Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 41



Walaupun Chloe merasa kalau menyewa satu kereta gantung itu adalah pemborosan, hanya membuang-buang uang saja, namun Chloe tidak mau membantah keinginan Matthew.


Dengan demikian, Chloe dan Matthew menikmati pemandangan yang ada di tempat wisata itu berdua saja, di dalam satu kereta gantung.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Matthew, memecah keheningan.


Chloe yang mulai terbiasa melihat ke daratan dari ketinggian itu, terlalu menikmati apa yang bisa dilihatnya di bawah sana, hingga pertanyaan Matthew pun, tidak diperhatikannya dengan baik.


"Apa maksud Anda? Pemandangannya?" sahut Chloe memastikan, lalu buru-buru lanjut berkata dengan bersemangat.


"Tempat ini terlihat bagus. Saya menyukainya."


"Bukan itu yang aku tanyakan," sahut Matthew, sambil tetap memandang ke luar jendela kereta gantung. "Aku ingin memastikan kalau kamu memang tidak takut ketinggian, dan hanya tidak terbiasa saja."


"Hmm ... Mungkin benar dugaan Anda. Karena hanya tadi saja, saat naik gondola ini untuk pertama kalinya, saya bisa merasa pusing dan merasa kalau dada saya sedikit sesak....


... Sedangkan sekarang ini, saya tidak gemetar lagi saat melihat ke luar," kata Chloe, sambil tersenyum bersemangat, lalu kembali melihat ke arah daratan.


Dari ujung matanya, Chloe merasa kalau dia melihat Matthew sedang menatapnya, hingga Chloe kemudian melihat ke arah Matthew, dan membuktikan perasaannya tadi.


"Apa ada yang salah, Sir?" tanya Chloe, setelah beberapa saat, namun dia dan Matthew hanya saling bertatapan mata.


"Apa yang kamu katakan pada Judy?" Matthew balik bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Chloe.


"Saya tidak mengatakan apa-apa," sahut Chloe, bingung.


"Kamu membisikkan sesuatu padanya," kata Matthew, seolah-olah ingin mengingatkan Chloe, dan agar Chloe tahu bahwa Matthew menyadari tindakannya tadi.


"Hmm ... Maafkan saya, Sir ... Saya memberitahunya, agar dia tidak terlalu sering menyentuh Anda," jawab Chloe, berhati-hati.


"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Matthew, dengan tatapannya yang semakin tajam.


"Hmm...." Chloe bergumam. "Saya hanya ingin, agar dia tidak membuat Anda marah kepadanya."


"Iya, aku tahu! Tapi apa alasan sebenarnya? Tidak mungkin kamu terlalu memikirkan jika aku akan marah kepadanya atau tidak, karena itu tidak ada urusannya denganmu."


Melihat Matthew yang tampak tidak puas dengan jawabannya, Chloe jadi semakin ragu-ragu untuk memberitahu alasannya yang membantu Judy, untuk menarik perhatian dari Matthew.


Oleh karena itu, sehingga Chloe hanya bisa terdiam untuk beberapa waktu lamanya.


"Chloe! ... Aku masih menunggu!" Matthew menekan suara yang keluar dari mulutnya.


"Ma-maafkan saya," kata Chloe, terbata-bata.


"Saya tidak berniat untuk mencampuri urusan pribadi Anda. Miss Parker menyukai Anda. Saya mengetahuinya, karena dia mengatakan hal itu, pada saat pesta penyambutan Anda....


... Itu sebabnya, hingga saya membantunya, agar dia bisa memiliki kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Anda, tanpa membuat Anda jadi kesal," lanjut Chloe, menjelaskan dengan berhati-hati.


"Hmm ... Kamu ingin menjadi perantara pencari jodoh untuknya? Atau untukku?" tanya Matthew, tampak menaikkan kedua alisnya.


Chloe bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Matthew, agar Matthew tidak salah paham kepadanya.


Sehingga Chloe kemudian berpikir untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia berkata,


"Setahu saya, selama beberapa waktu belakangan sejak Anda datang ke negara ini, Anda selalu disibukkan dengan pekerjaan....


