Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 51



Chloe terbelalak karena pernyataan Matteo itu, tetapi pada akhirnya Chloe hanya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menanggapinya.


"Pffftt...! Anda kelihatannya mulai dikuasai oleh alkohol," celetuk Chloe, sambil tertawa.


"Chloe! ... Aku tidak mabuk ... Okay, aku memang sedikit merasa pusing," ujar Matteo seperti orang bingung, lalu lanjut berkata,


"Tapi aku bisa memastikan, kalau aku sedang bicara serius, dan alkohol hanya membantuku agar bisa lebih berani untuk mengutarakan perasaanku padamu. Jadi, sebaiknya kamu percaya kata-kataku."


Chloe menghela napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.


"Saya menghargai dan menghormati Anda, sehingga saya berusaha sebaik mungkin untuk bisa melakukan apa saja agar membantu Anda....


...Tapi Anda jangan memanfaatkannya, dan memakai keberadaan saya, hanya agar Anda bisa terlihat baik-baik saja di depan Eustache dan Marrie....


... Apalagi jika hanya untuk membuat mereka cemburu, dengan berpura-pura bahwa Anda sudah melupakan Marrie, dan telah jatuh cinta kepada saya."


Tanpa merasa ragu-ragu lagi, Chloe mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, yang membuatnya tidak bisa mempercayai ungkapan cinta dari Matteo.


"Itu yang kamu pikirkan tentangku?" tanya Matteo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak serendah itu, Chloe! ... Kamu pikir aku bisa dengan mudahnya untuk mengungkapkan rasa cinta kepada seseorang, apalagi hanya untuk alasan seperti itu saja?"


Matteo tampaknya tidak terima dengan perkataan Chloe kepadanya itu.


"Aku telah jatuh cinta kepadamu, bahkan sebelum kita bertemu. Hanya dengan mendengar bagaimana orang tuaku menceritakan tentangmu, sudah bisa membuatku merasa sangat penasaran."


Sambil berbicara, Matteo kemudian mengulurkan sebelah tangannya dan memegang salah satu pipi Chloe, dan mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya.


"Apa kamu tahu? Aku hanya beralasan bahwa mengawasi renovasi rumah ini akan lebih mudah jika aku tinggal di rumah Matthew....


... Tapi yang sebenarnya, saat aku melihatmu pertama kalinya di rumah Matthew, aku benar-benar merasa yakin kalau aku telah jatuh cinta kepadamu, dan aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu."


Selama Matteo berbicara kepadanya, Chloe hanya terdiam dan menatap Matteo lekat-lekat.


Chloe merasa seakan-akan ingin mencari kebenaran dari mata laki-laki itu.


Dan kelihatannya, Matteo memang bersungguh-sungguh saat mengatakan segala sesuatunya itu kepada Chloe.


Sehingga membuat Chloe justru merasa takut dibuatnya, karena ada sesuatu yang terasa aneh yang mendadak timbul dalam perutnya.


"Tapi...." Chloe merasa kesulitan untuk menanggapi situasinya dengan Matteo saat ini, hingga dia tidak tahu harus berkata apa dan menghentikan kalimatnya begitu saja.


Matteo lalu semakin mendekatkan wajahnya kepada Chloe.


Namun, Chloe segera menghentikan gerakan Matteo, yang tampaknya akan melakukan sesuatu, yang mungkin hanya akan membuat mereka berdua sama-sama menyesalinya.


"Please, Sir! ... Jangan seperti ini!" kata Chloe, sambil mendengus kasar.


"Chloe...! Tolong berikan aku kesempatan...!" ujar Matteo, dengan suara memelas.


"Sir! ... Anda sedang mabuk," kata Chloe, beralasan. "Besok, Anda tidak akan ingat apa-apa lagi."


"Iya ... Tapi kamu tidak mabuk," sahut Matteo, terdengar tanpa beban.


"Seandainya kamu memang tidak merasakan sesuatu padaku, maka kamu bisa berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi malam ini....


...Tapi jika kamu merasakan hal yang sama denganku, jangan coba-coba untuk melupakannya....


... Karena aku benar-benar berharap agar kamu akan jadi milikku. Dan aku akan membuktikan ucapanku, kalau aku bersungguh-sungguh mencintaimu."


Selesai dia berbicara, Matteo akhirnya melanjutkan apa yang tadi ingin dilakukannya, yang sempat tertunda karena Chloe yang menahannya.


Matteo memegang bagian belakang kepala Chloe dengan sebelah tangannya, dan tangan sebelahnya lagi merangkul Chloe.


Dengan demikian, Matteo sanggup untuk membuat Chloe agar tidak bisa menghindar darinya lagi.


Kemudian, dengan lembut dan perlahan, Matteo menyentuh bibir Chloe dengan bibirnya yang terasa lembab dan hangat.


Saat ini, Chloe merasa degup jantungnya telah meningkat tajam, dan seolah-olah pemompa darahnya itu akan meloncat keluar dari rongga dadanya.


