
Agar tangan Matthew tidak bisa menyentuh dahinya lagi, Chloe buru-buru memalingkan wajahnya, sembari berkata,
"Bagaimana Anda bisa mengantarkan saya ke sini?"
"Bukan aku. David yang membawamu ke sini," jawab Matthew, terdengar seolah-olah menyesali sesuatu. "Bertepatan saat David datang untuk menemuimu, di saat itu juga dia melihatmu terjatuh ke lantai."
"Hmm ... Lalu di mana Mister David sekarang?" tanya Chloe, berniat untuk berterima kasih kepada David yang telah menolongnya.
"Dia tadi menunggumu di sini bersamaku. Tapi setelah jam istirahat makan siang berakhir, dia kembali ke kantor, karena asistennya menghubunginya." Matthew lalu bergerak turun dari atas ranjang.
"Kamu beristirahat saja dulu! ... Paling tidak, sampai cairan infus itu habis," lanjut Matthew, yang kemudian kembali duduk di kursi yang berada di dekat ranjang.
Chloe lalu teringat sesuatu, hingga dia kemudian bertanya kepada Matthew, dengan berkata,
"Apa Anda sudah makan siang?"
"Belum. Bagaimana aku bisa berselera untuk makan, jika kamu seperti itu. Aku juga tidak mau meninggalkanmu sendirian di sini," sahut Matthew, sambil merapikan jasnya.
Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jika Matthew sampai terus-menerus memberikan perhatiannya kepada Chloe seperti saat ini, maka Chloe pasti akan berada dalam kesulitan.
Karena entah bagaimana caranya, agar Chloe bisa menyingkirkan rasa tertariknya kepada Matthew nantinya.
Chloe menghela napas panjang yang terasa berat untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum dia kemudian berkata,
"Apa Anda mau makan makanan oriental? ... Saya bisa memesannya lewat layanan pesan antar."
"Hmm ... Aku ingin makan chicken drumsticks, dan kentang goreng," jawab Matthew, sambil menatap Chloe, seolah-olah dia sedang meminta persetujuan dari Chloe.
"Okay!" Chloe kemudian meraba-raba di bagian perutnya untuk mencari ponsel miliknya, dan menyadari kalau dia hanya memakai blouse, tapi tidak dengan blazer-nya lagi.
Di sandaran kursi tempat Matthew duduk, di sanalah blazer Chloe berada, ketika Chloe melihat ke sana kemari.
"Sir! ... Apa Anda bisa mengambilkan ponsel saya dari dalam saku blazer itu?" Chloe menunjuk blazer miliknya yang berada di belakang Matthew.
Sembari mencari ponsel Chloe di dalam saku blazer, Matthew kemudian berkata,
"Tadi, blazer-mu memang sengaja dilepaskan, agar kamu bisa beristirahat dengan lebih nyaman."
Matthew kemudian menyodorkan ponsel Chloe.
"Iya ... Saya sudah menduganya," ujar Chloe, lalu segera membuat pesanan makan siang yang bisa diantar ke rumah sakit.
Sementara itu, Chloe juga memperhatikan penanda waktu di layar ponselnya, dan mendapati kalau sekarang ini sudah hampir pukul 15:00 sore.
"Maafkan saya, Sir...." ucap Chloe, penuh penyesalan.
Matthew yang tampak kebingungan, lalu buru-buru bertanya kepada Chloe.
"Ada apa? Kenapa kamu meminta maaf? Apa hanya karena kamu tidak bisa membuat pesanan?"
"Jika Anda berada di sini untuk menemani saya, berarti karena saya lah, hingga jadwal kerja Anda hari ini jadi berantakan," kata Chloe, menjelaskan apa yang dipikirkan olehnya.
Sembari menatap Chloe lekat-lekat, Matthew menghela napas panjang, lalu mengembuskannya kasar, kemudian berkata,
"Kamu pasti bercanda! ... Tidak akan terjadi apa-apa jika menunda pekerjaan untuk sementara waktu. Karena kondisi kesehatanmu, masih lebih penting!"
"Tidak perlu memikirkan hal itu!" lanjut Matthew, yang terlihat kesal. "Aku sudah mengarahkan Agatha untuk membatalkan sisa jadwalku hari ini."
"Chloe!" Suara dari David yang tampak berjalan terburu-buru menghampiri Chloe, cukup mengejutkan bagi Chloe serta Matthew di situ. "Kamu sudah sadar!"