...Sehingga Anda belum memiliki kesempatan, untuk bertemu dengan seseorang yang mungkin ke depannya bisa menjalin hubungan pribadi dengan Anda....


... Kebetulan, Miss Parker menyukai Anda. Seandainya Anda juga menyukainya, maka kesempatannya jadi terbuka bagi Anda maupun Miss Parker."


"Apa masih ada yang lain?" tanya Matthew, masih mempertahankan ekspresi awalnya tadi.


"Ugh? ... Rasanya tidak ada lagi yang bisa saya katakan," sahut Chloe, bingung.


"Maksudku, apa masih ada wanita yang lain lagi yang menyukaiku?" Matthew mengulang pertanyaannya, lengkap dengan penjelasannya.


"Oh! ... Maaf, Sir ... Untuk sementara ini, yang saya tahu hanya Miss Parker," jawab Chloe, lalu tersenyum lebar. "Apa Anda ingin agar saya memberitahu Anda, jika ada lagi yang tertarik kepada Anda?"


"Iya!" jawab Matthew, dengan berwajah datar.


"Baik, Sir!" sahut Chloe bersemangat, sambil tetap tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


"Apa kamu sesenang itu, karena mencarikan jodoh untukku?" tanya Matthew, dengan nada suara yang sinis, dan tiba-tiba saja tampak mengeraskan rahangnya.


Senyuman di wajah Chloe, seketika itu juga menghilang.


Jalan pikiran dari Matthew memang sulit dimengerti oleh Chloe, sehingga lagi-lagi, Chloe dibuat bingung oleh reaksi Matthew kali ini.


"Apa yang sebenarnya yang kamu pikirkan, saat mencoba mencarikan pasangan wanita untukku?" tanya Matthew.


Chloe kembali menoleh ke arah Matthew dan bertatapan mata dengannya, lalu berkata,


"Sejujurnya, saya sama sekali tidak memiliki niat buruk. Saya hanya merasa kalau saya akan membantu Anda. Apa saja, asalkan saya masih bisa melakukannya....


... Begitu juga dengan mencarikan kesempatan, yang memungkinkan bagi Anda untuk bertemu dengan seorang wanita yang baik, dan cocok untuk menjadi kekasih Anda."


"Bukankah hubungan pribadimu juga belum ada yang berakhir dengan baik?" tanya Matthew.


"Hmm ... Benar kata Anda," jawab Chloe, sambil tertawa kecil. "Tapi, belum tentu apa yang terjadi kepada saya, lalu Anda akan mengalami hal yang serupa, bukan?"


"Baik dan cocok."


Matthew mengulang pernyataan Chloe, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. "Menurutmu, seperti apa kriterianya yang bisa dikatakan cocok?"


"Saya tahu kalau Anda orang yang pintar. Masih ditambah lagi dengan status sosial Anda yang berasal dari kalangan kelas atas. Jadi saya rasa, paling tidak, wanita itu memiliki kriteria yang seimbang dengan Anda."


Walaupun menurut Chloe, dia sudah menjawab pertanyaan Matthew dengan berhati-hati, namun Matthew kelihatannya merasa tidak puas dan justru terlihat semakin gusar.


"Ke sini kamu!" ujar Matthew, mengarahkan agar Chloe yang tadinya duduk berseberangan dengannya, agar berpindah tempat duduk ke sampingnya.


Ketika Chloe akan berpindah ke sebelahnya, Matthew tampak seolah-olah sedang bersiap-siap untuk menjentikkan jarinya.


Dan benar saja dugaan Chloe.


Bertepatan dengan Chloe yang duduk di sampingnya, jari tengah Matthew kemudian dijentikkannya ke dahi Chloe.


"Auch!" Chloe meringis kesakitan, sambil mengusap-usap dahinya pelan. "Kenapa Anda melakukannya?"