Dan tampaknya bukan hanya Chloe yang merasa seperti itu, karena kedua telapak tangannya yang menyanggah dada Matteo, juga bisa meraba detak jantung laki-laki itu yang berdegup kencang.


Chloe yang seolah-olah tidak bisa bernapas, ditambah lagi sekujur tubuh yang mendadak terasa lemas dan gemetar hebat saking gugupnya, membuatnya hanya terdiam dan tidak berani membalas ciuman Matteo itu.


Namun, Matteo yang seakan-akan memang telah menunggu dalam waktu lama agar bisa mendapatkan kesempatan untuk berciuman dengan Chloe, tampaknya tidak mau melepaskan Chloe begitu saja, meskipun Chloe tidak bereaksi apa-apa.


Matteo justru terasa semakin aktif dan bersemangat untuk memancing Chloe, agar mau membalas ciumannya.


Seandainya Chloe bisa berterus terang tanpa perlu merasa malu-malu, maka dia memang harus mengakui bahwa dia telah terbawa suasana yang diciptakan oleh Matteo.


Sehingga Chloe kesulitan untuk menyadarkan dirinya sendiri, agar tidak tenggelam semakin dalam pada sensasi menyenangkan, karena perlakuan Matteo yang sanggup memicu otak Chloe untuk melepaskan serotonin.


Untuk beberapa saat kemudian, Chloe akhirnya menyerah dan membalas ciuman Matteo kepadanya.


Chloe baru tersadar, ketika tangan Matteo terasa bergerak menyentuh area sensitif di dadanya, dan Chloe tahu bahwa itu sudah berlebihan, sehingga dia bergerak cepat untuk menghentikan Matteo.


"Maafkan aku...." ucap Matteo, lalu menyandarkan wajahnya di salah satu bahu Chloe, kemudian memeluk Chloe erat-erat.


"Saya harus kembali ke rumah Mister Matthew," kata Chloe, untuk menghindari sesuatu yang mungkin bisa terjadi, jika dia terlalu lama berduaan saja dengan Matteo.


"Aku akan mengantarmu ... Tapi, tolong biarkan aku memelukmu sebentar lagi," sahut Matteo, yang terasa mempererat pelukannya pada Chloe.


Mengingat Matteo yang baru saja meminum alkohol dalam jumlah banyak, Chloe merasa ragu kalau Matteo masih bisa berjalan dengan baik.


"Saya bisa pergi sendiri. Anda beristirahat saja," kata Chloe.


"Please, Chloe...! Jangan membuatku semakin membenci Matthew!"


Perkataan Matteo itu cukup menggelitik Chloe sampai merasa penasaran, hingga Chloe memberanikan diri untuk bertanya kepada Matteo. "Apa maksud Anda?"


"Aku merasa sangat iri. Aku tahu kalau kamu bekerja padanya, tapi aku tetap merasa kesal karena kamu jadi lebih sering menghabiskan waktu dengannya....


...Kamu juga lebih memperhatikannya daripada aku ... Itu sangat menyebalkan ... Aku membencinya ... Aku ingin agar kamu lebih memperhatikanku....


Walaupun perkataan Matteo itu terdengar seperti sedang meracau, tetapi menurut Chloe, ucapan dari orang yang dikuasai oleh alkohol, justru biasanya adalah perkataan yang paling jujur.


Ah, sudahlah!


Chloe tidak mau terlalu memikirkannya saat ini.


Yang penting sekarang adalah Chloe harus kembali menemui Matthew, sebelum Atasannya itu membutuhkannya, dan terlalu lama menunggunya, lalu memarahinya lagi.


***


"Sebaiknya Anda beristirahat saja...." Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya.


Matteo tampak sudah mulai kesulitan untuk berjalan, namun dia tetap memaksa untuk mengantarkan Chloe kembali ke rumah Matthew.


"Chloe...!" ujar Matteo dengan suara meninggi, seakan-akan tidak terima dengan penolakan Chloe terhadapnya itu, sehingga Chloe hanya bisa terdiam karenanya.


Setibanya di pintu depan rumah Matthew, Chloe kemudian berkata,


"Anda sudah bisa pulang sekarang. Saya akan ke dalam, memeriksa Mister Matthew, kalau-kalau ada yang dia butuhkan."


Matteo mengangguk.


Oleh karena itu, Chloe pun segera berbalik dan berjalan masuk dengan berhati-hati, lalu mengintip ke ruang tamu.


Matthew terlihat masih berada di sana bersama Judy.


Tidak seperti ketika Chloe pergi ke rumah Matteo tadi, di mana saat itu Matthew serta Judy duduk berhadapan dengan berbataskan meja.


Sekarang ini, Judy terlihat sudah duduk berdampingan dengan Matthew.


Matthew juga tampaknya sudah mulai terbiasa dengan Judy yang berada di dekatnya, karena Matthew tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau dia merasa risih dengan keberadaan Judy.


Chloe tersenyum lebar.


