
"Kamu lebih licik daripada ular!" Seakan-akan dia lupa caranya untuk berkedip, Matthew tidak mengalihkan sedikitpun perhatiannya, dan tampak seperti ingin menerjang Harold di situ.
"Hah?! ... Apa kamu tidak salah sasaran?" sahut Harold menantang, sambil tersenyum sinis.
Lalu, dengan tangannya yang dibentuk seperti sebuah pistol, Harold menunjuk dan seolah-olah sedang menembak Matthew di situ. "Seharusnya perkataanmu itu diarahkan pada dirimu sendiri!"
Kelihatannya, Matthew semakin geram karena sikap Harold itu, hingga kedua tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya, tampak terkepal erat.
"Apa ada yang aku lewatkan?" tanya Matteo kebingungan, sambil memandangi Harold dan Matthew bergantian.
Sementara itu, Chloe mendengus kasar, lalu berkata,
"Saya lelah! ... Apa sudah tidak ada lagi yang lebih berguna, yang bisa Anda semua lakukan selain bertengkar? Kesalahpahaman tidak akan bisa diluruskan dengan pertengkaran."
"Apa kamu menerima lamaran Harold?" tanya Matthew kepada Chloe.
"Belum, Sir! ... Saya masih akan mempertimbangkannya," jawab Chloe, sambil menghela napasnya yang terasa berat.
"Mempertimbangkannya?" tanya Matthew serta Matteo, secara bersamaan.
"Apa yang akan dipertimbangkan?" Entah darimana datangnya, David tiba-tiba saja ikut menimpali percakapan di situ.
"Menyebalkan!" ujar Matthew, dengan bola matanya yang bergerak liar, lalu pandangannya terhenti pada Chloe. "Ayo ikut denganku!"
"Tapi, Sir...." sahut Chloe, ragu-ragu.
"Sekarang!" Dengan cepat, Matthew memegang tangan Chloe, dan tampak ingin menyeret Chloe agar pergi dari situ bersamanya.
"Kamu pasti bercanda!" ujar Harold, lalu berdiri di depan Matthew.
Bertingkah seperti pagar betis, Harold serta Matteo, kemudian menghalangi langkah Matthew dan Chloe.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Matthew, dengan nada suaranya yang terdengar sinis. "Apa kalian lupa? Chloe adalah asisten pribadiku. Aku bisa memanggilnya, kapan saja aku membutuhkannya."
"Aku tahu!" sahut Harold, tidak kalah sinis. "Tapi di hari libur seperti sekarang ini, tidak ada satupun dari kita yang berstatus pemimpin atau bawahan."
David yang sedari tadi berdiri memandangi gerak-gerik dari orang lain di situ, kemudian menghampiri mereka, lalu berkata,
"Harold! ... Matteo! ... Apa kalian berdua ingin yang terbaik bagi Chloe?"
"Tentu saja!" jawab Harold, yakin.
"Apa kamu perlu menanyakannya?" sahut Matteo, terlihat sebal.
"Kalau begitu, biarkan Matthew pergi dengan Chloe. Karena aku rasa, ada sesuatu yang penting yang harus dia lakukan, yang ada hubungannya dengan Chloe."
Setelah David berkata seperti itu kepada Matteo dan Harold, dia kemudian memandangi Chloe untuk sesaat, sembari tersenyum yang tampak hanya dipaksakan, sebelum dia melihat ke arah Matthew, lalu berkata,
"Perlakukan Chloe dengan baik! Asalkan dia baik-baik saja, aku jamin tidak akan ada yang menghalang-halangi ataupun mengganggumu."
David lalu melihat ke arah Harold serta Matteo, kemudian menganggukkan kepalanya.
Gerakan David itu, seakan-akan menjadi pertanda bagi Harold dan Matteo, hingga bergeser ke samping membuka jalan bagi Matthew dan Chloe, agar bisa pergi dari sana.
"Terima kasih, David!" ucap Matthew, tetapi David kemudian segera menyanggahnya dengan berkata,
"Jangan buru-buru berterima kasih! ... Aku masih akan mengamatimu, seperti elang yang mengamati kelinci di tanah lapang. Sedikit saja kamu salah bergerak, maka aku akan menghabisimu."
"Okay!" Matthew tersenyum lebar, lalu menepuk-nepuk salah satu sisi bahu David, kemudian berjalan pergi, sembari membawa Chloe bersamanya.
Chloe pun tanpa banyak berkomentar, hanya mengikuti langkah Matthew yang mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
Setelah beberapa saat Matthew berkendara, barulah Chloe menanyakan hal yang membuatnya penasaran kepada Matthew.
