Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 33



Matthew tidak segera bereaksi setelah mendengar perkataan Chloe, dan justru hanya memandangi Chloe, seakan-akan Matthew sedang menunggu Chloe menjelaskan lebih lanjut kepadanya.


Namun, Chloe juga merasa ragu dan malu, jika dia harus menjelaskan cerita di belakangnya yang menjadi alasan baginya, untuk tetap berhubungan dengan David.


Apalagi, jika Chloe mengingat sikap Matthew yang suka meremehkannya, maka kemungkinan besar, Matthew hanya akan menertawakan kebodohannya, jika Matthew sampai tahu apa yang terjadi kepada Chloe.


"Sini! ... Duduk di sini!" kata Matthew, sambil menepuk-nepuk sofa. "Kakimu akan kram, jika kamu terlalu lama berdiri dengan sepatu itu!"


Walaupun merasa enggan, namun Chloe menuruti saja ajakan dari Matthew itu, dan mengambil tempat duduk di salah satu bagian sofa yang kosong.


"Mendekat ke sini! ... Aku tidak akan menggigitmu!" kata Matthew, mengarahkan Chloe untuk duduk di sampingnya.


Setelah Chloe bergeser, hingga terduduk di dekatnya, Matthew kemudian berkata,


"Apa alasannya? Kamu harus memberitahuku. Aku yang akan menilai, apakah alasanmu itu masuk akal, atau hanya akal-akalanmu saja."


Namun, karena Chloe masih mengunci mulutnya rapat-rapat, hingga Matthew akhirnya kembali berkata,


"Apa yang membuatmu ragu-ragu untuk mengatakannya?"


"Saya tidak mau Anda menertawakan saya," jawab Chloe.


Matthew mendengus kasar, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menatap Chloe.


"Kamu tidak takut jika aku bersikap keras dan kasar. Bahkan bernyali besar, hingga berani menantangku....


 ... Tapi kamu jadi ragu, hanya karena khawatir jika aku mungkin menertawakanmu? Kamu memang lain daripada yang lain." Matthew kemudian terkekeh, lalu lanjut berkata,


"Katakan saja! Selama kamu masih bekerja denganku, maka kamu berhutang penjelasan kepadaku. Dan aku akan menunggu, sampai kamu mau bicara."


Setelah menghela napas panjang, Chloe akhirnya menceritakan bagaimana awalnya, hingga dia bisa setuju dan bahkan berjanji, untuk berkencan dengan David.


Sementara Chloe berbicara, Matthew tidak menyela sedikit pun dari perkataan Chloe.


Karena melihat Matthew yang tampak hanya mendengarkannya dengan saksama tanpa menunjukkan reaksi apa-apa, hingga Chloe merasa cukup yakin untuk menjelaskan lebih detail.


Chloe bahkan memberitahu Matthew, bahwa permasalahannya dengan mantan kekasihnya itu juga lah yang menjadi penyebabnya, sampai membuat Chloe menerima tawaran dari Nathan, untuk menjadi asisten pribadi Matthew.


Setelah Chloe selesai berbicara, dan hanya terdiam untuk beberapa saat, barulah Matthew kemudian berkata,


"Tidak ada yang bisa ditertawakan dari ceritamu itu. Tapi kesulitan yang kamu dapatkan karena mantan kekasihmu, justru bisa membuktikan, bahwa kamu bisa salah menilai seseorang."


Dengan sedikit membungkuk, Matthew mengambil salep untuk luka yang ada di dalam kotak obat, yang masih tergeletak di lantai. 


Matthew lalu mengambil tangan Chloe yang terluka karena sikap kasarnya tadi siang, dan mengoleskan sedikit obat di atas luka lecet terkelupas di pergelangan tangan Chloe itu.


Dan sementara itu, walaupun dia kebingungan melihat Matthew yang seolah-olah ingin merawatnya, namun Chloe hanya terdiam dan membiarkan Matthew melakukan yang dia inginkan di tangan Chloe.


Chloe hanya sedikit meringis kesakitan, saat salep obat yang dioleskan oleh Matthew mengenai bagian kulitnya yang terkelupas cukup lebar. 


Namun, Matthew lalu tampak terburu-buru meniup pelan luka Chloe, seolah-olah ingin mengurangi rasa pedih yang ditimbulkan salep obat, di pergelangan tangan Chloe itu.


"Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seseorang ataupun niatnya, memang tidak semudah itu untuk diketahui, jika tidak dibuktikan terlebih dahulu....


... Tapi rasanya masih bisa dianggap wajar, kalau kita memberikan sedikit penilaian dan berasumsi, dengan melihat dari tingkah lakunya secara langsung."


Pendapat yang dikatakan oleh Matthew itu terdengar seperti sedang menyambung perkataannya tadi, yang sempat terjeda cukup lama.


"Jika sejak awal kamu memberitahuku, maka belum tentu aku akan memarahimu. Apalagi sampai menduga-duga, kalau kamu mungkin memberikan 'sesuatu' pada David....


... Aku tentu akan mempertimbangkannya lebih dulu. Apakah ceritamu itu bisa dipercaya atau tidak. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, kalau aku justru tergerak untuk membantu menutupi hutangmu di loan shark."


Matthew kemudian meletakkan salep obat kembali ke tempatnya semula, setelah dia selesai mengobati luka di tangan Chloe.


"Berdasarkan ceritamu, kelihatannya David sangat menyukaimu. Apa dia memintamu menjadi kekasihnya?" ujar Matthew, yang terdengar tiba-tiba melenceng dari pembahasan awalnya.