"Untuk apa kamu menyinggung tentang status sosial?" tanya Matthew, sambil membesarkan matanya. "Apa seseorang dari status sosial yang berbeda tidak bisa menjadi kekasihku?"


"Bukan itu maksud saya ... Begini, Sir! ... Para wanita dengan status sosial di bawah Anda, saya yakin pasti banyak yang mengagumi dan tertarik kepada Anda....


...Tapi saya juga yakin, bahwa tidak akan ada seorang pun dari mereka yang terlalu berani bermimpi untuk menjadi Cinderella. Yang ada, justru mereka mungkin khawatir jika Anda hanya ingin bermain-main saja....


... Dengan begitu keadaannya, bukankah lebih baik jika Anda lebih cenderung untuk menyeleksi wanita-wanita dengan status sosial yang sama dengan Anda?" sahut Chloe, menjelaskan.


Sambil mengalihkan pandangannya dari Chloe, Matthew kemudian hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Apa kamu sungguh berpikir seperti itu?" tanya Matthew, seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Chloe barusan.


"Apa Anda lupa? Saya berasal dari kalangan bawah. Sebagian besar orang yang ada di sekitar dan yang saya kenali pun, adalah orang-orang dengan kelas yang sama seperti saya....


... Dengan demikian, saya bisa tahu kalau cara berpikir kami, kurang lebih sama saja. Belum ada yang senekat itu, untuk mengharapkan cinta dari seseorang yang bahkan belum tentu mau untuk 'melihat' ke bawah," jawab Chloe.


"Tapi, kamu kelihatannya berharap agar bisa menjadi kekasih David." Matthew tampak tidak mau kalah.


"Hmm ... Anda telah salah menduga. Saya tidak pernah berpikir, apalagi berharap seperti itu. Bukankah saya sudah pernah memberitahu Anda sebelumnya?" sahut Chloe, sambil mengangkat kedua alisnya.


Matthew terdiam, sambil menatap Chloe lekat-lekat, seolah-olah dia masih menunggu agar Chloe menjelaskannya lebih lanjut.


"Seandainya Mister David sampai mengatakan kalau dia menyukai saya, hal itu tidak serta-merta membuat saya percaya bahwa saya memang bisa menjadi kekasihnya. Saya menganggap bahwa dia hanya bercanda....


... Kalaupun dia bersungguh-sungguh menyukai saya, pasti itu bukanlah sebuah ketertarikan antara lawan jenis. Melainkan hanya sebatas teman atau kenalan yang baik," sahut Chloe, lalu tersenyum lebar.


"Itu hal yang lucu!" Matthew kedengarannya sedang bicara sarkas. "Di zaman sekarang ini, tapi masih ada yang berpikir tentang kasta?"


"Hmm ... Bagaimana cara menjelaskannya...." Chloe mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir.


"Maafkan saya, mungkin perkataan saya kali ini akan menyinggung perasaan Anda. Tapi itu mungkin adalah contoh paling mudah untuk Anda pahami, akan situasi antara si miskin dan si kaya," kata Chloe.


"Coba saja!" sahut Matthew, tampak penasaran.


"Mister Nathan dan Mistress Maddison. Kedua orang tua Anda saling mencintai. Tapi dalam pandangan orang lain, seolah-olah daddy Anda hanyalah seorang 'gold digger'....


... Kekhawatiran akan pandangan seperti itulah, yang menjadi alasan utama bagi kami sebagai orang kalangan bawah, sampai tidak berani berpikir untuk menjalin hubungan dengan orang kalangan atas."


Matthew tampak memperhatikan dengan saksama perkataan Chloe kepadanya, sampai Chloe kemudian lanjut berkata,


"Alasan yang kedua adalah, jika si miskin bisa bersanding dengan si kaya, maka itu hanya akan menjadi seperti mimpi yang terlalu indah bagi si miskin....


... Dan tentu saja, tidak ada yang mau berkhayal terlalu tinggi. Karena kalau sampai terjatuh, bagi si miskin, rasanya itu bukan hanya sakit, tapi juga bisa membuatnya remuk dan tidak berbentuk lagi."