Tanpa aba-aba, dengan menghampiri Chloe dari sisi berlawanan dengan Matthew, David kemudian segera memeluk Chloe dengan erat, sembari berkata,
"Kamu membuatku khawatir ... Aku baru saja akan menyapamu, tapi di saat itu juga aku melihatmu terjatuh....
... Aku hampir tidak sempat menangkapmu. Dan jika demikian, maka kepalamu mungkin akan cedera karena terbentur di lantai."
Dari raut wajahnya yang sempat dilihat oleh Chloe, serta nada suaranya saat berbicara dengan Chloe, David memang tampak benar-benar cemas.
Sehingga, Chloe menenangkan David, dengan mengusap-usap punggung David yang memeluknya, sembari berkata,
"Saya baik-baik saja. Terima kasih, Sir!"
Saat itu, David seolah-olah tidak ingin melepaskan Chloe begitu saja, hingga dia tetap memeluk Chloe dengan erat, sampai beberapa waktu lamanya.
Sejujurnya, Chloe sudah mulai merasa tidak nyaman karena David yang terlalu lama memeluknya, hingga seolah-olah tidak mempedulikan Matthew yang ada di situ.
Apalagi, ketika Chloe melirik ke arah Matthew, Atasan Chloe itu sedang merengut, dan tampak kesal dengan apa yang dilihatnya.
Walaupun demikian, Chloe juga tidak bisa serta-merta mendorong David agar melepaskannya, karena mengingat bahwa David lah yang memberikannya pertolongan pertama.
Sehingga mau tidak mau, Chloe harus menunggu sampai David mau melepas pelukannya dari Chloe.
Untung saja, makanan yang jadi pesanan Chloe, lalu diantarkan oleh pekerja restoran cepat saji ke ruang perawatan itu
Dengan demikian, David kemudian melepaskan Chloe, dan membantu menerima makanan dan minuman yang diserahkan oleh pegawai restoran.
"Kalian memesan junk food?" David terlihat bingung, sembari menyodorkan bungkusan makanan kepada Matthew.
"Apa Anda sudah makan siang, Sir?" tanya Chloe, memastikan.
"Belum," jawab David, sembari duduk di tepi ranjang. "Aku tidak sempat makan siang. Karena aku buru-buru menyelesaikan pekerjaanku, agar bisa kembali ke sini menemuimu."
Mengingat pesanannya hanya untuk dua orang, Chloe kemudian terpikir untuk memberikan makanan miliknya kepada David.
"Kalau Anda mau, Anda bisa mengambil pesanan saya," kata Chloe, menawarkan.
"Hmm...." David bergumam sembari menatap Matthew, yang terlihat mulai menyantap paha ayam, yang digoreng dengan bentuk seperti pentungan.
"Okay!" ujar David, kemudian mengambil satu porsi makanan yang seharusnya menjadi santapan siang untuk Chloe.
"Katakan, aaah!" David tampak ingin menyuapkan sepotong paha ayam goreng kepada Chloe. "Come on! ... Seharusnya ini jadi makan siangmu, kan? ... Katakan, aaah!"
Chloe tersenyum lebar, lalu membuka mulutnya sampai David bisa menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Di saat bersamaan, Matthew terdengar terbatuk-batuk, seakan-akan dia sedang tersedak dengan makanannya.
Dengan mulut yang penuh makanan, Chloe tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya bisa beranjak turun dari atas ranjang, menghampiri Matthew, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Atasannya itu.
Chloe juga mengambilkan minuman, dan segera menyodorkannya kepada Matthew, agar Matthew bisa menelan makanannya dengan baik.
"Anda baik-baik saja?" tanya Chloe kepada Matthew, setelah dia menelan habis makanan di dalam mulutnya.
"Chloe!" ujar David, tampak ingin menarik perhatian Chloe agar tertuju kepadanya.
"Dia bukan anak kecil! ... Lebih baik kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri. Kamu harus beristirahat, kalau kamu tidak mau sampai jatuh pingsan lagi," kata David, dengan nada suara yang datar.
"Aku tidak apa-apa," kata Matthew kepada Chloe, sambil memberikan tatapan tajamnya ke arah David.
Chloe tidak tahu harus berkata apa, dan hanya bergerak pelan, kemudian duduk di tepi ranjang, bersebelahan dengan David.
