
Setelah puas bermain-main seperti dua orang anak kecil di dalam kolam renang, Matthew diantar kembali ke kamarnya, kemudian Chloe pergi berganti pakaian di paviliun.
Ketika Chloe kembali menemui Matthew di kamarnya, dan mengganti perban di tangan Matthew yang basah, Matthew lalu menyarankan agar hari itu mereka beristirahat saja.
"... untuk sementara, aku rasa sudah cukup. Kita tinggal menunggu hasil audit, barulah perubahan itu dilakukan."
Matthew membicarakan tentang alasannya, hingga membiarkan dirinya dan Chloe berhenti sejenak dari pekerjaan kantor.
Chloe yang duduk berhadapan dengan Matthew, hanya mengangguk setuju, tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Matthew.
"Apa yang dilakukan Matteo di rumahnya tadi?" tanya Matthew, sambil memperhatikan perban yang sudah selesai dipasangkan oleh Chloe di tangannya.
Chloe yang teringat kejadian di rumah Matteo, kemudian hanya bisa terdiam untuk beberapa saat.
"Hmm ... Tadi Mister Matteo hanya mengajak saya melihat-lihat alat musik dalam studionya. Saya tidak tahu pasti apa yang sedang dilakukannya, setelah saya pergi dari situ," jawab Chloe, lalu meletakkan kotak obat ke atas nakas.
"Kenapa wajahmu tiba-tiba saja terlihat pucat? Apa kamu sakit?" tanya Matthew, sambil memegang dagu Chloe, agar dia bisa melihat wajah Chloe dengan baik.
"Tidak ... Saya baik-baik saja," jawab Chloe, lalu memalingkan wajahnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu di rumah Matteo?" Matthew seolah-olah bisa membaca pikiran Chloe, hingga Chloe kembali menatapnya.
"Tidak ada," jawab Chloe, berbohong.
"Chloe! ... Kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku," ujar Matthew, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya tidak menyembunyikan apa-apa," sahut Chloe, yang mulai merasa gugup.
"Aku tahu kalau kamu sedang berbohong atau tidak ... Penasaran bagaimana aku bisa melakukannya?" ujar Matthew, dengan kedua alisnya yang terangkat.
Chloe hanya terdiam, hingga Matthew lanjut berkata,
"Sebelah matamu berkedut saat kamu berbohong...."
Chloe tersentak, karena rasa tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
Saat ini, Matthew mengingatkan Chloe pada mendiang daddy Chloe, yang juga pernah mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Matthew itu.
"... Tapi aku tidak akan memaksamu untuk bicara tentang apa yang terjadi padamu, jika kamu memang tidak mau membicarakannya....
... Kamu bukan anak kecil, jika ada sesuatu yang membahayakan, tidak mungkin kamu tidak memberitahukannya."
Chloe masih mendengarkan perkataan Matthew yang selanjutnya, namun dia tidak terlalu memperhatikan kata per katanya lagi.
Karena Chloe sudah terlalu sibuk mengalihkan pikirannya yang terkenang akan daddy-nya semasa daddy-nya masih hidup, yang membuat Chloe merasa ingin menangis sebab merindukannya.
"Hey! ... Apa yang dilakukan Matteo kepadamu?" Pertanyaan Matthew dengan nada menyentak itu, menyadarkan Chloe dari lamunannya.
"Ugh? ... Tidak, Sir!" jawab Chloe, buru-buru. "Mister Matteo tidak melakukan apa-apa."
"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Matthew, dengan nada suara dan raut wajah yang terlihat bingung.
Di saat itu juga, Matthew menyentuh pipi Chloe, dan mengusap bagian bawah mata Chloe dengan ibu jarinya, lalu lanjut berkata,
"Ada apa? ... Aku bahkan tidak memarahimu kali ini ... Jadi apa kamu menangis karena Matteo?"
Sebelum Matthew benar-benar salah paham dan menyalahkan Matteo, Chloe kemudian berusaha menjelaskan kepada Matthew, dengan berkata,
"Bukan karena Mister Matteo ... Saya hanya teringat akan daddy."
"Daddy pernah berkata, kalau saya tidak bisa berbohong kepadanya, karena mata saya berkedut saat saya melakukannya. Selama ini, hanya daddy yang bisa memperhatikan hal itu....
... Dan sekarang, saat Anda mengatakan hal yang sama, membuat saya sangat merindukan keberadaannya," lanjut Chloe, menjelaskan.
Chloe berusaha keras untuk tetap tenang, dan memaksakan diri untuk tersenyum, namun dia tidak bisa melakukannya, sampai akhirnya dia hanya tertunduk, lalu menangis sesenggukan.
Mungkin karena merasa iba, Matthew kemudian memeluk Chloe dan mengusap-usap punggung Chloe dengan perlahan-lahan.
"Seandainya aku tahu kalau perkataanku hanya akan membuatmu jadi lemah seperti ini, maka aku akan memarahimu saja, agar kamu bisa dengan bangga menantangku," kata Matthew.
Matthew yang tampaknya ingin menghibur Chloe, meskipun menggunakan kata-kata yang tidak biasa itu, hampir membuat Chloe tertawa sambil menangis.
"Maafkan aku ... Aku tidak berniat untuk membuatmu menangis. Bagaimana kalau aku menebusnya dengan mentraktirmu makan malam di luar?" kata Matthew, lagi.
