Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 27



"Aku ingin menghajarnya!"


Sudah ke sekian kalinya, David berkata seperti itu dengan suaranya yang terdengar bergetar, penuh kemarahan.


Walaupun sudah beberapa waktu berlalu, hingga mereka telah tiba di restoran yang menjadi tempat untuk makan siang, namun David masih terlihat gusar.


Saat mereka di perjalanan menuju ke restoran tadi, Chloe berkata pada David, bahwa dia bisa terluka karena terjatuh.


Namun, kebohongan yang dikatakan oleh Chloe, tidak dapat dipercaya oleh David begitu saja.


Hanya dengan mengamati bekas luka di tangan Chloe itu, David bahkan bisa menebak, kalau Matthew lah yang berlaku kasar kepada Chloe.


Dan sejak saat itu sampai sekarang ini, David masih tidak bisa terlihat tenang, walaupun Chloe sudah berusaha untuk menenangkannya.


Hingga beberapa kali, David terlihat menghela napas panjang, seolah-olah dia merasa sangat terganggu, atas sikap Matthew yang menyebabkan Chloe sampai terluka.


Melihat reaksi dari David, cukup membuat Chloe merasa takut.


Chloe tidak bisa membayangkan, bagaimana jika tadinya dia berkata jujur kepada David, bahwa kemarahan Matthew sampai bisa berlaku kasar, adalah karena Chloe yang masih berhubungan dengan David.


Mungkin keadaannya akan jadi lebih buruk.


Karena saat ini saja, David seolah-olah akan mengamuk, dan telah mengulang-ulang permintaannya kepada Chloe sampai beberapa kali, agar Chloe tidak kembali mengurus Matthew lagi.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Sir...! Saya rasa kejadian itu tidak akan terulang lagi. Karena Mister Matthew telah menyesali perbuatannya....


... Mister Matthew bahkan telah meminta maaf kepada saya, dan berjanji kalau dia tidak akan mengulanginya lagi. Itu bisa terjadi, karena saya sendiri yang tidak bekerja dengan baik."


Walaupun sebenarnya Matthew tidak meminta maaf kepada Chloe, namun Chloe memilih untuk berbohong, jika itu mungkin bisa membuat David sedikit lebih tenang.


"Kamu pikir aku akan percaya? Tidak perlu melindunginya!" ujar David ketus, lalu tampak segera menyesali cara bicaranya itu. "Maafkan aku...."


David kemudian menggenggam tangan Chloe yang ada di atas meja, lalu menatap Chloe lekat-lekat.


"Tsk! ... Apa yang harus aku lakukan? Aku mengkhawatirkan keadaanmu, tapi kamu masih saja loyal kepadanya....


... Padahal sekarang ini pekerjaan itu sudah semakin beresiko menyakiti fisikmu," kata David, yang tampak frustrasi.


"Maafkan saya yang hanya membuat Anda cemas. Tapi hanya tinggal dua minggu lagi waktu yang tersisa. Saya pasti akan baik-baik saja," kata Chloe.


Kelihatannya, David masih tidak puas dengan perkataan Chloe itu. Apalagi saat dia kembali melihat bekas luka di tangan Chloe, hingga David tampak mendengus kasar.


"Berapa imbalan yang diberikan Mister Nathan, untuk mengasuh anak manja itu? Aku akan menggantinya, agar kamu tidak perlu lanjut bekerja padanya," kata David.


"Please, Sir...! Saya tidak mau hubungan saya dengan Mister Nathan dan Mistress Maddison menjadi buruk, hanya karena saya tidak bisa berhubungan baik dengan Mister Matthew," sahut Chloe.


"Jika mereka tahu apa yang dilakukan Matthew kepadamu, aku rasa tidak mungkin mereka akan membelanya, walaupun Matthew adalah anak kesayangan mereka," kata David, lalu tampak mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


Dugaan Chloe, mungkin David ingin menghubungi Nathan atau Maddison, hingga Chloe buru-buru mencegahnya, dengan menahan tangan David, sembari berkata,


"Sir! ... Apa anda akan menghubungi orang tua Mister Matthew?"


"Iya," jawab David.


"Please, Sir...! Tolong jangan lakukan itu...! Saya tidak ingin dianggap sebagai pengadu," ujar Chloe, berusaha membujuk David agar mengurungkan niatnya.


Lagi-lagi, David mendengus kasar. "Baik! Aku akan membiarkannya lolos kali ini."


David mau saja mengikuti keinginan Chloe, dan terlihat memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaketnya, sambil lanjut berkata,


"Tapi, Chloe! ... Kamu harus berjanji padaku! Jika Matthew sampai mengasarimu lagi, maka kamu harus memberitahuku. Dan di saat itu juga, kamu harus berhenti bekerja padanya."


Chloe terdiam.


"Apa kamu bisa melakukannya?" tanya David, tampak ingin memastikan.


"Baik, Sir!" sahut Chloe.


"Maafkan aku yang terlalu memaksamu. Tapi hanya dengan begitu, barulah aku bisa merasa tenang," kata David.


"Tidak apa-apa, Sir ... Sejujurnya, saya rasa cukup menyenangkan, saat mengetahui bahwa ada seseorang yang istimewa, yang mengkhawatirkan keadaan saya."


Sambil tersenyum, Chloe berbicara seolah-olah dia sedang merayu David.


"Oh, gosh!" David akhirnya bisa ikut tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku rasa aku memang telah jatuh cinta kepadamu."


***


Hingga mereka selesai menghabiskan makan siangnya, David sudah terlihat jauh lebih tenang.


Bahkan, untuk sesekali, David sudah bisa bersenda gurau dengan Chloe seperti biasanya.