"Anda bisa menyantapnya, Sir! ... Karena yang sebenarnya saya tidak lapar. Saya memesan makanan itu, hanya untuk menemani Mister Matthew menyantap makan siangnya yang terlambat."
Dari raut wajahnya, David kelihatannya merasa kecewa, dan hanya terpaksa saja menuruti perkataan Chloe, dengan menyantap makanan itu.
Dengan senyuman yang juga tampak terpaksa, untuk sesekali, David masih menyuapkan potongan kentang goreng kepada Chloe.
"Kamu harus tetap mengisi perutmu walau hanya sedikit," kata David, hingga Chloe mau memakan apa yang disuapkan oleh David.
Dan tampak seolah-olah tidak mau kalah, Matthew juga ikut-ikutan menyuapkan beberapa potong kentang goreng kepada Chloe.
"Saya bisa makan sendiri..." ujar Chloe, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anda berdua tidak perlu menyuapkan saya lagi."
Secara bergantian, Chloe mengambil potongan kentang goreng dari bungkusan makanan yang ada pada Matthew dan David.
"Apa kamu tidak bisa lebih memperhatikan kesehatanmu?" tanya David, tiba-tiba. "Walaupun sibuk dengan pekerjaan, tapi apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah kelelahan?"
Sambil sedikit menundukkan kepalanya, Chloe hanya terdiam saat David berbicara, yang terdengar seolah-olah sedang memarahinya.
"Kamu bisa berada dalam bahaya, jika kamu sampai jatuh pingsan di tempat-tempat yang memang rawan akan bahaya. Apa kamu tidak bisa memikirkan kemungkinan itu?" ujar David lagi.
"Maafkan saya...." kata Chloe, pelan.
"Jangan memarahinya! ... Aku...." Matthew menimpali dengan suara membentak, tetapi pada akhirnya dia seolah-olah kehabisan kata-kata untuk dia ucapkan, hingga dia hanya bisa terdiam.
Sambil menatap Matthew dengan tatapan tajam, David mendengus kasar, lalu kembali melihat ke arah Chloe, kemudian berkata,
"Maafkan aku, Chloe ... Aku tidak berniat memarahimu."
"Aku benar-benar cemas, apalagi saat membayangkan, bagaimana jika kamu terjatuh di mana tidak seorangpun bisa segera menolongmu," lanjut David, menjelaskan.
"Iya, Sir ... Saya mengerti. Terima kasih atas perhatiannya," sahut Chloe dengan berhati-hati.
Tampak gemas, David lalu mengacak rambut di bagian mercu kepala Chloe, sembari berkata,
"Nanti, kamu makan malam denganku, okay?!"
Chloe tidak segera menanggapi perkataan David itu, hingga David lanjut berkata,
"Aku yang akan memasak makan malam untuk kita!"
"Ugh? ... Anda bisa memasak?" tanya Chloe, keheranan.
"Tentu saja!" jawab David terdengar bersemangat, sambil tersenyum lebar. "Mau, kan?! ... Kita makan malam di rumahku."
Matthew lalu tiba-tiba saja berdeham dengan suara yang terdengar nyaring, hingga Chloe serta David secara bersamaan melihat ke arahnya.
"Kenapa? ... Apa ada tulang ayam yang melintang di kerongkonganmu?" tanya David kepada Matthew, dengan memasang tampang masa bodoh.
"Kentang! ... Kentang 'murahan' membuat tenggorokanku kering," sahut Matthew, sambil memasang ekspresi yang tidak kalah menantang dari David.
Mendengar perkataan Matthew, Chloe segera menyodorkan minuman ke arahnya. "Diminum, Sir!"
Walaupun Chloe sudah menahan gelas hampir di depan wajah Matthew, namun Matthew tidak segera mengambil untuk meminum isinya.
Matthew justru tampak bertatap-tatapan dengan David, dan keduanya pun terlihat seolah-olah akan bersitegang di situ.
Dengan demikian, Chloe yang kebingungan, jadi ikut memandangi Matthew serta David bergantian. "Sir! ... Apa ada yang salah?"
"Cheap trick!" ujar David, sambil mengangkat kedua alisnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Matthew yang tampak melakukan hal yang sama.
"Kamu yang melakukannya lebih dulu!" sahut Matthew, terdengar sinis menyalahkan David.