"Terima kasih, Sir ... Tapi Anda tidak perlu melakukannya. Karena Anda tidak berbuat kesalahan apa-apa. Anda bahkan tidak perlu meminta maaf."
Sebelum Matthew berkata apa-apa, Chloe yang terpikir sesuatu, kemudian dengan berhati-hati lanjut berkata,
"Jika Anda berkenan, saya hanya ingin meminta izin keluar sebentar ... Saya ingin mengunjungi daddy di cemetery."
Matthew terlihat mengalihkan pandangannya dari mata Chloe, dan tampak sedikit tertunduk untuk beberapa saat, sebelum dia mengangkat pandangannya kembali dan menatap Chloe.
"Bagaimana jika aku menemanimu ke sana?" tanya Matthew, tampak penuh harap agar Chloe setuju.
Namun, Chloe ragu-ragu untuk membiarkan Matthew ikut dengannya. Karena selain daddy-nya yang hanya dimakamkan di pemakaman umum, kaki Matthew juga belum pulih untuk dipakai berjalan terlalu jauh.
"Setelahnya, aku juga ingin agar kamu mengajakku berjalan-jalan di kota ini. Tunjukkan padaku, di mana saja tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi!"
Perkataan Matthew itu, terdengar seolah-olah hanya menambahkan alasannya, agar dia tetap bisa ikut dengan Chloe.
Melihat kalau Matthew tampak bersikeras, Chloe akhirnya menyetujui permintaannya.
"Baik, Sir! ... Asalkan Anda tidak mengeluh, saat kita harus berjalan agak jauh untuk mencapai makam daddy," kata Chloe, sambil tersenyum.
"Tidak masalah! ... Kita makan siang saja dulu," sahut Matthew, bersemangat. "Bagaimana?"
Chloe mengangguk setuju.
***
Setelah menghabiskan makan siang mereka yang terlambat, Chloe bergegas pergi ke permakaman tempat daddy-nya dimakamkan, bersama-sama dengan Matthew.
Mereka bepergian tanpa supir pribadi, karena Chloe lah yang mengemudikan mobil milik Matthew, agar bisa lebih bebas pergi ke mana saja yang akan jadi tujuan mereka.
Sebelum pergi ke permakaman, Chloe masih menyempatkan untuk singgah di sebuah toko bunga yang ada di pinggir jalan.
Bukan hanya Chloe yang membeli sebuah buket bunga, karena Matthew juga melakukan hal yang sama, meskipun Chloe sudah melarangnya.
"Aku tidak mungkin mengunjungi daddy-mu tanpa membawa apa-apa. Aku nanti dianggapnya tidak sopan, dan hanya mengganggu istirahatnya saja."
Begitu kata Matthew, seolah-olah dia sedang membicarakan tentang perasaan seseorang yang masih hidup.
Chloe hanya bisa tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar perkataan dari Matthew itu.
Setibanya di permakaman, dan memarkirkan mobil, Chloe lalu membantu Matthew berjalan hingga mencapai makam daddy-nya, yang berjarak cukup jauh dari gerbang masuk permakaman.
"Halo, Mister...." Matthew tampak memperhatikan tulisan di batu nisan yang mulai pudar.
"... Charter Fern!" lanjut Matthew, lalu meletakkan buket bunga yang dibawanya ke atas pusara makam daddy Chloe.
"Nama saya Matthew McLean. Saya adalah Atasan Chloe yang baru. Senang bisa berkenalan dengan Anda....
... Maafkan saya, Sir ... Saya hanya membawa bunga ini saja, karena Chloe yang terpikir untuk mengunjungi Anda secara tiba-tiba."
Matthew yang bersikap sangat sopan, seolah-olah dia memang sedang bertemu secara langsung dengan seseorang yang masih hidup, cukup mengejutkan bagi Chloe yang melihatnya.
"Selain bunga, apakah masih ada yang lain lagi yang bisa Anda bawa ke sini?" tanya Chloe yang bicara sarkas, sambil tersenyum dan hampir tertawa.
Namun, Matthew masih terlihat memasang raut wajah serius, dan seolah-olah ada yang sedang dipikirkannya, sebelum dia akhirnya berkata,
"Apa daddy-mu suka wine?"
Chloe mengangguk.
"Hmm ... Kalau tahu seperti itu, seharusnya tadi kita membawa sebotol wine ke sini," kata Matthew, yang tetap terdengar serius, hingga Chloe akhirnya tertawa kecil karenanya.
Walaupun Chloe menertawakannya, namun Matthew tampak tidak terpengaruh, dan tetap berwajah serius. Lalu, sambil menatap batu nisan dari daddy Chloe, Matthew kemudian lanjut berkata,
"Sir! ... Apa Anda tahu? Awal perkenalan saya dan Chloe cukup buruk. Tapi Chloe tetap merawat saya yang terluka dengan baik. Dan saya berterima kasih pada Anda, yang telah mengizinkannya untuk bekerja pada saya....
...Sir! ... Saya mungkin tidak bisa berjanji. Tapi saya akan berusaha untuk membalas kebaikan Anda, dengan menjaga Chloe. Apalagi selama dia masih bekerja bersama saya....
... Maafkan saya, jika sesekali saya kehilangan kendali dan memarahi Chloe, ketika ada sesuatu yang dia lakukan, yang menurut saya tidak cocok dengan apa yang menjadi jalan pikiran saya."