Dan tampaknya, David tidak hanya berencana untuk melihat-lihat saja di sana.


Karena, David kemudian mengajak Chloe masuk ke dalam stand pedagang, yang menyediakan pakaian wanita dari salah satu desainer ternama, beserta perlengkapan penunjang penampilannya.


David memilihkan sebuah gaun berwarna merah terang, kemudian menyodorkannya kepada Chloe, sembari berkata,


"Aku ingin melihatmu memakai ini."


"Ugh? ... Untuk apa Sir?" ujar Chloe kebingungan.


"Ayolah...! Sudah biasa kalau melihat model yang memakainya. Aku penasaran, bagaimana kalau dipakai olehmu," kata David, tampak memaksa.


"Hmm ... Okay! Hanya mencobanya saja, kan?" ujar Chloe, sembari menerima gaun dari tangan David itu.


"Iya," sahut David.


David lalu terlihat duduk di sofa yang ada hampir berhadapan dengan kamar ganti, ketika Chloe mencoba memakai gaun di sana.


"Phew!" Chloe rasanya tidak percaya, saat melihat harga yang tertera di label yang menggantung di gaun itu.


Chloe tahu jika dia harus berhati-hati saat mencoba gaun itu, agar jangan sampai membuat gaun itu rusak.


Menurut Chloe, gaun itu sangat indah.


Gaun pas badan dengan panjang semata kaki tanpa lengan, yang membuat dada bagian atas sampai ke leher dan bahu dari Chloe terekspos, membuat Chloe merasa cantik saat memakainya.


Ketika Chloe keluar dari kamar ganti, David yang sedang asyik menikmati segelas sampanye, tampak tersentak saat melihat Chloe.


Namun, tidak berapa lama setelah David menghampiri Chloe, dan tampak memperhatikan Chloe dengan saksama, David kelihatan memasang raut wajah biasa saja.


David justru seolah-olah tidak tertarik dengan apa yang dilihatnya, hingga dia meminta pegawai toko agar mengambilkan beberapa gaun yang lain, untuk dicoba oleh Chloe.


Dan bukan hanya gaun, melainkan juga beberapa pasang sepatu yang kemungkinannya cocok, jika dipadankan dengan masing-masing dari gaun itu.


"Apa saya harus mencoba memakai semua ini?" tanya Chloe, bingung.


"Tentu saja! ... Aku ingin melihat gaun seperti apa yang cocok untukmu," jawab David, yang duduk memangku kaki, sambil menikmati minumannya.


Chloe akhirnya setuju untuk mencoba satu per satu gaun-gaun itu, dan juga sepatu yang menjadi pasangannya.


Saat mempertunjukkannya kepada David, Chloe hampir terlihat seperti seorang model runway, yang memamerkan bagaimana keindahan dari barang-barang itu kepada David.


Namun, David masih terlihat tidak puas dengan apa yang dilihatnya. "Coba yang lain lagi!"


Sebenarnya, Chloe merasa tidak enak jika menolak permintaan dari David itu.


Akan tetapi, Chloe sudah merasa sangat lelah bergonta-ganti pakaian, sehingga mau tidak mau, Chloe akhirnya tetap menolak permintaan David, untuk mencoba beberapa gaun lagi.


"Tsk! ... Padahal aku masih ingin melihatnya. Tapi, tidak perlu dipikirkan. Aku tidak mau membuatmu kelelahan, karena masih ada yang akan kita lakukan setelah ini."


Begitu kata David, ketika Chloe ikut duduk dengannya di sofa, dan menikmati segelas sampanye bersamanya.


Ketika mereka akan keluar dari stand pedagang itu, tiba-tiba saja David menghentikan langkahnya, kemudian berkata,


"Apa kamu bisa menunggu di luar? Aku meninggalkan sesuatu di dalam sana."


"Ow! ... Okay!" sahut Chloe, kemudian lanjut berjalan, sementara David kembali masuk ke dalam stand pedagang itu.


Setelah beberapa saat lamanya Chloe menunggu, David akhirnya terlihat berjalan keluar dari dalam stand, dan membawa beberapa kantong kertas di tangannya.


"Apa itu, Sir?" tanya Chloe, dengan rasa curiga, kalau-kalau David telah membeli semua gaun dan sepatu, yang sempat dicoba oleh Chloe tadi.


Dan kecurigaan Chloe itu pun terbukti, karena David kemudian mendekatkan wajahnya ke salah satu sisi wajah Chloe, dan dengan berbisik-bisik, David lalu berkata,


"Kamu terlihat sangat cantik. Kamu tidak berpikir kalau aku akan melewatkannya, bukan? Aku ingin melihatmu memakainya setiap kali berkencan denganku."


"Oh, gosh! ... Harga gaun-gaun itu sangat mahal!" ujar Chloe, dengan rasa tidak percaya. "Apa anda tidak bisa membatalkan pembeliannya?"


Seakan-akan tidak terpengaruh dengan perkataan Chloe, David justru tertawa kecil, sembari berkata,


"Membatalkan pembeliannya? ... Apa kamu takut aku akan kekurangan uang? ... Kamu hanya membuatku merasa gemas dan ingin menggigitmu."


Sambil menatap Chloe lekat-lekat, David lalu menyentuh salah satu pipi Chloe dengan lembut dan perlahan.


"Harganya bukanlah sebuah masalah. Kepuasan itu yang lebih penting ... Dan aku juga ingin membuat semua orang merasa iri padaku, ...


... saat mereka melihatku bersama wanita yang sangat cantik sepertimu," lanjut David, sambil tersenyum lebar, dan mengedipkan sebelah matanya.