"Sir! ... Anda mau membawa saya ke mana? Lalu, apa yang penting yang ingin Anda lakukan?" tanya Chloe, berhati-hati.
Matthew tersenyum, sembari melirik Chloe untuk sejenak, lalu kembali menatap lurus ke depan, kemudian berkata,
"Kita akan pergi ke rumah orang tuaku. Tapi sebelumnya, aku ingin kamu menghubungi Judy. Katakan padanya, kalau aku menunggunya di rumah orang tuaku."
Jawaban Matthew itu tidak memuaskan baginya, tetapi Chloe tetap mengikuti arahan Matthew dan segera menghubungi Judy.
Dan Judy pun, tidak menolak untuk menyusul ke rumah orang tua Matthew, ketika Chloe berbicara dengannya di ponsel.
Judy justru berkata, bahwa dia sekarang sedang berada tidak jauh dari kediaman keluarga McLean, sehingga dia bisa cepat tiba di sana, tanpa perlu Matthew menunggunya berlama-lama.
Setibanya di rumah orang tua Matthew, Chloe disambut oleh Maddison yang menyapanya sambil tersenyum lebar.
"Hai, Chloe! ... Matthew!"
"Hai, Mom! ..." Matthew balas menyapa, lalu tampak ingin lanjut mengatakan sesuatu. Tetapi dia menahannya, dan masih memberi kesempatan bagi Chloe untuk berbicara.
"Hai, Madam!" Chloe balas menyapa Maddison, dan ikut tersenyum, walaupun hanya dipaksakannya saja.
"... Aku akan ke ruang kerja daddy," lanjut Matthew, sembari membuat gerakan mata, seolah-olah dia sedang memberi isyarat kepada Maddison.
Dan Maddison pun, tampak mengerti maksud Matthew, sehingga wanita itu kemudian segera menganggukkan kepalanya.
Matthew lalu mengajak Chloe untuk pergi ke ruang kerja Nathan, yang ada di rumah orang tua Matthew itu.
Ketika Chloe berjalan melewati pintu ruang kerja Nathan, Matthew yang berada di belakangnya kemudian memanggilnya.
"Chloe!"
Mendengar panggilan dari Matthew itu, Chloe lalu berbalik, dan mendapati Matthew telah menutup pintu, serta berdiri sangat dekat kepadanya.
"Chloe...! Jawab pertanyaanku dengan jujur!" kata Matthew, yang sedikit menunduk, hingga bertatap-tatapan dengan Chloe. "Apa kamu masih mencintaiku?"
Chloe memalingkan wajahnya. "Tidak, Sir!"
"Tsk!" Matthew berdecak sebal, lalu menahan kepala Chloe dengan kedua tangannya, hingga Chloe terdongak, dan tidak bisa memalingkan wajahnya lagi.
"Bagaimana jika aku menikah dengan Judy?" tanya Matthew, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
"Terserah Anda, Sir!" sahut Chloe, asal-asalan. "Untuk Anda perlu menanyakan hal itu kepada saya?"
"Aku harus menanyakannya. Karena aku sekarang ini sedang membawa cincin." Matthew membuat gerakan dengan matanya, seolah-olah sedang menunjuk ke saku celana panjangnya.
Chloe mendengus kasar.
"Apa kamu membenciku?" tanya Matthew, sambil tetap menahan wajah Chloe.
"Anda ingin jawaban saya yang jujur?" Chloe balik bertanya, dan Matthew segera menganggukkan kepalanya.
"Saya membenci Anda. Semua yang Anda lakukan belakangan ini, hanya membuat saya semakin membenci Anda. Sejujurnya, saya sudah lelah dengan semua permainan Anda....
... Jika Anda ingin menikahi Miss Parker, itu terserah Anda, dan silahkan saja! Tapi saya meminta bantuan Anda untuk yang terakhir, satu kali ini saja, agar Anda jangan membuat saya semakin merasa terhina."
Chloe berbicara, sambil menahan diri sebisanya, agar tidak meneteskan air mata yang terasa mulai memenuhi kelopak matanya.
Sembari memandangi setiap bagian dari wajah Chloe, bagian sudut mata Chloe, diusap perlahan oleh Matthew dengan ibu jarinya.
Bertepatan di saat itu juga, terdengar bunyi ketukan di pintu yang tidak berapa lama disusul dengan daun pintu yang bergerak terbuka lebar.
"Maafkan saya, Mister McLean! ... Miss!" kata salah satu dari asisten rumah tangga orang tua Matthew. "Miss Parker ingin bertemu dengan Anda, Sir!"