Chloe sama sekali tidak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan oleh Matthew dan David, tetapi Chloe tetap bisa merasa sebal, karena kedua laki-laki itu yang tampaknya sedang saling memancing pertengkaran.
Gelas berisi cairan soda, kemudian diletakkan Chloe, kembali ke atas nakas yang ada di samping ranjang. "Apa Anda berdua bisa meninggalkan saya sendiri di sini?"
Matthew serta David, lalu secara bersamaan menoleh ke arah Chloe dan menatapnya lekat-lekat.
"Kalau hanya ingin bertengkar, sebaiknya Anda berdua melakukannya di luar saja. Maafkan saya. Tapi saya lelah, dan sama sekali tidak berminat untuk berada di antara dua orang yang hanya ingin membuat keributan."
Sembari berbicara, Chloe kemudian berbaring menyamping di atas ranjang, dan memunggungi Matthew dan David yang duduk hampir berhadap-hadapan.
Hingga beberapa saat kemudian, Matthew serta David, tampaknya tetap bertahan di dalam ruangan itu, tetapi tidak terdengar suara apa-apa lagi dari mereka berdua.
Karena ruangan itu yang terdengar sunyi, membuat Chloe bisa kembali tertidur, tanpa ada gangguan yang berarti, sampai beberapa jam selanjutnya.
Dan ketika Chloe terbangun lagi, Matthew serta David, terlihat sedang duduk di sofa yang berada tidak terlalu jauh dari ranjang tempat Chloe berbaring.
Kedua laki-laki itu, tampak tidak saling bicara, dan hanya terlihat sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
Chloe kemudian bangkit dari pembaringannya, kemudian duduk di bagian tepi, dengan kedua kaki yang menjuntai keluar dari samping ranjang.
Gerakan Chloe itu, tampaknya menarik perhatian Matthew dan David yang segera melihat ke arahnya.
David yang bisa bergerak bebas, kemudian segera menghampiri Chloe, dan berkata,
"Sudah merasa lebih baik?"
Chloe mengangguk pelan, lalu melihat ke kantong infus yang bergantung di bagian kepala ranjang.
"Tinggal sedikit." Chloe membicarakan tentang cairan infusnya. "Apa aku sudah bisa pulang?"
"Tunggu sebentar! ... Aku coba tanyakan di depan," kata David, kemudian segera berjalan pergi, keluar dari ruang perawatan itu.
Matthew yang menghampiri Chloe, tampak berjalan tertatih-tatih sambil berpegangan di setiap benda yang bisa menjadi tumpuannya, sampai bisa terduduk di kursi yang ada di dekat situ.
Setelah beberapa saat Matthew memandangi Chloe, Matthew lalu berkata,
"Tidak pucat lagi ... Kamu sudah terlihat lebih baik."
Chloe memperhatikan raut wajah Matthew. "Saya memang sudah merasa jauh lebih baik. Tapi bagaimana dengan Anda? Anda terlihat lelah. Kenapa Anda tadi tidak pulang untuk beristirahat saja?"
"Tidak apa-apa ... Aku ingin menemanimu," kata Matthew, sambil tersenyum. "Aku juga sudah meminta mommy mengurus obat-obatanku. Seharusnya, nanti malam aku bisa tidur dengan lebih baik."
"Seandainya aku masih mengalami mimpi buruk, kamu bisa beristirahat di paviliun saja, agar tidurmu tidak lagi terganggu karena aku," lanjut Matthew, lirih.
"Bagaimana Anda bisa berkata seperti itu?" Chloe menghela napas panjang yang terasa berat, dan mengembuskannya kasar, kemudian lanjut berkata,
"Sebagaimana Anda yang mengkhawatirkan keadaan saya, maka saya juga tetap akan menemani Anda, dan memastikan bahwa Anda baik-baik saja."
Sambil menatap Chloe lekat-lekat, Matthew tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, lalu berbicara dengan suara yang terdengar seperti sedang bergumam. "Harus aku apakan kamu ini?!"
"Ugh? ... Apa yang Anda katakan, Sir?" tanya Chloe, memastikan pendengarannya.
Matthew terdiam untuk sejenak. "Apa kamu jadi makan malam di rumah David?"
"Saya tidak tahu," jawab Chloe, asal bicara.
"Sebelum kamu pergi dengan David, maka sebaiknya kamu membuatkan janji temu untuk aku dan Judy terlebih dahulu," kata Matthew.