleh Matthew, namun Matthew terlihat masih tidak bisa berbaring dengan tenang.


"Jangan tidur di kursi!" kata Matthew, yang terlihat gelisah mengubah-ubah posisi bantal di kepalanya.


"Baik, Sir!" sahut Chloe, sambil sedikit membungkuk, dan membantu mengatur bantal yang dipakai oleh Matthew. "Apakah Anda masih merasa tidak nyaman?"


"Sudah cukup...! Kamu matikan saja lampunya...! Aku sudah mengantuk," kata Matthew, sambil mengubah posisi berbaringnya, hingga jadi menyamping.


Chloe kemudian segera mematikan semua lampu yang ada di dalam kamar itu.


Lalu, karena dia yang juga merasa cukup lelah, sehingga Chloe segera berbaring di ujung ranjang, di sisi berlawanan dari tempat Matthew berbaring.


"Chloe!"


Rasanya belum sampai 15 menit Chloe berbaring, namun Matthew yang tiba-tiba memanggil namanya, membuat Chloe yang memunggungi Matthew, kemudian berbalik dan berkata,


"Ada apa, Sir? ... Apa Anda membutuhkan sesuatu?"


Tempat tidur yang terasa sedikit bergoyang, membuat Chloe bisa menduga kalau Matthew mungkin kembali duduk berselonjor.


Dan benar saja dugaan Chloe.


Karena ketika Chloe menyalakan lampu meja yang ada di sisinya, Chloe melihat Matthew yang sudah terduduk di atas tempat tidur.


"Apa ada yang sakit? Atau ada yang membuat Anda merasa tidak nyaman?" tanya Chloe, lalu bersiap untuk beranjak turun dari tempat tidur.


Namun Matthew segera menahan gerakan Chloe, dengan berkata,


"Kamu mau ke mana? Berbaring saja! ... Aku hanya teringat sesuatu, yang membuat rasa kantukku menghilang."