"Suruh dia masuk!" sahut Matthew, tanpa berlama-lama lagi.
Judy lalu terlihat melangkah masuk ke dalam ruang kerja Nathan itu, di mana Chloe serta Matthew berada, dan sembari tersenyum lebar, Judy segera menyapa.
"Hai, Miss Parker!" Chloe balas menyapa, sementara Matthew terlihat hanya menganggukkan kepalanya.
Judy lalu menghampiri Matthew, dan berbisik-bisik di telinganya, tetapi Matthew segera berkata,
"Tidak perlu! ... Cara itu tidak berhasil. Justru hanya mengacaukannya saja."
"Ugh? ... Benarkah?" Judy terlihat bingung, lalu menatap Chloe. "Sungguh tidak berhasil? Kamu berbeda dari wanita biasanya."
Judy lalu tampak salah tingkah, dan lanjut berkata,
"Maafkan saya yang bicara informal, Miss Fern."
"Tidak apa-apa," sahut Chloe, lalu terpikir sesuatu, dan lanjut berkata,
"Anda bisa berbincang-bincang berdua saja. Saya akan menunggu di luar."
"Tunggu!" Sebelum Chloe melangkahkan kakinya, Judy sudah menghentikannya, dan justru menghalangi gerakan Chloe, dengan berdiri di depannya.
"Maafkan aku ... Tapi aku merasa sangat aneh. Biasanya, jika ada wanita lain yang mencoba merebut kekasihnya, maka wanita itu pasti akan mengamuk. Lalu kenapa kamu justru membiarkannya?"
Perkataan Judy yang diarahkannya kepada Chloe itu, hanya membuat Chloe merasa kesal. Tetapi Chloe berusaha keras untuk menenangkan dirinya sendiri, agar tidak membentak Judy.
Judy mungkin menyadari kegelisahan Chloe, sehingga dia buru-buru berkata,
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Matthew. Aku hanya berpura-pura dekat dengannya untuk membuatmu cemburu. Karena aku tidak percaya kata Matthew, bahwa kamu tidak peduli walaupun dia bersama wanita lain....
...Dan ternyata memang benar. Chloe! ... Aku bisa memanggilmu seperti itu? ... Matthew mencintaimu. Apa kamu juga mencintai Matthew atau tidak? Kenapa kamu tidak berusaha untuk mempertahankannya?...
... Apa ada orang lain yang kamu cintai?"
"Miss Parker! ... Apa Anda tidak tahu, kalau Anda sudah melewati batas?" tanya Chloe, ketus. "Anda bisa memiliki Mister Matthew, jika Anda memang menginginkannya."
"Stupid girl!" sahut Judy, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sulit dipercaya! ... Kamu cemburu, tapi kamu juga tidak ada ketegasan."
Judy lalu melihat ke arah Matthew. "Aku rasa kamu berusaha ekstra! ... Dia bukan seperti wanita kebanyakan."
Seolah-olah masih belum puas, Judy kembali melihat ke arah Chloe, lalu berkata,
"Chloe! ... Asal kamu tahu saja. Aku tidak menginginkan Matthew seperti yang kamu kira. Aku justru tertarik kepada saudaranya. Matteo. Mungkin perkataanku ini akan terdengar buruk...
...Aku telah membuat perjanjian dengan Matthew, bahwa aku akan membantunya. Baik itu untuk mendapatkan hatimu, ataupun untuk menguji kesetiaan orang-orang di dalam lingkungan perusahaan....
... Aku pun tidak ragu-ragu membantu Matthew, karena aku merasa kalau dia kurang tahu caranya mengambil hati wanita. Dan sementara itu, dia akan membantuku untuk mendapat kesempatan mendekati Matteo."
Judy lalu menghela napas panjang, lalu lanjut berkata,
"Aku akan pergi sekarang! ... Terserah kamu, apakah kamu mau percaya atau tidak. Tapi menurutku, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik perkataanku ini....
... Ada seorang laki-laki di depan mata yang tulus mencintaimu, tidak mungkin kamu akan sebodoh itu untuk melewatkannya begitu saja, bukan?!"
Walaupun Chloe tidak segera menanggapi perkataannya, namun Judy tetap berpaling dan melihat ke arah Matthew.
"Bukannya aku tidak mau membantumu, tapi aku juga tidak tahu caranya. Kamu pikirkan sendiri saja. Bye, Matthew! ... Bye, Chloe!"
Tanpa berlama-lama lagi, Judy segera pergi dari situ, meninggalkan Chloe serta Matthew yang hanya berdiri terdiam memandanginya.