"Mister David sering kali hanya bercanda. Jadi, saya tidak pernah menganggap serius semua perkataannya," sahut Chloe, sambil memperhatikan luka di tangannya.


"Lalu, apa kamu menyukainya?" tanya Matthew. 


Chloe terdiam.


"Kamu menyukainya." Matthew membuat pendapatnya sendiri.


"Saya menyukainya. Tapi saya belum bisa memastikan, apakah saya benar-benar menyukainya hingga ingin menjadi kekasihnya atau tidak," sahut Chloe.


"Aku sudah lelah dan mulai mengantuk. Kamu juga pasti sama lelahnya."


Chloe yang mengerti maksud perkataan Matthew itu, segera berdiri dari tempat duduknya, dan bersiap-siap untuk membantu Matthew berjalan ke kamarnya.


Namun, Matthew tidak segera bergerak dari sofa, dan justru memandangi Chloe dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, lalu kembali menatap mata Chloe, dan pandangannya terhenti di sana.


"Apa ada yang salah?" tanya Chloe, spontan.


"Apa kamu yakin kalau kita berdua bisa sampai di kamarku tanpa terjatuh?" Matthew balik bertanya.


"Ugh?" Chloe sempat kebingungan untuk beberapa saat, barulah dia teringat akan sepatunya, dan terburu-buru hendak melepaskan benda itu dari kakinya.


Namun, sementara Chloe membungkuk untuk membuka sepatunya, Matthew lalu berkata,


"Sebaiknya kamu pergi berganti pakaian saja dulu! ... Karena seperti yang aku katakan tadi, penampilanmu sekarang ini seperti sedang mencoba untuk merayuku saja."


Chloe berhenti bergerak, sambil menatap Matthew lekat-lekat. Sementara Matthew terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, saat Chloe memberinya tatapan tajam.


"Aku tahu kalau kamu mungkin tidak sadar. Gaun yang kamu kenakan, membuatmu terlihat cantik dan terlalu menarik perhatian. Kamu bahkan membungkuk di depanku dengan santainya....


...Apa kamu tidak tahu kalau itu berbahaya? Apalagi, jika kamu menemaniku di kamar. Kamu jangan sampai lupa! Aku bukan hanya Atasanmu saja. Aku juga adalah seorang laki-laki....


... Kecuali, kamu memang ingin agar aku tidak bisa mengendalikan diriku hingga berpikiran kotor, dan akhirnya 'menyentuh'mu," lanjut Matthew, menjelaskan.


Mendengar perkataan Matthew, Chloe yang tadinya masih membungkuk, kemudian segera berdiri tegak, bahkan menarik naik bagian dada dari gaun yang dipakainya.


Matthew yang melihatnya hanya tertawa kecil, lalu berkata,


"Kenapa kamu bisa seceroboh itu? Kamu hanya akan jadi mangsa yang sangat mudah ditangkap."


"Jadi, Anda akan menunggu di sini?" tanya chloe, buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Saya mungkin akan lama. Karena saya akan berganti pakaian sekaligus mandi."


Matthew terdiam untuk sejenak. "Kamu bisa panggilkan Matteo? Karena aku juga harus ke kamar mandi."


Chloe baru saja akan menanggapi perkataan Matthew, tetapi Matthew sudah buru-buru lanjut berkata,


"Kamu saja yang antarkan aku ke kamar. Karena aku mungkin tidak akan bisa 'menahannya' lebih lama lagi."


Chloe yang sudah melepaskan sepatunya, kemudian segera menghampiri Matthew dan membantunya berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja.


Ketika mereka baru saja memasuki kamar Matthew, dan berjalan mengarah ke kamar mandi, Matthew lalu berkata,


"Jadi, kamu tahu maksudku tentang tidak bisa 'menahannya', tadi?" 


"Anda ingin buang air," sahut Chloe, spontan.


"Tsk tsk tsk! ... Sepolos itukah pikiranmu? Kamu salah besar. Maksudku, aku tidak tahan lagi melihatmu yang menggoda," ujar Matthew, sambil berdecak.


Chloe terbelalak, dan secara refleks saja menampar bagian dada Matthew. "Sir! ... Anda jangan coba-coba untuk berpikiran kotor!"


Namun, Matthew tidak marah walaupun Chloe memukulnya.


Matthew justru tertawa lepas, lalu dengan suaranya yang terdengar dibuat-buat seperti sedang merayu Chloe, Matthew kemudian berkata,


"Apa kamu tidak tertarik padaku? Apa aku kurang tampan?" 


Chloe tertawa kecil. "Anda pasti bercanda. Tidak akan ada yang tertarik dengan Atasan yang pemarah seperti Anda."


"Hmm ... Kalau begitu, kamu menganggapku tampan," sahut Matthew, yang kedengarannya masih bersenda gurau dengan Chloe.


"Geez! ... Anda terlalu percaya diri. Saya tidak pernah bilang kalau Anda tampan," kata Chloe, menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mister David masih jauh lebih tampan," lanjut Chloe dengan suara berbisik-bisik, sembari membantu Matthew duduk di tepi bathtub.


"Apa katamu?" tanya Matthew, sambil membesarkan matanya, menatap Chloe.


"Tidak ada apa-apa," sahut Chloe, lalu bersiap-siap untuk pergi dari kamar mandi. "Saya keluar sekarang, Sir!"


"Jangan pergi terlalu jauh! ... Aku tidak akan lama," kata Matthew, lalu berdiri mendekat ke kloset.


"Baik, Sir!" sahut Chloe, lalu menutup pintu kamar mandi.