Kalau seperti itu keadaannya, maka kemungkinan besar, Matthew bisa berkencan dengan wanita yang disukainya, layaknya orang-orang pada umumnya.


Tiba-tiba saja, ada yang memeluk Chloe dari belakang, atau bisa dikatakan seperti bersandar di belakang Chloe, sampai membuat Chloe terdorong maju.


Oleh sebab itu, Chloe yang tadinya hanya sedikit mengintip dari sudut pintu, akhirnya jadi berdiri di tengah-tengah pintu ruang tamu yang terbuka, dan serta-merta menarik perhatian kedua orang yang ada di dalam ruang tamu itu.


"Maafkan saya...." ucap Chloe, malu-malu.


Chloe hanya bisa tersenyum canggung, ketika melihat Matthew dan Judy yang secara bersamaan menatapnya, seolah-olah keberadaan Chloe hanya mengganggu mereka saja.


"Chloe...! Aku mencintaimu...."


Suara Matteo yang terdengar berat, dan seperti sedang memelas, membuat Chloe menyadari kalau Matteo lah yang sedang memeluknya saat ini.


"Sir!" Chloe mendengus kasar, lalu buru-buru melepaskan pelukan Matteo, dan berbalik untuk melihatnya. "Apa yang Anda lakukan?"


Matteo tampaknya sudah tidak bisa menguasai dirinya lagi, dan jika saja dia tidak bersandar pada Chloe, maka dia mungkin sudah terjatuh di situ.


Chloe tahu kalau dia tidak akan bisa menyuruh Matteo pulang ke rumahnya sendiri, sebelum laki-laki itu bisa mengembalikan sedikit kesadarannya.


Matthew dan Judy tampak masih menatapnya, ketika Chloe melihat ke arah mereka, dan kemudian berkata,


"Maafkan saya, Sir! ... Miss Parker! ... Saya tidak berniat untuk mengganggu. Saya akan membawa mister Matteo ke dalam ... Permisi!"


Dengan tergesa-gesa, Chloe kemudian memapah Matteo yang hampir tidak bisa berjalan, dan membawanya ke dapur, lalu mendudukkannya di salah satu kursi di sana.


Segelas air dingin yang diambilkannya, kemudian disodorkan oleh Chloe kepada Matteo. "Diminum dulu, Sir!"


Namun, Matteo pun seolah-olah tidak sanggup untuk meminumnya sendiri, dan bahkan hanya menyandarkan kepalanya di atas meja, sambil terus meracau.


"Aku mencintaimu, Chloe...!" Sejak dari depan tadi, sudah ke sekian kalinya, Matteo terdengar mengulang-ulang perkataannya itu.


"Tsk!" Chloe berdecak sebal, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena rasa tidak percaya dengan apa dilihatnya.


Sembari mendengus kasar, Chloe kemudian duduk di samping Matteo.


Lalu, Chloe menahan badan Matteo agar bisa terduduk dengan baik, menggunakan sebelah tangannya.


Kemudian, dengan sebelah tangannya lagi yang mendekatkan bibir gelas ke mulut Matteo, Chloe membantu laki-laki itu agar bisa minum.


"Anda harus minum air ini, agar rasa mabuk Anda bisa cepat berkurang," kata Chloe, sedikit memaksa.


Matteo mau meminum airnya, sampai menghabiskan isinya separuh dari gelasnya, lalu mendorong gelas itu menjauh dari wajahnya.


Dan lagi-lagi, Matteo kemudian memeluk Chloe, dan menyandarkan kepalanya di salah satu sisi bahu Chloe.


Chloe yang masih sibuk berusaha untuk menyadarkan Matteo, terbelalak saat melihat kedatangan Matthew yang menyusul ke dapur.


Matthew tampak berpegangan pada pundak Judy, sambil berjalan tertatih-tatih, menghampiri Chloe dan Matteo di situ.


"Aku mencintaimu, Chloe...!" Matteo masih saja meracau.


"Sir!" Chloe menepuk punggung laki-laki yang masih memeluknya itu, dengan harapan agar Matteo tidak mengatakan hal itu lagi, terlebih di depan Matthew yang sekarang sudah ikut duduk di dekat Chloe dan Matteo.


"Pffftt...!" Judy mungkin merasa geli karena tingkah Matteo dan Chloe itu, hingga seketika itu juga dia tertawa, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Maaf...." ucap Judy, yang tampak berusaha keras agar tidak tertawa lagi.


Lain halnya dengan Matthew.


Matthew tampaknya sangat kesal, sampai-sampai dia mengeraskan rahangnya sambil menatap Chloe lekat-lekat.


"Judy! ... Maafkan aku," kata Matthew tiba-tiba, yang terdengar seakan-akan dia sudah lebih santai dengan keberadaan Judy, hingga dia bisa bicara dengan bahasa informal.


"Kita harus menyudahi malam ini ... Kita akan bertemu lagi nanti," lanjut Matthew kepada Judy.