Setelah pintu ruangan itu tertutup kembali, untuk beberapa saat kemudian, Chloe tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan ulang akan apa yang dikatakan oleh Judy kepadanya.
Bahkan, Chloe tidak menyadarinya lagi, kalau perlahan namun pasti, Matthew sudah berjalan menghampirinya, lalu berkata,
"Chloe! ... Lihat aku!"
Yang tadinya Chloe sedikit menunduk, kemudian segera mengangkat kepalanya, dan melihat sepasang mata Matthew yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Aku akui kalau aku kurang pengalaman, dan bersikap kekanak-kanakan. Aku tahu kalau kamu mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu....
...Tapi aku justru menjadikan alasan atas rasa ingin tahu ku, akan seberapa besar keinginanmu untuk bersamaku, dengan mencoba membuatmu cemburu....
...Bodohnya aku, mengira jika memakai cara itu maka kamu akan mengejarku, dan berharap agar kamu mau memperlihatkan bagaimana besarnya kamu menginginkanku....
...Tapi ternyata, hal itu justru tidak menghasilkan apa-apa, selain menyakitimu dan membuatmu semakin menjauh dariku. Maafkan aku yang telah menyakiti perasaanmu....
... Dan berikanlah aku satu kesempatan untuk membuktikan, bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu, dan hanya kamu wanita yang aku inginkan."
Tiba-tiba saja, Matthew mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, kemudian berlutut dengan sebelah kakinya, lalu mendongakkan kepalanya, dan berkata,
"Aku tidak bisa berjanji, bahwa aku akan berada di sisimu selamanya. Tapi aku akan berjanji, bahwa sebelum maut memisahkan kita, maka hanya kamu yang akan menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap hidup."
Dengan kotak perhiasan berisikan sebuah cincin yang terbuka di tangannya, Matthew yang tetap mendongakkan kepalanya, lalu lanjut berkata,
"Chloe! ... Will you marry me?"
Matthew juga terlihat mengulurkan sebelah tangannya, seolah-olah sedang meminta tangan Chloe.
Walaupun sudah seperti itu, namun masih ada sedikit keraguan karena rasa tidak percaya, dengan apa yang didengarnya. Sehingga Chloe justru menjawabnya dengan ragu-ragu.
"Sir! ... Saya...."
"Chloe! ... Tolong jangan memberikan jawaban menggantung! ... Aku akan mengulang pertanyaanku," kata Matthew, yang tampak masih sabar menghadapi keragu-raguan yang diperlihatkan oleh Chloe.
Sembari menahan kepalanya untuk tetap terdongak, dan menatap Chloe lekat-lekat, Matthew kemudian berkata,
"Chloe...! Will you marry me?"
Dengan satu helaan napas panjang, Chloe memberanikan diri untuk mengulurkan sebelah tangannya, sembari berkata,
"Iya ... Saya mau, Sir!"
Dengan matanya yang tampak berbinar-binar, Matthew tersenyum lebar, dan segera memasangkan cincin berhiaskan batu berlian di jari manis Chloe.
Matthew lalu berdiri. "Aku mencintaimu, Chloe!"
Chloe yang tersenyum, seakan-akan menjadi pertanda bagi Matthew, untuk memeluk dan berciuman dengannya, hingga beberapa waktu lamanya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Pertanyaan dengan nada suara yang meninggi, disusul dengan bunyi daun pintu yang tampaknya dipukul dengan keras, mengejutkan Chloe serta Matthew hingga melihat ke arah datangnya suara.
Matteo terlihat berang, dan sedikit darah juga menetes dari buku-buku jari tangannya, yang tampaknya digunakan untuk memukul pintu.
Bersama-sama dengan Matteo, juga terlihat keberadaan Maddison yang mengelus-elus dada, Nathan yang terlihat bingung, dan Jackson yang berjalan pelan dengan tongkatnya, memasuki ruangan itu melewati Matteo.
"Aku akan menikah dengan Chloe!" kata Matthew, terdengar tanpa beban.
"Okay!" Jackson terlihat santai, lalu mengambil tempat duduk di salah satu bagian sofa yang ada di dalam ruangan itu. "Tapi, bukankah kita semua harus membicarakannya lebih dulu?!"
...----------------TAMAT----------------...
Pesan Author :
Semoga terhibur ππ
Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Bagi semua pembaca yang telah mendukung selama proses penulisan, penulis haturkan banyak-banyak terima kasih.
Karena menyadari bahwa penulis masih butuh banyak belajar, maka mohon dimaafkan jika ada kesalahan kata, ataupun kekurangan yang terdapat di dalam tulisan ini.
Sekali lagi, penulis haturkan banyak terima kasih untuk semuanya π€π